
Siang yang terik di pinggiran pantai. Serena berlari-lari dipinggiran pantai. Bermain dengan ombak pantai yang menerpa tubuhnya. Wajahnya benar-benar berseri karena bahagia.
Satu pelayan berjalan ke arah meja yang ada di samping Daniel. Setiap siang pelayan-pelayan itu muncul untuk menyiapkan sarapan dan makan siang Daniel dan Serena. Membereskan kamar dan rumah yang berantakan. Namun, saat sore hari pelayan itu hilang entah kemana.
Daniel beranjak dari duduknya untuk bermain bersama Serena. Pria itu menarik tubuh Serena dari belakang, sebelum memutar tubuh Serena dengan begitu bahagia. Sesekali keduanya jatuh di permukaan pasir putih, membuat ombak pantai membasahi tubuh keduanya.
Puas bermain air, Daniel dan Serena mengeringkan diri di sebuah kursi dengan handuk. Serena mengusap usap rambut basah Daniel dengan handuk. Daniel hanya tersenyum bahagia dan menatap Serena penuh cinta.
“Apa yang kau lihat?” tanya Serena dengan wajah bahagia.
“Aku menginginkan sesuatu,” jawab Daniel dengan wajah sensualnya.
“Apa yang kau inginkan?” Serena menatap wajah Daniel dengan seksama.
“Kalau aku memintanya, apakah kau akan melakukannya di sini, Sayang?” Daniel menarik tubuh Serena agar wanita itu duduk di pangkuannya.
“Daniel, jangan meminta hal-hal yang aneh. Ini tempat terbuka.” Serena memperhatikan sekeliling pantai tempat mereka berdua bersantai saat itu.
Disini tidak ada siapapun. Seperti pantai milik kami berdua. Hanya saja, agak sedikit aneh kalau kami harus melakukan hal itu di tempat ini.
Serena membayangkan kegilaan Daniel di dalam kamar. Wajahnya memerah seperti tomat segar.
“Aku cuma ingin meminta kau memakan Sandwich itu. Dasar mesum!” ledek Daniel dengan senyuman tipis.
“Kau yang mesum, Daniel!” protes Serena sebelum ia beranjak dari pangkuan Daniel. Wanita itu duduk di kursi yang ada di samping Daniel.
“Serena, aku selalu menunggu kau untuk mengatakannya.” Daniel menatap wajah Serena dengan wajah yang serius.
“Apa?” Serena mengambil sandwich, mengunyah roti itu dengan lahap.
“Mendengarkan kata, kalau kau yang memintanya lebih dulu,” sambung Daniel dengan satu senyuman kecil.
Wajah Serena berubah malu, dengan cepat Serena beranjak pergi untuk menghindari Daniel. Tapi Daniel dengan cepat mengejarnya dan meraih tangan Serena. Perlahan Daniel meletakkan tangan Serena di depan dadanya.
“Apa kau merasakannya, Serena?” tanya Daniel sambil menatap wajah Serena, penuh dengan cinta.
“Aku bisa merasakan debaran cinta di sini, sama sepertiku. Aku juga selalu merasakan debaran cintamu di sini Daniel.” Serena meletakkan tangan Daniel di depan dadanya.
Daniel memegang dagu Serena dengan begitu lembut. Menarik wajah Serena untuk mencium bibir istrinya. Seperti tidak ada cukupnya, pria itu terus-terusan ingin menyentuh Serena setiap kali istrinya ada di dekatnya.
“Daniel, kau sudah melakukannya berulang kali hari ini.” Serena menunduk dengan wajah merah merona.
“Apa kau lelah, Sayang?” tanya Daniel dengan suara lembut.
“Aku …” ucapan Serena terhenti. Wanita itu memandang ke arah pantai sebelum memandang wajah Daniel lagi.
“Tidak, aku tidak lelah. Ayo kita lanjutkan.” Serena mengecup bibir Daniel lebih dulu. Membuat kedua bola mata Daniel melebar karena kaget.
“Baiklah, detik ini aku hitung kau yang memintanya sayang.” Tanpa menunggu lagi, pria itu membopong tubuh istrinya dan membawanya masuk ke dalam kamar.
.
.
.
1 minggu perjalanan bulan madu Daniel dan Serena berjalan dengan lancar. Tidak ada musuh atau hal apapun yang mengganggu momen indah mereka berdua. Sepasang suami istri itu pulang dengan wajah bahagia. Saling bergandengan tangan, sesekali saling menjahili satu sama lain.
