Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 19



Restoran SS


Daniel dan Serena baru saja tiba di salah satu restoran ternama yang ada di kota Sapporo. Sepasang suami istri itu turun secara bersamaan. Biao dan Tama juga mengikuti langkah kaki mereka dari belakang. Serena menghentikan langkahnya sebelum masuk ke dalam restoran mewah itu. Wanita tangguh itu memperhatikan satu persatu pengawal yang kini mengawasi mereka. Tidak ada yang mencurigakan dari tempatnya kini berada. Wanita itu memandang ke arah lain yang kini terlihat sunyi dengan wajah waspada.


“Sayang, ayo kita masuk.” Daniel memecahkan kosentrasi Serena siang itu. Pria itu menggenggam tangan Serena dan membawanya masuk ke dalam restoran.


“Daniel, Aku menunggu di meja yang lain saja. Aku tidak enak kalau harus duduk satu meja dengan clienmu siang ini,” ucap Serena sambil menghentikan langkah kakinya.


“Baiklah, Aku akan meminta pengawal untuk menemanimu,” jawab Daniel tanpa protes.


“Jangan, sebaiknya pengawal-pengawal itu menjagamu saja,” jawab Serena cepat sambil menghentikan langkah kakinya.


“Jangan membantah lagi. Apa kau ingin membuatku tidak tenang nanti?” Daniel menyelipkan rambut Serena di belakang telinga.


“Baiklah,” jawab Serena sambil mengukir senyuman terpaksa.


Daniel memandang pintu masuk ke ruangan privat tempat dirinya akan bertemu dengan clien penting itu. Pria itu memandang kursi yang berada tidak jauh dari pintu masuk ruangan itu.


“Sayang, tunggu Aku di kursi itu.” Daniel membawa Serena ke arah kursi yang telah ia pilih untuk Serena.


“Kau boleh memesan makanan dan minuman duluan. Kemungkinan perteman ini berlangsung cukup lama.” Daniel mengecup pucuk kepala istrinya dengan senyuman manis.


“Hati-hati,” sambung Daniel sebelum melepas tubuh istrinya. Serena hanya membalas perkataan Daniel dengan senyuman. Wanita tangguh itu berjalan ke arah kursi yang di pilih Daniel. Lima pengawal S.G.Group juga mengikuti langkah Serena menuju kursi itu.


Kedua bola matanya tidak berkedip sampai pria berstatus suaminya itu hilang di balik pintu. Beberapa pengunjung yang kini sedang menikmati makan siangnya, menjadi salah satu orang yang kini di curigai Serena.


Pelayan berpakaian putih corak cokelat itu berjalan ke arah kursi Serena. Ada buku menu dan note kecil di tangannya. Bibirnya mengukir senyuman manis sambil membngkuk di hadapan Serena.


“Silahkan, Nona,” ucap Pelayan itu masih dengan senyuman indah dan posisi siap mencatat pesanan Serena.


Serena membuka buku menu itu dengan senyuman. Restoran yang kini di datanginya adalah restoran yang terkenal dengan steaknya. Serena memutuskan untuk memesan steak daging dengan saus black paper favoritnya. Satu jus apel menjadi teman makan siangannya.


“Mohon di tunggu, Nona,” ucap Pelayan itu sebelum pergi meninggalkan Serena.


Serena mengambil ponselnya yang tiba-tiba berdering di dalam saku. Wanita itu mengeryitkan dahinya saat melihat nama Shabira lagi-lagi muncul di layar ponselnya.


[Kakak, apa Kakak baik-baik saja? Kenzo bilang tadi Kakak di serang?]


“DarimanaKenzo tahu? dia tidak ada di lokasi itu tadi?”tanya Serena bingung.


[Kak, Kenzo datang terlambat saat Kakak dan pengawal S.G.Group pergi.]


“Benarkah? tapi, sekarang Aku baik-baik saja.” Serena mengukir senyuman sambil memandang wajah beberapa pelayan yang masuk ke ruangan tempat Daniel berada. Ada banyak menu yang kini mereka siapkan untuk tamu spesial mereka di restoran itu.


