Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 98



Malam hari di rumah utama Edritz Chen.


Suasana taman halaman samping dipenuhi dengan dekorasi pesta yang begitu mewah. Kolam renang yang begitu luas telah dihias dengan balon-balon indah yang berwarna hitam putih.


Pesta ulang tahun pewaris tunggal keluarga Edritz Chen itu menggunakan tema Black and White. Semua dekorasi yang digunakan hanya menggunakan warna hitam atau putih.


Warna-warni hanya berasal dari makanan yang tersusun rapi di meja panjang. Corak arena pesta ulang tahun itu seperti spiral dalam warna hitam putih yang memang sangat cocok untuk pria.


Meja-meja tamu yang dibalut dengan kain warna hitam dan perpaduan warna putih sudah dipenuhi oleh tamu undangan.


Beberapa karyawan S.G. Group sudah berkumpul meramaikan pesta ulang tahun Daniel malam itu. Beberapa pembisinis kelas atas juga hadir untuk menghadiri pesta Daniel.


Shabira dan Kenzo baru saja tiba di depan pintu utama. Shabira menggunakan gaun hitam yang begitu indah dan mewah.


Membuat lekuk tubuhnya yang begitu indah terlihat dengan jelas. Kenzo mengenakan jas hitam dengan kemeja putih di dalamnya. Satu pita berwarna hitam menghiasi leher Kenzo malam itu.


Tangan Shabira tampak melingkari lengan Kenzo. Sepasang kekasih itu berjalan masuk dengan bagitu mesra. Membuat setiap orang yang melihatnya menjadi terpesona.


High Heels hitam Shabira mengeluarkan satu suara yang membuat perhatian semua orang teralihkan untuk sejenak. Ini pertama kalinya mereka melihat wanita dari pewaris tunggal Keluarga Daeshim Chen.


“Kenzo, semua melihat ke arah kita. Apa penampilanku terlalu jelek malam ini?” bisik Shabira dengan wajah sedikit gugup.


“Sayang, itu karena kau terlihat sangat cantik malam ini.” Kenzo mengukir senyum manis memandang wajah Shabira. Menuntun wanita itu menuju ke arah kolam renang.


Beberapa penjaga tampak siaga menjaga keamanan rumah utama keluarga besar itu. Senjata sudah melekat abadi di tangan setiap pengawal.


Dari arena pesta, terlihat Tama dan Biao yang juga sudah rapi mengenakan jas hitam-hitam favorit mereka. Memperhatikan setiap wajah tamu undangan dengan teliti.


Tama memperhatikan beberapa wanita cantik yang berkerumun. Pria murah senyum itu lagi-lagi memikirkan cara untuk meluluhkan hati sahabatnya. Satu rencana licik mulai tersusun rapi di dalam pikirannya.


“Biao, apa kau mau minum ke sana.” Tama memandang wajah Biao dengan senyuman manis.


Biao menatap Tama dengan wajah dingin favoritnya, “Tidak,” jawab Biao cepat. Sejak awal ia sudah tahu isi pikiran sahabatnya itu.


“Biao, ayo lah. Malam ini kita diberi kebebasan oleh Tuan Daniel untuk menikmati pesta. Apa kau tidak bosan setiap hari berdampingan dengan pria. Aku akui, aku ini terlihat sangat manis dan menawan. Tapi, satu hal yang harus kau tahu Biao. Aku ingin menikahi wanita bukan pria.” Tama menekuk kepalanya dengan wajah tidak bersalah.


Biao menatap wajah Tama dengan tatapan tidak terbaca. Pria itu tiba-tiba mengukir senyuman saat mendengar perkataan Tama.


“Baiklah, malam ini aku menuruti perkataanmu. Tapi jangan paksa aku untuk mengeluarkan kata dengan wanita-wanita itu.”


Tama semakin bersemangat saat mendengar perkataan Biao, “Itu tidak jadi masalah, Biao. Kau cukup memandang wanita itu satu persatu. Kata orang cinta berawal dari mata turun ke hati.” Tama berjalan beriringan dengan Biao menuju kerumunan wanita-wanita cantik.


***


Di dalam kamar.


Serena duduk di meja rias miliknya. Wajahnya terlihat berseri saat memperhatikan kalung pemberian Daniel yang kini melilit di lehernya. Perlahan Serena mengangkat tangannya untuk memperhatikan jari-jarinya yang lentik.


Malam itu Serena mengenakan cincin pertunangan terakhirnya dengan Daniel dan cincin turun temurun keluarga Edritz Chen.


