
Sementara itu, di S.G. Group
Tama baru saja tiba di S.G. group, Tama sangat rindu, untuk kembali menemani keseharian Daniel seperti biasanya. Kebersamaan dengan Daniel dan Biao, merupakan salah satu hal yang sangat ia nantikan. Wajahnya dipenuhi raut bahagia, membayangkan sambutan Biao yang kini telah menanti kehadirannya. Dengan hati-hati, Tama membuka pintu yang menjadi ruang kerja milik Biao itu. Tama memegang handle pintu, mendorongnya perlahan. Dengan satu senyuman manis, Tama melangkah masuk ke dalam ruangan itu.
Tama ingin membuat kejutan untuk Biao. Tapi ia harus mendapat kekecewaan. Saat melihat Biao, sudah tersenyum manis di depan meja. Menyambut kedatangan Tama. Perkiraan Biao memang tidak pernah meleset. Ia selalu tahu kapan Tama akan tiba, dan muncul di hadapannya.
“Kau terlambat 5 menit, Tama,” ucap Biao dengan penuh bahagia. Biao melangkah pelan mendekati Tama, mengulurkan tangan untuk menyambutnya.
“Kau selalu tahu, kapan aku tiba. Meskipun aku tidak pernah memberitahumu, Biao.” Tama menyambut jabatan tangan Biao.
“Aku yang terbaik.” Biao tersenyum penuh arti. Melipat kedua tangannya di depan dada bidangnya.
“Bagaimana dengan Tuan Daniel, Biao?” Tama memilih duduk di kursi, yang terletak di depan meja.
“Tuan Daniel dan Nona Serena, berada di Vila.” Biao duduk di kursi besar miliknya, menghadap ke arah Tama saat ini.
“Benarkah? Biao aku mendengar kabar tentang penyerangan malam itu. Apa mereka musuh S.G. Group?” Tama mengerutkan dahinya. Ia sungguh khawatir dengan keselamatan Daniel saat ini.
“Tidak, mereka musuh dari Mr. X.”
“Dan … Tuan Muda Kenzo?” Tama menatap tajam ke arah Biao.
“Nona Serena hanya kebetulan saja bertemu dengan-nya. Tuan muda Kenzo adalah pria yang menyelamatkan Nona Serena, dalam peristiwa penembakan itu.” Biao kembali mengingat penjelasan Diva di rumah sakit.
“Aku semakin mengkhawatirkan Nona Serena.” Tama tertunduk dalam.
“Tama, pernahkah kau berpikir, kalau Nona Serena bukan wanita biasa?” Biao menatap tajam ke arah Tama. Kedua tangannya ia letakkan di atas meja.
“Kenapa kau memikirkan hal itu Biao?” tanya Tama bingung.
“Ada banyak hal yang mencurigakan dari Nona Serena.” Biao menyandarkan tubuhnya dengan santai. Sambil mengingat-ingat, kejanggalan yang ada pada diri Serena selama ini.
“Kau mencurigai wanita yang kini menjadi Nona muda kita, Biao?” Tama beranjak dari duduknya. Ia tidak suka dengan penilaian singkat, yang diberikan oleh Biao kepada Serena.
“Tama … maksudku Nona Serena.” Biao juga beranjak dari duduknya, untuk menghentikan Tama pergi.
“Baik, dan sabar. Itu adalah Nona Serena,” jawab Tama singkat.
“Ya, dia wanita yang pantas menemani Tuan Daniel.”
Biao mengalah. Ia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Biao juga merasa bersalah, karena sudah berani mencurigai Serena. Wanita yang saat ini memiliki status penting, dalam kehidupan Daniel.
“Kita tidak punya hak untuk mencurigai Nona Serena Biao, yang harus kita lakukan adalah melindunginya,” ucap Tama sambil menepuk punggung Biao.
“Kita harus berangkat, Tama. Tuan Daniel pasti sudah menunggu kehadiran kita.”
Aku memiliki pemikiran yang sama denganmu, Biao. Tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat untuk membahas siapa sebenarnya nona Serena.
Ungkap Tama di dalam hati. Dengan senyum khas yang dimiliki oleh Tama, ia menyetujui pernyataan Biao dan segera bersiap untuk perjalanan selanjutnya.
