
Thailand. 1 hari sebelum Daniel dan Zeroun kembali ke Jepang.
Daniel bertarung dengan sekuat tenaga untuk melindungi Zeroun saat itu. Pukulan demi pukulan ia layangkan untuk mengalahkan segerombolan musuh yang menyerangnya. Beberapa anggota Gold Dragon juga sudah mengeluarkan senjata dan menembak musuh satu persatu. Hingga akhirnya musuh hanya tersisa beberapa orang dan bisa dikuasai oleh Gold Dragon langsung.
Daniel berlari menemui Zeroun untuk membawa pria itu mengobati lukanya. Perlahan, Daniel membopong tubuh Zeroun yang sudah hampir tidak sadarkan diri. Langkah demi langkah mereka lalui untuk meninggalkan rumah sakit yang tidak lagi berpenghuni. Helikopter yang sudah siap menjemput mereka berdua juga sudah tidak ada.
Rumah sakit itu terlihat dipenuhi cairan merah dan manusia yang tidak lagi bernyawa. Tidak pernah ada di dalam pikiran Daniel, ia akan berada di tempat mengerikan seperti itu. Hatinya masih dipenuhi dengan bayangan wajah sedih Serena sebelum wanita itu meninggalkannya pergi.
“Zeroun, Kau harus bertahan.”
Daniel masih berusaha keras membawa Zeroun pergi meninggalkan rumah sakit itu. Terdengar satu dentuman ledakan dari lantai atas, tepat dirinya dan Zeroun bertarung tadi. Wajah Daniel semakin pucat, saat melihat gedung tempat ia berada akan segera roboh.
“Zeroun, bangunlah. Kenapa kau sangat payah seperti ini!” teriak Daniel prustasi saat melihat tubuh Zeroun yang sudah tidak sadarkan diri. Darah berkucur deras dari perut dan dadanya.
Air mata menetes membasahi pipi Daniel saat itu. Ia hampir putus asa dan memilih mati bersama Zeroun. Meskipun saat itu ia masih memiliki pilihan untuk lari dari gedung dan meninggalkan Zeroun sendirian di gedung itu.
“Sayang, maafkan Aku. Aku tidak bisa menjagamu lagi. Aku yakin, Kenzo dan Shabira akan menjagamu dengan baik di sana. Maafkan Aku Serena.” Daniel menundukkan kepalanya masih dengan tangan yang menahan tubuh Zeroun agar tidak terjatuh.
“Dasar pria bodoh, kenapa kau tidak pergi saja!” ucap Zeroun sambil membuka mata secara perlahan.
“Zeroun, kau sudah sadar. Kau sudah bangun?” Wajah Daniel lagi-lagi dipenuhi harapan akan segera selamat.
“Apa kau berharap Aku tidak membuka mata lagi?” Zeroun tersenyum tipis.
“Dasar bodoh! Aku tidak akan pernah berpikir seperti itu. Kita harus segera pergi meninggalkan gedung ini.” Daniel berjalan beberapa langkah sebelum berhenti lagi.
“Tunggu dulu,” ucapnya cepat sambil memperhatikan darah pada baju Zeroun saat itu.
Daniel kembali menghentikan langkah kakinya. Membuka kemeja putih yang saat itu ia kenakan. Membalutkan kemeja itu di perut Zeroun untuk menekan darah yang saat itu berkucur deras.
“Begini jauh lebih baik,” ucap Daniel dengan senyuman.
Zeroun juga tersenyum saat melihat kelakuan konyol Daniel saat itu. Di tengah-tengah situasi yang begitu mengkhawatirkan, Daniel masih sempat memikirkan luka di tubuhnya. Pria itu tidak malu sama sekali saat tubuhnya tidak mengenakan baju.
“Kau berusaha selingkuh?” ledek Zeroun disela-sela langkah mereka.
“Kau ini, Aku tidak akan pernah selingkuh darinya. Walaupun ia tidak mencintaiku,” sambung Daniel dengan wajah sedih.
Zeroun menatap wajah Daniel yang kini ada di sampingnya. Satu pertanyaan ingin segera ia ucapkan saat itu, namun ia tidak ingin membahas masalah percintaan saat itu. Satu misi yang harus ia selesaikan saat ini adalah, segera melawan musuh dan kembali ke Jepang dengan selamat.
Daniel dan Zeroun berhasil keluar dari gedung itu sebelum gedung itu runtuh. Terdapat banyak orang yang menangis dan berteriak histeris di depan gedung itu. Polisi juga terlihat mengelilingi arena reruntuhan gedung itu. Zeroun melihat beberapa anggota Gold Dragon yang tertangkap polisi.
Dengan penampilan Daniel dan Zeroun saat itu, tidak ada orang yang mencurigai keduanya. Semua orang hanya mengira Daniel dan Zeroun adalah korban dari gedung rumah sakit itu juga. Satu perawat wanita berjalan mendekati Zeroun dan Daniel.
“Permisi Tuan, sebaiknya anda ikut kami. Kami akan membawa anda ke rumah sakit.” Perawat itu membawa satu brankar untuk menampung tubuh Zeroun yang terlihat lemah.
“Tolong selamatkan teman saya, lukanya sangat parah,” ucap Daniel dengan penuh khawatir.
“Tidak perlu! Aku bisa mengobati luka ini.” Zeroun menatap tajam wajah perawat itu. Ia kembali menyimpan curiga saat tahu, kalau wanita itu bukan bagian dari pasukan yang ia miliki.
