
“Lukas!” ucap Zeroun tidak percaya.
“Tuan.” Lukas membungkuk hormat. Meskipun saat ini ia kaget melihat kedatangan Zeroun dan Serena. Tapi Lukas bersikap profesional seperti biasa.
“Di mana Shabira?” tanya Serena tanpa basa basi.
Dari belakang Lukas, muncul wanita cantik berambut panjang. Mengenakan rok hitam sebatas lutut dan tshirt putih lengan panjang. Wanita itu tersenyum bahagia, saat melihat wajah Serena.
“Kakak.” Shabira berlari ke arah Serena, memeluknya dengan penuh kerinduan.
“Kakak masih hidup? aku tidak percaya, saat Lukas mengatakan padaku, jika kakak sudah kembali.” Buliran air mata menetes. Shabira menangis haru karena bisa kembali bertemu dengan Serena.
“Apa kau baik-baik saja, Shabira?” Serena melepas pelukannya, ia memegang kedua pipi Shabira. Menatapnya dengan seksama.
Shabira mengangguk pelan, “Aku baik-baik saja.” Shabira tersenyum.
“Untuk apa kau ada di sini, Lukas?” Tatapan Zeroun berubah dingin. Ia tidak pernah menyangka, kalau Lukas selama ini tahu di mana keberadaan Shabira.
“Maafkan saya, Bos. Saya telah membohongi anda. Anda bisa menghukum saya saat ini.”Lukas menunduk dengan penuh rasa bersalah. Ia tidak lagi memiliki keberanian untuk membela diri.
“Jangan, Tuan. Jangan hukum Lukas. Ia tidak salah. Lukas ke sini untuk membawaku kembali. Ia bilang, kalau Kak Erena sudah kembali. Tapi aku tidak mempercayainya.” Shabira membela Lukas, ia tidak ingin Lukas dalam bahaya karena dirinya.
Serena menatap tajam Lukas dan Shabira. Ia menyimpan rasa curiga kepada Lukas dan Shabira.
Mereka tidak pernah saling kenal, bagaimana mungkin, Lukas bisa tahu tempat ini dan bisa masuk ke dalam lingkungan ini.
Serena menatap wajah Lukas dengan tatapan kosong.
“Kak, apa kakak benar mencariku? atau ....” Shabira memecahkan lamunan Serena.
“Shabira, kembalilah kepada Kenzo. Ia pria baik. Maafkan aku karena tidak merestui hubungan kalian waktu itu.” Serena mengusap lembut rambut panjang Shabira.
Shabira memandang wajah Lukas sesaat, sebelum kembali memandang Serena.
“Aku tidak ingin kembali, kak,” ucap Shabira dengan lembut.
Serena menatap wajah Shabira dengan penuh tanya. Ia tahu, waktu itu Shabira sangat mencintai Kenzo. Karena dirinya, Shabira pergi di hari pernikahannya dan menghilang.
“Apa yang kau katakan? Apa kau tidak lagi mencintai Kenzo?” Wajah Serena berubah serius. Sudah sejauh ini pengorbanannya, ia tidak ingin kecewa lagi. Ia harus berhasil membawa Shabira kembali pada Kenzo.
“Ayo masuk kak, aku akan menceritakan semuanya.” Shabira menarik tangan Serena.
Mereka masuk ke dalam ruangan yang sangat sederhana. Hanya ada satu kamar di dalamnya. Furniture sederhana serta dapur di bagian ujung ruangan. Lukas dan Zeroun mengikuti langkah Serena dari belakang. Mereka duduk di kursi yang melingkari satu meja kayu.
“Apa kau senang tinggal di sini?” Serena memperhatikan setiap sudut ruangan.
“Saya senang tinggal di sini kak. Hanya di sini, tempat yang tidak bisa di temukan oleh Kenzo waktu itu.” Shabira menunduk sedih.
“Ceritakan semuanya. Sebenarnya apa yang terjadi?” Serena memegang pundak Shabira, untuk memberi kekuatan kepada Shabira.
