
“Ya, anda benar tuan.” jawab Daniel singkat dan kembali mengambil gelas yang telah berisi air.
“Apa saya boleh menjenguk istri anda tuan?”
Daniel sontak kaget dan tersedak ketika mendengar satu kalimat yang baru saja di ucapkan Mr. X. Bajunya kini terlihat sedikit basah terkena percikan air dari gelas yang ia genggam sebelumnya. Biao yang melihat keadaan Daniel langsung berubah panik.
“Apa anda baik-baik saja tuan.” celetuk Biao cepat.
“Aku mau ke toilet dulu!” ijin Daniel sambil beranjak dari duduknya.
Biao segera mengikuti langkah Daniel yang terlihat cepat, sesekali ia kembali melirik kearah Mr. X yang masih terduduk bingung melihat reaksi yang baru saja di timbulkan Daniel.
“Kenapa dia terlihat sangat panik!” batin Mr. X dalam hati yang masih terus menatap Daniel dalam.
1 Hari sebelum pertemuan Mr. X dan Daniel….
Satu buah meja yang berukuran besar dengan 1 kursi mewah yang menjadi tempat untuk duduk bagi sang pemilik meja. Jendela kaca yang tidak terlalu lebar terlihat menembus cahaya matahari dari luar untuk masuk ke permukaan lantai dan mengeluarkan pantulan cahaya terang.
Rak buka yang berjajar tinggi ke atas terletak bersandar di balik dinding berwarna cokelat.
Beberapa sofa besar juga terlihat ada disana, untuk melengkapi isi ruang kerja itu. Lukisan-lukisan yang terpajang di dinding menambah nilai elegan yang sudah terpancar pada ruangan itu.
Seorang pria bertubuh tegab terlihat duduk di balik meja kerjanya. Mr. X adalah sosok pemilik dari ruang kerja elegan itu.
Matanya ia fokuskan pada beberapa berkas yang kini sudah tersusun rapi di atas meja. Satu ketukan pintu mengalihkan pandangan matanya pada sosok yang baru saja tiba di dalam ruang pribadi miliknya.
“Selamat sore tuan”, sapa satu orang pria berjas hitam dengan kemeja putih di dalamnya.
“Ada apa kau tiba-tiba ke sini? Aku tidak suka kau sering berkeliaran di kota ini!” balas Mr.X tidak suka dengan kedatangan pria yang kini ada di hadapannya.
“Maafkan saya tuan”, menunduk hormat. “Saya membawa satu berita penting yang tidak bisa di wakili oleh siapapun!” ungkapnya membela diri.
“Katakan!” tanpa mau memandang wajah pria itu.
“Arion sudah tiada tuan, seseorang sudah berhasil melumpuhkannya”, ucap pria itu masih dengan kepala yang tertunduk dalam.
Senyum kecil terlihat muncul di wajah Mr. X, tatapan matanya mulai ia alihkan pada wajah si pemberi berita.
“Aku tidak ingin bercanda! Banyak kerjaan yang harus aku selesaikan saat ini!” nada bicara Mr.X mulai meninggi.
“Maafkan saya tuan, tapi saya tidak sedang bercanda. Saya melihat sendiri ketika tubuhnya di pendam di dalam tanah”, berusaha menceritakan apa yang ada di dalam kepalanya.
“Arion! Dia tidak mudah untuk dilumpuhkan. Siapa orang hebat yang bertanggung jawab atas semua ini?” tanya Mr. X yang mulai tertarik dengan berita yang baru saja ia dengar.
“Pemimpin utama S.G. Group tuan”, jawabnya mantap.
Mata Mr.X terbelalak, satu nama perusahaan yang tidak pernah masuk dalam pikirannya.
“Aku akan menghabisimu jika info yang kau berikan hanya satu tebakan semata!” ancam Mr. X yang masih tidak percaya.
Mr. X sudah tidak asing dengan satu nama perusahaan yang saat ini menjadi rekan kerja sama atas perusahaan yang baru saja ia bentuk. Daniel yang hanya merupakan CEO perusahaan yang bergerak di bidang makanan ringan, menjadikan dirinya tidak pantas berstatus tersangka atas kepergian Arion.
“Apa yang menyebabkan mereka bisa bertemu? Apa mereka bermusuhan? Kenapa Daniel membunuh Arion?” beribu pertanyaan muncul di kepala Mr.X.
