
Malam telah tiba, mobil Adit baru saja tiba di parkiran rumah utama. Adit turun dari mobil dengan raut wajah yang kesal. Baru saja beberapa menit yang lalu ia tiba di rumah, namun Biao sudah meneleponnya lagi untuk datang.
“Pantas saja mereka mempunyai banyak musuh! Keluarga ini sangat menyebalkan!” ucap Adit kesal sambil berlalu pergi masuk ke dalam rumah.
“Selamat malam, Dokter Adit,” sapa pak Han yang baru saja menyambut kedatangan Adit di rumah utama.
“Aku harap kedatanganku kali ini, tidak sia-sia,” ucap Adit yang masih dengan raut wajah kesal.
“Mari tuan, saya antar ke kamar nyonya,” pinta pak Han.
“Ada apa dengan Ny. Edritz? bukankah yang sakit adalah Serena?” tanya Adit bingung, karena saat Biao menelepon, Biao tidak mengatakan kalau Ny. Edritz yang sakit saat ini.
“Ny. Edritz jatuh pingsan, tuan.”
“Benarkah?” Adit mempercepat langkah kakinya menuju ke arah pintu kamar Ny. Edritz.
“Tolong ambilkan air, Pak Han,” pintah Adit.
“Baik tuan.”
Di dalam kamar, Ny. Edritz masih terlihat memejamkan mata. Tuan Edritz duduk di sebuah kursi yang terletak di samping ranjang Ny. Edritz. Wajah tuan Edritz di penuhi dengan kesedihan, pikirannya terus saja melayang pada kejadian beberapa menit yang lalu.
“Selamat malam, tuan,” sapa Adit yang baru saja muncul di kamar itu.
“Malam Adit, kau sudah datang,” jawab tuan Edritz pelan.
“Apa yang terjadi?” tanya Adit cepat lalu mengambil tangan Ny. Edritz untuk memulai ritual pemeriksaannya.
Tuan Edritz hanya tertunduk diam, tanpa ingin menjawab pertanyaan Adit sebelumnya. Tatapan Adit kembali ia alihkan pada wajah Ny. Edritz yang terlihat pucat dan lemah.
“Permisi tuan, ini air minum yang anda minta,” Meletakkan gelas di atas meja.
Ny. Edritz mulai menggerakkan matanya secara perlahan. Dengan tatapan mata yang masih kabur dan rasa sakit di kepala. Semua orang mulai bernafas lega saat melihat Ny. Edritz kembali sadar.
“Daniel,” ucap Ny. Edritz lirih yang masih belum mau membuka matanya lebar.
“Dimana Daniel?” tanya Adit curiga.
Tuan Edritz dan Pak Han hanya bisa tertunduk diam. Rasa sayang Daniel yang begitu besar kepada Ny. Edritz, memang bukan satu rahasia lagi. Ny. Edritz satu-satunya orang yang sangat di sayangi oleh Daniel. Ketidak hadiran Daniel di dalam kamar saat ini, merupakan satu pertanda buruk kalau sesuatu sedang terjadi.
“Daniel,” ucap Ny. Edritz lagi dengan suara yang semangkin lirih.
“Berikan obat ini pada Ny. Edritz, tuan.”
Melihat tuan Edritz dan Pak Han hanya diam membisu, Adit beranjak dari tempatnya untuk keluar mencari Daniel. Baru saja ia menarik handle pintu, di depan Adit bertemu dengan Biao yang ingin masuk ke dalam kamar Ny. Edritz.
“Dokter Adit, anda sudah lama?” tanya Biao.
“Dimana Daniel? apa yang terjadi?” tanya Adit cepat.
“Tuan Daniel ada di ruang kerja, tuan,” jawab Biao pelan.
“Aku akan menemuinya,” ucap Adit yang langsung berlalu pergi dengan langkah cepat.
“Tapi tuan,” ucap Biao cepat.
“Aku tidak tahu, apa yang terjadi. Tapi aku sahabat Daniel sejak dulu, tolong jangan halangi aku, Biao,” jawab Adit dengan tegas.
“Maafkan saya tuan,” jawab Biao penuh hormat.
Adit berlari kecil menuju ruang kerja milik Daniel. Perasaan khawatir sudah menyelimutinya sejak tadi. Setelah tiba di depan pintu putih yang menjulang tinggi ke atas itu, Adit membuang nafasnya secara kasar.
Perlahan Adit mendorong handle pintu itu dan melangkah masuk ke dalamnya. Di dalam terlihat Daniel yang masih duduk diam di balik meja, beberapa barang terlihat berserak di atas meja kerjanya saat ini.
“Daniel, apa yang kau lakukan di sini?” berjalan cepat menuju ke arah meja, “Apa yang terjadi?” mengambil beberapa lembar foto Serena yang terpampang jelas di sana.
“Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Daniel acuh.
“Aku ke sini untuk memeriksa keadaan Ny. Edritz. Apa kau mengetahuinya?” tanya Adit yang mencoba untuk menyelidiki keadaan yang terjadi.