“Kak, Waktu kita terakhir kali jumpa ....” Shabira kembali mengingat masa-masa indahnya saat itu.
Hari pernikahan Kenzo dan Shabira.
Di salah satu kamar hotel berbintang. Shabira berdiri di depan cermin dengan riasan yang begitu cantik. Gaun pengantin yang elegan terlihat menjuntai ke lantai. Ia hanya sendiri di ruangan itu. Ia meminta kepada semua orang, untuk meninggalkannya sendiri di kamar itu.
Shabira kembali membayangkan wajah Serena di depan cermin. Sebelum pergi ke hotel ini, Shabira berjumpa dengan Serena di pinggiran jalan. Serena marah-marah dan menolak keras pernikahan Shabira dan Kenzo.
Serena tidak memiliki banyak alasan yang jelas. Hingga Shabira bersikeras dengan pilihannya, dan pergi meninggalkan Serena di pinggir jalan itu.
“Kakak … maafkan aku. Tapi aku sangat mencintai Kenzo. Aku harap kakak mengerti, tentang keputusanku saat ini.”
Buliran air mata menetes dengan deras. Ia mengambil tisu dan menghapus air matanya dengan lembut. Menatap kembali wajahnya di depan cermin. Ia mengukir satu senyuman indah, untuk menutupi wajah sedihnya.
Satu pelayan mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar Shabira. Pelayan itu mendekati Shabira, dan membawa segelas air putih untuk Shabira.
“Nona, minumlah dulu. Sebelum kita turun, agar anda tidak terlihat gugup.” Pelayan itu meletakkan gelas di atas meja.
“Terima kasih.” Shabira tersenyum, ia mengambil gelas itu dan meneguknya perlahan. Meletakkan gelas itu kembali di atas meja.
Shabira berdiri dari duduknya. Pelayan itu membantu Shabira membawa gaun pengantin yang sudah menyentuh permukaan lantai. Shabira memegang buket bunga, dan berjalan perlahan. Sebentar lagi, ia akan menyandang status sebagai Ny. Kenzo Daeshim.
Senyum terukir indah di bibirnya. Ia sudah tidak sabar untuk menemui Kenzo. Pria yang sangat ia cintai saat ini.
Tapi, tiba-tiba semua terasa goyang. Shabira menghentikan langkah kakinya. Ia terjatuh di lantai. Ia sempat melihat senyum licik dari pelayan itu.
“Siapa kau?” Shabira tidak lagi sadarkan diri.
.
.
Kenzo, dimana kau. Tolong selamatkan aku. Apa kau tidak pernah mencariku. Aku dalam bahaya.
Suara pintu terbuka dengan kasar. Satu wanita berpakaian seksi masuk ke dalam ruangan itu. Shabira memandang wajah wanita itu, ia kembali mengingat wajah wanita itu. Wajahnya sama dengan pelayan yang tadi memberikan air minum kepadanya.
“Selamat malam, Nona Shabira?” Wanita itu mengambil kursi dan duduk di hadapan Shabira dengan senyuman licik.
Siapa wanita ini. Kenapa ia ingin mencelakaiku.
Shabira memandang tajam wajah wanita itu.
“Apa kau tidak bisa berbicara? baiklah, aku akan membukakan penutup mulut ini.” Wanita itu berdiri dan membuka penutup mulut Shabira.
“Jangan terlalu berisik, jika tidak ingin aku tutup lagi,” bisik wanita itu di telinga Shabira.
“Siapa kau?” tanya Shabira tanpa basa basi.
“Aku?” Menunjuk ke arah dirinya sendiri.
“Aku tidak punya masalah apapun padamu. Kenapa kau ingin mencelakaiku?” Shabira menatap wanita itu dengan penuh kebencian.
Wanita itu tertawa keras. Hingga suaranya memenuhi isi ruangan itu. Ia kembali membalikkan kursinya, duduk dengan tangan di atas sandaran kursi.
