
Di rumah Zeroun Zein
Zeroun berdiri di depan jendela. Memandang pemandangan luar yang terlihat terang karena cahaya lampu. Tangannya memegang perut, untuk menahan rasa sakit. Sesekali, cairan merah masih keluar membasahi perban yang menutupi luka.
Lukas masuk membawa makan malam Zeroun. Ia meletakkan makanan itu dengan hati-hati di atas meja. Beberapa bulir obat juga sudah ia siapkan untuk Zeroun saat ini.
“Tuan. Anda harus segera makan dan minum obat. Luka anda akan segera sembuh, jika anda meminum obat ini secara teratur.” Lukas membungkuk hormat di belakang Zeroun.
Zeroun memutar tubuhnya memandang Lukas, “Apa yang terjadi?” Sejak awal, Zeroun tahu kalau Lukas menyembunyikan sesuatu. Lukas tidak memberi kabar apapun tentang kabar Serena hari ini.
“Maaf, Tuan. Tapi saya harap, anda memikirkan kesehatan anda saat ini.” Lukas masih tertunduk takut.
“Selama orang yang aku sayangi, terluka. Aku tidak akan pernah bisa duduk diam, di sini. Orang itu harus berani bertanggung jawab atas perbuatannya.” Mata Zeroun berubah dingin.
“Maaf, Tuan. Tapi ….”
“Aku sudah berusaha untuk melupakannya. Tapi, semakin besar kebencianku padanya, Aku semakin peduli dengan dirinya.” Zeroun berjalan perlahan ke arah sofa.
“Saya akan melakukan semua perintah anda, Tuan.” Lukas kalah, ia tidak lagi memiliki keberanian untuk meminta Zeroun melupakan Serena.
“Cari tahu semuanya. Aku akan menghabisi orang yang bertanggung jawab dengan semua ini.” Zeroun memasukkan satu sendok makanan ke dalam mulutnya, mengunyah makanan itu secara perlahan.
“Baik, Tuan. Saya akan segera mencari informasi tentang Nona Erena. Hari ini Kenzo dan Daniel menyerang pertahanan White Tiger. Shabira juga membawa Queen Star untuk membantunya. Mereka berhasil mengalahkan Wubin, meskipun mereka kehilangan banyak pasukan hari ini.” Sejak awal, Lukas sudah tahu, peristiwa apa yang terjadi hari ini.
Zeroun masih diam. Ia terus melanjutkan makan malamnya sambil mendengarkan cerita yang dibawakan Lukas malam ini.
“Seseorang sudah menyiapkan rencana ini dengan begitu rapi, Tuan. Saya tidak tahu, siapa dalang semua ini. Tapi yang pasti, Sonia Ananta, terlibat di dalamnya.”
Zeroun menyelesaikan makan malamnya, meletakkan sendok dan garpu perlahan di atas piring kosong. Ia membersihkan mulutnya, sebelum meminum obat yang di sediakan Lukas di atas meja.
“Apa Erena selamat dalam peristiwa itu?” Zeroun melatakkan gelas kosong di atas meja.
“Saya tidak tahu, Tuan. Tapi ….” ucapan Lukas terhenti saat Zeroun menatap matanya dengan tajam.
“Nona Erena kemungkinan masih hidup, Tuan.” Lukas menunduk takut.
“Selidiki secepatnya.”
“Baik, Tuan. Saya permisi dulu.” Lukas berjalan pergi meninggalkan kamar Zeroun. Ia memulai penyelidikannya, untuk mencari keberadaan Serena saat ini.
Di kamar, Zeroun bersandar di sofa. Ia menatap langit-langit kamar, sambil memegang perutnya yang masih terluka.
“Andai luka ini tidak ada. Aku sudah pergi mencarimu, Erena. Kau wanita yang kuat. Aku akan segera menyelamatkanmu.” Zeroun memejamkan matanya secara perlahan, untuk menutupi kesedihan hatinya saat ini.
Di Rumah Utama.
Daniel baru saja tiba di rumah, Tama dan Pak Han menyambut kedatangan Daniel dengan menunduk hormat. Daniel tidak menyapa keduanya, ia terus berjalan menuju kamar dengan raut wajah sedih.
Pak Han dan Tama hanya bisa diam memandang punggung Daniel yang semangkin menjauh.
“Tuan, apa kita tidak memiliki cara lain untuk melacak posisi Nona Serena?” Pak Han memandang wajah Tama dengan penuh harap.
