
“Aku masih ingin berada di sini,” jawab Serena singkat, yang kembali duduk pada sebuah kursi besi berwarna putih.
“Apa ada sesuatu yang terjadi, nona?” tanya Tama penuh selidik.
Serena hanya melirik sebentar ke arah Tama, dan kembali membuang pandangannya ke sembarang arah. Hatinya memang sedang sakit saat ini, ia membutuhkan sosok sahabat untuk meluapkan emosinya saat ini. Serena hanya kembali diam tanpa ingin menjawab, buliran air mata kembali menetes membasahi pipinya saat ini.
“Maafkan saya nona,” ucap Tama penuh rasa bersalah.
“Kau tidak salah Tama,” jawab Serena dengan senyum tipis.
“Apa anda mau kembali ke kamar, nona. Ini sudah larut malam, tidak baik untuk kesehatan anda saat ini,” bujuk Tama lagi.
***
Di dalam kamar, Daniel baru saja keluar dari kamar mandi. Matanya mencari-cari keberadaan Serena saat ini. Rasa penyesalan kembali menyelimuti pikirannya.
“Kenapa aku melampiaskan emosiku, padanya,” ucap Daniel yang semangkin frustasi.
Daniel melangkah keluar dari kamar, langkahnya tertuju pada sosok pengawal yang berada tidak jauh dari posisinya saat ini.
“Apa kau melihat, Serena?” tanya Daniel cepat.
“Nona ke taman belakang, tuan. Tadi tuan Tama juga sudah menemui nona Serena,” jawab pengawal itu sambil tertunduk dalam.
“Tama?” Daniel melangkah ke sebuah balkon yang menghubungkan dengan pemandangan taman belakang. Nafasnya terasa lega saat melihat Serena dan Tama berada di sana.
“Apa kau menangis lagi karena aku, Serena?” ucap Daniel pelan yang masih terus memperhatikan Tama dan Serena dari lantai atas.
***
“Nona,” bujuk Tama tanpa henti.
“Kenapa dia sangat jahat? aku tidak melakukan kesalahan hari ini,” jawab Serena dengan hati yang perih.
“Apa tuan Daniel mengatakan sesuatu yang buruk pada anda, nona?”
Serena hanya mengangguk pelan, tangannya kembali menghapus beberapa buliran air mata yang terus menetes deras.
“Apa tuan Daniel telah membongkar identitas nona Serena?” gumam Tama dalam hati.
“Apa dia pria yang jahat?” tanya Serena pada Tama.
“Tidak nona, tuan Daniel pria yang baik,” jawab Tama dengan senyum manisnya.
“Kau bekerja untuknya, kau pasti selalu membelanya,” ucap Serena kesal.
“Tidak nona, saya bekerja untuk anda dan tuan muda.”
Serena kembali diam menatap ke arah taman bunga, pikirannya kembali mengingat penembakan di vila waktu itu.
“Pria itu,” ucap Serena tiba-tiba.
“Siapa nona?” Tama mencari kesembarang arah, “Siapa yang anda lihat?” tanya Tama bingung.
“Pria yang datang di hadapan kami, dia menyerang dan mengatakan,” Serena memandang wajah Tama, “Kalau dia menginginkanku.”
Deg, jantung Tama seperti terhenti. Serena kembali mengingat penyerangan Arion dan Wubin waktu di vila. Hal ini akan membuat suasana semangkin rumit. Tama tidak memiliki keberanian, untuk menceritakan sesuatu yang sebenarnya terjadi pada Serena.
“Kenapa anda di luar, nona,” celetuk Biao yang tiba-tiba muncul, “Apa terjadi sesuatu?” tanyanya lagi yang terus melangkah mendekat ke arah Serena dan Tama.
Tama kembali bernafas lega saat melihat ke munculan Biao saat ini. Seperti sosok malaikat yang diutus langsung dari langit, untuk menolongnya saat ini.
“Kau? kenapa kau juga di sini!” ucap Serena kesal, karena sosok yang ia harapkan tidak kunjung muncul.
“Tuan Daniel meminta saya untuk menyuruh anda masuk, nona,” jawab Biao pelan.
"Daniel?" gumam Serena dalam hati.
“Nona,” ucap Biao lagi.
“Nona, tuan Daniel akan semangkin marah jika anda terus membangkang,” ucap Biao untuk menakuti Serena.
“Aku tidak takut padanya,” jawab Serena singkat.