“Apa ini Serena?” tanya Adit tidak percaya, saat melihat beberapa gaya yang ditunjukkan Serena di dalam foto itu.
“Ya, itu Serena,” jawab Daniel pelan.
Adit mulai memahami beberapa foto wajah Serena, yang kini ada di genggaman tangannya. Perlahan Adit membuka lembar demi lembar foto itu. Matanya kembali ia alihkan pada wajah Daniel, yang masih diam tidak ingin memberi jawaban.
“Apa ini ada hubungannya dengan Ny. Edritz?”
“Untuk apa kau ke sini? Apa Biao dan Tama tidak melarangmu masuk? Aku ingin sendiri!”
Daniel menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi besar yang kini ia duduki. Matanya terpejam dan membuang nafasnya dengan kasar.
“Tama kau bilang?” tanya Adit tidak percaya.
“Apa kau tidak bertemu dengannya?” tanya Daniel masih dengan mata yang terpejam.
“Daniel, kau harus jelaskan semua ini!” ucap Adit yang langsung menjatuhkan tubuhnya di kursi yang ada di depan meja Daniel, hingga posisi keduanya saling berhadapan.
Suasana kembali hening beberapa saat, Daniel masih belum ingin untuk bercerita. Matanya masih terpejam tanpa peduli dengan permintaan Adit saat ini.
“Baiklah, kalau kau tidak ingin menceritakannya.” Beranjak dari duduknya, “Tapi karena ini berhubungan dengan Serena,” ucapannya tertahan dan kembali menatap wajah Daniel, “Serena belum bisa menerima berita apapun itu. Jika kau memaksa untuk memberi tahunya, mungkin dia akan mengalami depresi.” Melangkah pergi untuk meningalkan Daniel.
“Serena seorang mafia, Adit!” ucap Daniel tiba-tiba.
Langkah Adit sontak terhenti, Adit kembali membalikkan arah tubuhnya. Matanya ia fokuskan pada Daniel, untuk menagih satu penjelasan.
“Mama dan Papa terus saja menghalangi rencana kami. Biao dan Tama mengarang cerita tentang kematian Tama waktu itu. Untuk melancarkan penyelidikan tentang masa lalu Serena,” ucap Daniel pelan.
“Apa benar Serena seorang mafia, Daniel?” tanya Adit masih tidak percaya.
Daniel hanya mengangguk pelan, “Ketua geng mafia Queen Star,” ucapnya jelas.
“Apa Serena juga mengetahuinya?” tanya Adit khawatir yang kini sudah berdiri di samping Daniel.
“Serena belum mengetahui semua ini. Serena masih ada di kamar untuk istirahat,” jawab Daniel pelan.
Adit kembali diam untuk mencerna beberapa kejadian yang sempat terjadi beberapa hari yang lalu. Penyerangan pria bernama Arion, hingga beberapa masalah yang akhir-akhir ini menimpah hidup Daniel. Serena adalah penyebab utama, dari semua masalah besar yang mulai bermunculan dalam hidup Daniel.
“Aku tahu ini tidak mudah bagimu, Daniel. Tapi jangan beri tahu Serena dulu, kondisinya belum siap untuk menerima semua ini,” pinta Adit pada Daniel.
“Aku akan merahasiakannya,” jawab Daniel singkat.
“Sebaiknya kau melihat keadaan Ny. Edritz. Dia sangat membutuhkanmu saat ini,” ucap Adit pelan.
“Aku belum bisa menemuinya,” jawab Daniel tidak suka.
“Daniel, sakitnya akan semangkin parah jika kau terus bersikap seperti ini.”
“Aku akan menemuinya esok pagi.”
“Baiklah, itu keputusanmu. Aku harus kembali pulang.” Melirik ke sebuah jam, “Aku selalu ada untuk mendengarkan semua ceritamu, Daniel.” Menepuk pelan pundak Daniel, “Aku yakin kau akan menemukan solusi dari masalah ini, secepatnya.”
Daniel masih diam menatap Adit yang berjalan keluar dari ruangannya saat ini. Beberapa kalimat Adit kembali terngiang di dalam pikirannya.
“Serena,” ucap Daniel pelan.
Di depan, Adit terus berjalan untuk mencari keberadaan Biao saat ini. Satu-satunya orang yang bisa menjelaskan semua masalah ini adalah Biao. Adit melangkah mendekat ke arah pengawal yang berdiri tegab tidak jauh dari pintu kamar Ny. Edritz.
“Apa Biao masih ada di dalam?” tanya Adit cepat.
“Tuan Biao sudah kembali ke kamar, tuan,” jawab pengawal itu dengan hormat.
Adit kembali melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar Biao saat ini. Sejuta rasa penasarannya akan segera terjawab saat ia berhasil bertemu dengan Biao. Langkahnya terhenti pada pintu yang tidak terlalu besar, yang saat ini ada di hadapannya.
Sebelum lanjut, like dan komen dulu.