Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 79



Rumah Sakit.


Tuan dan Ny. Edritz baru saja masuk ke dalam ruangan rawat Serena. Suasana ruangan itu terlihat sangat tenang. Jauh berbeda dengan keadaan yang terjadi di lantai bawah rumah sakit.


Serena duduk bersandar sedangkan Daniel duduk di samping tempat tidur. Tangannya menggenggam mangkuk bubur, untuk menyuapi Serena.


“Mama,” sapa Daniel dengan senyuman.


“Daniel, apa itu?” Ny. Edritz berjalan mendekati tempat tidur Serena.


“Bubur, Ma. Serena hanya boleh memakan ini.” Daniel mengambil satu sendok lagi untuk menyuapi Serena.


“Serena, kau harus cepat sembuh. Kita akan pulang ke Jepang siang ini. Mama sudah tanya langsung sama Dokter yang menanganimu. Dia menginjinkanmu untuk pindah rumah sakit.” Ny. Edritz duduk di kursi yang ada di samping Daniel.


Serena hanya tersenyum mendengar perkataan Ny. Edritz saat itu.


Suara pintu terbuka, semua orang mengalihkan pandangannya pada Zeroun yang baru saja muncul dari balik pintu.


Zeroun tidak lagi mengenakan pakaian pasien rumah sakit. Pria itu sudah mengenakan kemeja putih dengan jas hitam favoritnya.


Dengan sekuat tenaga, Zeroun mengatur ekspresi wajahnya agar tidak terlihat panik di hadapan Daniel dan Serena.


Pria itu Berjalan dengan langkah yang sangat tenang mendekati tempat tidur Serena. Ny. Edritz berdiri dari duduknya, menatap wajah Zeroun dengan tatapan tidak suka.


“Untuk apa anda ke sini, Tuan Zeroun Zein. Anak saya bisa menjaga istrinya, anda tidak perlu khawatir seperti itu.” Ny. Edritz melipat kedua tangannya.


“Ma, apa yang mama katakan. Sebaiknya mama duduk di sofa sama papa. Ada hal penting yang ingin kami bicarakan.” Daniel meletakkan mangkuk bubur itu di atas meja.


Ny. Edritz berjalan ke arah sofa dengan wajah kesal saat mendengar perkataan Daniel.


Serena menatap wajah Zeroun dengan seksama. Ia tahu, sesuatu sedang terjadi di luar.


“Zeroun, apa kau sudah boleh pulang? kenapa kau tidak mengenakan pakaian pasien?” Daniel memperhatikan kemeja Zeroun yang masih ada bercak darah.


“Daniel, apa kau bisa menggendong Serena?” Wajah Zeroun berubah serius.


“Apa maksudmu? tentu saja aku bisa menggendongnya, tapi untuk apa?” Daniel mengerutkan dahi. Pria itu masih belum mengerti maksud perkataan Zeroun.


Serena tersenyum tipis saat mendengar perkataan Zeroun. Wanita itu semakin yakin, kalau sesuatu yang buruk telah terjadi.


“Kita harus segera pergi dari sini sekarang juga.” Zeroun menatap wajah Serena.


“Kami memang akan pergi dari sini! kami tidak perlu bantuan anda Tuan Zeroun!” teriak Ny. Edritz dari kejauhan.


Zeroun tidak memperdulikan perkataan Ny. Edritz saat itu. Pria berjas hitam itu berjalan ke arah jendela melihat helikopter yang mendekati gedung rumah sakit.


“Ayo, Daniel. Sudah saatnya.” Zeroun mengambil pistol dari dalam sakunya. Mengokang senjata api itu dan siap untuk menarik pelatuknya.


Serena melepas jarum infus pada tangannya. Tanpa banyak protes lagi, Daniel mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya. Dua wanita masuk ke dalam kamar Serena. Wanita itu membungkuk hormat di hadapan Zeroun.


“Kalian lindungi mereka dan pergi dari jalur kiri. Aku akan membawa Erena ke atas atap dari jalur kanan.”


“Baik, Bos.” Wanita itu berjalan mendekati Tuan dan Ny. Edritz.


“Ayo Daniel,” ucap Zeroun sambil melangkah cepat.


“Daniel, kemana kalian akan pergi? pasukan S.G. Group masih ada di sini untuk berjaga.” Ny. Edritz mengikuti langkah Daniel dari belakang.


Zeroun memimpin jalan di depat. Membuka pintu kamar dengan begitu waspada. Tatapan mata semua orang terbelalak kaget, saat melihat pasukan S.G.Group yang berjaga di depan tergeletak di atas lantai.


“Apa yang terjadi?” Ny. Edritz menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Cepat!” teriak Zeroun lagi.


Tanpa menunggu persetujuan Tuan dan Ny. Edritz, kedua wanita itu menarik paksa mereka. Membawanya berjalan cepat ke arah jalur yang sudah di susun oleh Zeroun.


Zeroun menatap wajah pucat Serena sesaat sebelum melanjutkan langkah kakinya saat itu. Daniel memperhatikan tatapan Zeroun saat itu, ia lebih memilih diam dan mengutamakan keselamatan Serena saat itu.


DUARR ! DUARR!


Dua tembakan dilepas oleh Zeroun saat melihat dua musuh menghalangi jalannya.


