
Biao masih terus menelusuri lorong rumah sakit untuk mencari keberadaan Serena. Beberapa ruang terapi ia masukin untuk mengecek keberadaan Serena di dalamnya. Sudah lebih dari lima ruangan ia masukin, namun Serena tidak kunjung ia temukan di dalamnya.
“Dimana kini kau berada nona muda”, gerutunya mulai bingung saat pencariannya pagi ini tidak kunjung membuahkan hasil.
Dengan langkah berat, Biao kembali ke kamar Serena dengan wajah kecewa karena mendapatkan kamar yang masih belum berpenghuni. Sambil melirik ke arah jam yang ada di dinding kamar itu, Biao kembali mengingat jadwal Daniel yang sudah ia susun dengan rapi.
“Semua akan berantakan, jika nona Serena tidak kunjung ditemukan!” batinnya dengan gusar.
Namun, satu ide cemerlang muncul di kepalanya detik itu juga. Berniat untuk menghubungi nomor Diva dan beberapa pengawal yang berjaga di depan kamar Serena. Dengan penuh percaya diri akan memperoleh sebuah informasi, Biao memanggil satu nomor yang sangat tidak asing bagi dirinya.
“Diva…ayo angkat teleponnya”, sambil memandang sekeliling kamar.
Bukan hasil yang bagus, handphone Diva justru berbunyi di dalam kamar itu juga.
“Sial!” teriak Biao hingga suaranya memenuhi isi ruangan itu.
Dengan kecewa, Biao memutuskan panggilan Handphonenya dari nomor Diva dan menggantinya ke nomor pengawal. Masih dengan hasil yang sia-sia, nomor pengawal itu tidak bisa ia hubungi saat ini. Dengan perasaan yang sudah bercampur aduk, Biao keluar dari kamar Serena dan memilih untuk menunggu kedatangan Daniel di sana.
Daniel melangkah masuk ke dalam ruangan Adit tanpa memperdulikan satu pasien yang sedang di tangani Adit saat ini.
“Dimana Serena?” tanya Daniel dengan wajah gusar dan tidak terbaca lagi.
“Kau? kenapa kau tiba-tiba saja masuk Daniel!” gumam Adit sambil memandang ke arah pasien yang ada di hadapannya.
“Sebaiknya anda segera menebus obat yang sudah saya tulis nona, anda akan segera sembuh setelah meminum obatnya”, jelas Adit pada pasiennya pagi ini. “Tolong antarkan nona ini keluar!”, sambung Adit memberi perintah pada perawat yang berdiri di samping pasien itu.
Tatapannya kembali ia fokuskan pada Daniel yang masih berdiri tegab di depan meja kerjanya.
“Apa kau mencari Serena?” tanya Adit cepat karena ia sudah mengetahui dimana kini Serena berada.
“Dimana dia? Kenapa kau membiarkan pasien yang belum sehat untuk keluar kamar!” gumam Daniel dengan tatapan menyalahkan Adit.
“Dia hanya pergi ke taman bunga yang ada di bawah”, gumam Adit mulai bingung menjelaskan pada Daniel sosok yang membawa Serena pergi keluar.
“Kau ini! Kalau terjadi sesuatu padanya, kau adalah orang pertama yang aku minta pertanggung jawaban!” sambil berbalik badan ingin keluar menemui Serena.
“Daniel!” teriak Adit untuk menghentikan langkah Daniel.
“Ada apa? aku tidak punya banyak waktu!” tanya Daniel kesal sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Adit.
“Serena pergi bersama Kenzo!” ucap Adit pelan sambil tertunduk merasa bersalah.
“Kenzo!” tanpa banyak kata lagi, Daniel segera mempercepat langkah kakinya menuju ke taman bunga yang ada di lantai dasar.
Rasa marah dan kecewa sudah bercampur aduk di dalam kepalanya. Daniel semangkin memperkuat genggaman tangannya saat ia melihat pemandangan yang kini ada di hadapannya. Terlihat Kenzo yang memberikan sesuatu pada Serena. Serena menerimanya dengan senyum indah yang ia miliki. Raut wajah bahagia Serena memang sangat jelas terlihat di sana. Hingga dada Daniel terasa sakit, dan mulai ingin untuk berontak.
