Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 46



“Serena ….” ucapan Kenzo terhenti.


Beberapa mobil ambulan datang ke lokasi itu. Daniel menatap tajam mobil ambulan itu. Kakinya sudah tidak bertenaga lagi. Ia tahu, kalau sesuatu yang buruk telah terjadi.


Sambil memejamkan mata sesaat dan menahan napasnya, Daniel mantap tajam wajah Biao, “Dimana rumah Diva?”


Biao menunduk takut, bibirnya tidak lagi mampu berkata.


“Dimana rumah Diva, Biao!” Daniel berteriak dengan kencang. Ia mencengkram kuat kera kemeja Biao. Menatap mata Biao dengan penuh amarah.


Biao menelan ludah sambil mengatur napasnya yang terasa berat. Ia mengangkat tangannya secara perlahan, untuk menunjuk ke arah puing-puing rumah yang sudah rata dengan tanah.


Daniel mengikuti arah tangan Biao, “Apa kau sedang mempermainkanku, Biao! katakan padaku, dimana rumah Diva!” teriakan Daniel semangkin memekakan telinga.


“Rumah Diva di bom Daniel. Tim medis datang untuk mengidentifikasi korban.” Kenzo memberanikan diri untuk mengeluarkan kata.


Daniel tersenyum tipis. Ia mendorong tubuh Biao dengan kencang hingga Biao terpental di atas tanah. Daniel memandang wajah Kenzo sambil mengepal kuat tangannya.


“Katakan, ini semua tidak nyata, Kenzo.” Mata Daniel mulai berkaca-kaca.


“Maafkan aku Daniel, aku tidak bisa menjaga Serena.” Kenzo menunduk sedih penuh rasa bersalah.


“Kak Erena ... maafkan aku ….” ucap Shabira di sela-sela tangisnya.


“Serena. Ini semua gak nyata. Serena pasti baik-baik saja. Dia sudah pulang, sebelum bom ini meledak.” Daniel memandang wajah Tama yang juga menunduk sedih.


“Tama, hubungi rumah utama. Tanya Pak Han, aku yakin Serena sudah ada di rumah.” Daniel masih menyimpan harapan untuk mendengar kabar baik saat ini.


Tama hanya diam tanpa kata, sambil menunduk dalam. Tidak ada lagi kata yang bisa ia ungkapkan untuk menenangkan hati Daniel saat ini.


“Tama, apa kau mulai membangkang! kenapa kau tidak melaksanakan perintahku!” Daniel menatap wajah Tama dengan tatapan kesedihan.


“Daniel. Tempat ini akan segera di evakuasi. Kita akan segera menemukan kebenarannya. Bersabarlah, tahan emosimu.” Kenzo mencoba untuk meredakan emosi Daniel saat ini.


Buliran air mata menetes dari pelupuk mata Daniel. Daniel memberanikan diri untuk memajukan langkah kakinya mendekati lokasi rumah Diva. Ia menatap plat mobil yang ditumpangi Serena. Daniel berlutut di atas tanah. Ia menunduk penuh kesedihan. Mencengkram kepalanya dengan erat. Dia begitu terpukul dengan perasaan sedih yang luar biasa.


“Serenaaaaaa!” Daniel teriak dengan begitu keras, wajahnya mendongak ke atas dengan mata terpejam.


Suasana menjadi hening seketika. Semua orang menunduk sedih, tidak bisa berkata lagi. Hanya ada beberapa tim evakuasi yang membawa beberapa korban ke dalam ambulan. Satu pria berpakaian putih mendekati posisi Kenzo saat ini.


“Apa anda pihak keluarga dari korban yang ada di lokasi ini, Tuan?”


“Ya, saya keluarganya.” Kenzo mengelus lembut punggung Shabira.


“Hanya beberapa korban yang bisa di identifikasi. Tubuh semua korban hancur, saya hanya bisa mendeteksi jenis kelamin dari korban. Namun, tubuhnya tidak lagi bisa utuh, Tuan.” Pria itu menjelaskan secara detail, keadaan yang sebenarnya.


“Lakukan tugas anda dengan baik. Berikan pada saya hasilnya, secepat mungkin.”


“Baik, Tuan.” Pria itu pergi ke arah ambulan. Membawa ambulan itu pergi meninggalkan lokasi perumahan Diva.


Daniel masih diam sambil terpaku. Ia masih tidak menyangka, kalau kejadian yang ada di hadapannya adalah kenyataan. Orang yang sangat ia cintai akan pergi dengan cara mengerikan seperti ini.


Serena, kau pasti baik-baik sajakan? jangan tinggalkan aku, sayang.


