
Yee...Uda ada yg 1000 like. Aku tambah lagi babnya...begitu terus ya...kalau ud 1.000 like jdi 2. 500 jadi up 1 bab...😘.
.
.
.
Serena terlihat tersenyum penuh bahagia. Bahkan pipinya terasa kaku saat terlalu lama tersenyum sore itu. Wanita itu memandang beberapa pengawal yang kini mengikuti mereka. Walau menggunakan trik pengintaian secara diam-diam. Tetapi, tetap saja mantan bos mafia itu tahu dengan semua rencana suaminya sore itu.
Serena tidak ingin mempermasalahkan masalah pengawal-pengawal itu lagi. Hari ini, usaha Daniel untuk membuatnya bahagia sudah cukup untuk membayar semua itu. Wanita itu sangat paham dengan sikap suaminya yang cukup waspada selama ini.
Walaupun kota Sapporo sudah dibilang aman. Tetapi Daniel tetap tidak ingin membiarkan Serena tanpa perlindungan. Pria itu tidak lagi ingin mengulang kejadian yang sama seperti beberapa bulan kemarin.
Sudah cukup ia merasakan kehilangan dan kesedihan yang begitu menyiksa. Pria itu tidak ingin kejadian buruk itu terjadi lagi di masa sekarang.
Daniel juga terlihat tersenyum bahagia sore itu. Melihat kedua tangan istrinya melingkar di perutnya, membuat pria itu terlihat semakin bersemangat. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah sore itu jika dibandingkan dengan senyuman Serena. Senyuman cinta pertamanya memang selalu bisa membuat hidup Daniel lebih berwarna.
Langit yang biru dan cerah itu sudah berubah warna menjadi jingga. Daniel tidak ingin kehilangan momen indah yang sudah Ia persiapkan sejak awal. Pria itu memandang jalanan lurus yang terlihat sunyi di depannya.
“Sayang, berpeganglah yang kuat. Kita akan balap agar segera tiba di tempat itu,” teriak Daniel penuh percaya diri. Daniel menambah laju sepeda motornya agar segera tiba ditempat pertama yang ingin ia kunjungi.
Serena tersenyum mendengar teriakan Daniel. Wanita itu semakin kuat mengunci kedua tangannya di perut Daniel.
Tidak ada rasa ragu di dalam diri Serena lagi saat melihat kualitas Daniel mengendarai sepeda motor. Ceo makanan ringan itu benar-benar berlatih keras sebelum membawa istri dan calon anak yang ia miliki.
Dari kejauhan. Biao menggeleng kepalanya sambil mengeryitkan dahi. Pemandangan yang ada di hadapannya tidak lagi sama dengan apa yang ia bayangkan. Bahkan tangan kanan Daniel Edrizt Chen itu tidak lagi percaya kalau tuannya akan berubah menjadi pembalap motor dengan begitu ahli.
“Menembak, bertarung dan sekarang berubah menjadi pembalap. Nona Serena memang wanita yang cukup hebat. Kehadirannya telah membuat pria manja itu berubah menjadi pria tangguh.” Biao menambah laju mobilnya untuk mengimbangi kecepatan sepeda motor Daniel sore itu.
Moerenuma Park.
Daniel membawa Serena berkunjung ke sebuah taman yang cukup luas. Dimana-mana terlihat rumput hijau yang terbentang seperti sebuah karpet raksasa.
Taman itu ditumbuhi pohon bunga sakura yang cukup indah dan memanjakan mata. Di ujung taman itu terdapat bukit yang berbentuk piramid.
Daniel memberhentikan sepeda motornya tepat di depan tangga menuju kepuncak bukit itu. Serena turun lebih dulu sebelum Daniel. Wanita itu tersenyum bahagia melihat keindahan yang kini ada di depan matanya.
Lokasinya cukup sunyi dan tidak ada pengunjung lain selain dirinya dan beberapa pengawal yang bersembunyi. Ya, sudah bisa dipastikan kalau Ceo makanan ringan itu telah memesan tempat itu khusus untuk dirinya dan Serena beberapa jam kedepan.
“Sayang, tangga ini cukup tinggi. Kau sedang hamil saat ini. Jadi, kemarilah biar Aku yang menggendongmu hingga ke puncak. Kita tidak memiliki banyak waktu lagi.”
Tanpa menunggu persetujuan Serena, Daniel mengangkat tubuh istrinya ke dalam gendongannya. Pria itu mulai menjejaki anak tangga dengan langkah yang cepat dan pasti.
Dari ujung bukit sudah terlihat cahaya matahari yang sudah hampir tenggelam. Daniel mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di puncak bukit itu. Keringat berkucur deras membasahi wajahnya dengan napas yang terputus-putus.
Serena mengalungkan kedua tangannya sambil menggeleng pelan. Kini ia benar-benar takjub dengan sikap suaminya itu. Bahkan di saat Daniel terlihat sangat lelah pria itu tidak mengeluh sedikitpun saat ini.
