
Serena menurunkan ponselnya. Tatapannya ia alihkan ke arah pintu. Kini pria yang sedang ia hubungi muncul di balik pintu itu. Ada senyum bahagia di wajah pria berstatus suaminya itu.
“Daniel, kenapa di angkat jika kau sudah tiba di rumah.” Serena meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Wanita itu beranjak dari duduknya untuk menyambut suaminya.
“Apa kau merindukanku?” Daniel merentangkan tangannya untuk menyambut tubuh istrinya.
“Aku selalu merindukanmu,” jawab Serena sambil memeluk Daniel dengan penuh cinta.
Daniel mengukir senyuman saat mendengar jawaban Serena siang itu. Tidak sia-sia bagi Daniel untuk meninggalkan pekerjaannya dan lebih memilih untuk menemui istrinya. Saat ini Daniel bisa mendapatkan pelukan mesra sang istri.
Berulang kali Ceo makanan ringan itu mengecup pucuk kepala istrinya. Tidak ada cukupnya bagi Daniel saat pria itu mencium istrinya. Setelah puas melepas rindunya, Daniel melihat isi koper yang kini masih berserakan di lantai. Pria itu mengeryitkan dahinya sebelum mengeluarkan kata.
“Sayang, apa itu?”
Serena melepas pelukannya sebelum memutar tubuhnya. Bibirnya tersenyum, “Hadiah dari mama untuk si kembar.” Serena mengusap lembut perutnya.
“Apa di dalamnya juga ada kaos kaki?” ledek Daniel saat pria itu kembali ingat dengan hadiah unik ibu kandungnya beberapa bulan yang lalu.
“Ada banyak,” jawab Serena sambil merangkul lengan suaminya dan membawanya berjalan menuju karpet itu, “Sayang, dimana Sharin tinggal selama dia ada di sini?”
“Di apartemen,” jawab Daniel singkat tanpa curiga.
“Apartemen tempat kau marah-marah dulu?” Serena menaikan satu alisnya.
Daniel mengukir senyuman untuk mengembaikan senyuman di wajah istrinya, “Apartemen tempatku memasak masakan pertamaku untukmu, Sayang.”
Serena tersenyum. Hari ini memang suasana hatinya cukup bersahabat,“Apa dia tinggal di kamar yang dulu kita tempati?”Serena duduk di samping Daniel sambil menatap wajah pria itu.
“Itu kamar milikku. Biao dan Tama punya kamar sendiri di apartemen itu. Apartemen itu memang sengaja aku persiapkan, jika ada pertemuan malam yang harus memaksaku untuk tidak pulang.” Daniel terlihat sibuk memeriksa barang-barang yang berserak di hadapannya.
Serena mengangguk pelan, “Aku ingin menemui Sharin.”
Daniel menatap wajah Serena dengan bingung, “Untuk apa?”
“Tentu saja untuk mengajaknya bergabung menyerang musuhmu yang bernama Marcus itu,” jawab Serena tanpa mau memandang wajah suaminya.
Daniel meletakkan barang-barang yang sempat ia pegang. Pria itu menarik tangan Serena untuk membujuk wanita tangguh itu, “Sayang, jangan pikirkan tentang Marcus. Biar aku dan Biao yang mengatasinya. Aku tidak mau kau terlibat dalam masalah ini lebih jauh lagi. Aku tidak mau kau terluka lagi. Apa kau tahu, betapa sedihnya hati ini setiap kali melihatmu terluka. Tolong, jangan ulangi lagi kejadian yang sama.” Daniel mengusap lembut pipi Serena.
“Tapi ....”
Daniel melekatkan satu jarinya di bibir Serena. Pria itu menggeleng kepala pertanda tidak setuju, “Tidak ada kata tapi lagi mulai sekarang.”
“Aku hanya akan membantu untuk melacaknya. Tidak ikut bertarung, janji. Tetapi, jika dia ada dihadapanku, tangaku ini akan terasa ringan untuk memukulnya.” Serena mengangkat tangannya sebagai wujud janjinya yang gak akan ia ingkari.
Daniel menghela napas dengan kasar. Pria itu tahu, kalau istrinya tidak akan mudah menurut.
“Baiklah, aku akan menyuruh Sharin untuk tinggal di rumah ini agar kau tidak perlu pergi ke apartemen.”
“Benarkah?” Wajah Serena berseri.
Daniel mengangguk sebelum menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya, “Kami masih tahap penyelidikan untuk mencari keberadaan Marcus. Pria itu tidak ada di kota ini. Tetapi, aku yakin kalau ia masih ada di kota ini dan bersembunyi di suatu tempat. Aku menggulingkan perusahaannya karena kesalahannya sendiri. Ia berani bermain kotor saat berbisnis.”
“Apa dia pria yang kejam?” Serena mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Daniel yang ada di atas kepalanya.
“Aku tidak terlalu tahu dengan karakternya. Tapi, yang pasti. Dia akan segera datang untuk balas dendam.”Daniel mengecup bibir Serena. Bibir Serena yang merah tentu saja sangat menggoda. Bahkan di saat yang serius seperti itu, kosentrasinya hilang saat melihat wajah cantik istrinya.