Wanita itu tersenyum tipis sebelum melanjutkan perkataannya, “Aku akan mencincang tubuh kedua pria ini.” Wanita itu menyodorkan handphone yang berisi foto Lukas dan Biao lagi terikat.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Zeroun dengan tatapan tajam.
“Nyawa anda, Tuan tampan.” Wanita itu mengelus dengan lembut wajah Zeroun.
Zeroun tersenyum kecil menatap wajah wanita itu, “Hanya nyawaku?”
“Tentu saja, nyawamu sangat sulit untuk kami dapatkan. Jika kami tidak berhasil mendapatkan nyawa wanita sial itu, nyawamu akan menjadi gantinya.” Wanita itu mendekatkan wajahnya di depan wajah Zeroun, hingga wajah keduanya sangat dekat dan hanya berjarak beberapa centi.
Dengan cepat Daniel mendorong wanita itu untuk menjahui tubuh Zeroun, “Nona, ayo kita pergi. Kau tidak perlu memamerkan sikap murahanmu itu disini!”
Zeroun menahan tawa saat mendengar perkataan Daniel.
Pria ini, bahkan tidak ada lagi kata yang bisa aku ungkapkan untuknya.
“Kau tidak perlu ikut, aku akan membebaskan bawahanmu itu jika Zeroun sudah bersama kami.” Wanita itu menggerakkan kedua bola matanya agar Zeroun segera berbaring di atas brankar yang ia siapkan.
“Kau wanita licik! aku tidak ingin duduk diam di sini. Aku harus memastikan semuanya, kalau kau tidak sedang menipu kami.” Daniel memegang erat brankar yang sudah di siapkan. Mendorong brankar itu agar menjauh dari tubuh Zeroun. Perlakuan Daniel mengalihkan pandangan semua orang.
Zeroun hanya diam menyaksikan perdebatan Daniel dan wanita itu sambil memperhatikan polisi yang berjalan mendekati posisi keduanya.
“Kau!” Wanita itu sudah disulut emosi saat melihat tingkah laku Daniel saat itu. Namun, ia juga menyadari polisi yang kini berjalan mendekati posisinya.
“Kalian berdua cepat masuk ke ambulan. Aku tidak punya banyak waktu untuk bermain-main.” Wanita itu menggenggam tangan Zeroun, seolah-olah menolong seorang pasien.
Daniel dan Zeroun masuk ke dalam ambulan yang sudah tersedia. Mobil ambulan itu berjalan dengan cepat meninggalkan areal yang sudah dipenuhi kekacauan.
Wanita itu memasang borgol di tangan Daniel dan Zeroun sebelum menutup pintu belakang Ambulan. Ia tidak ingin musuh yang kini ada di hadapannya berhasil kabur lagi. Sementara Zeroun dan Daniel hanya diam tanpa kata saling menatap satu sama lain. Tidak ada pilihan kedua yang bisa menyelamatkan mereka saat itu. Bahkan Biao dan Lukas yang sejak awal mereka harapkan sudah tertangkap.
Daniel menunduk sedih saat kini ia sadar, kalau dirinya tidak akan bertemu dengan Serena lagi.
‘Sayang, haruskah kita berpisah dengan cara seperti ini?
Zeroun tersenyum tipis memperhatikan wajah Daniel saat itu.
“Kau bisa pergi dari kota ini dengan mudah. Mereka tidak mengincarmu, sudah bisa dipastikan kalau kau akan selamat. Kau bisa menghubungi rekan bisnismu yang ada di kota ini. Itu sangat mudah untuk orang pintar sepertimu, Daniel. Tapi, kenapa kau justru memilih masuk ke dalam mobil ini.”
“Aku juga gak tahu, apa yang saat ini aku lakukan. Seharusnya aku membencimu, Zeroun Zein. Karena dirimu selalu ada di hati Serena saat ini. Bahkan di dalam hatinya, namaku harus bersaing dengan namamu.” Daniel tertawa kecil untuk memecah keheningan di dalam mobil itu.
“Darimana kau tahu, kalau namaku masih ada di hatinya? apa kau bisa membaca isi hatinya?” Zeroun tertarik dengan topik pembahasan Daniel saat itu.
“Aku lebih suka Serena yang amnesia daripada yang sekarang,” jawab Daniel pelan.
“Maafkan aku Daniel, seharusnya aku tidak hadir di antara kalian. Aku tidak pernah tahu, apa tujuan takdir untuk mempermainkan perasaanku hingga sesakit ini. Rasanya hatiku jauh lebih hancur, jika dibandingkan mendengar kematian Erena saat itu.” Zeroun menarik napas perlahan.
“Saat ia meninggal, Aku tahu kalau ia pergi dengan membawa cinta suci kami ke surga. Suatu saat nanti aku akan menjemputnya di sana dan kami akan hidup berdua di surga dengan bahagia. Tapi, saat melihatnya masih hidup dan bersama dengamu. Itu jauh lebih menyakitkan, karena ia pergi dan bahagia bersama orang lain. Melupakan semua janjinya yang begitu suci.”
Daniel kembali diam mendengarkan perkataan Zeroun. Ia tahu dan mulai mengerti saat ini, bagaimana hancurnya hati Zeroun saat Serena meninggalkan dirinya. Bahkan lebih memilih dirinya daripada Zeroun.
Perasaan itu juga pernah ia rasakan saat Serena menembak dirinya saat itu, namun dalam sekejap sakit itu terobati. Tapi, Zeroun. Lukanya seperti tidak pernah terobati dan tidak akan pernah sembuh sampai kapanpun. Selama dirinya masih ada di antara Serena dan Zeroun.