“Serena!” teriak Daniel dari kajauhan.
Tatapan mata ketiganya kini teralihkan pada sosok pria yang berdiri tegab tidak jauh dari posisi ketiganya. Wajahnya sudah dipenuhi dengan raut wajah marah.
“Maaf!” sambung Serena cepat sebelum Daniel sempat meluapkan amarah yang ia miliki.
Namun apa yang ada dipikiran Serena saat ini sangat jauh dari apa yang Daniel lakukan. Dengan cepat Daniel mengangkat Serena ke dalam gendongannya dan melangkah pergi membawanya kembali ke kamar. Cake cokelat yang ada di pangkuan Serena jatuh berserakan di tanah.
Diva dan Kenzo hanya bisa diam tanpa berani mengeluarkan kalimat pembelaan. Saat ini tidak akan menang jika mengeluarkan kalimat apapun di hadapan Daniel.
Dengan cepat Diva dan beberapa pengawal mengikuti langkah Daniel dan meninggalkan Kenzo sendiri di sana.
“Semoga saja ia tidak melakukan hal buruk kepada Serena”, batin Kenzo. “Aku selalu saja membuat Serena dalam masalah!” gumamnya kesal sambil membuang nafasnya kasar dan menatap sedih ke arah cake yang sudah berserakan itu.
Tatapan Daniel saat ini memang tidak terbaca lagi. Serena hanya melirik sebentar ke wajah Daniel tanpa berani mengeluarkan satu katapun. Serena lebih memilih diam dan menenggelamkan kepalanya pada dada bidang Daniel saat ini. Kedua tangan Serena yang sudah melingkar di leher Daniel semangkin ia pererat.
Serena masih merasa takut, jika tiba-tiba Daniel akan menjatuhkannnya dari gendongan itu karena marah.
Di depan pintu kamar Serena, terlihat Biao yang sudah berdiri tegab. Nafasnya kembali lega saat ia melihat kehadiran Daniel dengan membawa Serena di sana. Biao kembali mempusatkan perhatiannya pada beberapa pengawal dan Diva yang melangkah cepat mengikuti Daniel. Rasa curiga tiba-tiba saja muncul di kepala Biao.
“Darimana nona Serena, kenapa wajah tuan Daniel…” ucapannya terhenti saat kini Daniel sudah tiba di hadapannya.
Dengan cepat Biao membuka pintu kamar untuk memberi jalan kepada Daniel agar segera masuk ke dalam.
“Biarkan kami berdua di dalam”, perintah Daniel dengan tegas.
Diva dan beberapa pengawal hanya bisa menghentikan langkah mereka tiba-tiba dan tertunduk diam penuh rasa bersalah.
“Apa yang terjadi?” tanya Biao yang masih bingung kepada Diva dan beberapa pengawal yang ada.
“Maafkan kami tuan, kami sudah mengijinkan nona Serena keluar kamar tanpa ijin dari anda!” jawab salah satu pengawal dengan nada takut.
“Apa hanya itu yang terjadi?” tanya Biao lagi yang masih tidak percaya dengan pernyataan pengawal itu.
“Nona Serena, pergi bersama”, ucapan pengawal itu terhenti, hatinya dipenuhi rasa takut yang amat dalam saat harus berkata jujur di hadapan Biao.
“Dengan siapa? Katakan!” teriak Biao memekakan telinga.
“Tuan Kenzo”, sambung pengawal itu cepat.
Wajah Biao berubah memerah seketika itu juga, nafasnya sudah ia buang dengan kasar.
Plakk! Plakk!
Tamparan bertubi-tubi ia layangkan ke wajah beberapa pengawal yang berbaris di hadapannya.
“Kenapa kalian bisa seceroboh ini! Eh?” teriak Biao yang masih dipenuhi amarah.
Diva yang menyaksikan peristiwa itu hanya bisa tertunduk diam penuh rasa bersalah. Penyesalan demi penyesalan terus memenuhi isi kepalanya. Tidak lagi berani untuk mendongakkan kepalanya menatap wajah Biao yang sudah berubah menjadi sebuah monster yang mengerikan.