Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 36



S.G. Group


Sharin mengambil berkas di lantai bawah. Tatap tatapan matanya terlihat mengitari tempatnya kini berada. Sudah berulangkali ia sadar dengan kemegahan S.G. Group.


Namun, beruang kali juga hatinya tidak berhenti mengucap rasa kagum. Karyawan yang bekerja di S.G. Group juga terbilang ramah. Tidak peduli kalau kini mereka bekerja di salah satu perusahaan ternama yang ada di Jepang. Namun sikap yang mereka miliki adalah sikap yang rendah hati.


Setelah selesai mengerjakan tugas yang diberikan Tama. Sharin memutuskan untuk kembali ke lantai atas. Wanita berusia 20 tahun itu masuk ke dalam lift. Sebelum pintu lift tertutup, sosok pria berjas hitam masuk dengan segera. Sharin cukup kaget saat melihat Biao kini berada di dalam lift yang sama dengannya.


Biao memandang wajah Sharin sekilas sebelum jarinya menekan tombol lift. Sharin menekuk wajahnya sambil mencengkeram kuat dokumen yang kini ada di depan dadanya. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Ada rasa bahagia sekaligus bingung yang menyeruak di dalam hatinya. Bibirnya ingin sekali mengeluarkan kata sapaan saat itu. Tapi, entah kenapa kalimatnya hanya tertahan di dalam hati.


Aduh, bagaimana ini. Kenapa untuk mengucapkan selamat pagi saja terasa sangat sulit.


Suasana di dalam lift terasa sangat tenang. Hingga beberapa saat kemudian pintu lift terbuka.


Biao melangkahkan kaki lebih dulu. Sharin juga mengikuti langkah Biao dari belakang. Namun entah mengapa tiba-tiba Sharin tidak lagi konsentrasi dengan langkah kakinya. High Heels runcing yang ia kenakan seakan terpeleset. Hingga akhirnya membuat Sharin kehilangan keseimbangan tubuhnya.


Semua dokumen yang ada di genggaman tangannya terhempas hingga berterbangan bebas di udara. Bibirnya berteriak saat merasa tubuhnya akan segera jatuh ke arah depan. Biao menghentikan langkah kakinya saat telinganya mendengar dengan jelas teriakan Sharin. Pria itu memutar tubuhnya untuk melihat kejadian yang terjadi di belakangnya.


Biao terbelalak kaget saat melihat tubuh Sharin yang terhuyung ke arah depan. Kedua tangannya secara spontan terbuka untuk menolong wanita itu agar tidak terjatuh.


Dorongan tangan Sharin membuat Biao juga kehilangan keseimbangan dirinya. Satu tangannya menahan pinggang Sharin. Sementara Sharin, kedua tangannya berada di depan dada bidang Biao. Mereka berdua jatuh secara bersama-sama ke lantai.


Wajah Sharin dan Biao tidak lagi memiliki jarak saat itu. Hingga akhirnya membuat bibir mereka saling bersentuhan. Semua lembar dokumen yang melayang di udara juga jatuh di waktu yang bersamaan.


Dokumen-dokumen itu kini menutupi tubuh Biao dan Sharin. Kedua bola mata Biao dan Sharin sama-sama melebar saat merasakan benda kenyal yang basah di bibir mereka. Posisi itu bertahan beberapa detik sebelum akhirnya Sharin tersadar dan beranjak dari atas tubuh Biao.


“Aaaaa! Paman mesum!” teriak Sharin hingga suaranya memenuhi seisi ruangan luas itu.


Biao segera duduk dari posisinya terjatuh. Satu tangannya membungkam mulut Sharin agar tidak membuat keributan.


“Apa kau bisa diam,” ucap Biao pelan yang juga bingung saat itu. Masih membekas jelas bibir manis Sharin bibirnya.


Sharin menarik tangan Biao yang menutupi mulutnya, “Kenapa Paman menciumku?” Sharin menghapus bekas ciuman Biao bibirnya dengan tangan, “Bibir ini hanya untuk pria yang aku cintai. Kenapa paman merenggut ciuman pertamaku?” protes Sharin dengan wajah yang cukup kesal.


“Kau juga merebut ciuman pertamaku!” ucap Biao tidak mau kakalahPria itu juga tidak mau menjadi orang yang paling bersalah dalam kejadian ini.