***
Di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Gedung itu menyediakan ratusan kamar untuk para pengunjung yang ingin menginap. Salah satu hotel bintang lima yang ada di ujung kota Sapporo itu kini sedang dipenuhi pengunjung.
“Kalian terlihat kebingungan saat aku menghilangkan jaringan di tiga ponsel. Sekarang kita lihat, bagaimana jika aku menghilangkan jaringan di seluruh kota Sapporo.” Ada tawa puas saat pria itu berhasil mendapatkan cara untuk mengunci jaringan yang ada di kota Sapporo. Sudah bisa dipastikan, kalau semua perusahaan akan mengalami kerugian besar saat jaringan internet dan komunikasi itu mati. Selama ini segala kegiatan yang dilakukan membutuhkan kedua jaringan itu.
“Daniel Edritz Chen. Sebentar lagi kita akan bertemu.” Pria itu menekan tombol enter di keyboardnya untuk mengirim virus yang bisa merusak jaringan itu.
“Ok, saatnya bersenang-senang.” Tawa Marcus semakin kuat hingga memenuhi isi kamar hotel berukuran luas itu.
***
S.G.Group.
“Paman tidak berbohong. Memang semua yang kau lihat tadi hanya salah paham.” Tama berdiri di depan Sharin untuk menjelaskan kesalahpahaman tadi. Pria itu tidak ingin di nilai jelek oleh keponakan cantiknya itu.
“Paman, Sharin malu punya Paman seperti Paman Tama. Ternyata ini alasan Paman Tama tidak nikah-nikah selama ini.” Sharin menutup telinganya dengan tangan. Wanita itu masih memandang geli wajah Pamannya. Sampai detik ini, Sharin masih berpikiran kalau Tama dan Biao memiliki hubungan khusus.
“Aku sudah bilang itu hanya salah paham!” ucap Tama mulai kesal.
“Terserah Paman, tapi Sharin tidak akan percaya dengan Paman semudah itu.”Sharin mengambil pekerjaannya lalu membawanya ke arah sofa. Hatinya cukup kecewa melihat kelakuan pria yang selalu ia hormati itu.
“Kenapa jadi seperti ini,” gumam Tama di dalam hati. Pria itu juga berjalan ke arah kursi untuk menghubungi Anna. Sejak tadi, pria itu sudah tidak sabar untuk menyampaikan kabar gembira itu kepada sang pemilik nama.
“Nana ....” ucapnya pelan sebelum melekatkan ponselnya di telinga. Hal yang sama ia alami saat ini. Pria itu mengeryitkan dahinya sambil menatap bingung ponselnya.
“Sharin, apa ponselmu juga mengalami masalah saat ini?” tanya Tama sambil memandang wajah keponakannya itu yang kini berada jauh dari hadapannya.
Sharin menghela napas sebelum mengambil ponselnya di dalam tas. Wanita itu mencoba untuk melakukan panggilan keluar.
Suara pintu terbuka.
“Tama, gawat!”Biao muncul dengan wajah panik.
“Ada apa?” tanya Tama tidak kalah panik. Sedangkan Sharin, menatap wajah dua pria itu dengan tatapan aneh. Sambil menundukkan kepalanya, Sharin mencoba untuk menguping pembicaraan kedua pria itu.
“Akses jaringan terputus. Kini seluruh pekerjaan karyawan S.G.Group terhenti.” Biao berjalan cepat untuk mendekati Tama di mejanya.
“Benarkah?” Wajah Tama semakin serius. Pria itu membuka laptopnya untuk mengecek kebenaran atas informasi Tama.
Setelah beberapa menit menunggu, Tama memandang wajah Biao yang ada di hadapannya, “Kita harus segera menemui Tuan Daniel.” Tama beranjak dari duduknya, “Sharin, kau juga ikut.”
Sharin menoleh dengan wajah malas. Wanita itu tidak ingin selalu dekat-dekat dengan dua pria itu, “Baiklah.”
Tama dan Biao berjalan untuk meninggalkan ruangan itu. Sedangkan Sharin mengikuti mereka dari belakang. Lagi-lagi di dalam kepalanya muncul bayangan-bayangan negatif tentang hubungan pria yang ada di hadapannya. Dengan wajah frustasi, Sharin memukul kepalanya berulang kali agar pikiran itu menghilang.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Biao sambil mengeryitkan dahi.
Tama mengukir senyuman kecil saat melihat tingkah keponakannya itu, “Biao, dia pikir kita berpacaran.”
“Berpacaran?” Biao cukup syok mendengar pernyataan Tama, “Apa benar begitu Sharin?”
Sharin mengumpat kesal di dalam hati atas perkataan Pamannya siang itu, “Paman tampan, apa itu tidak benar?” Mengukir senyuman terpaksa.
“Tentu saja tidak. Jika memang harus berpacaran dengan pria aku juga tidak akan memilih pria seperti ini,” jawab Biao asal aja sambil melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift.
“Biao! Hentikan omong kosongmu itu atau aku akan menciummu nanti,” sambung Tama dengan senyuman puas karena berhasil meledek keponakan centilnya itu.
Sharin menggeleng kepalanya. “TIDAKKKKK!”teriaknya hingga memenuhi isi di dalam lift sempit itu..