Mafia's In Love

Mafia's In Love
Siapa Serena? Part. 2



Masih berpacuh dalam pikiran mereka masing-masing. Dengan tatapan saling menuduh untuk mengeluarkan satu kesimpulan. Adit lebih dulu menyerah, ia tidak ingin terus larut dalam pemikirannya tentang masa lalu Serena.


“Aku harus pergi, kalian pecahkan sendiri masalah ini. Dan kabari aku jika sudah mendapat jawabannya.” Berdiri dari duduknya sambil sedikit melirik kearah Diva, “Mereka punya kriteria pelayan yang bagus.” Adit keluar dari ruangan itu.


Daniel dan Biao masih saling bertatap muka. Sederet bukti sedikit demi sedikit sudah mulai terkuak.


“Kita harus menemui Arion!” celetuk Daniel sambil berdiri dari tempat duduknya “Jaga dia untukku, beberapa pengawal akan segera datang untuk menjaga kamar ini,” sambungnya sambil menatap ke arah Serena beberapa detik.


Tanpa banyak kata, Biao hanya bisa memandang Diva dan memberi kode untuk selalu menjaga Serena dan tidak pernah meninggalkannya sedetikpun. Biaopun berlalu mengikuti langkah Daniel.


Tertinggal di kamar bersama Serena yang masih belum kunjung sadar. Diva memegang pergelangan tangan Serena, Hatinya sangat pilu saat harus menyaksikan pemandangan yang kini ada di hadapannya.


“Nona, saya tahu anda wanita yang sangat kuat. Anda harus segera bangun nona.” Divamenarik selimut Serena.


Ceklek, suara pintu tiba-tiba terbuka. Sosok wanita muda yang sangat cantik melangkah masuk ke dalam ruang rawat Serena. Dengan membawa satu parsel buah yang diletakkan di atas meja dekat tempat tidur Serena.


“Siapa anda nona?” tanya Sonia sambil berdiri waspada melindungi Serena.


“Sonia, saya sekretaris pribadi Daniel di S.G. Group.”Sonia memandang ke arah Serena dengan tatapan tidak terbaca.


“Tuan Daniel baru saja keluar bersama Tuan Biao nona.”


“Ya, saya hanya ingin menjenguk istri dari bos saya.” Mulai memancarkan wajah tidak suka, Sonia duduk di samping ranjang Serena.


“Nona, masih belum sadar,” ucap Diva polos.


“Jika dia tidak bangun untuk selamanya, itu juga hal yang bagus bagiku. Kenapa hanya Tama, seharusnya Biao juga ikut pergi bersama Tama,” ucap Sonia dalam hati.


“Maaf nona, tapi saya harus menelpon Tuan Biao dulu. Saya harus memberi tahu Tuan Biao atas kehadiran anda di sini,” Diva mengambil handphone dan siap mendekatkan ditelinganya.


“Jangan!” Sontak Sonia takut, “Aku tidak lama, sekarang juga mau pulang,” Sonia mengambil tas yang terletak di atas meja. “Biao tidak akan suka jika mendengar kabar kunjunganku di kamar Serena” Sambil melangkah pergi meningalkan Serena dan Diva di kamar.


“Dari awal aku sudah curiga dengannya, dia tidak terlihat tulus menjenguk nona Serena” Kembali memandang wajah Serena dengan raut wajah sedih. “Anda harus segera bangun nona, aroma pelakor sudah mulai terasa di sini,” ucapnya di samping Serena.


Sementara itu, di depan ruang Serena.


“Sial! berani sekali pelayan murahan itu mengancamku. Aku hanya ingin berada di samping wanita itu untuk mendoakannya agar segera menjemput Tama,” ucapnya kesal, langkah Sonia terhenti saat sosok pria yang tidak asing ada di hadapannya. “Kenzo?” Dengan sigap, Sonia berlari ke sudut ruangan untuk bersembunyi dari pandangan Kenzo, “Untuk apa dia ada di sini.”


Dengan membawa sebuket bunga lily, Kenzo masuk ke kamar tempat Serena di rawat. Tidak ada gerak-gerik mencurikan yang ada di pandangan Kenzo. Sebelum masuk ia sempat memperhatikan sekeliling Rumah Sakit. “Kenapa Daniel tidak meletakkan pengawal di sini.” Kenzo menarik gagang pintu dan mendorongnya. Ia masuk keruang rawat Serena dengan cepat.


“Aku yakin, dia memiliki hubungan spesial dengan wanita itu. Aku bisa menjadikannya alasan untuk membuat hubungan Daniel dan wanita itu menjadi hancur.” Senyum licik mulai terukir di wajah Sonia. Takut akan ketahuan, kini Sonia mempercepat langkah kakinya meninggalkan Rumah Sakit.


“Anda siapa Tuan?” tanya Diva, saat lagi-lagi melihat orang Asing masuk ke kamar Serena.


“Kenzo!” jawabnya singkat, “ Bagaimana dengan kondisi Serena?” tanyanya balik.


“Nona belum sadar, tapi kata Dokter nona Serena sudah melewati masa kritisnya Tuan,” jawab Diva menjelaskan keadaan Serena saat ini.