***
Hanya diam menikmati, tidak ada canda tawa maupun obrolan ringan disana. Keduanya hanya asyik dalam pemikiran mereka masing-masing. Berjalan perlahan, menghirup udara segar yang berasal dari pegunungan yang menjulang tinggi.
“Tidak ada yang berbeda, semua sama seperti tanpa ada dia di sini,” ucap Serena pelan sambil terus mengikuti langkah Daniel.
“Dia tidak menunjukkan rasa terima kasih sedikitpun, padahal aku sudah susah-susah menuruti permintaannya,” balas Daniel dalam hati.
“Daniel ….” sapa Serena yang berhenti melangkah.
“Apa kau sudah memikirkan pertanyaanku, tentang pertemanan di antara kita?”
“Untuk apa aku harus memikirkannya.”
“Sudah aku duga, dia tidak akan pernah ingat dan memiliki jawaban atas pertanyaanku.”
“Apa kita tidak terlalu jauh dari vila, Daniel.”
Serena mulai menyadari kalau vila yang menjadi tempat tinggalnya beberapa hari ini sudah tidak terlihat lagi.
“Kau takut?” gurau Daniel.
“Tunggu+tunggu, ini di mana, Daniel?”
“Danau, ini jalan ke sebuah Danau, Serena.”
“Benarkah? Kau pernah ke sini?” tanya Serena lagi.
“Seseorang pernah memaksaku untuk datang ke sini,” ucap Daniel santai, “Kenapa aku tidak lagi bisa bersikap tegas padanya,” batinnya kini dalam hati.
“Seseorang? Tapi siapa?” sebuah pertanyaan yang hanya di simpan dalam hati.
Sebuah Danau berwarna hijau yang berada di salah satu kaki gunung. Terdapat burung burung berterbangan mengitari permukaan Danau. Rerumputan hijau yang terbentang di sepanjang daratan.
Kini Daniel dan Serena sudah benar-benar menjauhi Vila. Para pengawal yang tadi mengikuti mereka juga sudah lebih waspada menjaga mereka.
Pria misterius yang sama dengan sosok yang ada di bandara juga sudah ada di antara mereka. Wajahnya yang tenang dan santai, tidak terbaca aura jahat sedikitpun di sana.
“Apa kau membawa ponsel, Serena?” tanya Daniel sambil mencari-cari handphone yang selalu ia bawak.
“Aku tidak membawanya, tapi untuk apa?”
Hanya diam, entah firasat apa yang kini merasuki pikiran Daniel. Tapi hatinya merasa kalau posisi mereka kini dalam bahaya.
“Kita harus segera kembali ke vila, Serena.”
“Kita belum tiba di pinggir Danau itu, Daniel.” Protes Serena yang tidak ingin kembali tanpa hasil.
Hanya diam tanpa ingin membantah, Daniel terus melangkahkan kakinya menuju arah pulang ke vila. Sedangkan Serena hanya diam tanda protes terhadap Daniel. Baru saja hatinya bahagia bisa mendapat sikap lembut yang miliki Daniel, kini Daniel sudah kembali ke sifat aslinya yang arogan.
“Kenapa harus mengajakku ke sini, jika hanya melihat dari jarak jauh. Aku akan pergi ke sini esok hari, tanpa di temani olehnya.”
“Serena!” teriak Daniel dari kejauhan.
“Iya, aku akan segera ke sana,” jawabnya dengan kesal.
Merasa tidak ingin kehilangan mangsanya, pria misterius itu segera mengeluarkan sebuah pistol ke arah Serena dan siap menarik pelatuknya dengan hati-hati.
“Aduh!” Serena terjatuh terjerembam ke atas tanah. Kakinya menyandung sebuah batu yang berukuran sedang. Jalan yang di penuhi banyak bebaTuan dan langkah cepat untuk segera tiba di samping Daniel menjadi penyebab ia terjatuh.
“Kenapa lagi dia.” Daniel menghentikan langkah kakinya, namun tidak ingin merubah arah Perjalanannya menemui Serena.
“Aduh, kenapa luka ringan seperti ini bisa terasa sakit,” batinnya dalam hati.
Daniel merasa kesal, karena menunggu Serena terlalu lama di situ. Daniel memutuskan untuk mengalah dan mulai melangkah mendekati Serena. Matanya terbelalak saat melihat sosok pria yang sudah siap melepas sebuah tembakan ke arah Serena.
“Serena, awas!”