“Handphone Nona Serena tertinggal di rumah Diva. Jika Nona Serena membawa handphone itu pergi, akan sangat mudah melacaknya.”
“Apa handphone itu tidak rusak karena terkena ledakan?” tanya Pak Han penasaran.
Suara mobil baru saja tiba. Tama dan Pak Han memutar tubuhnya untuk melihat ke arah belakang. Biao baru saja tiba di rumah utama, ia mengerutkan dahi saat melihat Tama dan Pak Han berdiri di depan pintu utama.
“Aku baik-baik saja. Jangan terlalu khawatir seperti itu, Tama.” Biao berjalan masuk.
“Biao. Aku baru saja menyambut Tuan Daniel. Bukan menunggumu pulang!” protes Tama tidak terima.
Biao menghentikan langkah kakinya, memutar tubuhnya memandang Tama, “Apa kau tidak mengkhawatirkan keselamatanku, Tama? Aku baru saja bertaruh nyawa melawan Bom dan peluru.” Wajah Biao berubah serius.
Tama terdiam sejenak, “Bukan, maksudku bukan begitu, Biao!” Wajah Tama berubah jadi merasa bersalah.
Kenapa jadi aku yang harus meminta maaf padanya.
Tama protes dalam hati.
Biao diam sejenak sebelum tertawa terbahak-bahak, “Jika kau memasang wajah itu di tempat pertempuran, kau akan mudah mencapai surga, Tama.” Biao melanjutkan langkah kakinya.
“Apa kau baru saja menghinaku, Biao. Aku juga pernah membunuh orang, Biao.” Tama mengejar langkah kaki Biao.
“Satu orang, itu juga membuatmu mimpi buruk hingga tujuh hari tujuh malam.” Biao terus meledek Tama.
“Kenapa kau menyuruhku kembali ke S.G.Group. Aku juga bisa membantumu bertarung tadi!” Tama masih tidak mau kalah dari Biao.
“Kau juga sudah bertarung, dengan menyelamatkan S.G.Group hari ini,” jawab Biao santai.
“Apa kau memujiku, Biao?” Tama melipat kedua tangannya, melirik ke arah Biao dengan wajah percaya diri.
Biao menghentikan langkah kakinya, “Tama, aku butuh bantuanmu.” Wajah Biao berubah serius.
“Aku tidak mau membantumu. Kau selalu meledekku, karena aku tidak jago dalam hal membunuh!”
Biao berjalan mendekati Tama, wajahnya benar-benar serius untuk saat ini. “Tama, apa kau bisa melacak posisi seseorang melalui CCTV yang ada di pinggiran jalan.”
“Aku belum pernah melakukan hal itu. Tapi sepertinya, aku bisa melakukan hal itu.” Tama menanggapi perkataan Biao dengan wajah yang serius juga.
“Aku tadi kembali ke lokasi rumah Diva. Aku memperhatikan beberapa tiang di pinggir jalan yang memiliki CCTV. Itu jalan satu-satunya, yang digunakan semua orang untuk keluar atau masuk ke lokasi rumah Diva.”
“Ya, kau benar. Jika kita berhasil menguasai rekaman CCTV. Kita tahu, dimana Nona Serena pergi.” Wajah Tama berseri bahagia.
“Anak pintar.” Biao menepuk pelan pundak Tama.
Tama tersenyum penuh arti, “Apa ini ada bayarannya?” Wajahnya berubah licik.
“Jangan berpikir terlalu jauh, Tama. Jika kau menginginkan hadiah, kau bisa memintanya kepada Tuan Daniel. Jika memintaku untuk mencari pacar, kau harus berpikir seribu kali untuk mengatakan hal itu.”
Sejak awal Biao sudah tahu, isi hati Tama saat itu. Tidak ingin meladeni perkataan Tama, Biao melanjutkan langkah kakinya menuju kamar pribadi miliknya. Sementara Tama, masih berdiri diam memandang kepergian Biao.
“Selain jago membunuh, Ia juga tahu isi hati orang lain.” Tama berjalan menuju kamar pribadi miliknya.
Dari kejauhan, Pak Han tersenyum bahagia mendengar perkataan Tama dan Biao. Sejak pertama kali bertemu dengan Tama dan Biao, Pak Han sudah tahu, kalau mereka memiliki hati yang tulus untuk menjaga Daniel.
“Tuan Tama dan Tuan Biao, memiliki kelemahan dan kelebihan yang saling melengkapi. Mereka berdua adalah satu kesatuan yang tidak bisa di pisahkan.” Pak Han berjalan ke arah dapur.