
Di Mall tengah kota, pukul 13.00, suasana kota di siang hari.
Mall itu memiliki banyak pengunjung siang ini. Bersama dengan Diva, Serena berbelanja beberapa barang. Sambil tertawa dan bercanda ria. Serena terlihat bahagia saat ini.
“Diva, kau bisa membayarnya. Aku akan menunggu di sana.” Serena menyodorkan satu kartu kredit, memberikannya kepada Diva.
Diva menerima kartu itu dengan hormat, “Baik, Nona.”
Diva membawa barang-barang pilihan Serena, menuju ke arah kasir. Sosok pria misterius, tampak mengintai mereka sejak tadi. Mengikuti setiap langkahnya dan tidak ingin kehilangan jejaknya sedikitpun.
Selesai membayar, Diva berjalan ke posisi Serena. Ia membawa barang-barang belanjaan Serena hari ini. Serena dan Diva keluar dari supermarket itu, dengan santai. Diva dan Serena bersamaan membawa barang belanjaan, ke arah parkiran mobil.
“Nona, anda terlihat bahagia hari ini.” Diva mencoba untuk mengajak Serena berbincang, sambil berjalan.
“Ya, aku sedikit merasa tenang hari ini. Shabira sudah bertemu dengan Kenzo. Aku tidak lagi merasa bersalah padanya.” Serena mematikan alarm mobil, membuka bagasi belakang. Diva menyusun beberapa barang belanjaan. Serena juga membantunya dengan senyum ceria. Keduanya belum menyadari, ada sosok pria yang kini mendekati dirinya.
“Nona, apa Nona Shabira adik anda? wajahnya tidak mirip dengan anda,” tanya Diva dengan penuh rasa penasaran.
“Ya, hanya saja kami beda orang tua.” Serena tersenyum manis.
“Beda, apa maksud anda, Nona?” tanya Diva dengan raut wajah bingung.
Serena hanya tersenyum manis, ia menutup bagasi mobil. Keduanya terperanjat kaget, saat melihat beberapa pria asing, sudah berdiri di samping mobilnya. Serena menarik Diva di belakang tubuhnya, melindunginya dari bahaya. Dengan wajah sangat tenang, Serena memandang pria itu satu-persatu. Dari tempat yang tidak terlalu jauh, sosok pria berjas hitam, turun dari mobil.
Melangkah perlahan, mendekati posisi Serena saat ini. Pria itu tersenyum dingin memandang wajahnya. Serena terus memperhatikan pria itu, dengan tatapan tajam.
Siapa lagi pria ini, aku tidak pernah bertemu dengannya.
Serena hanya bertanya-tanya dalam hati. Ia terus mengingat, sosok pria yang kini berjalan mendekatinya. Namun ia tidak berhasil mengingat pria itu. Serena memundurkan langkah kakinya, untuk menjauhi pria itu. Dengan cepat, pria-pria itu menutup jalan untuk Serena pergi.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Serena dengan tenang, dan tetap bersikap waspada.
“Senang bertemu dengan anda, Nona Erena.” Pria itu tersenyum tipis, dengan tatapan menghina.
“Maaf, saya tidak punya urusan dengan anda.” Serena menarik tangan Diva, untuk membawanya masuk ke dalam mobil.
“Kau tidak bisa pergi begitu saja. Aku membutuhkanmu untuk menangkap Zeroun. Sepertinya kau sangat berharga untuk hidupnya.” Pria itu memperhatikan Serena dari ujung kaki dan ujung kepala.
“Kau terlihat biasa saja, Nona. Tapi kau memiliki harga yang fantastis, jika aku berhasil membawamu hidup-hidup.”
“Diva, masuklah ke dalam mobil. Kunci mobil itu, jangan biarkan siapapun masuk ke dalamnya.” Perintah Serena pada Diva.
“Tapi, Nona ….” ucap Diva khawatir.
“Aku akan baik-baik saja,” jawab Serena penuh keyakinan.
Diva tidak lagi mempunyai pilihan. Ia menuruti Serena, dan masuk ke dalam mobil. Dengan cepat ia mengambil handphone, dan menghubungi Biao.
“Aku tidak lagi berharga di depan pria itu. Kau akan sia-sia, jika menangkapku.” Serena memandang wajah pria itu dengan santai.
