Mafia's In Love

Mafia's In Love
Makan Siang Part. 1



Kini Daniel sudah ada di dalam mobil, keramaian kota menjadi pemandangan utama di siang hari. Terdapat banyak orang berlalu-lalang mengikuti aktifitasnya masing-masing. Daniel masih diam tanpa ingin mengatakan satu katapun saat ini. Hatinya dipenuhi perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


Wajah Serena, lagi-lagi hadir di dalam ingatannya. Sudah berulang kali Daniel membuka laptopnya namun akhirnya ia kembali menutup laptop itu lagi. Segala hal yang sudah tersusun rapi di isi kepalanya harus terhapus begitu saja saat wajah Serena kembali muncul di kepalanya.


‘Aku tidak bisa terus-terusan seperti ini’, gumam Daniel dengan kesal dalam hati.


Biao yang duduk di belakang kemudi hanya bisa melirik sebentar ke arah Daniel melalui kaca spion. Pikirannya masih dipenuhi rasa khawatir terhadap Serena. Wajah marah Daniel jelas-jelas terlihat saat ia menggendong Serena dan membawanya masuk ke dalam kamar. Belum lagi kehadiran Kenzo yang semangkin hari tidak tau batasan antara dirinya dan Serena.


‘Pria itu selalu saja membuat masalah dalam hidup tuan muda’, terus memfokuskan pandangannya pada jalan yang terbentang lurus di hadapannya.


Jadwal kedua segera di mulai, kini Daniel dan Biao sudah tiba di sebuah restoran ternama yang menjadi tempat pertemuan antara Daniel dan investor lama yang ingin kembali bekerja sama dengan perusahaannya.


Tidak seperti biasa, hari ini Daniel terlihat seperti orang yang tidak profesional. Nominal uang yang di sebutkan dari lawan bicaranya menjadi suatu hal yang tidak menarik lagi. Tidak banyak merespon lawan bicaranya, Daniel hanya terlihat diam sebagai seorang pendengar yang setia.


“Anda tidak enak badan tuan Daniel?” tanya Ceo dari perusahaan asing yang kini ada di hadapannya.


“Tidak, saya baik-baik saja tuan”, jawabnya yang kembali sadar akan situasi kini ia berada.


“Saya sudah lama bekerja sama dengan anda! Ini pertama kalinya saya melihat anda seperti ini”, protes pria itu dengan tatapan curiga kepada Daniel.


“Benarkah? Itu hanya perasaan anda saja tuan. Saya selalu seperti ini setiap saat!” bela Daniel yang masih tidak terima dengan tuduhan lawan bicaranya.


“Baiklah, saya rasa pertemuan kita hari ini sudah selesai tuan, saya harus kembali ke perusahaan!” beranjak dari duduknya dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Daniel.


“Baik tuan, senang bekerja sama dengan anda!” balas Daniel yang menyambut jabatan tangan pria itu.


Daniel kembali duduk di sebuah kursi sebelumnya, tatapan matanya masih ia fokuskan pada rombongan yang menjadi rekan bisnisnya hari ini.


“Tuan”, sapa Biao sambil tertunduk hormat.


“Ada apa?” tanya Daniel singkat dan membuang tatapan matanya ke sembarang arah.


“Kita akan menemui Mr. X beberapa saat lagi. Mr. X ingin kita menunggunya di sini”, ucap Biao menjelaskan agenda Daniel selanjutnya.


“Apa ada masalah dengan kerja sama kita dengannya Biao?” tanya Daniel dengan raut wajah bingung.


“Tidak tuan, semua berjalan lancara”, menuangkan air ke dalam gelas kosong yang ada di hadapan Daniel.


“Lalu, kenapa dia ingin mengadakan pertemuan ini?” tanya Daniel yang masih dipenuhi rasa penasaran.


“Mr. X mengadakan pertemuan ini secara mendadak tuan, mungkin ada hal penting yang ingin ia sampaikan langsung pada anda tuan”.


Daniel kembali diam dan mengambil sebuah gelas yang sudah terisi, dengan cepat ia meneguk air itu hingga hanya tersisa gelas kosong disana. Daniel meletakkan gelas dengan cepat hingga mengeluarkan satu bunyi dari meja kaca itu.


“Apa kau sudah menyerah dengan penyelidikan ini Biao?” tanya Daniel tiba-tiba sambil menatap tajam ke arah wajah Biao.


