Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 25



Pukul 03.00 pagi. Kota Sapporo


Jet pribadi Zeroun mendarat dengan sempurna. Serena turun sambil berpegangan tangan dengan Shabira. Zeroun dan Lukas mengikuti mereka dari belakang. Tidak ada yang berani mengeluarkan kata lebih dulu. Shabira terus saja bertanya-tanya dalam hati, atas sikap aneh Zeroun dan Serena hari ini.


“Kak, apa kita langsung ke rumah Kenzo?” Shabira memandang wajah Serena, menghentikan langkahnya.


“Tidak, aku harus menyiapkan semuanya. Sebelum kau bertemu dengan Kenzo.” Serena tersenyum memandang Shabira.


“Sekarang kita kemana?” tanya Shabira bingung.


“Shabira, aku punya hadiah kecil untukmu.” Zeroun mengeluarkan kata. Ia berjalan mendahului Serena dan Shabira.


“Hadiah?” tanya shabira bingung.


“Ini untukmu.” Zeroun melempar kunci mobil, dan memutar tubuhnya.


Shabira menangkap kunci mobil itu dengan cepat. Ia memperhatikan kunci mobil itu sebelum memandang ke arah Zeroun, “Apa anda serius memberikan hadiah ini untukku?” teriak Shabira.


“Anggap saja, hadiah kecil dariku. Karena kau sudah kembali dengan Kenzo.” Zeroun terus berjalan meninggalkan Serena dan Shabira di sana. Lukas juga mengikuti langkah Zeroun dari belakang.


“Apa aku bermimpi. Kunci mobil ini.” Shabira menekan alarm mobil. Ia tersenyum lebar saat melihat mobil sport, yang terparkir tidak jauh dari posisinya.


“Kak, lihatlah. Apa sekarang uang itu sudah seperti kertas baginya? Ini mobil yang sama seperti milikmu kak.” Shabira berlari ke arah mobil dengan wajah berseri-seri.


Serena hanya diam, ia memandang Zeroun dari kejauhan. Serena tahu, kalau mobil itu adalah hadiah kecil yang di siapkan Zeroun untuk dirinya. Tapi karena kecewa, Zeroun memberikan hadiah itu untuk Shabira. Serena berjalan cepat ke arah Shabira. Ia ingin segera kembali ke rumah. Bertemu dengan Daniel.


“Mungkin dia sangat menyayangimu. Makanya memberi mobil ini untukmu.” Serena masuk ke dalam mobil.


Shabira juga masuk ke dalam mobil, malam ini Shabira yang mengemudikannya, “Kakak, aku tidak pernah bertemu dengan Bos Zeroun. Berbincang dengannya juga tidak. Jadi, jika sifat dia berubah seperti ini. Sepertinya ada yang salah.” Shabira kembali berpikir, ia melihat sikap Serena dan Zeroun yang terlihat bermusuhan.


“Jangan terlalu banyak berpikir. Ayo kita pulang.” Serena memasang sabuk pengaman.


“Apa mobil ini untukmu, kak?”


Serena terdiam, ia tahu kalau mobil ini miliknya. Tapi ia tidak ingin menjelaskan semuanya, saat ini, “Ayo kita jalan Shabira.” Serena memandang ke arah depan, ia tidak ingin membahas masalah Zeroun lagi.


“Baiklah.” Shabira melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Mobil itu menembus kesunyian malam. Menerjang embun yang membias di jalanan. Udara terasa begitu segar untuk di hirup.


Shabira melajukan mobil itu, ke arah alamat yang di katakan oleh Serena. Tanpa banyak tanya, Shabira menuruti permintaan Serena.


Hingga beberapa saat kemudian. Mobil itu berhenti di depan gerbang rumah utama. Beberapa pengawal mendatangi mobil yang di tumpangi Serena, sebelum membuka pintu gerbang.


“Permisi, Nona. Anda siapa? jam segini bertamu?” Pelayan itu belum menyadari wajah serena yang berada di samping Shabira.


“Kakak ….” Shabira memecahkan lamunan Serena.


“Ada apa?” Serena tersentak dari lamunanya. Ia memandang wajah pengawal itu. Belum sempat ia mengeluarkan kata. Pelayan itu melangkah mundur dan menunduk hormat.


“Selamat pagi, Nona. Maaf saya tidak melihat anda tadi.” Pengawal itu berlari ke arah gerbang dan membuka pintu gerbang. Shabira melajukan mobilnya dengan pelan. Ia memperhatikan lingkungan rumah utama milik keluarga Edritz Chen.


“Kak, ini rumahmu?” Shabira menghentikan mobilnya di depan pintu utama.


“Shabira. Dengarkan perkataanku. Apapun yang nanti kau lihat, jangan bertanya. Aku akan menjelaskan semuanya jika waktunya sudah tepat. Apa kau mengerti?” Serena memandang wajah Shabira.


Shabira menganggu pelan, “Iya kak. Aku mengerti.”


Serena turun dari mobil, Shabira mengikuti langkah Serena. Pengawal yang berjaga di depan pintu utama menunduk hormat, sebelum membukakan pintu untuk Serena dan Shabira.


“Selamat pagi, Nona. Selamat datang.”


Serena tidak menjawab lagi, Ia menarik tangan Shabira masuk ke dalam.


