Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 7



Serena termenung beberapa saat. Pemandangan yang kini ada di depan matanya terlihat begitu membingungkan. Wanita itu memandang wajah Pak Han yang kini menundukkan kepala. Ada rasa curiga di dalam hati Serena saat mengingat ajakan Pak Han beberapa menit yang lalu. Semua seperti telah direncanakan dengan begitu rapi sore itu.


“Kejutan?” celetuk Serena tanpa ekspresi.


“Sayang. Apa Kau tidak suka?” Daniel berjalan mendekati posisi Serena yang kini masih diam di tempatnya. Tidak ada tanda-tanda bahagia di raut wajah Serena saat itu.


“Aku ….” Serena memandang sepeda motor gede itu masih dengan wajah bingung.


“Apa Kau berniat untuk pamer padaku karena sudah bisa mengendarai sepeda motor ini?” Serena melipat kedua tangannya di depan dada dengan tatapan menyelidik. Memperhatikan penampilan suaminya dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Pertanyaan Serena sore itu sempat membuat Biao dan Tama menahan tawa. Sungguh respon yang berbeda jauh dari apa yang di harapkan oleh Daniel sejak awal. Pria itu membayangkan wajah ceria Serena yang berlari dan memeluknya ketika ia tiba dengan menggunakan sepeda motor itu. Tidak di sangka justru wajah penuh keraguan yang kini terlihat di wajah Serena. Bahkan aura tidak yakin itu terlihat begitu jelas.


“Sayang, apa kau tidak percaya padaku kalau Aku bisa mengendarai sepeda motor?” Daniel memandang wajah Serena dengan seksama.


“Aku percaya kau pasti bisa.” Serena menyentuh pipi Daniel dengan bibir tersenyum. Wanita tangguh itu berjalan mendekati sepeda motor milik Daniel.


“Apa Kau mengendarainya di depan gerbang itu?” Serena menunjuk pagar tinggi untuk pintu masuk ke lokasi rumah utama.


Kali ini pertanyaan Serena berhasil membuat Biao dan Tama melepas tawanya secara bersamaan. Tidak ingin Daniel semakin emosi, dua tangan kanan Daniel berusaha untuk membelas sang majikan.


“Nona, Tuan Daniel mengendarai sepeda motor ini dari S.G.Group.” Tama angkat bicara lebih dulu.


“Benar Nona. Tuan Daniel terlihat sangat ahli saat mengendarai sepeda motor di jalan lintas tadi.” Biao tidak mau ketinggalan membela Daniel.


“Apa kalian menutup jalan raya?” Serena mengeryitkan dahi.


“Bagaimana Nona tahu?” celetuk Tama tanpa sadar. Dengan cepat Biao menyenggol sahabatnya yang bisa dibilang polos itu. Dari posisi tidak terlalu jauh, Daniel menepuk dahinya sambil memejamkan mata. Giginya menggertak karena kesal atas kejujuran yang diucapkan Tama sore itu.


“Hanya beberapa meter, Nona,” sambung Tama yang berusaha bohong lagi.


“Beberapa meter? bahkan jarak pintu gerbang itu ada 100 meter. Apa Kau yakin dengan apa yang baru saja kau ucapkan Tama?” Serena benar-benar menyelidiki ketiga pria yang kini ada di dekatnya. Sedangkan Pak Han lebih memilih diam karena tidak ingin terlibat di dalamnya.


“Sayang, hari sudah semakin sore. Cepat gantibaju kita akan segera jalan-jalan sore.” Daniel memeluk tubuh Serena dari belakang. Satu-satunya cara untuk membela dirinya saat ini adaah dengan cara merayu istrinya dengan kelembutan.


“Aku akan membawamu ke tempat yang sangat indah. Kita akan melihat matahari terbenam di sana,” sambung Daniel sambil mengecup pipi kanan Serena dengan mesra.


“Benarkah?” Serena tersenyum bahagia.


Daniel mengangguk, “Sekarang ganti pakaianmu. Kita akan segera berangkat. Kali ini jalanan tidak akan di tutup. Kita akan berjalan-jalan dengan sepeda motor seperti orang biasa pada umumnya.” Daniel melepas pelukannya memandang wajah cantik istrinya.


