
“Sekarang ada di mana orang yang bertanggung jawab atas semua ini?” Daniel menatap tajam ke arah Biao.
“Mereka sudah di serahkan kepada polisi Tuan.” Membuang tatapan mata ke arah lain.
“Setelah semua kekacauan ini, Dengan mudahnya ia duduk tenang di sana.” Mulai kesal dan mengepal kedua tangannya.
“Anda bisa menemui mereka kapan saja anda ingin Tuan. Apapun yang ingin anda lakukan tidak akan ada seorangpun yang mampu melarang anda Tuan,” jelas Bioa sambil membuang napasnya ke sembarang arah.
“Nyawa, di bayar nyawa. Kau tahu itu Biao.” Tatapan perintah yang harus segera di laksanakan Biao.
“Baik Tuan.” Biao melangkah pergi meninggalkan Daniel yang masih mematung di depan pemakaman.
“Tama, jasamu akan selalu ku ingat. Kematianmu tidak akan pernah menjadi hal yang sia-sia.” Berbalik badan menuju ke arah mobil.
Sepanjang jalan pikirannya kembali kepada Serena yang masih tertidur dan belum juga bangun. Belum ada perkembangan sedikitpun sejak ia pindah rumah sakit.
“Siapa mereka! Dendam mereka sangat besar kepada Serena.” Daniel terus melajukan mobilnya menuju ke arah Rumah Sakit.
Setibanya Daniel di Rumah Sakit, ruang rawat Serena menjadi tujuan utama langkah kakinya. Berjalan lurus tanpa memperdulikan sekeliling yang ada. Dengan hati-hati Daniel menarik gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan.
“Mama,” celetuknya saat melihat Ny. Edritz dan Tuan Edritz sudah berada di samping Serena.
“Daniel,” balasnya lirih, terdapat banyak buliran air mata di sana.
“Mama, sejak kapan mama ada di sini?” Sambil menyambut pelukan Ny. Edritz.
“Mama sangat mengkhawatirkan kalian berdua Daniel.”
“Apa yang terjadi pada Serena, Daniel?” tanya Tuan Edritz sambil kembali memandang ke arah Serena.
“Daniel tidak tahu pa, kenapa mereka menembak Serena. Mereka tiba-tiba datang dengan jumlah yang begitu banyak.” Mengembalikan ingatannya pada kejadian penembakan itu.
“Kita harus kehilangan Tama,” ucap Tuan Edritz dipenuhi raut wajah kesedihan.
“Mereka mengiginkan Serena Ma, apa yang sudah ia lakukan hingga membuat pria itu sangat murkah padanya,” menatap lirih ke arah Serena yang masih belum juga membuka matanya.
Hanya diam, tidak ada lagi kata yang keluar dari bibir Tuan Edritz dan sang istri. Rahasia besar tentang Serena yang sudah rapi mereka tutupi kian mencuak ke permukaan. Bukan hanya Serena, Diva dan Tama sudah lebih dulu menjadi korban. Tidak lagi memiliki keberanian untuk menceritakan rahasia besar tentang Serena. Kini tatapan mata mereka bertiga hanya di tujukan kepada wajah Serena yang tertidur dengan tenangnya.
Tok..Tok..
Dari balik pintu, seorang pria muncul lengkap dengan seragam Dokternya.
“Bagaimana keadaan Serena?” ucap Adit sambil terus melangkah mendekati tempat Serena berbaring saat ini.
“Dia masih belum sadarkan diri, sejak tadi pagi kondisinya sudah mulai stabil,” jawab Daniel sambil menuju sebuah kursi dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
“Aku akan mengambil alih tugas Dokter yang merawat Serena, Aku akan menangani Serena dengan tanganku sendiri,” Adit mengambil pergelangan tangan Serena dan memeriksanya dengan seksama.
“Adit, darimana kau tahu kalau Serena ada di sini?” tanya Ny. Edritz yang masih berada di samping Serena.
“Jangan tanyakan hal itu Nyonya, kalian bukan orang biasa.” Adit mengedipkan sebelah matanya, “Semua berjalan normal, dalam waktu dekat Serena akan segera sadar.” Beralih ke arah Daniel yang sedang termenung.
“Papa dan Mama akan segera kembali Daniel, kami harus menyelesaikan beberapa masalah.” Keduanya melangkah pergi, meninggalkan Daniel bersama Adit di sana.
