Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 45



S.G.Group.


Suasana ruang kerja Daniel terlihat sangat hening. Daniel meletakkan handphone kembali di atas meja. Ia menatap ke arah Tama yang kini duduk di hadapannya.


Tama sibuk mempersiapkan berkas rapat. Sedangkan Biao, menyambut kedatangan tamu di lantai bawah.


Tama melihat jam yang melingkar di tangannya, “Tuan, sudah waktunya.”


Tanpa banyak kata, Daniel beranjak dari duduknya. Merapikan jas yang kini ia kenakan. Sejenak, Daniel menatap foto Serena yang ada di meja kerjanya.


Aku merindukanmu, sayang.


Daniel berjalan meninggalkan ruang kerjanya menuju ke ruang rapat. Tama mengikuti langkah Daniel dari belakang.


Perasaan ini? kenapa aku sangat mengkhawatirkan, Serena.


Daniel menghentikan langkah kakinya sebelum masuk ke dalam ruang rapat. Jantungnya berdebar dengan cepat. Satu pirasat buruk saat ini mengganggu pikirannya.


“Tuan, apa anda baik-baik saja?” Tama mendekati Daniel, memandang wajah Daniel dengan raut wajah khawatir.


“Aku baik-baik saja. Ayo kita harus segera menyelesaikan rapat ini.” Daniel menghapus semua pirasat buruk yang kini memenuhi pikirannya.


Di dalam ruang rapat, Daniel di sambut beberapa CEO terkenal yang mewakili perusahaan mereka masing-masing. Rapat pagi itu, merupakan rapat yang sangat penting untuk kemajuan S.G.Group. Daniel memaksimalkan kemampuannya agar berhasil menarik perusahaan-perusahaan lain untuk berinvestasi di S.G.Group.


“Selamat siang. Perkenalkan, saya Daniel Edritz Chen.” Daniel berdiri di samping kursi utama.


Penampilannya terlihat sangat rapi dan berwibawa. Sosok CEO muda yang patut dijadikan contoh, dan membuat banyak kalangan menjadi iri.


.


.


Di ruang kerja.


Rapat berjalan dengan lancar. Beberapa investor mengucapkan selamat, atas perkembangan pesat yang kini di alami S.G.Group. Pagi itu, Daniel berhasil membawa para investor untuk bekerja sama dengan S.G.Group.


Namun, Daniel tidak juga merasa tenang. Isi kepalanya selalu saja dipenuhi dengan nama Serena dan Serena.


Sayang, apa kau baik-baik saja? kenapa Aku sangat ingin menemuimu saat ini.


Daniel melamun untuk sejenak. Memandang layar handphone yang tergeletak di atas meja. Tama dan Biao saling memandang sebelum mengganggu lamunan Daniel saat ini.


“Tuan, setelah ini kita ada jadwal makan siang dengan perusahaan lain.” Tama memberanikan diri untuk mengeluarkan kata.


“Apa pengawal yang di kirim Kenzo bisa melindungi Serena?” Daniel menatap wajah Biao dengan serius.


“Pengawal yang di kirim Tuan Kenzo pagi ini adalah pengawal terlatih, Tuan. Saya percaya kalau mereka bisa melindungi Nona Serena saat ini,” jawab Biao penuh percaya diri.


Daniel menarik napas lega, mengambil beberapa berkas yang tertumpuk di atas mejanya. Memeriksa berkas itu dengan seksama. Namun, lagi-lagi Daniel tidak kosentrasi. Ia mengambil handphone yang tergeletak, untuk menghubungi Serena lagi.


Berkali-kali Daniel mencoba untuk menghubungi, namun tidak ada hasil sama sekali. Raut wajah Daniel semangkin khawatir, ia tidak ingin Serena dalam bahaya lagi.


“Bantu aku untuk mencari posisi Serena saat ini!” perintah Daniel pada Tama dan Biao.


Tama mengambil laptop untuk melacak posisi Serena melalui ponsel yang dimiliki, sedangkan Biao menelepon ke rumah utama dan nomor pengawal yang saat ini menjaga Serena.


“Tuan, posisi Nona Serena masih di rumah Diva.” Tama sudah berhasil melacak posisi Serena.


“Pengawal-pengawal itu tidak bisa untuk dihubungi, Tuan. Saya akan mengirim orang untuk menuju lokasi Nona Serena saat ini.” Biao menghubungi bawahannya dengan wajah serius.


Ada masalah apa lagi saat ini. Nona, aku harap anda baik-baik saja.


Tama dan Biao juga memiliki pirasat buruk saat ini.


Suara deringan ponsel membuat Daniel mengerutkan dahinya. Meskipun bukan nama Serena yang muncul, tapi Daniel memiliki sedikit harapan untuk mengetahui keadaan Serena saat ini.


“Kenzo. Kenapa seluruh pengawalmu tidak bisa di hubungi. Apa kau ingin membuatku kena serangan jantung.” Daniel mengungkapkan isi hatinya saat ini.


[Aku ada di lokasi. Di rumah Diva bersama Shabira.] jawab Kenzo dengan nada yang sangat berat.


“Syukurlah. Aku tidak perlu khawatir lagi, kalau Serena bersama kalian.” Daniel menarik napas lega.


[Daniel, apa kau bisa ke sini sekarang?]


“Apa terjadi sesuatu? katakan padaku Kenzo, apa yang terjadi? dimana Serena? Aku ingin bicara dengannya saat ini.” Wajah Daniel berubah panik.