Biao dan Tama menjemput kedatangan Daniel dan Serena di bandara. Kedua pengawal setia Daniel, terlihat bahagia saat melihat kedua majiannya tertawa bahagia.
“Hai, Tama. Hai Biao.” Serena melambaikan tangan di hadapan Tama dan Biao. Satu tangannya yang lain terlihat menggandeng tangan Daniel.
“Selamat sore, Nona. Tuan.” Tama dan Biao menunduk dengan hormat.
Beberapa pengawal yang dibawa Biao tampak sibuk membawa barang-barang Daniel dan Serena.
“Ayo, sayang. Aku punya kejutan untukmu di rumah.” Daniel mengukir senyuman bahagia. Ia sangat yakin, kalau kejutannya saat ini bisa membuat Serena semakin bahagia.
“Apa itu?” tanya Serena penasaran.
“Rahasia.” Daniel membawa Serena menuju ke arah mobil. Tama dan Biao mengikuti mereka dari belakang.
Dua pengawal membukakan pintu mobil untuk memberi jalan kepada Daniel dan Serena. Tama mengambil alih kemudi soreitu. Sedangkan Biao duduk dengan tenang di samping Tama. Mobil itu melaju dengan cepat menuju ke rumah utama. Lima mobil pengawal S.G.Group juga iut berjalan mengikuti laju mobil Tama dari belakang.
“Tama, bagaimana dengan keadaan Angel?” tanya Serena dengan penuh rasa penasaran.
“Angel baik-baik saja, Nona.” Tama mengukir satu senyuman di bibirnya.
“Sayang, apa kau sudah siap dengan kejutan yang akan aku berikan?” Daniel memandangkeluar jendela. Mobil itu sudah semakin dekat dengan lokasi rumah utama.
“Dimana kejutannya?” Serena memandang keluarjendela. Tidak ada hal apapun yang ia temukan saat itu.
“Di rumah,” jawab Daniel sambil tertawa kecil.
Serena menatap wajah Daniel dengan satu senyuman menyeringai. Sebelum memandang keluar jendela lagi. Hatinya terasa sangat tenang dan bahagia, karena bulan madunya bersama Daniel berjalan dengan lancar. Tidak ada lagi bahaya yang mengancam dirinya. Semua menjadi kenangan indah yang akan ia ingat seumur hidupnya.
“Daniel, lain kali kita ke pulau itu lagi ya.” Serena menatap wajah Daniel dengan penuh harap.
“Tentu, kapan saja kau ingin pergi. Kita akan berangkat detik itu juga,” jawab Daniel dengan tenang.
Tama memberhentikan laju mobilnya di depan pintu utama. Di depan pintu utama ada Tuan dan Ny.Edritz yang menyambut mereka sore itu. Seperti biasa, Pak Han dan Pak Sam juga berdiri di posisi yang tidak terlalu jauh dari Ny. Edritz.
Daniel dan Serena turun saat dua pengawal membukakan pintumobil. Dengan wajah bahagia, Serena berlari untuk memeluk ibu mertuanya itu.
“Mama, Serena kangen.” Serena mmeluk Ny.Edritz dengan begitu erat.
“Mama juga sangat merindukanmu, Sayang.” Ny.Edritz terlihat tenang saat bisa melihat kedua anak yang ia cintai pulang dengan selamat.
“Daniel, kau terlihat sangat bahagia.” Tuan Edritz menepuk pundak Daniel dengan satu senyuman.
“Aku akan selalu bahagia, setiap Serena ada di sampingku, Pa.” Daniel memandang wajah Serena dengan satu senyuman.
“Ma, dimana Angel?” tanya Serena sambil mencari-cari.
“Tante ….”
Serena terkejut mendengar suara kecil itu. Dari dalam rumah, bocah 3 tahun yang baru saja ia tinggal selama 1 minggu itu sudah bisa memanggil namanya. Tidak cukup sampai di situ, Angel berlari kecil untuk mendekati posisi Serena berdiri.
Dengan mata berkaca-kaca, Serena berlari cepat untuk menghampiri Angel. Ingin sekali ia memeluk gadis kecil itu.
“Sayang, kau sudah bisa berjalan?” Serena berlutut di lantai, memegang kedua pipi Angel dengan hati yang bahagia.
“Tante,” ucap Angel lagi, sebelum bocah kecil itu mengecup pipi Serena.
Serena menarik tubuh Angel ke dalam pelukannya. Air mata bahagia mengalir deras membasahi pipinya. Kesehatan Angel, benar-benar kejutan terindah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Serena berdiri untuk memandang wajah Daniel yang berdiri di sampingnya.