Wanita itu tersenyum lagi saat memperhatikan cincin pernikahan dan pertunangan pertamanya dengan Daniel di dalam kotak perhiasan.


Serena memasang high heels hitam yang baru saja dipesan Daniel secara khusus untuknya. Ia berdiri di depan kaca untuk memutar tubuhnya. Memperhatikan lekuk tubuhnya yang kini dibalut dres putih dengan taburan Kristal berwarna hitam yang mengkilap. Rambut serena terikat sedikit pada bagian belakang.


Daniel baru saja keluar dari ruang ganti. Pria itu memakai jas putih yang terlihat serasi dengan gaun Serena. Berjalan perlahan dengan senyuman manis miliknya sambil memperhatikan wajah Serena yang begitu cantik.


“Sayang, kau terlihat sangat cantik.” Daniel memeluk Serena dari belakang. Mencium pundak Serena dengan begitu mesra.


Serena tersenyum bahagia saat melihat pantulan dirinya dan Daniel dari balik cermin. Wanita itu menaikan satu tangannya untuk menyentuh wajah Daniel yang kini ada di samping kepalanya.


“Daniel, aku sangat mencintaimu.”


Daniel memutar tubuh Serena untuk menatap wajah wanita itu secara dekat. Menyentuh lembut pipi Serena sebelum mengecup pucuk kepala Serena.


“Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Terima kasih karena sudah menemani hidupku hingga detik ini.” Lagi-lagi pria itu menghadiahkan Serena kecupan singkat di pucuk kepalanya.


Suara ketukan pintu memecahkan suasana romantis yang baru saja mereka ciptakan. Daniel dan Serena tersenyum manis saat mendengar perkataan Pak Han dari luar pintu. Seluruh tamu sudah berkumpul untuk merayakan pesta ulang tahun Daniel.


“Sayang, ayo kita turun. Seluruh orang yang ada di kota ini harus tahu. Kalau kau adalah istriku. Istri dari Daniel Edritz Chen.” Daniel menyerahkan tangannya sebagai gandengan untuk Serena.


Dengan penuh rasa haru dan bahagia, wanita itu menggandeng tangan suaminya dengan mesra. Senyumnya melekat abadi seperti tidak ingin luntur dan merasakan sedih lagi. Sepasang suami istri itu berjalan perlahan menuju ke arah pintu.


Di depan pintu, beberapa pengawal menunduk hormat melihat Daniel dan Serena keluar dari dalam kamar. Pak Han juga berdiri dan memberi hormat di tempat itu.


“Tuan, acara akan segera dimulai.”


Seperti raja dan ratu yang baru saja turun dari kereta kencana. Daniel dan Serena di sambut seluruh tamu dengan begitu meriah. Dari kejauhan, Tuan dan Ny. Edritz juga tersenyum bahagia melihat kemesraan Daniel dan Serena.


“Kakak,” sapa Shabira dengan senyuman manis miliknya.


“Shabira, kau sudah datang. Apa aku terlalu lama?” tanya Serena dengan suara pelan.


“Aku juga baru datang, Kak. Kak Erena terlihat sangat cantik malam ini. Tuan Daniel, seleramu sungguh tinggi.” Shabira memperhatikan gaun indah yang kini melekat di tubuh Serena.


“Sayang, gaunmu juga aku pesan secara khusus dari luar negeri. Kenapa kau tidak memuji gaunku sejak awal.” Kenzo berbisik dengan wajah cemburu.


Serena dan Daniel tertawa saat mendengar perkataan Kenzo.


“Ayo, sayang. Kita harus menemui tamu-tamu kita.” Daniel melanjutkan langkah kakinya menuju ke lokasi pesta.


Shabira menatap wajah Kenzo dengan senyuman manis, Ia tahu kalau akhir-akhir ini pria yang akan menjadi suaminya itu menjadi lebih sensitif.


“Sayang, gaun ini juga bagus. Aku sangat suka. Bahkan kau memilih warna hitam favoritku. Aku sangat bahagia.” Shabira menggandeng tangan Kenzo dengan begitu mesra.


Kenzo tersenyum mendengar perkataan Shabira, sebelum membawa wanita itu masuk ke lokasi pesta bersama Daniel dan Serena.


Acara pesta ulang tahun itu berlangsung dengan begitu meriah. Ini saatnya Daniel memberi kata sambutan kepada seluruh tamu undangan yang datang.


Pria itu memandang wajah istrinya dengan bahagia, sebelum mengeluarkan kata.