“Shabira, apa kau bisa datang ke sini? Aku merasa ada yang salah dengan restoran ini.” Serena memperhatikan beberapa wajah pengunjung yang kini telah ia yakini sebagai orang jahat.


“Baiklah, Kak. Kirimkan alamatnya, aku akan segera berangkat ke tempat itu.” Shabira memutus panggilan teleponnya.


Serena memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas. Wanita itu tetap memasang pura-pura tidak tahu atas kehadiran musuhnya di restoran itu.


‘Apa kalian bisa menyamar dariku? Aku jauh lebih jago dalam hal menyamar jika di bandingkan kalian.


Setelah menunggu beberapa menit, menu yang dipesan Serena telah tiba. Wanita itu memasang wajah berseri atas makan siangnya yang telah tiba. Serena menatap ke arah ruangan Daniel sebelum melanjutkan makan siangnya.


“Daniel pasti sudah makan juga di dalam. Ada banyak menu yang di masukkan pelayan tadi ke dalam ruangan itu,” ucap Serena sambil mengunyah makanannya.


Dari arah pintu masuk. Shabira muncul bersama Kenzo. Sepasang suami istri itu terlihat memamerkan kemesraan walau kini ada di tempat umum. Ada senyum bahagia di bibir Serena saat melihat wajah bahagia sepasang suami istri itu.


“Terlalu cepat,” celetuk Serena sambil memandang jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Kami tidak akan tenang dengan keadaan Kakak saat ini sebelum melihatnya langsung,” jawab Shabira sambil mengukir senyuman indah miliknya.


“Serena, apa kau baik-baik saja? maaf tadi aku datang terlambat saat ingin menolongmu,” ucap Kenzo sambil menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di hadapan Serena.


“Aku baik-baik saja, jangan khawatir. Masalah yang sebenarnya ada di tempat ini.”Serena membero kode kepada Shabira atas wajah-wajah orang yang kini ia curigai.


Setelah menerima kode dari Serena, Shabiramengintai satu persatu wajah orang-orang itu. Ada senyum kecil di sudut bibirnya. Wanita tangguh itu sudah tidak sabar untuk mengeluarkan pistol dan menembak orang.


“Kak, kapan kita mulai?”tanya Shabira pelan.


“Sebentar lagi, saat mereka ingin memulainya,” jawab Serena sambil meneguk jus apel yag ada di hadapannya. Wanita itu memandang pintu ruangan Daniel yang kini terbuka. Beberapa clien penting dengan baju sangat rapi keluar secara bersamaan dengan Daniel dan yang lainnya. Ada senyum puas dan bahagia dari masing-masing pemilik wajah. Serena jugamengukir senyuman saat melihat wajah berseri suaminya itu.


Tatapannya teralihkan pada pelayan yang kini berjalan cepat ke arah Daniel. Wajah pria itu cukup mencurigakan. Serena melebarkan bola matanya sebelum beranjak dari duduknya.


“Daniel!” teriak Serena yang tidak ingin terlambat. Wanita itu kini salingadu cepat dengan sosok pembunuh yang menyamar sebagai pelayan itu. Dalam waktu yang bersamaan, Serena memeluk tubuh Daniel dan memutar tubuhnya. Satu kakinya Ia tendangkan ke arah pelayan yang juga sudah berjarak dekat dengan Daniel. Satu belati ukuran kecil terpental ke permukaan lantai.


Dari kejauhan, Shabira mengarahkan pistol yang ada di genggamannya dengan wajah sukup tenang. Peluru miliknya kini tepat mengenai kaki pelayan palsu itu. Mendengar suara tembakan, membuat restoran elit itu di penuhi keributan. Beberapa pengunjung cukup takut saat melihat tragedy yang baru saja terjadi.