“Sayang, Kau sedang hamil. Dokter bilang tidak boleh terlalu lelah.” Daniel tidak ingin mengabulkan permintaan sang istri. Sedikit lagi mereka akan segera tiba di puncak bukit itu.
“Aku tidak tega melihatmu seperti ini. Kau terlihat sangat lelah.” Serena menyandarkan kepalanya di depan dada bidang milik suaminya.
Daniel hanya tersenyum mendengar ungkapan hati istrinya. Pria itu berhenti di puncak bukit dan menurunkan Serena dengan hati-hati. Terlihat jelas langit yang sudah bercampur warna antara hitam dan jingga.
Matahari juga terlihat mulai bersembunyi dan berganti bulan. Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Pria itu memeluk istrinya dari belakang dengan senyum bahagia.
“Sayang, apa kau suka?” bisik Daniel penuh dengan harap. Napasnya yang terputus-putus masih belum normal. Masih terdengar jelas debaran jantung Daniel karena terlalu lelah menaiki anak tangga itu.
“Sayang, Aku sangat suka dengan pemandangan ini.” Serena mengukir senyuman indah sambil memegang kedua tangan Daniel yang kini ada di depan perutnya.
“Aku yakin, anak kita juga merasa sangat bahagia saat ini,” sambung Serena sambil menikmati tenggelamnya matahari sore itu.
Daniel benar-benar puas dengan hasil akhir usahanya hari itu. Walau di awal tidak berjalan cukup lancar, tetapi kini di hadapanya Serena bisa tersenyum dengan begitu bahagia.
“Serena, Aku sangat mencintaimu.” Daniel menenggelamkan kepalanya di dalam rambut gelombang milik Serena. Pria itu menghirup aroma tubuh istrinya dengan penuh penghayatan.
“Aku juga sangat mencintaimu, Daniel.” Serena mengusap lembut rambut pendek milik suaminya. Matanya terpejam untuk menikmati hembusan angin yang kini menerpa tubuhnya.
Setelah beberapa menit menikmati tenggelamnya matahari. Kini lokasi yang ada di hadapan mereka berubah menjadi gelap. Cahaya lampu mulai terlihat berwarna-warni dilokasi taman. Ada satu buah air pancur yang kini dikelilingi dengan lampu berwarna ungu.
Serena lagi-lagi tersenyum indah saat melihat keindahan yang kini tersaji di depan matanya. Suaminya benar-benat berusaha keras hanya untuk melihat dirinya tersenyum bahagia.
Serena memutar tubuhnya untuk menatap jelas wajah suaminya. Hanya ada seberkas cahaya terang yang menyinari wajah mereka berdua. Satu tangan Serena menyentuh lembut pipi Daniel dengan begitu mesra. Wanita itu menarik kepala Daniel agar menunduk dan mendekat di wajahnya. Bibirnya menyatu saat kedua bibir itu saling berhadapan.
Daniel menarik pinggang istrinya dengan begitu erat. Pria itu membalas ciuman Serena yang kini terasa memabukkan. Satu tangannya yang lain mengusap lembut rambut Serena dengan dipenuhi hasrat. Daniel hampir lepas kendali saat itu kalau saja Serena tidak segera melepas cumbuan panas mereka.
Serena melekatkan dahinya di dahi Daniel dengan napas yang terputus-putus. Bibirnya ia gigit sedikit sambil tersenyum menggoda.
“Daniel, apa kau tahu ini tempat umum. Apa yang mau kau lakukan?” ucap Serena pelan.
“Sayang, sepertinya kita tidak perlu mengunjungi tempat kedua. Setelah ini aku ingin segera tiba di hotel terdekat,” jawab Daniel dengan napas yang tidak kalah menggebu dengan Serena. Kalimat Daniel membuat Ratu mafia itu tertawa geli.
“Kau harus membawaku ke tempat kedua. Aku tidak ingin penasaran membayangkan tempat itu nantinya,” ucap Serena sambil mencium pucuk hidung Daniel.
“Baiklah, tapi lakukan sekali lagi.” Daniel mencium bibir istrinya sekali lagi sambil memeluk tubuhnya dengan penuh cinta.
Di bawah bukit. Biao mengangkat kedua kakinya di atas stir mobil. Pemandangan yang kini ada di hadapannya bagai sebuah drama romantis yang biasa di putar di bioskop. Pria itu melipat kedua tangannya sambil bersandar dengan posisi nyaman. Ada rasa bahagia saat melihat rencana tuannya berjalan dengan sempurna.
“Semoga kebahagiaan mereka abadi seperti ini,” ucap Biao pelan sebelum memejamkan mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk memeriksa keadaan.
Like dan Vote..komen jgn lupa...Kira2 kalian pngen cerita apa untuk bab selanjutnya. siapa tahu ide kalian membuat saya menemui inspirasi...😊
Kalau Reader baik kasih like, author juga seneng ngetiknya.😊