
Beberapa pelayan telah kembali ke dapur, Ny. Edritz mengambil nasi untuk tuan Edritz. Sedangkan Serena, tidak memperdulikan keadaan sekitar. Serena kembali memandang wajah Daniel, dan menikmatinya.
“Bagaimana aku bisa makan, jika kau terus menggenggam tanganku seperti ini,” bisik Serena di telinga Daniel.
“Kau harus ingat janjimu, Serena.” Melirik ke semua menu yang tersedia. “Habiskan semua makanan ini, atau kau akan menjalani hukuman pertamamu,” ancam Daniel pelan, di telinga Serena.
“Kau bercanda Daniel, ini menu untuk satu rumah. Bagaimana mungkin aku bisa menghabiskan semuanya,” tolak Serena lembut.
“Bersiaplah mendapat hukuman pertamamu,” bisik Daniel lagi.
Ny. Edritz berdehem kuat, untuk memecahkan obrolan pelan Daniel dan Serena. Keduanya menatap kaget wajah Ny. Edritz. Daniel melepas genggaman tangannya dari Serena. Dan mengatur posisi formalnya seperti biasa.
Serena hanya menunduk sambil menahan tawa. Tidak bisa meredahkan rasa bahagia yang kini menggebu di dadanya, Serena mengeluarkan tawanya sambil menutup mulutnya. Tatapan matanya ia arahkan pada wajah Daniel, yang tidak merasa bersalah.
Melihat tawa Serena yang tertahan. Semua orang yang mengelilingi meja makan, ikut tertawa bahagia. Hingga suasana makan malam yang seharusnya berjalan dengan tenang itu, berubah menjadi satu kehebohan karena tawa Serena.
Beberapa buliran air mata menetes di mata Ny. Edritz. Ny. Edritz merasa terharu melihat pemandangan bahagia yang kini ada di hadapannya. Tuan Edritz kembali menggenggam tangan Ny. Edritz, untuk memberi tanda untuk tidak bersedih.
Suasana kembali hening, saat Serena mulai berhasil menahan tawanya. Semua memulai makan malamnya dengan tenang. Sesekali Daniel dan Serena berbisik, namun tatapan Ny. Edritz kembali menyudahi perbincangan mereka.
Semua makan dengan lahap, termasuk Serena. Serena mencicipi semua menu yang tersedia. Matanya terus melebar, saat melihat aneka makanan lezat yang kini ada di hadapannya. Semua orang yang kini melihat aksi Serena, hanya bisa tersenyum bahagia. Bukan satu rahasia besar lagi, kalau Serena sangat suka makan.
‘Kau memang wanita yang hebat, nona Serena,’ gumam Tama dalam hati, yang kembali memasukkan suapan nasi ke mulutnya.
‘Baiklah, strategi. Aku tidak ingin suasana ini berubah, hanya nona Serena yang bisa membuat tuan Daniel bahagia,’ batin Biao.
Biao dan Tama kembali tersenyum lebar, menyaksikan pemandangan indah yang kini ada di depan matanya. Hal itu juga dirasakan oleh pak Han dan pak Sam yang sudah lama bekerja di rumah utama. Serena benar-benar hadir dengan membawa satu kebahagiaan di dalam keluarga Edritz Chen.
Beberapa menit kemudian, semua makanan telah berkurang. Beberapa mangkuk besar masih tersisa sebagian. Semua orang sudah merasa kenyang dan tidak ingin tambah lagi. Serena juga sudah menyelesaikan makan malamnya.
Serena meletakkan sendok dan garpu secara perlahan, hingga tidak terdengar suara. Mengambil satu gelas air, dan meminumnya hingga habis. Daniel kembali menggenggam tangan Serena. Daniel tersenyum manis memandang wajah Serena. Hatinya selalu berdebar-debar, setiap kali melihat Serena tersenyum untuk dirinya.
Kembali melihat pemandangan indah di hadapannya. Tuan Edritz beranjak dari duduknya, di ikuti oleh Ny. Edritz. Biao dan Tama juga meninggalkan meja makan dengan hati-hati, tidak ingin mengganggu momen romantis Daniel dan Serena saat ini. Pak Han dan pak Sam memberi kode kepada semua pengawal dan pelayan, untuk tidak muncul di hadapan Daniel dan Serena saat ini.
“Kau terus memandangku, Daniel,” ucap Serena dengan wajah tersipu malu.
“Aku ingin membayar semua waktu yang pernah aku lewatkan.” Mencium tangan Serena dengan lembut.