Hatinya masih tidak percaya dengan kenyataan yang ada kalau Daniel berhasil menghabisi Arion. Ketua geng mafia White Tiger yang terkenal hebat dan susah untuk di taklukan kini berakhir di tangan seorang CEO yang memimpin bisnis makanan ringan.
“Dari info yang sudah saya dapat, mereka bukan menyerang CEO S.G.Group tuan, melainkan istri dari CEO itu.”
“Saya akan melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk ini tuan”.
“Aku ingin mendapatkan semua info tentang Daniel Edritz Chen!” perintah Mr. X.
“Baik tuan, saya permisi”, membungkuk sebentar sebelum berlalu pergi dari ruangan itu.
Mr. X mengambil telepon yang terletak di atas meja untuk memberi perintah lisan pada seseorang.
“Atur jadwal pertemuanku dengan CEO S.G. Group besok siang!” panggilanpun ia akhiri.
Tatapan matanya kembali ia alihkan pada satu buah bingkai besar yang terletak tidak jauh dari hadapannya. Bibirnya kembali tersenyum lebar sambil menatap rindu pada sipemilik wajah.
“Aku sangat merindukanmu sayang, pria yang selama ini kau benci sudah tiada. Apa kau senang mendengar semua ini? Bahkan aku tidak memiliki kesempatan untuk menghabisinya langsung dengan tanganku!” gumamnya lirih dengan satu senyum yang penuh arti.
Pikirannya kembali dipenuhi dengan nama Daniel yang sudah berhasil masuk di lingkaran dunia mafia. Sejak masa kejayaannya hingga kini ia berada, nama Daniel tidak pernah muncul sebagai pemimpin genk manapun yang ia kenal.
***
“Kau pria yang menarik tuan”, batin Mr. X yang masih fokus pada punggung Daniel yang sudah menjauh.
Di kamar mandi, Daniel berdiri di depan kaca untuk memandang pantulan wajahnya. Kedua tangannya kembali ia genggam dengan erat. Entah apa yang kini ada di kepalanya, permintaan Mr.X membuat isi hatinya dipenuhi perasaan khawatir.
“Tuan!” celetuk Biao yang baru saja tiba di samping Daniel.
“Untuk apa kau ke sini?”
“Saya akan mengganti jas tuan dengan yang baru.” tawar Biao dengan penuh hormat.
“Tidak perlu! Sebaiknya sekarang kita segera menemui Mr. X. Aku tidak ingin dia menyimpan perasaan curiga terhadap kita!” melangkah pergi meninggalkan Biao yang masih berdiri mematung di sana.
Kini Daniel sudah kembali ke kursi yang menjadi tempat pertemuannya dengan Mr.X. Daniel berusaha sekuat tenaganya untuk mengubah sikapnya menjadi senatural mungkin seperti yang biasa ia lakukan.
“Sampai dimana tadi pembicaraan kita tuan?” tanya Daniel pada Mr.X lagi.
“Bukannya bulan madu anda berantakan tuan? Sekarang istri anda berada di rumah sakit!” jelas Mr. X yang sudah mengetahui semua keadaan Serena saat ini.
“Benar tuan, istri saya masih di rawat di rumah sakit.” jawab Daniel yang terlihat santai.
“Ijinkan saya menjenguk istri anda, untuk menjalin tali persaudaraan di antara kita tuan.” tawar Mr. X lagi untuk mendapatkan ijin dari Daniel.
“Kenapa dia sangat ingin menjenguk Serena?” batin Daniel yang masih diam belum menjawab pertanyaan Mr.X.
“Jika anda keberatan, tidak masalah tuan.” ucap Mr.X lagi.
“Oh, tidak tuan. Tentu anda boleh menjenguknya. Saya akan menyambut kedatangan anda besok tuan.” jawab Daniel dengan senyum ramah yang ia miliki.
“Baiklah tuan Daniel, saya rasa pertemuan kita cukup sampai di sini.” berdiri dari duduknya dan mengulurkan tangan kepada Daniel untuk bersalaman. “Terima kasih atas waktunya tuan, jangan lupa untuk hadir pada peresmian Z.E. Group!” sambungnya lagi.
“Terima kasih tuan, saya pasti akan datang dalam peresmian itu.” menyambut uluran tangan Mr.X.
Kini Daniel kembali duduk pada kursinya semula, tatapan matanya kini mulai mencari Biao yang tidak kunjung muncul di hadapannya.
Sebelum lanjut, like dan komen dulu 😊❤