
Masih di dalam mobil, Biao terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Biao memikirkan nama seseorang. Berharap seseorang itu bisa membantunya, untuk mencari tahu hubungan yang terjadi antara Serena dan Kenzo.
“Akhir-akhir ini, Nona Serena dekat dengannya. Aku yakin, dia mengetahui sesuatu.” Biao tersenyum tipis, menatap ke arah jalan yang lurus.
Tidak butuh waktu yang lama, kini Biao sudah berada di parkiran Rumah Sakit. Masih di selimuti langit yang gelap, seorang satpam menyambut kehadiran Biao dan menunduk hormat. Langkahnya ia percepat, tiga jam adalah waktu yang sangat berharga baginya saatnya.
Biao melangkah masuk ke dalam Rumah Sakit. Menelusuri lorong rumah sakit, yang masih terlihat sunyi. Tatapan matanya hanya ia pusatkan pada satu ruangan, yang berada di ujung lorong.
Kini langkahnya terhenti, saat dia berada di kamar bernomorkan 172. Dengan hati-hati, ia membuka pintu dan melangkah secara perlahan untuk masuk. Sudah sangat halus dan tenang Biao melangkah masuk ke dalam, tapi di dalam ia sudah di sambut oleh Diva yang terlihat menggendong Angel.
“Tuan Biao! Ada apa anda kesini?” Diva memandang ke arah jam yang terletak di dinding. Waktu masih menunjukkan pukul 03.30.
Biao diam untuk sesaat. Ia mendekat ke arah tempat tidur Diva.
“Diva, aku butuh bantuanmu.” Biao duduk di sebuah kursi, yang letaknya tidak jauh dari Diva.
“Apa Nona Serena sudah di temukan, Tuan? Apa nona Serena baik-baik saja, Tuan?”
“Nona Serena baik-baik saja,” ucap Biao pelan, yang masih merasa ragu dengan keadaan Serena saat ini.
“Ada apa anda ke sini? Di pagi buta seperti ini, Tuan. Apa ada yang bisa saya bantu untuk anda,” tanya Diva dengan hormat, karena Biao juga merupakan atasan bagi Diva saat ini.
“Apa kau mengenal Kenzo?” tanya Biao singkat. Biao memandang wajah Diva, untuk menagih satu jawaban.
“Tuan Kenzo?” ulang Diva dengan mengertutkan dahinya.
“Ya, kau mengenalnya Diva?” Biao semakin bersemangat.
“Tidak, Tuan. Saya tidak mengenalnya. Namun saya mengetahui namanya. Nona Serena memberitahu saya tadi siang,” jawab Diva lembut. Perlahan, Diva meletakkan Angel tidur di sampingnya.
“Katakan padaku Diva, apa yang kau ketahui tentang Kenzo?” tanya Biao penuh rasa penasaran.
“Tuan Kenzo adalah pria yang sudah menolong Nona Serena, Tuan.”
“Menolong?” Mata Biao terbelalak kaget.
“Iya Tuan, waktu penembakan itu. Tuan Kenzo mendekati Nona Serena, dan membawa Nona Serena lari menjahui taman. Hinga akhirnya, Nona Serena selamat Tuan. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi, jika Tuan Kenzo tidak ada saat itu. Penembak itu seperti sedang mengincar Nona Serena.” Diva kembali membayangkan penembakan di taman, dengan raut wajah sedih.
“Berarti mereka tidak saling kenal?”
“Tidak Tuan, pertemuan mereka hanya waktu penembakan itu saja.”
“Apa dia ada memberi tahumu, Diva. Jika ia ingin pergi dengan Kenzo?”
“Tidak, Tuan,” ucap Diva, sambil menggeleng kepala pelan.
“Apa hanya hal itu yang kau ketahui Diva?”
“Iya Tuan, Nona Serena hanya menceritakan hal itu pada saya. Tidak ada yang saya tutupi.”
“Nona Serena menghilang karena pergi bersama Kenzo semalam.”
“Benarkah?”
“Benar, Diva. Kini Tuan Daniel mengetahui semua hal ini. Dia sangat marah pada Nona Serena.”
“Aku harus menjelaskan semuanya, kepada Tuan Daniel.” Biao beranjak dari tempat duduknya.
“Tuan Biao,” teriak Diva menghentikan langkah Biao.
“Ada apa?” Biao kembali memutar tubuhnya.