“Aku sangat bahagia, Daniel.”
Daniel kembali diam dan memandang wajah Serena. Memandang satu wajah yang selama ini ia sia-siakan. Wajah wanita yang katanya selalu membawa masalah. Hari ini, wajah itu sudah berubah mejadi satu sumber kebahagiaan yang tersimpan di hati Daniel. Daniel menarik tangan Serena untuk berdiri, dan kembali menggandeng pinggang Serena.
“Aku sangat menyayangimu, Serena.” Mencium pucuk kepala Serena.
Serena memejamkan matanya sejenak, matanya terbelalak kaget saat melihat meja makan sudah tidak berisi.
“Kemana yang lain?” tanya Serena bingung dan mencari-cari.
“Mereka tidak ingin, mengganggu kita,” jawab Daniel santai, “Kau harus menerima hukuman pertamamu, Serena.”
“Benarkah?” Mendekat ke wajah Daniel, “Tangkap aku! jika kau berhasil, aku akan menerima hukumanmu, Daniel.” Mendorong Daniel dan berlari cepat.
Serena terus tertawa saat melihat Daniel yang berhenti. Daniel terlihat lelah dengan nafasnya begitu cepat. Hingga akhirnya, Serena lebih dulu tiba di dalam kamar. Serena menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang terasa lembut. Serena berusaha mengatur nafasnya yang tidak lagi beraturan.
Daniel menyusul masuk ke dalam kamar, dengan tubuh yang sudah dipenuhi keringat. Daniel melangkah cepat ke arah Serena. Sementara Serena, hanya tertidur di atas sofa, tanpa memperdulikan kehadiran Daniel saat ini.
“Kenapa kau bisa lari dengan begitu cepat, Serena!” Keluh Daniel dengan napas yang terengah-engah.
“Benarkah? apa ini artinya kau kalah dariku, Daniel?” ledek Serena yang tidak ingin beranjak dari tidurnya.
“Temani aku mandi.” Perintah Daniel singkat, yang dengan cepat menarik tangan Serena.
“Daniel! Hei, aku sudah mandi.” Protes Serena.
“Ini semua karena idemu, Serena.”
Daniel terus menarik Serena ke dalam kamar mandi. Tidak lagi memperdulikan protes Serena saat ini. Serena hanya bisa pasrah dengan perintah Daniel saat ini. Meskipun hatinya masih terasa canggung.
Daniel mandi di bawah shower, tubuhnya yang kekar terlihat jelas. Serena hanya berdiri dari kejauhan memandang Daniel. Lagi-lagi rasa kagumnya muncul, ketika melihat sosok pria yang kini ada di hadapannya. Pria yang sudah menjadi suaminya, dan juga menyayanginya.
Melihat Serena yang hanya mematung, Daniel menarik tangan Serena ke bawah shower. Hingga baju yang kini dikenakan oleh Serena menjadi basah.
“Daniel,” ucap Serena pelan.
“Aku menyuruhmu untuk menemaniku mandi, bukan menemaniku di kamar mandi, Serena.” Jawab Daniel angkuh.
“Apa ini hukumanku?”
“Ya, apa kau senang menjalani hukumanmu?”
Serena hanya mengangguk cepat, tangannya mulai menyentuh dada bidang milik suaminya itu. Satu hal yang tidak pernah bisa ia lakukan selama ini. Daniel mulai mendekatkan wajahnya, dan kembali mencium Serena dengan penuh cinta. Memeluknya dengan erat, dan tidak ingin jauh dari Serena. Melewati beberapa waktu berharga, dengan penuh rasa cinta.
Beberapa menit kemudian, Daniel dan Serena keluar dari kamar mandi. Daniel kembali menarik tangan Serena, dan membawanya ke dalam gendongan. Meletakkan Serena dengan lembut, di atas tempat tidur.
“Malam ini, kau akan menjadi milikku seutuhnya, Serena.” Daniel berbisik pelan di telinga Serena. Serena mulai mencengkram sprei tempat tidur. Matanya terpejam dan bibirnya tidak lagi mampu mengeluarkan kata.
Malam yang panjang, baru saja di mulai. . .
**Jangan terlalu berharap banyak sama saya untuk adegan 21 ya, saya gk pinter 🤣.
Ok, besok di Bab 91, Pertemuan Mr.X dan Serena akan segera di mulai.
kepo ya**...?
Like, Komen, Vote dan Tips.
Terima Kasih sudah membaca.
Besok up lagi ya .