Saat mendengar kalimat yang baru saja dikatakan Biao tiba-tiba saja wajah Sharin berubah merah. Wanita itu semakin kagum dengan sikap yang dimiliki oleh Biao. Di jaman canggih seperti saat ini, sangat sulit untuk menemukan pria berusia 30 tahun yang belum pernah bersentuhan dengan seorang wanita.


Tiba-tiba saja Sharin merasa menjadi wanita yang beruntung karena menjadi wanita pertama Biao. Di mata Sharin, Biao pria yang cukup sempurna.Tampan, tangguh, cerdas dan yang paling penting masih original.


“Lagian kau yang salah! Kau yang mendorongku hingga aku ikut terjatuh,” sambung Biao yang seolah belum selesai dengan kalimat yang ingin ia ungkapkan.


Dalam waktu yang bersamaan, Biao kembali mengingat posisinya yang tidak siap saat sharin tiba-tiba ada di depannya. Pria itu terus saja mengumpat di dalam hati untuk menyalahkan dirinya sendiri. Tidak pernah ia seceroboh ini sebelumnya. Kejadian ini cukup memalukan bagi Biao.


“Bertanggung jawab?” tanya Biao sambil mengeryitkan dahi.


Sharin mengangguk setuju tanpa mau mengeluarkan kata.


Biao merasa kalau dalam kejadian ini memang Sharin yang banyak dirugikan. Hak ini sesauai dengan posisi Sharin sebagai seorang wanita. Walaupun memang awal mula masalah ini Sharin penyebabnya.


Biao menghela napas dengan begitu berat. Setelah ia pikir-pikir, akhirnya Biao memutuskan untuk ganti rugi atas apa yang telah terjadi.


“Katakan apa yang harus aku lakukan? Aku juga tidak ingin memiliki hutang apapun kepada orang lain.”


Sharin mengukir senyuman sebelum mengeluarkan kata, “Paman harus menikahiku saat aku telah selesai dengan studiku nanti,” ucap Sharin penuh percaya diri.


“What?” ucap Biao dengan mata membulat lebaran. Bahkan siap untuk keluar dari dalamnya.


“Bagaimana kalau tidak ada pria yang mau menikahiku karena bibirku sudah di sentuh orang lain!” protes Sharin dengan nada yang cukup tinggi.


“Sharin, kecilkan suaramu!” ucap Biao sambil memperhatikan keadaan sekitar.


“Aku tidak menyangka, kalau pria seperti Paman ternyata orang yang tidak bertanggung jawab,” ucap Sharin dengan suara yang pelan. Kedua tangannya ia angkat untuk menutupi wajahnya.


Biao memejamkan mata sejenak. Tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya kalau akan mengalami hari seburuk ini.


“Kalau Paman tidak mau bertanggung jawab aku akan menceritakan semua ini sama Paman Tama,” ucap Sharin sambil berusaha untuk beranjak dari duduknya.


“Sharin! Jangan lakukan itu,” cegah Biao. Ia tidak ingin hal memalukan ini diketahui oleh sahabatnya. Apa lagi wanita yang menjadi korban Biao saat ini adalah keponakan Tama. Masalah akan semakin sulit jika Tama berhasil mengetahui semua yang terjadi.


“Apa Paman mau bertanggung jawab?” tanya Sharing sekali lagi.


“Kita harus membicarakan hal ini nanti. Sekarang, aku harap kau tidak memberitahu siapapun tentang kejadian yang baru saja terjadi.” Biao terlihat sangat frustasi pagi itu.


“Baiklah. Awas saja kalau Paman berani kabur,” ancam Sharin sambil memungut dokumen yang berserakan.


Biao menghela napas sebelum beranjak. Sekali lagi ia memandang wajah Sharin sebelum pergi meninggalkan lokasi itu.


Kenapa masalahnya jadi serumit ini!


Sharin terlihat menahan tawa. Wanita berusia 20 tahun itu tidak serius dengan ucapannya. Ancaman dan semua perkataannya hanya untuk mengerjai Biao saja karena pria itu sudah merebut ciuman pertamanya.


“Siapa juga yang mau cepat-cepat nikah,” ucap Sharin sambil menahan tawa.


untuk reader yang mau masuk grup chat tapi blm di konfir, harap sebelum masuk ketik reader Sisca Nasty. jdi admin tidak salah konfir orang. terima kasih🙏