“Tolong jaga Nona Serena, saya takut Nona Serena dalam bahaya. Dia wanita yang baik, Tuan.”
“Kau tidak perlu memintanya, Diva. Aku akan selalu melindungi Nona Serena, dan Tuan Daniel.” Biao melanjutkan langkahnya, untuk keluar meninggalkan Diva di dalam.
“Semoga nona Serena bisa melewati semua masalah yang saat ini sedang menimpahnya,” ucap Diva penuh harapan.
Dengan hati yang lega dan puas, Biao kembali melajukan mobilnya menjahui rumah sakit. Pernyataan yang ia peroleh dari Diva, sudah bisa memberikan pembelaan bagi Serena. Hubungan di antara keduanya, hanya sebatas perkenalan yang terjadi secara tidak sengaja.
“Seharusnya dari awal, aku mendengarkan penjelasan dari Nona Serena,” ucap Biao gusar, Biao kembali menambah gas mobilnya, untuk segera tiba di apartemen.
***
Malam yang panjang telah berlalu, matahari mulai menunjukkan cahayanya. Semua aktifitas di kota itu sudah berjalan normal kembali. Semua orang sibuk dengan kegiatan mereka masing -masing.
Cahaya matahari masuk ke dalam kamar dan membangunkan Serena dari tidur lelapnya. Dengan berat hati, ia membuka kedua matanya yang masih bengkak karena tangisan semalam. Serena kembali mengingat, semua kejadian yang sudah berlangsung tadi malam. Wajahnya berubah muram, senyum di bibirnya hilang.
Serena memperhatikan sekeliling kamar. Ia tidak menemukan Daniel di sana. Saat ini, ia tidur sendiri di tempat tidur itu.
“Kemana dia, apa sejak tadi malam dia tidak kembali ke sini.” Serena menyibakkan selimut yang melindungi dirinya dari dingin.
Kakinya ia turunkan secara perlahan, dan mulai melangkah meninggalkan kamar. Matanya terbelalak kaget, saat melihat ke arah meja makan yang sudah berisi makanan untuk sarapan paginya saat ini. Ia segera mempercepat langkah kakinya menuju meja makan. Dan mengambil segelas susu hangat yang ada di situ.
“Apa tidak bisa, jika kau mandi lebih dulu, Serena,” ucapan Daniel mengagetkan Serena.
Entah sejak kapan Daniel ada di sudut dapur itu, Serena tidak menyadari kehadirannya. Tapi kehadiran Daniel, kembali membuat suasana hatinya berubah. Keinginannya untuk menghabiskan susu yang baru saja ia ambil, juga sudah hilang.
“Maaf,” ucap Serena singkat.
“Mandilah, kita akan sarapan bersama di sini setelah kau mandi.” Daniel duduk di salah satu kursi yang tersedia di meja makan itu.
Serena hanya menganggukkan kepala. Ia kembali masuk ke dalam kamar, untuk membersihkan dirinya.
“Sungguh menyebalkan, bisanya ia bersikap seolah-olah tidak terjadi sesuatu!” umpat Serena pelan yang kini sudah berada di kamar mandi.
Sikap Daniel kini sudah kembali seperti biasa, wajah penuh amarah yang tadi malam ia pancarkan sudah hilang. Daniel mengenakan setelan santai, menandakan kalau ia sedang tidak ingin berangkat ke kantor. Dengan tenang, ia menunggu Serena yang masih mandi di kamar. Daniel juga sudah menyiapkan baju yang akan dikenakan oleh Serena.
Tidak ingin berlama-lama, kini Serena sudah menyelesaikan mandinya. Terdapat satu paper bag cokelat, di atas tempat tidur. Dengan penuh rasa penasaran, Serena mengambil paper bag itu dan membukanya dengan hati-hati.
“Baju! Apa ini untukku?” Serena mengeluarkan isi paper bag tersebut.
“Kau menyukainya?” tanya Daniel dengan senyuman. Ia berdiri di belakang Serena, sambil bersandar di di dinding.
“Iya, aku menyukainya,” jawab Serena pelan.
“Cepat Pakai baju itu, aku sudah lapar menunggumu dari tadi.” Daniel kembali menutup pintu kamar itu.
“Kenapa dia tidak makan saja duluan, kenapa harus menungguku. Bukannya mama tidak ada di sini,” ucap Serena yang masih kesal, dengan perlakuan Daniel tadi malam.