Biao berlari untuk menangkap pelayan palsu yang sudah terluka itu. Sedangkan Tama, berjalan perlahan mendekati belati yang tergeletak di lantai. Clien-clien penting yang kini ada di hadapan Daniel dan Serena berjalan mundur dengan wajah syok.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Daniel dengan wajah khawatirnya.


Dalam waktu singkat. Beberapa pengunjung yang mencurigakan itu kini menodongkan senjata dengan posisi mengepung Daniel dan Serena. Beberapa pengawal S.G.Group juga tidak mau kalah. Pengawal-pengawal bayaran itu kini juga menodongkan pistol untuk menantang lawannya. Shabira dan Kenzo juga melakukan hal yang sama dengan wajah waspada. Mereka kini lebih fokus untuk melindungi Daniel dan Serena yang kini tidak memegan senjata apapun.


“Aku baik-baik saja,” jawab Serena pelan sambil memandang wajah musuhnya satu persatu.


“Tuan Daniel, apa yang terjadi?” tanya clien Daniel dengan wajah sangat takut.


“Tenanglah Tuan. Semua akan baik-baik saja. Sebaiknya anda kembali masuk ke dalam. Karena di dalam jauh lebih aman daripada di sini.” Daniel memberi pengertian kepada rekan bisnisnya. Pria-pria sukses itu percaya dengan perkataan Daniel. Dengan langkah ragu-ragu mereka semua masuk ke dalam ruangan privat itu lagi.


“Sayang, aku akan melindungimu.” Daniel menarik tubuh Serena agar wanita berstatus istrinya itu berada di belakang tubuhnya. Melihat perhatian Daniel, membuat Serenamengukir senyuman walau kini posisi mereka dalam bahaya.


Biao menarik paksa musuh yang terluka itu. Belum sempat Biao melanjutkan perkataannya, salah satu dari pihak musuh menembak pria itu. Mereka tidak ingin pria yang ada di tangan Biao membongar identitas mereka saat ini.


“Rencana yang cukup bagus. Kau membunuhnya kerena tidak ingin pria itu menyebutkan nama orang yang telah mengirimkan kalian bukan?” Shabira mengangkat satu alisnya.


“Sebaiknya kalian menyerah. Kami hanya ingin membunuh pria itu. Jangan korbankan nyawa kalian hanya untuk satu pria tidak berguna ini.”Salah satu musuh menatap wajah Daniel denga tatapan menghina.


Biao menodongkan pistolnya ke arah musuh yang baru saja mengeluarkan. Tanpa menunggu dan tanpa perintah, pria berwatak dingin itu mengeluarkan satu tembakan tepat kearah dada musuhnya.


Membut kucuran darah keluar dengan cukup deras. Tembakan Biao detik itu mengawali perkelahian di dalam restoran Steak itu. Shabira dan Kenzo berlari untuk bertarung. Sisanya ada juga yang sedang mengarahkan tembakan ke sembarang arah agar Daniel dan Serena tidak memiliki jalan untuk lari.


Daniel menerima satu pistol yang di lempar oleh S.G. Group. Pria itu juga menembak musuh-musuh miliknya dengan wajah tenang. Ceo makanan ringan itu sudah biasa dengan pemandangan yang kini ada di depan matanya. Sedangkan Serena, wanita tangguh itu lebih memilih sebagai penonton. Apapun yang mau ia lakukan sudah pasti tidak dapat persetujuan dari Daniel. Kecuali dalam keadaan mendesak.


“Nona, apa anda baik-baik saja?” Tama berdiri di samping Serena sambil memeriksa keadaan Serena saat ini. Wajahnya cukup khawatir saat ini. Ada kerutan di dahinya.


“Aku baik-baik saja.” Serena mengukir senyuman dengan wajah santai.


Tama memandang keributan yang kini terjadi di depan matanya. Pria itu menggeleng kepalanya dengan apa yang ia lihat.


Apa petarungan seperti ini akan dimulai lagi? aku berpikir kalau kejadian waktu itu adalah bagian akhirnya.


Like 500 up selanjutnya ya...😊