
Di dalam mobil, Daniel tersenyum terus tanpa ingin membuka laptop. Matanya terus menikmati pemandangan kota yang kini ia lewati. Bayangan Serena terus saja memenuhi pikirannya. Raganya ingin segera kembali pulang, untuk menemui Serena.
Biao dan Tama yang kini duduk di bangku depan, turut merasakan bahagia. Tama yang kini memegang kemudi, sesekali melirik ke arah Daniel melalu spion.
“Tama, pesankan baju terindah untuk Serena. Pastikan itu berasal dari desainer ternama di kota ini.” Perintah Daniel dengan senyum bahagia.
“Baik tuan. Apa itu gaun yang akan di kenakan nona Serena, untuk nanti malam tuan?” tanya Tama masih fokus pada kemudinya.
“Ya, aku ingin Serena menjadi wanita tercantik di acara itu.” Menatap ke arah jendela dengan raut wajah khawatir, ‘Aku akan mempertahankanmu, Serena. Apapun caranya!’ gumam Daniel dalam hati.
Mobil melaju dengan kencang, menembus keramaian kota. Suasana hati Daniel kembali tenang seperti dulu.
***
Di rumah utama, Serena kembali naik ke lantai atas. Serena masih memikirkan seprey, yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Serena terbelalak kaget, saat melihat kondisi kamarnya sudah tersusun rapi. Seprey dan selimut sudah terganti.
Serena melangkah masuk dengan langkah yang berat. Serena menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang empuk.
“Semoga saja mereka tidak menertawakanku, hari ini.” Menatap langit-langit kamar.
Serena kembali mengingat kenangan dirinya dan Daniel. Pipinya kembali merona dan senyum indah kembali menghiasi bibirnya. Baru saja beberapa menit yang lalu ia berpisah dari Daniel, kini ia sudah merasa rindu dengan Daniel.
Serena kembali mengingat nama Sonia. Rasa cemburu seketika muncul. Serena tidak ingin Daniel di rebut oleh siapapun. Serena mengambil handphone yang tergeletak di atas meja. Dan kembali melakukan penyelidikannya terhadap Tama.
Kini Daniel, Biao dan Tama, sudah berada di ruang kerja milik Daniel. Ketiganya sibuk dengan pekerjaan pagi yang sudah menumpuk. Handphone Tama bergetar di dalam saku. Tama menatap sebentar ke arah Daniel, sebelum menerima panggilan masuk dari Serena.
“Selamat pagi, nona Serena. Ada yang bisa saya bantu?”
Ucapan salam Tama, mengalihkan pandangan Daniel dan Biao. Daniel yang sejak tadi fokus pada layar laptopnya, kini sudah memandang wajah Tama penuh dengan tanda tanya. Mendengar nama Serena di sebut, mengurungkan niat Daniel untuk melanjutkan pekerjaannya.
‘Serena, untuk apa dia menghubungi Tama. Apa ada sesuatu yang terjadi di sana,’ gumam Daniel dalam hati.
[Tama, apa Sonia sudah lama bekerja di sana?”] ucap Serena dari kejahuan.
Tama melirik takut ke arah Daniel sebelum menjawab pertanyaan Serena.
“Sonia, nona?” tanya Tama pelan.
[Iya, Sonia. Apa dia sudah lama bekerja dengan Daniel? Apa mereka sangat dekat?”]
Tama memejamkan matanya sejenak. Melihat tatapan mata Daniel dan Biao yang dingin, membuat dirinya tidak bisa untuk menjawab pertanyaan Serena saat ini.
“Maaf nona, saya lagi bersama tuan Daniel. Mungkin anda bisa menanyakan hal itu, pada tuan Daniel langsung.” Menyodorkan handphonenya di hadapan Daniel. Tama tidak mau mengambil resiko saat ini. Tama tersenyum menyeringai ke arah Biao dan melanjutkan pekerjaannya saat ini.
Daniel membuang nafasnya dengan kasar, dan mengambil telepon itu.
[Tama, apa kau sedang bersama Daniel? Apa dia tahu kalau aku menghubungimu? Apa dia marah?] tanya Serena secara cepat.
“Aku tidak marah sayang,” jawab Daniel dengan penuh kelembutan.