“Maaf tuan, saya masih berusaha terus untuk menyelidiki semua masa lalu nona Serena”, jawab Biao penuh penyesalan.


“Aku tidak ingin hal ini di ketahui oleh Serena!” perintah Daniel.


“Baik tuan”.


Rombongan Mr. X baru saja tiba, dari kejauhan di arah pintu masuk. Biao memang sudah menyusun jadwal kegiatan Daniel hari ini dengan sangat rapi.


“Kenapa dia selalu saja datang dengan membawa banyak pengawal”, gumam Daniel pelan dengan tatapan curiga.


“Selamat siang tuan Daniel”, sapa Mr. X yang baru saja tiba di hadapan Daniel.


“Selamat siang, senang bertemu dengan anda lagi tuan”, jawab Daniel dengan senyuman melingkar di bibirnya.


“Maafkan saya karena sudah mengganggu waktu anda tuan Daniel”.


“Tidak, saya tidak pernah merasa direpotkan akan hal ini Mr. X”, balas Daniel lagi.


“Sebenanya, pertemuan kita hari ini bukan untuk membahas tentang kerja sama perusahaan kita tuan Daniel”, ucap Mr. X mencoba untuk menjelaskan tujuannya siang ini.


“Lalu, apa yang ingin anda bicarakan tuan?” tanya Daniel mulai penasaran.


“Arion! Saya ingin menanyakan tentang Arion tuan Daniel!” ucap Mr. X mantap dengan tatapan tajam yang ia pusatkan pada wajah Daniel saat ini.


Deg,, !


Bukan hanya Daniel, Biao juga merasakan perubahan yang terjadi pada jantungnya. Perkataan Mr. X mampu menciptakan suasana menegangkan di siang itu. Kini tatapan Daniel ia alihkan pada wajah Biao yang masih tertunduk binngung.


“Ada apa dengan Arion tuan?” tanya Daniel yang terlihat membuang nafasnya secara kasar dan mengembalikan tatapan matanya pada wajah Mr. X.


“Arion telah tiada bukan? dan nama anda yang menjadi penyebabnya”, ucap Mr.X secara langsung.


“Ya, dia telah kehilangan nyawanya. Dan memang benar, kami yang menyebabkannya”, jawab Daniel jujur tanpa ingin menutupi keadaan sebenarnya.


“Apa hubungan anda dengan Arion tuan Daniel? Kenapa anda dendam dengannya?” tanya Mr. X menuntut sebuah jawaban dari Daniel.


“Saya tidak pernah mengenal Arion sebelumnya, dia datang di momen bulan madu saya dan istri saya. Dia menghancurkan semuanya!” tatapan mata Daniel kembali dipenuhi dendam atas kehilangan Tama yang disebabkan Arion.


“Kenapa dia menyerang anda?” tanya Mr. X yang mulai menyelidiki.


“Saya tidak tau tuan, apa tujuan dia hadir di antara kami”, ucapan Daniel terhenti, bibirnya tidak ingin lagi menjelaskan yang sebenarnya telah terjadi. Daniel tidak ingin membawa nama Serena dalam percakapannya kali ini.


“Apa anda tau, kalau dia ketua mafia White Tiger tuan?”


“Ya, saya tau. Setelah kejadian itu, kami mulai menyelidiki identitas Arion. Dan kami tau, kalau ia seorang mafia”.


“Apa anda yakin tuan, kalau tidak ada hal yang menyebabkan Arion datang untuk menyerang anda?” tanya Mr. X yang mulai curiga terhadap Daniel.


“Saya tidak tau tuan! jika anda ingin tau, anda bisa menyelidikinya sendiri”, tatapan Daniel semangkin tajam memandang Mr. X.


Meskipun belum ada satu buktipun yang menyeret nama Mr. X dalam peristiwa yang pernah ia alami, namun isi hatinya sudah menyimpan beribu kecurigaan terhadap Mr. X.


“Baiklah, saya rasa kita tidak perlu membahas hal itu lagi. Itu bukan suatu hal yang menguntungkan bagi kita bukan?” mulai mencairkan suasana yang sebelumnya dipenuhi dengan ketegangan.


“Ya, anda benar tuan”, jawab Daniel singkat dan kembali mengambil gelas yang telah berisi air.


“Apa saya boleh menjenguk istri anda tuan?”