Mafia's In Love

Mafia's In Love
Perjalanan Bulan Madu



Kini Daniel dan Serena, sudah ada di dalam jet pribadi milik keluarga Edritz. Tatapan mataSerena, terus memandang isi pesawat itu. Bibirnya berdecak kagum, melihat interior pesawat yang begitu mewah dan elegan. Seperti rumah yang berada di atas langit, satu kalimat yang ada di pikiran Serena saat pertama kali ia masuk ke dalam jet pribadi itu.


Bukan hanya kursi dan meja yang tersedia, tetapi ada sebuah tempat tidur mini dan bar kecil yang melengkapi isi jet itu. Bahkan dalam ingatannya, ia tidak pernah menaiki sebuah pesawat bahkan yang kelas bawah. Kini ia bisa berada di dalam sebuah pesawat, dengan level di atas first class.


“Daniel,” sapa Serena sambil menatap Daniel yang kini ada di hadapannya.


“Ada apa?” jawab Daniel singkat.


“Tidak ada apa-apa.” Serena ingin menanyakan jadwal makan siang. Namun bibirnya tidak mampu untuk mengatakan hal itu. Apa lagi di hadapan Daniel, seperti saat ini.


Serena memandang ke arah jendela, untuk menyaksikan lukisan alam yang indah. Lautan luas yang berwarna biru, di temani langit cerah yang sepadan dengan warna laut. Serena terus saja memegang perutnya yang lapar. Tadi di rumah Serena tidak sempat makan siang, karena merasa tidak berselerah.


Apa dia sedang sakit perut, kenapa dia terus memegang perutnya.


Daniel terus memandang ke arah perut Serena.


“Daniel .…” ucap Serena sambil tersenyum ke arah Daniel.


“Ada apa? kau terus memanggil namaku sejak tadi,” jawab Daniel yang mulai kesal.


“Apa ada makanan di dalam pesawat ini, sebuah roti atau .…” jawab Serena jujur yang memang sudah tidak lagi bisa menahan rasa laparnya.


Tanpa menjawab, Daniel mengangkat tangannya kepada seorang pengawal yang berdiri tegab di suatu tempat yang tidak jauh dari posisi Serena berada. Seorang pengawalpun melangkah cepat mendekati ke arah Daniel. Belum sempat pengawal itu mengatakan satu katapun, Daniel sudah memberi perintah dengan cepat dan singkat.


“Siapkan makan siang untuk Serena.”


Dengan membungkuk hormat, pengawal itu pergi menuju sebuah pintu. Kini hanya ada Daniel dan Serena di satu ruangan yang memang privat itu. Tatapan Serena kembali ia arahkan ke arah jendela untuk kembali menikmati pemandangan. Sedangkan Daniel, hanya diam membisu tanpa kata dengan wajah serius menatap Serena dan pandangan yang tidak terbaca.


“Kenapa dia terus menatapku seperti itu.” batin Serena sedikit melirik ke arah Daniel.


“Apa dia mulai besar kepala dan percaya diri karena aku terus memandangnya seperti ini, lihatlah cara duduknya yang sudah terlihat tidak nyaman,” batin Daniel.


“Hmmp … kau,” ucap Daniel dan Serena secara bersamaan.


“Kau dulu Serena,” ucap Daniel sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman.


“Daniel, kita harus kembali membicarakan tentang pernikahan ini.”


“Apa maksudmu Serena?” tanya Daniel bingung sambil kembali dengan posisi duduknya semula.


“Aku tidak ingin pernikahan ini menjadi beban untuk hidupmu,” ucap Serena pelan, ia mencoba untuk menjelaskan isi hatinya kepada Daniel.


“Kau hanya perlu mengatakan inti dari perkataanmu itu Serena,” jawab Daniel dengan wajah yang mulai serius.


“Daniel, maukah kau berteman denganku?” tawar Serena dengan perasaan yang mulai berkecambuk tidak karuan.


“Berteman?” Daniel mengerutkan dahinya. Menatap tajam ke arah Serena.


“Iya, kita tidak harus bersikap seperti ini. Kita bisa saling mengenal, Daniel.”


Suasana kembali hening, kini giliran Serena yang memandang ke arah Daniel dengan wajah serius. Hatinya sedikit legah karena berhasil mengungkapkan isi hati yang selama ini ingin ia ungkapkan.


Serena tersenyum dengan wajah yang berseri seri. Meskipun belum ada jawaban dari Daniel dan tidak ada gambaran kalau Daniel akan menyetujui permintaannya, Namun Serena sudah merasa bahagia.