“Aku malaikat pencabut nyawa, yang di kirimkan Tuan Daeshim Chen. Untuk menghabisi nyawamu.” Tatapan mata wanita itu berubah menjadi tatapan membunuh.
“Tuan Daeshim Chen?”
Shabira kembali mengingat nama itu. Ia tahu, kalau pemilik nama itu sudah tiada. Ia tidak pernah menyangka. Meskipun sudah tiada, tapi masih bisa mengirim pembunuh untuk mencelakai dirinya.
“Apa kau kaget? orang yang sudah mati bisa hidup kembali?” tanyanya dengan senyuman licik.
“Apa dia mengirimmu untuk membunuhku?” Shabira kembali menantang wanita itu, ia tidak ingin terlihat lemah saat ini.
“Ya, dia tahu rencana Kenzo yang ingin menghabisi dirinya. Anak dan calon menantu durhaka bukan? Kalian ingin melaksanakan pesta pernikahan, tapi harus menghabisi nyawanya terlebih dahulu.” Wanita itu berdecak kuat. Ia berdiri lagi dari duduknya.
Shabira mendongakkan kepalanya, untuk memandang wanita itu. Ia kembali mengingat pesan Serena, untuk tidak menghadiri pernikahan ini. Buliran air matanya menetes, ia merasa bersalah kepada Serena karena tidak mendengar perkataannya.
Kakak, andai saja sejak awal aku menuruti perkataanmu. Semua ini tidak akan pernah terjadi. Aku harus melewati masa-masa sulit di hari bahagiaku seperti ini. Aku bahkan telah memutuskan persaudaraan kita. Maafkan aku kakak.
Buliran air mata Shabira menetes. Hatinya di penuhi rasa penyesalan.
“Jangan menangis!” Wanita itu membentak Shabira.
“Jika kau ingin membunuhku, kau boleh membunuhku. Kenzo tidak pernah membunuh Tuan Daeshim Chen. Ia melakukan itu untuk menyelamatkan nyawanya sendiri. Tuan Daeshim ingin membunuhnya waktu itu.” Shabira membalas perkataan wanita itu.
“Kau! beraninya kau membentakku!” Wanita itu mencengkram dagu Shabira dengan kuat.
“Semua tidak akan pernah terjadi, jika kau tidak mendekati Kenzo. Dasar wanita bodoh!” Melepas cengkraman dengan kasar.
“Aku tidak pernah takut mati! Hidupku selalu dalam bahaya. Menghadapi wanita seperti dirimu. Sudah biasa aku temukan.” Shabira menghina wanita itu.
Sudah tidak ada lagi kesabaran. Wanita itu memukul wajah Shabira hingga wajah Shabira biru. Ujung bibirnya mengeluarkan cairan merah. Shabira memejamkan matanya, ia berpura-pura tidak sadarkan diri. Ia tahu, trik apa yang harus ia gunakan saat ini.
Wanita itu berdiri di hadapan Shabira. Menatap wajah Shabira dengan kebencian. Ia tidak terlalu puas, melihat Shabira cepat tidak sadarkan diri.
“Masuk!” perintah wanita itu kepada beberapa pria yang menunggunya di depan pintu.
Tiga pria masuk ke dalam ruangan itu. Membungkuk hormat kepadanya.
“Buka pakainnya dan rekam semuanya. Aku ingin membuat wanita murahan ini malu dan terkenal.” Wanita itu tersenyum licik, ia sangat yakin kalau rencananya akan berhasil.
“Baik, Bos!” ucap pria itu bersamaan.
Wanita itu pergi meninggalkan ruangan. Ia menyerahkan Shabira kepada bawahannya.
Dasar wanita bodoh! sudah banyak aku menjumpai wanita bodoh seperti dirimu.
**Di sambung besok lagi, jangan ngamuk-ngamuk.
Laptop Author rusak 😂
Ngetik pake hp lama, apa lagi pas puasa. 😆
Like, Komen, Vote**.