Kini hanya ada Serena, Daniel dan Adit di sana. Tatapan keduanya masih saling tatap tanpa mengeluarkan kata.
“Bisa kau jelaskan semua kekacauan ini padaku Daniel,” tuntut Adit yang sudah banyak kehilangan informasi tentang masalah yang sedang menimpah sahabatnya. “Bahkan kita harus kehilangan Tama, Kau tahu. Tama bukan sosok manusia yang mudah dikalahkan. Dia sangat tangguh” Sambungnya lagi.
Hanya menopang kepalanya dengan kedua tangan, Kali ini masalah yang menimpah dirinya bukan hal yang mudah untuk di atasi.
“Aku tidak mengetahuinya, sejak malam itu…” Pikirannya kembali mengingat kejadian di Apartemen. “Mr. X!”
“Mr. X? Siapa lagi dia Daniel?” mengerutkan keningnya “Bahkan akhir-akhir ini kau banyak mengenal sosok misterius.”
“Pria yang menyerangku di kebun teh, wajahnya mirip dengan pria yang menyerang kami di Apartemen.”
“Maksudmu dia bukan musuhmu? Tapi musuh Mr. X yang baru saja kau sebutkan?”
“Biao bilang, mereka hadir untuk menyerang Mr. X di malam itu.”
“Lalu apa hubungannya Mr. X dengan S.G. Group? Dia bukan mengincar pria itu, tapi juga mengincar kalian berdua.”
“Bukan aku, tapi Serena.” Daniel menatap ke arah Serena.
Sudah beribu teka-teki mengisi pikiran Daniel, Semua muncul di waktu yang berdekatan. Entah siapa yang salah dan entah siapa yang benar. Daniel diam sambil kembali menggabungkan beberapa peristiwa yang baru saja terjadi dalam hidupnya.
Tidak selang beberapa menit kemudian, Biao sudah berada di dalam ruangan. Terdapat Diva di sana, dengan mata memerah di penuhi airmata. Langkahnya ia percepat untuk lebih dekat dengan keberadaan Serena saat ini.
“Nona .…” Tangisnya pun pecah saat melihat wanita yang sangat ia hormati sedang terbaring lemah tak berdaya.
“Siapa lagi wanita itu Daniel?” tanya Adit yang tidak pernah mengetahui keberadaan Diva.
“Dia pelayan wanita yang bertugas membantu segala keperluan Serena,” jawabnya singkat.
“Tuan, anda sudah bisa menemui pria itu. Ia bernama Arion” Sambil menarik napas penuh dan menahan kalimatnya, “Ketua geng Mafia White Tiger,” sambungnya dengan tatapan lurus ke arah Daniel.
“Geng Mafia?” ucap Adit dan Daniel bersamaan.
“Iya Tuan.” Sambil mengangguk pelan
“Sejak kapan kau mulai berurusan dengan Mafia Daniel. Perusahaanmu bergerak dibidang makanan ringan. Bukan Senjata api atahu obat terlarang,” ledek Adit mencoba mencairkan suasana.
Daniel hanya mengerutkan keningnya tanpa bisa membantah perkataan Adit. Semua yang diucapkan Adit adalah kebenaran yang sesungguhnya. Tidak pernah bisnis Daniel memiliki musuh yang berasal dari komplotan Mafia.
“Arion, apa dia pria yang sama dengan sosok yang membuat kekacauan di Apartemen?” Adit menatap tajam wajah Biao menagih suatu jawaban.
“Iya Tuan, dia pria yang sama waktu penyerangan di Apartemen. Satu di antaranya bernama Wubin, dia adalah orang kepercayaan Arion. Salah satu pembunuh bayaran yang tidak pernah gagal dalam misinya,” jelas Biao setelah mendapat beberapa informasi penting itu.
“Lengkap sudah, Kali ini kau benar-benar dalam masalah besar. Mafia, Pembunuh bayaran. Biao, apa masih ada satu nama yang menjadi biang masalah dalam peristiwa ini?” Tanya Adit dengan wajah yang cukup serius.
“Mr. X Tuan,” jawab Biao singkat.
“Aku sudah lebih dulu mendengar namanya dari Daniel. Baik, sekarang kita satukan. Apa hubungan ketiga pria itu dengan istri Tuan muda pewaris S.G. Group?”