“Sayang, terima kasih atas kejutan ini.” Serena mengecup pipi Daniel lagi, karena terlalu bahagia.
“Sayang, tapi bukan ini kejutannya.” Daniel melipat kedua tangannya di depan dada.
“Lalu?” tanya Serena dengan penuh penasaran.
Semua orang yang ada di ruang utama tersenyum bahagia memandang Serena. Suasana tiba-tiba terasa sangat hening. Tidak ada satu orangpun yang mengeluarkan kata saat itu.
“Kejutan kedua aku yang membawanya,” ucap Adit dari kejauhan. Pria itu berdiri dengan satu senyuman indah dibibirnya.
Serena memperhatian sosok wanita yang berada di belakang tubuh Adit. Wanita itu berjalan untuk mendekati posisi Adit. Jantungnya berdebar cepat, di dalam hati ia terus menebak-nebak. Siapa wanita yang ada di belakang Adit.
Langkahnya terhenti saat Adit mulai menarik tangan wanita itu.
“Nona, apa kabar.” Diva tersenyum dengan wajah yang berseri.
Serena menutup mulutnya dengan satu tangan. Lagi-lagi buliran air mata menetes saat ia bisa melihat sahabat terbaiknya dalam keadaan sehat.
“Diva ….” ucap Serena dengan suara serak.
“Nona, saya sangat merindukan anda.” Tanpa permisi, wanita itu berlari untuk memeluk tubuh Serena. Menangis dengan keras untuk melanpiaskan rasa rindunya selama ini.
“Diva, kau masih hidup?” ucap Serena masih tidak percaya.
“Dokter Adit yang menolong saya, Nona.” Diva memejamkan matanya dengan tangis yang tiada henti.
“Diva,aku sangat bahagia. Terima kasih karena kau sudah bertahan dan bisa kembali di sampingku. Aku sangat merindukanmu.” Serena memeluk Diva dengan begitu erat.
“Mama, Tante.” Angel menarik baju Serena dan Diva secara bersamaan. Bocah tiga tahun itu terlihat cemburu saat kedua wanita yang ia cintai tidak lagi memperdulikan dirinya.
Serena melapas pelukannya. Diva mengangkat tubuh Angel ke dalam gendonganya. Mengecup pipi Angel dengan penuh kerinduan.
“Nona, terima kasih karena anda sudah menjaga Angel selama ini.” Diva mengecup pipi Angel dengan lembut.
“Aku yang seharusnya berterima kasih, karena kau sudah memberiku kesempatan untuk mengenal Angel.” Serena memegang tangan kecil Angel dengan senyuman.
“Sayang, ayo kita ke kamar dulu untuk istirahat. Diva akan tinggal di rumah ini, jadi kau bisa bertemu dengannya setiap saat.” Daniel masih berdiri di posisinya semula.
“Daniel, jaga calon istri dan anakku dengan baik.” Adit menepuk pundak Daniel dengan satu senyuman.
“Calon istri?” tanya Serena tidak percaya.
“Ya, aku rasa terlalu cepat. Tapi, sepertinya aku sudah jatuh cinta pada wanita ini sejak pandangan pertama.” Adit merangkul pinggang Diva dnegan begitu mesra.
“Sepertinya akan banyak pesta pernikahan dalam waktu dekat,” sambung Ny. Edritz dengan satu senyuman.
Serena berjalan ke arah Daniel. Memeluk pria berstatus suaminya itu dengan penuh bahagia.
“Terima kasih atas semuanya,” ucap Serena dengan hati yang tulus.
“Aku akan melakukan apapun itu, agar bibirmu ini bisa selalu tersenyum.” Daniel menyentuh dagu Serena dengan lembut.
“Daniel, apa jadwal bulan madu kalian kurang lama? kalian tidak harus memamerkan kemesraan di sini. Putri kecilku ini tidak boleh menyaksikan adegan mesra kalian.” Adit menggendong Angel dengan penuh kasih sayang.
Perkataan Adit membuat semua orang yang ada di ruangan itu tertawa bahagia. Tama dan Biao juga terlihat tenang, saat menyaksikan kebahagiaan yang bertubi-tubi yang kini dirasakan Daniel.
“Setelah melewati masalah yang sangat berat. Hari ini aku bisa melihat rumah utama bisa kembali bersinar.” Tama melipat kedua tangannya.
“Aku harap, kebahagiaan ini tidak akan pernah hilang lagi.” Biao memasukkan satu tangannya di dalam saku.