Serena tidak lagi mau mempermasalahkan kemampuan Daniel. Dengan wajah penuh semangat Serena masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya. Setelah Serena masuk ke dalam rumah, Daniel menatap wajah Tama dan Biao secara bergantian.


“Baik, Tuan.” Biao masuk ke dalam mobil untuk mempersiapkan segalanya. Sedangkan Tama hanya berdiri mematung diposisinya berada. Daniel mengeryitkan dahi saat mobil Biao melaju pergi dan meninggalkan Tama sore itu.


“Tuan, Saya ijin untuk tidak ikut. Ada hal penting yang harus saya lakukan malam ini.” Tama membungkuk hormat.


“Saya permisi, Tuan.” Pak Han lebih dulu berpamitan untuk masuk kedalam rumah. Meninggalkan Daniel dan Tama di depan pintu utama.


“Ya sudah. Semua akan baik-baik saja. Apa Mama besok jadi pulang?” Daniel memandang wajah Tama dengan seksama. Sudah 1 minggu Tuan dan Ny. Edritz pergi ke vila untuk berlibur. Ny. Edritz ingin memamerkan kehamilan menantunya pada seluruh kerabat dekat yang ia miliki.


“Kepulangan Tuan dan Nyonya di tunda, Tuan. Tetapi beliau bilang, mereka akan segera tiba sebelum musim dingin tiba.” Tama memperhatikan sepeda motor yang akan digunakan oleh Daniel.


“Tuan, saat ingin berbelok anda harus menghidupkan lampu sein-nya, Tuan.” Tama kembali mengingat saat tadi Daniel mengendarai sepeda motor itu. Pria itu berbelok sesuka hatinya tanpa mau memberi tanda.


“Apa kau meragukanku?” Daniel terlihat tidak suka dengan peringatan Tama sore itu.


“Maafkan Saya, Tuan,” ucap Tama penuh rasa bersalah.


“Sayang, Aku sudah siap.” Serena muncul dengan celana panjang dan jaket hitam miliknya. Kehamilannya yang masih kecil membuat tubuhnya masih bisa bergerak dengan bebas. Wanita itu berjalan dengan santai mendekati posisi Daniel.


“Ayo kita berangkat,” sambung Serena dengan senyuman.


“Sayang, apapunj yang kau kenakan. Selalu saja membuat penampilanmu terlihat sangat cantik.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.Mengecup bibir istrinya dengan begitu mesra.


Tama menunduk sebelum berpamitan dengan Daniel sore itu. Dengan langkah cepat pria itu masuk ke dalam rumah utama tanpa mau berbalik badan lagi.


“Ayo kita pergi,” rengek Serena saat suaminya tidak kunjung menyelesaikan ciuman mesranya sore itu.


“Kenapa kau selalu saja menggoda.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena.


“Kenakan ini.” Daniel mengambil helm dari sepeda motor yang ada di sampingnya. Dengan kelembutan, Daniel memakaikan helm itu di kepala istrinya. Wajahnya terlihat sangat bahagia.


“Ok, semua sudah selesai. Saatnya kita berangkat.” Daniel naik ke atas sepeda motornya. Diikuti Serena yang juga duduk sambil memeluk tubuh Daniel sore itu. Wanita itu mengukir senyum bahagia saat bisa berjalan-jalan berkeliling kota di sore hari bersama suami tercinta.


“Lets go!” teriak Serena penuh semangat.


Daniel melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang. Pria itu tetap berhati-hati dengan keselamatan istri dan calon anak yang kini ada di boncengannya. Sepeda motor Daniel keluar meninggalkan halaman luas rumah utama. Dari kejauhan, Biao dan beberapa pengawal yang sudah dipersiapkan terlihat siaga. Satu persatu pengawal itu mulai mengikuti Daniel dan Serena secara diam-diam. Ada yang mengendarai sepeda motor, ada pula yang mengendarai mobil.


“Semoga Tuan Daniel benar-benar bisa mengendarai sepeda motor itu,” ucap Biao dengan penuh keraguan sebelum melajukan mobil miliknya.


Ingat ya...kalau like GK Sampek 500 kita GK up. cm like lho...gratis tis tis....🤣