Biao dan Tama hanya tertunduk dalam, untuk menahan tawa saat ini.
[Daniel, apa ini kau?]
“Ya, ini aku. Apa yang ingin kau ketahui tentang Sonia?” tanya Daniel tanpa basa basi lagi.
[Tidak ada, aku hanya…] ucapan Serena terhenti sejenak.
“Hanya …,” sambung Daniel dengan senyuman.
[Aku hanya penasaran padanya, kenapa dia sangat membenciku.] Jawab Serena jujur, yang kini sudah tidak memiliki pilihan lain.
“Membenci?” teriak Daniel, dan beranjak dari duduknya, “Apa yang ia lakukan padamu, Serena?” tanya Daniel penuh rasa khawatir.
Biao dan Tama kembali memukul kepalanya dengan pelan. Setelah ini, keduanya akan mendapat sarapan pagi dari Daniel.
[Tidak, dia tidak melakukan apapun.] Serena mulai bingung untuk menjelaskan keadaan yang ada.
[Aku akan menceritakannya di rumah nanti] Memutuskan panggilannya.
Daniel hanya memandang handphone itu dengan raut wajah bingung. Membanting handphone itu di hadapan Tama. Dan menatap wajah Tama dan Biao dengan tatapan dingin.
“Apa yang terjadi?” tanya Daniel singkat.
“Apa kau bisa menjelaskannya, Biao. Kau yang pertama kali menemui nona Serena bukan,” ucap Tama untuk membela dirinya saat ini.
“Aku?” Biao menunjuk wajahnya sendiri, ‘Awas kau Tama, bisa-bisanya kau mengatakan hal itu,’ gumam Biao dengan kesal di dalam hati. Biao memandang ke arah Daniel yang kini menatap tajam ke arahnya. “Saya tidak terlalu mengerti dengan apa yang terjadi tuan,” jawab Biao mencoba untuk berbohong.
“Apa kau yakin? Kau tidak tahu apa yang terjadi?” tanya Daniel dengan tatapan penuh arti.
Biao sangat kenal dengan tatapan itu, Biao menarik nafas dalam sebelum melanjutkan perkataannya.
“Sepertinya Sonia sudah mengatakan, satu hal yang buruk tentang nona Serena, tuan.” Menarik nafas dalam, “Waktu saya keluar, saya tidak lagi mendengar perdebatan.”
“Apa yang di katakan oleh Sonia? Panggilkan dia sekarang!” perintah Daniel kesal.
“Baik tuan,” jawab Tama cepat, dan beranjak pergi memanggil Sonia di luar.
“Selamat pagi tuan, ada yang bisa saya bantu?” ucap Sonia dengan penuh senyuman manis.
“Apa yang kau katakan kepada Serena?” tanya Daniel cepat.
‘Apa wanita itu melaporkan semua perkataanku pada Daniel,’ gumam Sonia dalam hati.
“Sonia! jawab!” teriak Daniel tidak suka.
Sonia terperanjat kaget, dan memandang kesal ke arah Daniel.
“Aku tidak mengatakan apapun padanya. Dia yang sudah menamparku Daniel!” ucap Sonia pelan.
“Jangan berbohong Sonia, aku tidak suka pembohong!” jawab Daniel ketus.
“Kau bisa tanyakan pada Biao. Wanita itu memang sudah menamparku, dan mengancamku!”
Tatapan Daniel beralih kepada Biao, dengan santai Biao berdiri dari duduknya dan memasang wajah benci kepada Sonia.
“Benar tuan, nona Serena sudah menampar Sonia,” ucapan Biao terhenti sejenak, “Tapi itu karena, Sonia sudah melukai hati nona Serena. Hingga nona Serena marah, dan menamparnya dengan kuat.” Menatap Sonia dengan wajah kemenangan.
“Kau!” Sonia menunjuk ke arah Biao.
“Sonia! Mulai sekarang, aku tidak bisa mempekerjakanmu di sini. Tama akan mengurus semuanya,” ucap Daniel singkat.
“Daniel, tapi…”
“Pergi dari sini, Sonia!” Daniel sudah memalingkan pandangannya dari Sonia.
