Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 20



Zeroun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia tersenyum bahagia. Mobilnya menuju ke arah bandara. Ia akan berangkat ke Hongkong, bersama wanita yang paling ia cintai. Zeroun kembali mengingat percakapannya dengan Serena di telepon.


Beberapa jam yang lalu.


Zeroun akan berangkat ke showroom. Ia menghubungi Kenzo, untuk mengajaknya bertemu di sana. Kenzo dan pemilik showroom adalah orang yang saling kenal. Zeroun ingin meminta bantuan Kenzo, untuk mendapatkan mobil itu.


Zeroun ingin memberikan mobil itu kepada Serena sebagai hadiah. Ia tidak tahu, mobil itu akan di terima atau tidak. Tapi hanya itu cara yang ia pikirkan untuk bisa berjumpa dengan Serena lagi.


“Serena akan mengemudikan mobil itu sendiri. Pengawal-pengawal payah itu tidak akan bisa mengejarnya.” Zeroun tersenyum licik.


Zeroun ingin menarik pintu mobilnya. Namun terhenti, saat mendengar getaran handphone di sakunya. Ia melihat satu panggilan masuk, dari nomor yang tidak di kenali. Tidak sembarang orang yang mengetahui nomor teleponnya. Dengan penuh rasa penasaran, Zeroun mengangkat panggilan masuk itu.


“Hallo, siapa ini?”


[Zeroun, ini aku.]


Suara itu, adalah suara Serena. Zeroun sangat kenal dengan suara yang kini berbicara dengan dirinya. Bibirnya tersenyum bahagia, saat bisa mendengar suara Serena lagi.


“Sayang, ada apa? apa kau baik-baik saja?” tanya Zeroun dengan penuh basa-basi.


[Aku ingin menemui Shabira. Apa kau bisa menemaniku?]


“Apa kau yakin? Apa pria itu mengijinkanmu? Aku tidak ingin di sebut sebagai perebut istri orang lain.”


[Aku tidak ingin membawanya ke dalam bahaya.]


“Baiklah sayang. Aku akan menyiapkan semuanya. Tunggu aku di bandara. Aku akan berangkat ke sana setelah menyelesaikan masalah kecil ini.”


[Terima kasih.] Serena memutuskan panggilan teleponnya.


Zeroun meletakkan handphone itu ke dalam sakunya. Ia tersenyum bahagia, dengan penuh kemenangan. Zeroun masuk ke dalam mobil, melajukan mobilnya dengan cepat ke arah showroom.


***


Tidak butuh waktu yang lama, Zeroun sudah tiba di bandara. Ia sudah di sambut beberapa pramugari, di depan jet pribadi miliknya. Ia menaiki tangga dengan raut wajah sangat bahagia.


Di depan pintu masuk, ada pramugari yang menyambutnya lagi.


“Selamat datang, Tuan. Nona Erena sudah menunggu anda di dalam.” Pramugari itu membawa Zeroun masuk ke dalam kabin.


Zeroun tersenyu bahagia, saat melihat Serena duduk di salah satu kursi yang ada di kabin itu. Zeroun berjalan ke arah kursi Serena.


“Sayang … apa kau sudah lama menunggu?” tanya Zeroun dengan santai.


“Tidak terlalu lama, aku juga baru saja tiba.” Serena memandang wajah Zeroun dengan hati yang perih. Ia tidak pernah menyangka, bisa menjalani hubungan serumit ini.


Tidak menunggu lama, pesawat itu sudah take off. Terbang dengan tenang di atas awan yang yang bergumpal indah.


“Apa kau tahu, dimana Shabira berada?” Zeroun duduk di kursi yang ada di hadapan Serena. Ia melepas sabuk pengaman setelah pesawat itu sudah berada di atas.


“Ada suatu tempat yang harus aku kunjungi. Aku yakin dia bersembunyi di sana.” Serena mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


“Sayang ….” Zeroun memegang tangan Serena, menciumnya dengan lembut.


Serena hanya diam. Ia tidak ingin banyak bicara saat ini. Ia tidak pernah tahu, rencana yang saat ini ia susun akan berhasil atau tidak. Tapi ia berniat untuk menyelesaikan semua masa lalunya. Agar bisa hidup bahagia dengan Daniel untuk selamanya. Tanpa ada beban masa lalu yang mengganggu pikirannya.


Maafkan aku Daniel. Aku tahu, saat ini kau sangat kecewa.


