Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 2



Serena dan Daniel menuruni anak tangga dengan wajah yang sangat berseri. Di lantai bawah tepatnya di ruang utama, Kenzo dan Shabira duduk sambil tersenyum bahagia. Shabira berdiri dengan satu paper bag yang ada di genggamannya. Wanita itu berjalan pelan menyambut kedatangan Daniel dan Serena.


“Kakak,” ucap Shabira sambil terus berjalan mendekati Serena. Sudah beberapa minggu mereka tidak bertemu karena pergi liburan ke pulau.


Daniel melepas genggamannya dari pinggang istrinya. Pria itu berjalan ke arah sofa sambil menatap wajah Kenzo dengan seksama.


“Apa semua baik-baik saja?” Daniel menyandarkan tubuhnya dengan begitu santai. Memutar kepalanya untuk memandang Serena dan Shabira yang lagi berpelukan melepas rindu.


“Kepalanu hampir botak memikirkan masalah perusahaan.” Kenzo juga memandang dua wanita yang sangat dekat dengannya itu.


“Sayang, kemarilah. Serena lagi hamil. Kau hanya akan membuatnya merasa mual.”


“Kenzo, kau begitu menyebalkan,” umpat Shabira dengan wajah kesal.


“Kak, Aku punya hadiah untukmu. Barang-barang ini untuk dua keponakanku yang ada di dalam perut Kakak.” Shabira mengeluas lembut perut Serena.


“Terima kasih Shabira.”Serena berjalan ke arah sofa yang diduduki Daniel. Menyandarkan tubuhnya dengan posisi nyaman.


“Kenzo, Aku apa kau mau ikut jalan-jalan malam ini?” Serena terlihat bersemangat saat mengajak Kenzo dan Shabira berjalan-jalan dengan sepeda motor.


“Kebetulan, Aku dan Shabira sudah lama tidak berkeliling kota.” Kenzo terlihat bersemangat.


“Bukankah begitu sayang?”


“Kakak lagi kepingin jalan-jalan malam?”


Serena mengangguk, “Iya, menggunakan sepeda motor.”


“Sepeda motor?” ucap Kenzo dan Shabira bersamaan dengan wajah kaget.


“Ada yang salah?” Serena mengeryitkan dahi.


“Apa itu bawaan bayi, Kak?” tanya Shabira dengan penuh keraguan.


Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman manis, “Mungkin.”


“Daniel, apa kau bisa menggonceng Serena dengan sepeda motor?” Ada keraguan di raut wajah Kenzo malam itu.


“Tentu saja bisa. Aku penah menaiki sepeda motor saat di bangku kuliah. Aku tidak akan lupa cara melajukannya.” Daniel melipat kedua tangannya dengan wajah penuh percaya diri.


“Tapi, Kau membawa Serena yang lagi hamil. Kau tidak ingin mereka berdua celaka … kan?” Kalimat Kenzo terlihat penuh penekanan.


Daniel terlihat ragu dengan kemampuan yang ia miliki malam itu. Semua perkataan Kenzo mematahkan rasa percaya dirinya. Ia tidak ingin mencelakai Serena apa lagi buah hati yang ada di dalam perut Serena.


“Daniel, apa kau berpikir dua kali?” Kenzo tertawa sambil meledek Daniel dengan penuh kemenangan.


“Aku bisa mencobanya lebih dulu sebelum membonceng Serena. Bukankah begitu lebih baik sayang?” Daniel mengukir senyuman.


Serena mengangguk dengan penuh keraguan, “Aku bisa membawa sepeda motor. Bagaimana kalau Aku saja yang memboceng?” Menyipitkan kedua bola matanya.


Tawa Kenzo tidak tertahan lagi. Pria itu tertawa dengan penuh kegirangan saat mendengar tawaran yang diberikan oleh Serena.


“Beginilah resiko menikah dengan wanita yang serba tahu. Kau belum mampu mengimbangi kemampuan yang dimiliki Serena, Daniel.” Kenzo memegang perutnya yang sakit karena terlalu asik tertawa. Di samping Kenzo, Shabira juga terlihat menahan tawa atas kejadian lucu yang ada di hadapannya.


Daniel melempar bantal kursi ke arah wajah Kenzo, “Awas saja Kau. Aku tidak akan membantu Z.E Group lagi.”


Sedangkan Serena menarik napas dalam-dalam melihat kelakuan Daniel malam itu.


“Ya,setidaknya Aku harus melihat kemampuanmu dulu Daniel. Sebelum Kau menggoncengku dengan sepeda motor.”