Mereka menjejaki anak tangga dengan begitu hati-hati. Tatapan matanya menatap waspada setiap sudut yang akan mereka lewati.


DUARR!


Satu musuh lagi tergeletek di lantai saat menerima tembakan dari Zeroun.


“Zeroun, hati-hati!” Daniel berteriak saat musuh ingin memukul tubuh Zeroun dengan balok kayu. Dengan cepat Zeroun mengelak dan melepas satu tembakan lagi.


DUARR!


“Pergilah bawa Serena, Aku akan menghalangi mereka semua. Naik ke helikopter dan pergi ke bandara. Kita akan bertemu di sana.” Zeroun mengokang senjatanya lagi.


Daniel menatap wajah Serena yang berubah sedih. Buliran air mata tertahan di pelupuk matanya saat itu. Namun, Serena tidak bisa mengeluarkan satu katapun untuk melarang Zeroun. Daniel tahu, kalau saat ini Serena sangat mengkhawatirkan keselamatan Zeroun.


“Aku akan tetap berada di sini untuk membantumu,” ucap Daniel sambil menatap wajah Serena.


“Apa kau gila? Erena yang mereka incar saat ini.” Zeroun menatap wajah Daniel dengan tatapan marah.


“Turunkan aku Daniel,” ucap Serena dengan nada pelan.


Daniel menurunkan Serena dari gendonganya, memegangi tangan wanita itu agar bisa berdiri dengan benar.


“Ini bukan saatnya kau ikut bertarung, Erena. Keadaanmu masih sangat lemah, cepat pergi dari sini!” teriak Zeroun lagi.


DUARR! DUARR!


“Kita mencintai wanita yang sama, Zeroun. Aku juga akan berjuang untuk melindungi wanita yang aku cintai, meskipun nyawa yang menjadi taruhannya.” Daniel menatap wajah Serena dengan tatapan sedih.


“Sayang, pergilah ke atas. Pergi dengan helikopter itu. Aku akan membantu Zeruon melawan musuh ini.” Daniel memberikan satu pistol di tangan Serena.


“Senjata ini akan melindungimu dari bahaya.” Daniel memegang kedua pipi Serena.


Serena menerima pistol itu, “Aku ingin, kalian berdua selamat dan secepatnya menemuiku.”


Serena membalikkan tubuhnya berjalan perlahan menuju ke arah atap. Tangannya masih menahan luka bekas tembaknya yang terasa sangat sakit karena berjalan.


Buliran air mata yang sejak tadi tertahan sudah jatuh menetes dengan derasnya. Serena menghapus tetes demi tetes yang membasahi wajah.


“Kau bisa menggunakan ini.” Zeroun memberikan satu pistol kepada Daniel.


“Baiklah, waktunya pertunjukan.” Daniel mengukir senyuman tipis.


DUARR! DUARR!


.


.


.


Di dalam Helikopter.


Serena masih meneteskan air matanya dengan begitu deras. Ny. Edritz memegang tangan Serena untuk memberikan kekuatan kepada Serena saat itu.


“Serena, jangan menangis. Semua akan baik-baik saja. Daniel akan segera datang untuk menemui kita.”


Ny. Edritz juga meneteskan air mata, hatinya diselimuti ketakutan saat mengingat anak semata wayangnya sedang bertarung nyawa di rumah sakit.


Tuan Edritz mengelus pundak Ny. Edritz dengan lembut. Pria paruh baya itu juga tidak dapat melakukan apapun saat ini. Ia hanya bisa berdoa agar semua keluarga tercinta yang ia miliki, dalam keadaan selamat.


Helikopter itu terbang dengan tenang meninggalkan rumah sakit menuju ke arah bandara. Serena menatap pemandangan kota yang indah dari ketinggian. Ingin sekali saat ini ia juga bertarung untuk membantu Daniel dan Zeroun.


Hanya saja, tubuhnya masih terasa sangat lemah. Bahkan untuk berjalan ia harus menghabiskan seluruh sisa tenaga yang ia miliki.


Ny. Edritz terus menghubungi Biao dan Kenzo saat itu. Tidak ada satupun yang mengangkat panggilan teleponnya. Hatinya kembali di selimuti kecemasan saat mengingat semua orang yang ia sayangi kini berada dalam bahaya.


“Maafkan Serena, Ma.” Serena menyentuh tangan Ny. Edritz. Ia tahu, apa yang kini memenuhi isi pikrian Ny. Edritz.


“Semua musuh ini milik Serena, mereka ingin membalaskan dendam atas perbuatan Serena di masa lalu.”


Ny. Edritz memeluk tubuh Serena dengan deraian air mata, “Jangan katakan hal itu lagi. Sejak kau menikah dengan Daniel, mama tidak lagi mempermasalahkan masa lalumu, Serena. Sekarang kau harus memikirkan kesehatanmu, jangan terlalu banyak pikiran lagi. Setelah tiba di Jepang, semua akan baik-baik saja.”


Serena menganggukkan kepalanya, sebelum memejamkan mata di dalam pelukan Ny. Edritz. Bukan hanya tubuhnya, tetapi hatinya juga terasa lelah saat melihat semua kejadian yang datang secara bersamaan ini.


Kalian harus kembali dengan selamat. Aku akan merasa bersalah, jika sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua ....


.


..


Jangan Lupa baca Permaisuri Modern.


terima kasih.😉