“Serena, bangunlah. Aku akan membawamu ke pantai lagi.” Kenzo menggenggam tangan Serena.


“Maaf Tuan, jangan lakukan itu,” ucap Diva pelan.


Sambil melepas genggaman tangannya, “Apa maksudmu? Kau Diva kan?” Kenzo kembali memastikan ingatannya tentang Diva.


“Iya Tuan, saya Diva,” jawabnya, terhenti, “Maksud saya, jangan membawa nona Serena kabur lagi. Nona Serena akan berada di dalam masalah lagi nanti. Dan tangan anda, sebaiknya tidak menyentuh nona Serena Tuan.” Diva menarik tangan Serena dan mengembalikannya pada posisi sebelumnya.


Hanya diam mencoba mencerna perkataan Diva. Sebelum akhirnya Kenzo angkat Bicara “Kami hanya berteman, tidak lebih. Aku tidak akan merebutnya dari Daniel, kecuali Daniel yang meninggalkannya,” jawab Kenzo sambil menatap sedih ke arah Serena, “Cepat sembuh, aku akan kembali lagi besok.” Melangkah meninggalkan kamar.


***


Di dalam mobil, Daniel hanya diam menatap kearah luar jendela. Tidak seperti biasanya, yang selalu ada laptop di hadapannya. Saat ini, pikirannya tidak sanggup untuk bekerja. Semua ia fokuskan pada Serena.


“Tuan.” Biao tetap melajukan arah mobilnya, “Apa anda baik-baik saja Tuan.”


“Semua ini terjadi begitu cepat, aku tidak mempunyai persiapan sedikitpun untuk menghadapinya.”


“Kita akan segera mendapat jawaban dari pria itu Tuan.”


Kring…kring…


Handphone Biao berdering.


“Ada apa? Lalu bagaimana dengan Arion? Tetap jaga dia, jangan biarkan dia kabur?” Biao meletakkan Handphonenya dengan gusar.


“Ada apa Biao?” tanya Daniel, mengerti kalau sesuatu telah terjadi.


“Wubin berhasil kabur Tuan, tetapi Arion sudah ada dalam pengawasan orang-orang kita Tuan.”


“Aku ingin segera menemuinya,” jawabnya cepat.


“Tuan, kita sudah berurusan dengan para Mafia. Apa tidak sebaiknya kita meminta banTuan dari Tuan muda Kenzo.” Dengan hati penuh gejolak, Biao memberanikan diri untuk mengungkap isi hatinya saat ini.


“Tidak, aku tidak ingin berurusan dengan dirinya lagi.” Daniel membuang napasnya dengan kasar dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.


Pernyataan Daniel sudah suatu penolakan yang ia lontarkan atas tawaran Biao, Tanpa berani mengulangi kesalahan yang sama. Biao lebih memilih untuk menuruti perintah Daniel saat ini dan kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Sebuah gudang besar yang terlihat tidak berpenghuni jika dilihat sekilas dari luar. Tampak Arion yang terduduk di atas kursi dengan posisi tangan dan kaki yang terikat. Bibirnya tersenyum tipis menatap orang-orang yang saat ini telah mengelilinginya.


“Tidak semudah ini kalian mengalahkanku!” teriaknya hingga suaranya memenuhi seisi ruangan.


Tidak ada jawaban dari seorangpun, pengawal-pengawal itu lebih memilih diam menatap ke arah Arion.


“Kau sudah kalah Arion,” ucap Biao dari kejauhan menjawab teriakan Arion.


Daniel dan Biao baru saja tiba di sana. Masih dengan tatapan penuh kebencian dan tangan yang mengepal kuat. Daniel berjalan mendekati tubuh Arion.


“Siapa kau? Kenapa kau menyerangku?” ucap Daniel, Sambil duduk di sebuah kursi yang ada dihadapan Arion.


“Sejak awal sudah ku katakan padamu, aku tidak menyerangmu. Aku hanya menginginkan wanita sialan itu.”


Plakk…


Satu tamparan mendarat tepat di wajah Arion. Kesabaran yang sejak awal sudah ia tahan harus terlampiaskan saat mendengar perkataan Arion saat itu.


“Beraninya kau mengatakan hal itu, wanita sialan yang baru saja kau sebutkan adalah istriku!” teriak Daniel dan berdiri dari duduknya.


“Istri?” Berdecak kuat, “Apa kau yakin dia mencintaimu? Sudah ada pria lain di hatinya, kau tidak akan pernah sanggup menggantikan posisinya,” sambungnya lagi.


“Tutup mulutmu Arion! Aku bisa membunuhmu sekarang juga.” Sebuah pistol yang ada di genggaman Daniel sudah mengarah tepat di hadapan wajah Arion.


“Kau marah? Apa kau takut?” Arion kembali menatap Daniel dengan penuh kebencian, “Kau tidak pernah tahu, siapa wanita yang kau sebut istri itu” sambil membentuk sebuah senyuman licik “Dia adalah seorang wanita yang sangat licik dan penuh dengan misteri. Dia bisa menghilang kapan saja ia ingin dan muncul di hadapanmu tiba-tiba. Wanita itu Seorang ….”