“Aku tidak membutuhkan penjelasanmu, yang aku butuhkan saat ini adalah dirimu.” Pria itu berteriak keras, kesabarannya sudah habis. Ia ingin segera membawa Serena pergi dari tempat itu.
“Kau harus membayar semua ini.”
Pria itu ingin membalas pukulan Serena, dengan cepat Serena memutar tubuhnya dan menagkis senjata salah satu dari pria asing itu. Pistol itu terpental ke atas, Serena melompat untuk mengambilnya. Serena memang sangat lihai dalam aksi bela diri meskipun mengenakan high heels. Kini posisinya sudah terbalik, Serena menodongkan pistol tepat ke arah wajah pria itu. Serena tersenyum tipis penuh kemenangan.
“Aku sudah membayarnya. Apa kau ingin aku membayar lebih banyak lagi?” Serena memandang pria itu dengan tatapan membunuh.
“Mundur!” Pria itu memberi perintah kepada semua bawahannya untuk mundur dan menjauhi Serena.
“Aku tidak punya urusan denganmu. Pergi dari sini, jika kau masih ingin hidup!”
“Anda sedikit bermimpi, Nona. Apa anda pikir saya sudah kalah?”
Pria itu melangkah mundur sambil tersenyum tipis. Ia mengeluarkan satu detonator peledak dari sakunya. Menunjukkan di depan Serena sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Apa yang terjadi dengan wanita yang ada di dalam mobil itu. Jika aku menekan benda ini hingga aktif?”
Serena terperanjat kaget. Ini pertama kalinya ia berurusan dengan bahan peledak. Ia kembali berpikir keras untuk menyelamatkan nyawa Diva yang ada di dalam mobil.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Serena mulai menyerah.
“Dari awal aku sudah bilang bukan, ikut aku dan jangan membantah. Aku ingin membawamu dalam keadaan hidup.” Pria itu melangkah perlahan, mendekati Serena.
“Baiklah, jika itu keinginanmu. Aku tidak bisa menolak.” Serena tersenyum penuh arti.
“Aku suka dengan wanita yang patuh. Setelah urusan ini selesai, kau bisa menjadi wanitaku, Nona.” Pria itu mulai memandang Serena dengan tatapan mesum.
“Tergantung bayarannya,” jawab Serena santai.
“Tidak ku sangka, wanita Zeroun Zein adalah wanita murahan.” Pria itu membuang ludah dengan tatapan menghina.
Serena berjalan mendekati pria itu dengan tatapan menggoda, “Aku tidak terlalu suka, kau berkata seperti itu ….”
Serena mulai menyentuh pipi pria itu, dengan tatapan menggoda. Pria itu tidak kuat dengan godaan yang diberikan oleh Serena. Ia tidak lagi kosentrasi dengan detonator peledak yang ia genggam. Dengan mudah, Serena merebut benda itu.
Duar ! Duar !
Suara tembakan datang dari kejauhan, semua pria itu beralih ke sumber tembakan. Serena melihat ke sumber tembakan dengan satu senyuman tipis.
Aku tahu, sejak tadi kau bersembunyi di sana.
Pria itu tidak lagi beraksi, ia justru lari dan masuk ke dalam mobil. Pria-pria yang tadi mengelilingi Serena, kini tidak lagi bernyawa dan berserak di parkiran. Serena menatap ke arah gerombolan pria yang berjalan mendekatinya. Jumlah mereka jauh lebih banyak, dari jumlah pria yang mengepung Serena. Satu pimpinan gerombolan itu, adalah sosok yang sangat ia kenali.
“Zeroun.” Serena terus memandang wajah Zeroun, yang kini berjalan mendekat ke arah dirinya.
“Jangan terlalu percaya diri. Aku melakukan semua ini, untuk membalas hutangku padamu. Kau menyelamatkan hidupku dua kali.” Zeroun menatap tajam wajah Serena. Ia telah datang di waktu yang tepat. Tapi ia tidak ingin, menunjukkan rasa khawatirnya di depan Serena.
“Aku baik-baik saja. Senang bertemu denganmu lagi, Zeroun Zein.” Serena menatap mata Zeroun.