Dengan kepalan kuat di tangannya, Sonia berlari pergi meninggalkan ruangan itu. Hatinya kembali di penuhi rasa sakit dan kecewa.
Daniel kembali duduk di kursi. Menghirup oksigen secara perlahan, untuk mengatur nafasnya yang terasa berat.
“Kenapa kalian tidak mengatakan hal ini padaku!” Kembali fokus pada layar laptopnya.
“Maafkan saya tuan, saya hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan semua ini,” ucap Biao dengan penuh rasa bersalah.
Biao dan Tama kembali melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Telepon singkat Serena pagi ini, sudah membuat Sonia keluar dari S.G. Group. Namun, dengan kekuasaan yang dimiliki oleh Sonia. Sonia tidak diam begitu saja terhadap perlakuan Daniel hari ini. Sonia kembali menyimpan dendam, kepada Daniel dan Serena. Sonia bertekad untuk mencari cara, agar bisa merusak rumah tangga Daniel dan Serena.
***
Hari yang cerah kembali berlalu. Satu box hadiah, baru saja di berikan oleh pak Han kepada Serena. Dengan senyum manis, Serena menerima box itu. Nama Daniel tertera di sana. Satu pesan singkat yang mengatakan kalimat, “Untuk istriku tersayang” berhasil membuat suasana hati Serena, kembali berbunga-bunga.
“Sangat indah,” ucap Serena pelan.
Serena baru saja membuka isi box itu. Terdapat gaun berwarna biru muda di sana. Beberapa Kristal menghiasi bagian leher gaun itu yang sedikit terbuka. Serena memeluk gaun itu dengan penuh cinta. Ini hadiah pertama yang diberikan oleh Daniel untuknya, sejak mereka menikah.
Serena memandang sebentar ke arah jam, yang sebentar lagi menunjukkan pukul 7 malam. Serena ingat kata pak Han, kalau Daniel akan menjemput Serena tepat di jam 7. Serena berlari cepat ke arah kamar mandi, untuk segera bersiap.
Daniel baru saja keluar dari salah satu butik ternama di kota itu. Mengenakan setelan jas berwarna biru muda, membuat penampilan Daniel sangat serasi dengan gaun yang dikenakan Serena. Daniel melangkah dengan senyum menuju ke mobil. Hatinya benar-benar sudah dipenuhi rasa rindu yang amat besar terhadap Serena saat ini.
Di rumah utama, Serena melangkah pelan menuruni anak tangga. Di lantai bawah, Serena melihat Ny. Edritz yang sedang duduk di ruang utama.
“Serena, kau terlihat cantik. Apa kau akan pergi bersama Daniel?”
“Iya ma. Daniel mengajakku untuk menemaninya, ke peresmian gedung salah satu rekannnya,” jawab Serena pelan.
“Mama sangat bahagia, melihat kalian seperti ini.”
Satu klakson singkat, mengalihkan pandangan Ny. Edritz dan Serena. Dengan senyum bahagia, Serena melangkah pelan menyambut kedatangan Daniel.
“Apa kau sudah siap, sayang?” ucap Daniel lembut, yang baru saja turun dari mobil.
“Kau sudah sangat rapi Daniel, dimana kau mendapatkan baju ini?” ucap Serena polos.
Semua orang yang ada di sekeliling Serena, kembali tertawa bahagia. Lagi-lagi kepolosan Serena menciptakan canda tawa.
“Kau tidak perlu menanyakan hal itu.” Semangkin mendekat ke arah Serena, “Kau sangat cantik.” Memegang dagu Serena.
“Apa kita bisa pergi sekarang?” ajak Serena penuh harap.
“Tentu.” Daniel merangkul pinggang Serena, sejenak Daniel menatap ke arah Ny. Edritz, “Kami pergi dulu ya, ma.”
Ny. Edritz mengangguk pelan, “Hati-hati, jaga Serena untuk mama.”
Daniel dan Serena melangkah menuju mobil. Tama yang menjadi supir Daniel dan Serena malam ini. Sedangkan Biao, hanya berdiri di depan pintu utama memandang mobil Daniel yang sudah berjalan cepat.
**Ok readers.
Bab 93. Peresmian Z.E. Group.
Like,Komen, Vote dan Tips.
Terima kasih atas dukungan kalian semua**.