“Selamat malam. Saya ucapkan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang sudah hadir pada malam ini. Rasanya hampir setiap tahun saya mengadakan pesta di tempat yang berbeda-beda. Tahun ini, pesta ulang tahun ini memiliki arti yang begitu besar bagi saya.”


Daniel menggandeng erat pinggang Serena.


“Karena di ulang tahun saya yang ke 29 ini, saya ditemani dengan wanita yang sangat spesial. Wanita yang akan menjadi ibu untuk anak-anak saya nanti.” Daniel menatap wajah Serena dengan seksama.


“Terima kasih, Serena. Karena kau sudah hadir di dalam hidupku. Namamu melekat di hatiku dengan abadi untuk selama-lamanya. I Love You.” Daniel mengecup bibir Serena dengan begitu mesra.


Seluruh tamu undangan bertepuk tangan saat melihat suasana romantis itu. Bunga api meletus di atas dengan begitu indah. Warna warni kemilau bunga api itu menambah kemeriahan pesta ulang tahun Daniel pada malam itu.


Daniel membawa Serena berjalan mendekati para rekan bisnis miliknya. Sesekali ia mencari-cari keberadaan sahabat barunya itu. Hatinya mengumpat kesal saat sahabat baiknya itu tidak datang di acara ulang tahunnya malam itu.


Zeroun Zein, awas saja kau.


“Tuan Daniel, selamat. Pesta ini terlihat begitu indah jika dibandingkan pesta-pesta sebelumnya. Apa istri anda yang cantik ini penyebabnya?” Satu wanita berusia muda menyapa Daniel dengan senyuman. Wanita itu merangkul mesra tangan suaminya.


“Anda benar, Nona. Istri saya yang membuat pesta ini jauh lebih indah.” Daniel tersenyum penuh bahagia memamerkan istri tercintanya.


Acara terakhir akan segera berlangsung. Lampu berubah temaram menyorot ke lokasi pinggiran kolam renang. Saatnya pesta dansa. Daniel dan Serena berjalan ke arena dansa dengan wajah ceria. Shabira dan Kenzo juga tidak mau ketinggalan di dalam acara dansa itu. Setiap orang mengandeng pasangannya masing-masing, untuk berdansa.


Dari kejauhan, Zeroun tiba dengan wajah dingin yang menjadi ciri khasnya. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku.


Pria itu berjalan dengan begitu tenang menuju ke lokasi pesta Daniel. Ia berdiri di posisi tidak jauh dari lokasi dansa. Memperhatikan Serena dan Shabira yang terlihat bahagia.


Di belakang, Lukas masih setia menemaninya dari belakang. Pria itu memperhatikan lokasi pesta dengan tatapan serius. Dari ujung aula ia melihat Tama dan Biao yang kini dikerumuni para wanita cantik nan seksi.


Bibirnya tersenyum saat melihat prilaku Biao yang hanya mematung seperti sebuah pohon yang tidak diterpa angin.


Daniel tersenyum bahagia saat menemukan wajah Zeroun hadir dilokasi pesta itu. Ia membawa Serena untuk mendekati Zeroun yang saat itu berdiri mematung.


“Zeroun, kau datang di akhir acara,” ucap Daniel dengan senyuman manis.


“Aku harus mengurus beberapa tamu-tamu aneh di kantor. Maafkan aku, Daniel.” Zeroun tersenyum memandang wajah sahabatnya yang terlihat cantik dan anggun.


“Zeroun, kau terlalu serius dalam berbisnis.” Daniel memandang wajah Serena sebelum memandang Zeroun lagi.


“Apa kau ingin melewatkan momen dansa ini dengan sia-sia.” Daniel memberi kode kepada Serena untuk mengajak Zeroun berdansa bersama dengannya.


Serena dan Zeroun saling tersenyum saat mendengar perkataan Daniel.


“Nona, apa kau mau berdansa denganku?” Zeroun menyodorkan satu tangannya untuk mengajak serena berdansa.


“Dengan senang hati, Tuan.” Serena meraih tangan Zeroun.


Daniel hanya tersenyum melipat kedua tangannya di depan dada. Zeroun membawa Serena menuju ke lokasi dansa. Berdansa dengan begitu indah di tengah-tengah kerumunan orang. Lukas juga tersenyum memandang Daniel yang kini berdiri di hadapannya.


“Tuan, terima kasih.” Lukas menunduk hormat.


Daniel menatap wajah Lukas dengan satu tawa kecil, “Lukas, seharusnya kata-kata terima kasih itu aku ucapkan kepada Zeroun. Karena pria itu sudah merelakan permatanya yang berharga kepadaku.”