“Lihatlah, istrimu bahakan merasa tidak yakin.”


“Kenzo!” umpat Daniel semakin kesal.


“Sayang,” ucap Shabira sambil mencubir perut Kenzo agar berhenti meledek Daniel malam itu.


Suasana ruangan utama itu selalu menjadi sangat ramai saat Kenzo dan Shabira datang berkunjung. Selalu saja ada bahan ledekan untuk membuat tawa yang bisa menghibur. Enath itu bersumber dari Daniel atau dari Kenzo. Tapi, selama dua bulan terakhir ini. Hubungan mereka berempat terlihat semakin kompak dan saling menyayangi.


Dari kajuahan. Pak Han muncul dengan beberapa pelayan wanita yang baru saja masuk. Sejak Serena hamil, Daniel mulai memperkerjakan pelayan wanita. Ia terlihat sangat sulit mengetahui suasana hati wanita hamil. Jadi lebih sering meminta Biao untuk mempekerjakan wanita yang sudah pernah melahirkan agar tahu cara merawat wanita hamil.


Dua pelayan wanita itu menghidangkan minuman hangat dengan cemilan roti kering buatan Pak Sam.


“Nona, ini vitamin yang harus anda minum malam ini.” Pak Han meletakkan beberapa bulir pil yang ada di dalam mangkuk kaca kecil dan segelas air putih di hadapan Serena.


“Terima kasih, Pak Han.” Serena mengambil vitamin itu meminumnya dengan penuh semangat. Pak Han menunduk di hadapan Daniel an Serena sebelum pergi kembali ke dapur.


Setelah beberapa saat menunggu. Biao dan Tama muncul dengan langkahnya cepat. Hari sudah semakin larut. Dua pria jomblo itu tidak ingin membuat Serena bosan menunggu. Dengan langkah cepat dan pasti, kini Biao dan Tama berdiri di hadapan Daniel dan Serena.


“Tuan, Sepeda motornya sudah ada di depan. Pengawal juga siap menjaga anda dan Nona. Jalanan sudah kami tutup agar tidak ada yang menghalangi jalan anda malam ini, Tuan.” Biao menjelaskan hasil kerjanya malam ini.


“Apa kau ingin Aku sendirian di jalan itu, Biao? Aku ingin melihat keramaian, kenapa Kau menutup jalan?” Serena berdiri dengan wajah kesal dengan dua tangan yang melingkari pinggangnya.


“Nona, maafkan kami,” ucap Tama dengan wajah bersalah.


“Aku sudah tidak ingin berjalan-jalan malam ini. Aku ingin tidur saja.” Serena memutar tubuhnya berjalan kearah tangga.


Daniel menarik napas melihat kelakuan istri dan bawahannya malam itu. Tetapi ada perasaan lega karena tidak jadi membawa istrinya keluar malam itu.


“Tuan, maafkan Saya.” Biao menunduk di hadapan Daniel.


“Sudahlah,” jawab Daniel cepat. Pria itu tidak ingin membesar-besarkan masalah malam itu.


“Kenzo, kalian pulanglah. Aku tidak lagi memiliki waktu untuk menemani kalian.” Daniel mengejar langkah Serena dengan cepat. Ia tidak ingin Serena semakin marah terhadap dirinya.


“Sayang, tunggu,” teriak Daniel sambil terus mengejar.


Kenzo menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Apa Serena berubah menjadi seperti itu setelah hamil?” Kenzo memandang wajah Biao dan Tama secara bergantian.


Biao dan Tama tidak berani mengeluarkan kata. Mereka tidak ingin salah lagi malam ini. Kedua pria itu menunduk sebelum pergi meninggalkan Kenzo dan Shabira.


Shabira bersandar dengan wajah sedih, “Aku juga ingin hamil seperti Kak Erena.”


“Sayang, Ayo kita segera pulang. Kita juga harus lebih giat membuatnya agar secepatnya Kau bisa hamil.” Kenzo tersenyum penuh arti di hadapan Shabira. Membuat istrinya tersipu malu mendengar godaan Kenzo malam itu.


Kenzo berdiri dari tempat duduknya menggandeng pinggang istrinya dengan begitu mesra. Pria itu sudah tidak sabar untuk segera tiba di rumah miliknya.


Like 500 1 bab ya...kalau 1000 Bru 2 bab.🤭


Untuk yg punya aplikasi Novel*Me. Bisa baca karya saya juga di sana. Dengan judul "Cinta Terganti".