Beberapa pelayan masuk ke dalam ruangan dengan menghidangkan beberapa jenis makanan dan minuman. Semua di hidangkan di atas meja yang ada di hadapan Serena dan Daniel. Kini meja yang menjadi pemisah antar keduanya itu telah penuh dengan aneka makanan.


Serena sudah menelan salivanya sejak tadi. Nafsu makannya seketika itu juga muncul ingin menyantap semua makanan yang ada, namun gerak tubuhnya masih mencegahnya untuk melakukan hal itu. Pandangannya masih ia fokuskan pada Daniel. Takut melakukan kesalahan lagi, Serena hanya bisa menatap Daniel.


“Kenapa kau tidak memakannya?” tanya Daniel bingung, saat melihat Serena hanya diam mematung.


“Apa aku boleh memakannya?” tanya Serena pelan.


Daniel tertawa terbahak-bahak, tawa Daniel sungguh bukan hal yang sengaja ia buat buat. Kali ini dia benar-benar terpingkal atas prilaku polos Serena.


Beberapa pelayan yang baru saja selesai menghidangkan makanan itu, hanya bisa saling tatap wajah. Tingkah Daniel memang tidak seperti biasanya, belum pernah Daniel tertawa selepas itu. Apalagi tawa itu ia lakukan di hadapan pengawal dan pelayan, yang berstatus sebagai bawahannya.


“Kenapa dia tertawa,” ucap Serena sedikit kesal, bukan mendapat ijin untuk mulai makan ia justru menjadi bahan tawa Daniel.


“Kau memang menyebalkan Serena, tetapi kau juga sangat menyenangkan,” ucap Daniel yang masih larut dalam tawa bahagianya.


“Menyenangkan? Apa maksudmu Daniel?” Kini Serena sudah membuang pandangannya, ke beberapa pelayan yang masih berdiri di depan pintu.


“Kenapa kau meminta ijin untuk memakan makanan ini seperti meminta sebuah perusahaan Serena. Lihatlah wajahmu jika sedang ketakutan,” ledek Daniel yang sudah mulai menormalkan napasnya.


“Kau yang menyebalkan Daniel,” jawab Serena cepat. Ia mengambil sepasang sendok dan garpu, dan memulai makan siangnya.


“Hei, aku belum mengijinkanmu makan Serena,” ledek Daniel lagi.


“Aku tidak perduli!” Serena terus melanjutkan makan siangnya.


Suasana yang di awali dengan keseriusan kini di akhiri dengan sebuah canda tawa yang di ciptakan oleh Daniel dan disebabkan oleh Serena. Sesekali Daniel masih tersenyum melihat tingkah Serena. Perasaan Daniel yang tidak pernah bisa di tebak memang membuat Serena selalu saja bingung dalam mengambil keputusan.


Kenapa hatiku sangat tenang saat melihatnya tertawa lepas seperti itu. Dia terlihat seperti pria normal pada umumnya. Andai saja sikapmu selalu begini Daniel.


Serena tersenyum memandang Daniel.


Kini hari sudah mulai senja, matahari sudah berubah warna menjadi orange. Tidak lagi ada di udara, kini Daniel dan Serena sudah tiba di sebuah bandara. Sebuah negara yang menjadi tempat bulan madu yang telah di siapkan oleh Ny. Edritz. Seorang pengawal melangkah mendekati Daniel dan Serena.


“Selamat datang, Tuan Daniel, Nona Serena. Mari saya antar, Tuan,” ucapnya penuh hormat sambil melangkah menuju sebuah mobil dan diikuti oleh Daniel dan Serena di belakangnya.


Beberapa pengawal yang bertugas untuk menjaga Daniel dan Serena juga turut ikut mengiringi langkah keduanya menuju mobil. Keberadaan Serena dan Daniel yang di iringi beberapa pengawal pribadi, menjadikan keduanya pusat perhatian semua orang yang ada di bandara saat itu.


Apa seperti ini rasanya menjadi orang kaya, di hormati dan di segani saat berada di mana saja.


Mobil melaju dengan cepat, tidak ada hambatan di perjalanan. Jalanan yang terlihat lapang memudahkan mobil itu untuk terus melaju kencang. Hingga beberapa saat kemudian, Daniel dan Serena tiba di sebuah tempat. Tempat yang kini menjadi lokasi bulan madu antara Daniel dan Serena. Dengan wajah tidak terbaca, Serena turun dari mobil dan berdiri mematung melihat lokasi yang ada di hadapanya.


“Apa kita tidak salah tempat?” ucap Serena kecewa.