Tama dan Biao hanya bisa saling menatap. Keduanya hanya bisa menarik nafas secara kasar saat mendengar penyataan Serena saat ini.
“Jelas saja nona tidak takut pada tuan Daniel. Nona Serena ketua geng mafia,” gumam Tama dalam hati sambil menahan tawa.
“Aku harap kau tidak memikirkan sesuatu, yang menurunkan harga diri tuan Daniel,” bisik Biao pelan di telinga Tama, yang mengetahui arti senyuman Tama saat ini.
Tama hanya melirik sebentar ke arah Biao, sebelum kembali melanjutkan bujukannya pada Serena.
“Nona, tuan muda sangat menyayangi anda. Dia tidak ingin anda sakit. Tuan Daniel sedang marah pada saya nona,” ucap Tama pelan.
“Marah?” Menatap ke wajah Tama, “Padamu? tapi kenapa?” tanya Serena bingung.
“Karena saya telah membohonginya dengan kematian palsu itu,” sambung Tama cepat.
Biao menepuk pucuk kepalanya pelan, matanya terpenjam untuk kembali mencerna perkataan Tama barusan.
“Aku harap alasanmu tidak memperburuk keadaan, Tama,” bisik Biao yang semangkin kesal dengan prilaku Tama saat ini.
“Kau memang keterlaluan, Tama. Kenapa kau membohonginya, aku jadi ikut terlibat di dalamnya,” ucap Serena polos.
Senyum bahagia terpancar di wajah Tama, tatapan matanya ia arahkan pada Biao sebagai tanda kemenangannya saat ini.
“Maafkan saya nona, karena saya anda jadi terlibat,” ucap Tama dengan sepenuh hati.
“Kenapa kau berbohong, Tama?” tanya Serena dengan raut wajah kesal.
Tama kembali diam mendengar pertanyaan Serena, kepalanya tertunduk dalam untuk memikirkan alasan selanjutnya yang bisa menyelamatkan hidupnya saat ini.
Biao hanya berdehem kuat, sebagai isyarat untuk meledek Tama saat ini.
“Pikirkan sendiri, aku tidak ingin berbohong hari ini,” bisik Biao pelan di telinga Tama.
Tama hanya tertunduk diam sambil terus memikirkan alasan selanjutnya. Kali ini ia tidak berhasil membohongi Serena.
“Apa yang kalian lakukan?” teriak Daniel dari kejauhan, “Aku menyuruhmu untuk membawanya kembali ke kamar, bukan menemaninya di sini.”
“Maaf tuan,” ucap Tama dan Biao secara bersamaan.
“Aku akan memberikan satu hukuman, untuk sosok pembakang yang saat ini ada di hadapanku,” ancam Daniel dengan raut wajah marah.
“Jangan Daniel, jangan lakukan itu,” pinta Serena tiba-tiba, “Ini semua salahku, jangan hukum mereka,” melirik sebentar ke arah Biao dan Tama yang masih tertunduk diam.
“Benarkah?” tanya Daniel singkat.
“Maafkan aku, karena selalu saja merepotkanmu,” ucap Serena pelan dan berlalu pergi meninggalkan Daniel yang masih berdiri di taman.
Daniel hanya diam melihat kepergian Serena, tatapan matanya kembali ia fokuskan pada Biao dan Tama yang kini ada di hadapannya.
“Rahasiakan semua ini darinya,” ucap Daniel pelan, sebelum melangkah pergi mengikuti Serena.
“Baik tuan,” ucap Biao dan Tama bersamaan.
Biao dan Tama hanya bisa memandang sepasang suami istri yang kini ada di hadapan keduanya. Pernikahan yang sudah berjalan selama beberapa bulan itu, tidak kunjung mengalami kemajuan.
“Sampai kapan semua ini terjadi?” ucap Biao pelan.
“Apa mereka bisa saling jatuh cinta?” sambung Tama.
Daniel terus melangkah cepat mengikuti Serena yang berlari masuk ke dalam rumah. Matanya masih menyimpan rasa kecewa saat mengingat kebohongan kedua orang tuanya saat ini.
Namun, beberapa perkataan Adit, kembali meluluhkan hatinya untuk tidak menyakiti Serena. Saat ini, kesehatan Serena jauh lebih penting daripada masa lalunya. Daniel tidak ingin Serena kembali sakit, saat harus menerima masa lalu yang tidak lagi ia ingat saat ini.
Sebelum lanjut, Like dan Komen dulu.