“Shabira, kau bisa tidur di kamar atas. Di sana ada kamar tamu yang letaknya tidak jauh dari kamarku.” Serena terus berjalan. Menaiki anak tangga. Rumah itu masih sunyi. Yang terlihat hanya pengawal-pengawal yang berjaga.


Shabira terus mengikuti langkah Serena menaiki anak tangga. Hingga keduanya berhenti di depan pintu kamar milik Shabira.


“Kau boleh masuk, dan istirahatlah. Ingat perkataanku tadi.” Serena pergi meninggalkan Shabira. Masuk ke dalam kamar miliknya dan Daniel.


Serena membuka pintu perlahan. Ia melangkah masuk, tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Serena tersenyum saat melihat Daniel tertidur dengan nyenyak.


“Dasar pembohong. Kau bilang tidak bisa tidur, jika tidak ada aku di sampingmu.” Serena berjalan ke arah kamar mandi, untuk membersihkan diri.


Ia kembali memikirkan semua peristiwa yang baru saja terjadi. Memejamkan mata untuk sejenak dan melupakan semuanya.


“Sekarang kita musuh? Aku pikir, itu lebih baik daripada kita harus menjadi teman.” Serena menyelesaikan mandinya. Ia mengenakan kimono satin berwarna peach. Berjalan mendekati tempat tidur, dan naik ke atas tempat tidur dengan hati-hati.


“Apa kau merindukanku?” Serena mengusap lembut wajah Daniel, mencium keningnya dengan durasi yang lama.


Daniel membuka matanya perlahan. Ia merasakan napas Serena di depan wajahnya. Daniel memfokuskan pandangannya. Ia meyakinkan dirinya sendiri. Kalau sosok yang kini ada di hadapannya, adalah Serena.


“Aku mengganggu tidurmu?” tanya Serena dengan senyuman.


Daniel terduduk dari tidurnya, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat, “Sayang, apa ini kau? apa aku bermimpi?” Daniel terus menatap wajah Serena.


“Ya, ini aku sayang. Aku sudah kembali."


Tanpa banyak kata, Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Ia memeluk erat tubuh Serena, dan tidak ingin kehilangan lagi.


“Aku sangat merindukanmu.” Daniel mengusap lembut punggung Serena.


“Aku juga sangat merindukanmu.” Serena memejamkan matanya. Ia merasakan hatinya kembali tenang. Terbebas dari beban di masa lalu.


“Apa kau baik-baik saja?” Daniel melepas pelukannya, memandang wajah Serena dengan seksama.


“Ya, tentu. Lihatlah.” Serena memperlihatkan tubuhnya yang masih utuh dan tidak terluka.


“Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Daniel memegang lembut dagu Serena, dan mengecup bibirnya dengan durasi yang lama.


“Aku mencintaimu.”


“Aku juga mencintaimu, Daniel Edritz Chen.” Serena mengelus lembut pipi Daniel.


“Ayo kita tidur. Sepertinya mulai besok aku akan membeli borgol, agar kau tidak bisa jauh lagi dariku.” Daniel membawa tubuh Serena untuk tidur. Memeluk tubuh serena dari belakang. ia kembali bernapas lega, karena bisa kembali memeluk tubuh Serena.


“Sayang, apa Shabira sudah ketemu?” Daniel berbisik pelan di telinga Serena.


“Sudah, ia sudah tidur di kamar tamu yang ada di dekat tangga.” Serena menjawab sambil memejamkan mata.


Daniel kembali memejamkan mata. Ia menikmati kebersamaannya dengan Serena saat ini. Hatinya kembali tenang. Karena kini Serena telah kembali ke dalam pelukannya.


***


Di rumah Zeroun Zein.


Zeroun turun dari mobil dengan langkah gusar. Semua yang ia siapkan, tidak berjalan sesuai rencana. Lukas mengikuti langkah kaki Zeroun dari belakang. Ia sangat mengerti suasana hati Zeroun saat ini.


Zeroun menghentikan langkahnya di depan pintu kamar. Memandang tajam ke arah Lukas, “Tinggalkan aku sendiri!” Zeroun masuk ke dalam kamar, dan membanting pintu.


Lukas menunduk hormat, ia kembali mengangkat tubuhnya saat Zeroun sudah masuk ke dalam kamar.


“Mobil itu kau hadiahkan untuk Nona Erena. Tapi kau memberikannya kepada Shabira, karena kecewa dengan keputusan Nona Erena, Tuan.” Lukas meninggalkan kamar Zeroun.


Di dalam kamar, Zeroun membanting semua barang yang ada dihadapannya. Ia kembali kecewa. Kali ini sudah tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan Serena. Namanya telah terhapus dari hati Serena.


“Kenapa kau melakukan semua ini kepadaku? kenapa!” Zeroun berteriak di depan photo Serena yang terpanjang dikamarnya.


“Aku tidak pernah melakukan kesalahan apapun kepadamu. Kenapa kau menghukumku dengan cara seperti ini.”


Zeroun kembali mengingat, dengan wanita-wanita yang dulu pernah ia sakiti. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Memandang langit-langit kamar. dan kembali membayangkan tangisan para wanita yang pernah ia lukai hatinya.


“Apa ini hukum karma untukku. Karena tidak pernah menghargai orang, yang tulus mencintaiku.” Zeroun memejamkan matanya, melupakan kesediahn hatinya. Hingga ia terlelap di atas sofa dengan pakaian yang belum terganti. Kamarnya terlihat sangat berantakan. Pecahan kaca menyebar di permukaan lantai.