“Erena, aku membelikanmu sebuah hadiah kecil.” Zeroun bersandar dengan tenang.


“Hadiah?” Serena menatap wajah Zeroun dengan penuh tanya.


“Ya, aku memenangkannya dari seseorang. Kau tahu, pria itu juga ingin membelinya.” Zeroun memajukan tubuhnya mendekati Serena.


“Dimana hadiahku?” tanya Serena dengan ekspresi yang biasa.


“Masih aku tinggal di bawah.” Menunjuk ke arah kaca.


Serena membuang napasnya kasar, menyandarkan tubuhnya, “Kapan aku bisa mendapatkan hadiah itu?”


“Nanti, ketika kita kembali ke sini bersama Shabira. Aku akan memberikan hadiah itu padamu.”


Serena kembali diam. Ia memandang ke arah jendela dengan hati yang sedih. Memandang kota Sapporo dari ketinggian. Serena memejamkan matanya dengan tenang. Hingga ia tertidur dengan lelap.


“Erena, aku tahu kalau kau melakukan semua ini demi Shabira. Tapi aku bahagia, karena bisa bersama denganmu seperti ini. Memandang wajahmu adalah satu kebahagian yang tiada tara.”


***


Di Rumah Utama.


Daniel keluar dari kamar sambil membawa selembar surat dari Serena. Ia menemui Tama dan Biao yang kini ada di ruang kerja. Daniel membuka pintu dengan kasar. Berjalan dengan tatapan kosong. Ia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi hitam miliknya. Melempar surat itu ke atas meja.


“Apa ini, Tuan?” Tama mengambil surat itu, membacanya dengan seksama. Ia terbelalak kaget, saat mengetahui isi dari surat itu.


“Apa yang terjadi? kenapa wajahmu berubah seperti itu.” Biao merebut paksa surat itu. Membacanya dengan teliti.


“Nona Serena kabur lagi? bagaimana mungkin? tidak ada seorangpun yang tahu,” ucap Biao pelan.


Biao memikirkan pengawal-pengawal yang saat ini berjaga. Ia beranjak dari duduknya.


“Dasar pengawal tidak berguna! Aku akan pergi untuk menghukum mereka.”


“Jangan Biao!” Daniel menghentikan langkah Biao.


“Tuan ….” ucap Tama pelan.


Daniel memandang wajah Tama dan Biao dengan wajah sedikit tenang. Ia sudah bisa menguasai emosinya saat ini.


Biao kembali duduk di kursi, yang ada di samping Tama, “Jika itu keputusan Tuan. Saya tidak lagi bisa membantah.”


Tama dan Biao hanya bisa saling memandang. Memikirkan nama Serena, membuat pikiran keduanya terasa pusing.


Nona … kau menggunakan keahlianmu di masa lalu, untuk kabur dari rumah ini. Aku tidak pernah menyangka, kalau penjagaan ketat yang sudah aku buat di rumah ini, masih berhasil kau taklukan.


Biao menunduk diam. Suasana di ruang kerja itu terasa sangat hening. Biao menatap wajah Daniel, yang kini memeriksa beberapa berkas.


“Sampai dimana tadi malam?” tanya Daniel dengan ekspresi serius.


“Ini berkas yang belum selesai anda tanda tangani, Tuan.” Tama menyodorkan tumpukan berkas ke hadapan Daniel.


Daniel membuka satu persatu berkas itu. Menandatangani dengan penuh kesabaran. Tidak ada emosi di wajahnya saat ini. Daniel terlihat sangat tenang, seperti tidak memiliki masalah.


Tuan, anda sudah banyak berubah. Anda lebih dewasa dalam menyikapi masalah saat ini. Nona Serena sudah membuat anda banyak mengalami perubahan.


Tama memandang Daniel sebelum melanjutkan pekerjaannya.


***


Sore hari di Hongkong.


Jet pribadi milik Zeroun baru saja mendarat di bandara. Serena dan Zeroun turun dengan beriringan. Beberapa bawahan Zeroun, sudah menyambut kedatangan Zeroun dan Serena sore itu.


“Selamat sore, Tuan. Mobil yang anda minta sudah di siapkan.” Pengawal itu memberikan kunci mobil kepada Zeroun.


Zeroun mengambil kunci mobil itu, memandang wajah Serena, “Apa kita berangkat ke tempat itu sekarang?” tanya Zeroun dengan lembut.