“Sayang, aku akan mengantarmu pulang. Aku akan membalas perbuatan White Tiger saat ini.”


“Aku ikut,” pinta Shabira dengan wajah memohon.


“Jangan, kondisimu sedang tidak sehat. Ayo, aku akan mengantarmu pulang.” Kenzo menggenggam tangan Shabira.


“Pergilah, balaskan dendamku terhadapnya, Aku akan pulang ke rumah sendiri.” Shabira memandang wajah Kenzo dengan penuh harapan.


“Hati-hati ya, sayang.” Mengecup pucuk kepala Shabira. Kenzo menarik tangan Shabira, membawanya masuk ke dalam mobil.


Kenzo memperhatikan mobil Shabira yang sudah melaju kencang meninggalkan lokasi itu.


“Aku ingin kau mengumpulkan semua pasukan yang kita punya. Kita harus menyelesaikan semua ini secepatnya.” Kenzo memberi perintah kepada satu pengawal yang sejak tadi berdiri di belakangnya.


“Baik, Tuan.” Pengawal itu menunduk hormat sebelum pergi meninggalkan lokasi.


Tama dan Biao berjalan mendekati Daniel.


“Tuan, sebaiknya kita pulang. Anda harus istirahat untuk menenangkan pikiran anda,” ucap Tama dengan penuh ketakutan.


Kenzo berjalan mendekati posisi Daniel, “Daniel, ikutlah denganku. Bawa semua pasukan yang kau miliki. Kita akan menyerang markas dan semua tempat milik White Tiger. Kali ini, aku tidak akan menyisakan mereka untuk hidup.”


Daniel memaksakan tubuhnya untuk berdiri, meskipun saat ini tubuhnya tidak lagi bertenaga. ia memutar tubuhnya ke arah Kenzo. Mengepal kuat tangannya untuk menahan amarah.


“Biao, siapkan semuanya!” Daniel menatap tajam ke arah Biao.


Biao membungkuk hormat, “Baik, Tuan.”


“Ayo, kita harus segera pergi. Aku tidak akan membiarkan mereka bisa melihat cahaya rembulan malam ini.” Kenzo memutar tubuhnya, berjalan menuju mobil.


“Tama, kau urus S.G. Group. Jangan sampai ada saingan bisnis kita yang memanfaatkan situasi ini,” ucap Biao kepada Tama.


“Baiklah. Aku akan kemabali ke S.G. Group.” Tama berjalan ke arah mobil yang tadi ia kemudi. Sedangkan Daniel dan Biao masuk ke dalam mobil yang sama dengan Kenzo. Mereka akan berdiskusi tentang rencana pembalasan dendam untuk Serena saat ini.


***


Shabira melajukan mobilnya dengan cepat. Ia mengambil pistol yang selama ini ia simpan dan belum sempat ia gunakan. Menatap tajam pistol yang kini ada di hadapannya. Buliran air mata masih terus menetes di pipinya. Meskipun sudah berulang kali ia hapus, tapi air mata itu lagi-lagi menetes tanpa di sadari.


“Aku akan membunuhmu, Wubin. Aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Aku tidak akan tinggal diam, melihat perbuatanmu ini. Kau akan menerima akibat dari perbuatanmu ini.” Shabira sangat yakin, kalau semua ini adalah perbuatan Wubin. Karena sejak awal, Wubin memang memiliki niat jahat untuk membuat Serena pergi meninggalkan dunia ini.


Shabira mengambil handphone untuk menghubungi seseorang.


“Aku ingin hari ini juga kalian tiba di Jepang. Kumpulkan semua pasukan Queen Star. Ada misi terakhir yang harus kita selesaikan.” Shabira meletakkan handphone itu kembali pada tempatnya. Ia melajukan mobilnya dengan cepat, menuju lokasi pertemuannya dengan para pasukan mafia Queen Star yang ia punya.


“Maafkan aku, Kenzo. Kali ini aku tidak bisa patuh dengan perintahmu. Aku tidak akan berdiam diri di rumah sebagai penonton, saat kau bertarung untuk menghabiskan White Tiger.”


Shabira menghapus sisa air mata yang masih melekat di pipinya. Hatinya kembali dipenuhi jiwa membunuh. Ia tidak lagi memiliki belas kasih saat ini. Semua musuh yang berdiri di hadapannya, akan segera ia habiskan dan tidak menyisakan satu orangpun untuk hidup.


“Kak Erena. Aku harap kau masih hidup dan bertahan di suatu tempat. Maafkan Aku, karena menghidupkan Queen Star dan membuatmu kecewa.”