“Ya, aku ingin menemuinya secepat mungkin.”


“Ayo kita jalan.” Zeroun menarik tangan Serena, membawanya pergi meninggalkan bandara.


Serena tidak ingin banyak membuang waktu. Ia ingin segera menyelesaikan urusannya, dan pergi menemui Shabira. Mobil yang dikemudikan Zeroun melaju cepat. Serena duduk di samping Zeroun. Serena terus saja memandang ke luar jendela. Pikirannya masih dipenuhi dengan nama Daniel.


“Sayang …” Zeroun memanggil Serena, memecahkan lamunan Serena.


“Iya,” jawab Serena pelan.


“Apa yang kau pikirkan? pria itu?”


Serena terdiam sejenak, ia mencari cara untuk mengalihkan pembicaraan.


“Bentar lagi kita akan sampai.” Serena tidak ingin membahas masalah Daniel saat ini. Zeroun hanya diam, tanpa ingin membantah.


Serena memperhatikan perumahan yang kini mereka lewati. Gedung-gedung kusam yang sudah tidak berpenghuni. Di ujung gedung ada sebuah gerbang yang menghubungkan mereka, ke sebuah perumahan yang tersembunyi. Lokasi itu jauh dari perhatian pemerintah.


Zeroun menghentikan mobilnya di suatu jalan bebatu. Beberapa orang keluar dari persembunyian. Membawa senjata dan menatap tajam ke arah mobil Zeroun.


“Kita sudah sampai. Apa kau yakin, Shabira ada di sini?” Zeroun melihat lingkungan sekitar. mengerutkan dahinya dengan ekspresi tidak percaya.


“Ya, mudah-mudahan dia ada di sini.” Serena menatap wajah pria bertubuh tegab yang sangat menyeramkan.


Zeroun mengambil pistol yang tersembunyi.


Menyimpannya di saku buat jaga-jaga. Serena memperhatikan pistol yang di sembunyikan. Ia tersenyum memandang Zeroun.


“Tidak akan terjadi apa-apa. Semua akan baik-baik saja.” Serena membuka pintu mobil perlahan. Menurunkan satu kakinya lalu kaki lainnya. Turun perlahan dari dalam mobil.


Zeroun juga turun dari dalam mobil. Ia terus bersikap waspada untuk menjaga keselamatan Serena saat ini.


Serena berkata menggunakan bahasa Jerman.


“Aku Erena. Teman Marvels. Aku ke sini ingin menjumpai adikku.”


Pria-pria bertubuh tegab itu menunduk menyambut Serena.


“Selamat datang, Nona.”


Serena tersenyum tipis, memandang wajah Zeroun, “Sangat mudah bukan. Tanpa perlu senjata.”


“Kau memang yang terbaik, Erena.” Zeroun memandang wajah Serena dengan penuh kagum.


“Ayo kita jalan.”


Serena memulai langkah kakinya. Menyusuri jalan sempit dan menaiki anak tangga. Zeroun terus mengikuti Serena dari belakang. Ia memperhatikan beberapa pria bersenjata yang mereka lewati.


“Tempat apa ini?” tanya Zeroun dengan penuh rasa penasaran.


“Tempat penyeludupan senjata api. Kau bisa mendapatkan banyak benda berharga, jika berhasil masuk ke lingkungan ini.” Serena masih memfokuskan pandangannya pada beberapa pintu yang berjajar di depannya.


“Siapa Marvel? bagaimana kau bisa mengenalnya?” tanya Zeroun dengan penuh rasa penasaran.


“Dia Bos di tempat ini. Sudah meninggal. Ceritanya panjang, aku tidak mungkin bisa menceritakannya sekarang.” Serena tersenyum memandang Zeroun.


Serena berjalan ke satu pintu yang sangat ia kenali. Ia berdiri di depan pintu sambil menarik napas dalam. Mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu itu.


Zeroun memperhatikan pintu itu dengan seksama. Sesekali Zeroun memandang keadaan sekitarnya.


Serena mengetuk pintu dengan durasi cepat, tanpa ingin mengeluarkan kata. Pintu terbuka secara perlahan. Sosok pria berdiri di depan pintu. Serena dan Zeroun terbelalak kaget, saat melihat sosok yang mereka kenali berdiri di hadapan keduanya.


“Lukas!” ucap Zeroun tidak percaya.