Daniel masih menatap layar handphone. Jantungnya berdebar cepat. Ia menggenggam erat handphone itu, menatapnya dengan tatapan kosong.


“Tuan, apa yang dikatakan Tuan Kenzo?” tanya Tama penuh keraguan.


Daniel beranjak dari duduknya, “Kita ke rumah Diva sekarang!” Daniel berjalan cepat. Tama dan Biao juga beranjak dari duduknya, mengikuti langkah Daniel dari berlakang.


.


.


Di dalam mobil. Daniel hanya diam menatap keluar jendela. Baru aja semalam ia mengalami hal ini karena Serena di serang di mall. Hari ini, lagi-lagi ia harus merasakan hal yang sama.


Bagaimana caranya agar aku bisa melindungimu, Serena. Apa aku harus meletakkanmu di sampingku setiap saat. Sejak kau kembali mengingat semuanya. Aku tidak pernah bisa tenang lagi. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kau dalam bahaya.


Tama dan Biao sesekali melihat keadaan Daniel. Mereka tahu, apa yang saat ini di pikirkan oleh Daniel.


“Tuan. Setelah tiba di rumah Diva, Tama akan kembali ke S.G. Group. Harus ada orang yang mengatur semua pertemuan kita hari ini. Biar saya yang menjaga anda, Tuan.”


Tama mengangguk setuju, “Aku rasa itu ide yang bagus, Tuan.”


Daniel tidak memandang ke depan, tatapan matanya terlihat kosong. Daniel diam sambil melamun. Ia tidak lagi mendengar perkataan Tama dan Biao saat ini.


“Tuan.” Tama memanggil Daniel untuk memecahkan lamunanya.


“Ada apa?” tanya Daniel bingung.


“Sebaiknya nanti, setelah bertemu dengan Nona Serena, anda istirahat di rumah. Biar semua pertemuan hari ini saya yang selesaikan, Tuan,” ucap Tama dengan nada pelan.


“Lakukan apa yang menurut kalian baik. Aku harap kalian bisa membantuku mengatasi semua masalah yang ada di S.G.Group.”


“Baik, Tuan,” ucap Biao dan Tama bersamaan.


Tama melajukan mobil dengan cepat. Menembus cuaca yang panas karena terik matahari. Memasuki gang sempit secara perlahan. Daniel memperhatikan lingkungan yang kini ia lalui.


“Di mana ini?” Daniel mengerutkan dahi.


“Ini jalan menuju rumah Diva, Tuan,” jawab Biao pelan.


“Kenapa kalian tidak bilang sejak dulu. Kalau Diva tinggal di tempat seperti ini!” Nada bicara Daniel mulai tinggi.


“Maafkan saya, Tuan.” Biao menunduk bersalah.


“Serena sudah sering ke sini. Kalian membiarkan Serena mengunjungi tempat seperti ini!” Teriakan Daniel memenuhi isi mobil.


Tama dan Biao tidak lagi berani menjawab. Semua pembelaan yang mereka katakan saat ini, tidak akan bisa mengubah keadaan. Mereka lebih memilih diam dan menerima hukuman yang akan diberikan oleh Daniel nantinya.


Daniel mengepal kuat tangannya. Ini pertama kalinya ia mengunjungi tempat terpencil yang jauh dari kata mewah. Sejak kecil, hidupnya selalu bergelimang harta. Untuk menjaga keselamatan Daniel, Ny. Edritz tidak pernah membiarkan Daniel bergaul dengan sembarang orang.


Melihat lokasi rumah Diva yang kumuh dan terpencil, membuat hati Daniel terluka. Saat wanita yang ia cintai dan sayangi, harus mengunjungi tempat seperti itu beberapa kali.


Tama dan Biao terbelalak kaget saat mobil sudah berada di halaman rumah Diva. Mereka melihat Shabira yang terus menangis di pelukan Kenzo. Jantung Biao dan Tama terus berdebar cepat. Bahkan untuk mengeluarkan satu kata, bibir mereka tidak lagi bisa.


Daniel hanya diam memperhatikan sekeliling rumah itu. Sejak awal ia tidak tahu, bagaimana rumah Diva. Daniel turun dengan cepat dari mobil, mendekati posisi Kenzo dan Shabira saat ini. Tama dan Biao turun dengan cepat, mengikuti Daniel dari belakang.


“Kenzo, dimana Serena. Tempat apa ini? kenapa terlihat seperti tempat pembakaran.”


Daniel memperhatikan keadaan sekitar. Mobil yang sudah menghitam, puing-puing rumah yang hancur. Tempat itu terlihat seperti habis kebakaran, hanya saja tidak lagi menyisakan api.


Kenzo menutup mata dan memperkuat pelukannya terhadap Shabira. Ia juga tidak memiliki keberanian untuk mengatakan keadaan Serena saat ini. Shabira menangis terisak-isak.


“Kenzo. Sekali lagi aku tanya, Dimana Serena!” Tatapan mata Daniel sudah tidak terbaca lagi. Debaran jantungnya tidak lagi normal. Daniel mulai merasakan hal yang mencurigakan saat ini.


“Serena ….”


.


.


Siapa yang suka nyumpahi Serena celaka? celaka beneran diakan...🤣🤣


Ok, voteny sedikit lagi 20k. setelah komplit 20k, Author langsung crazy up. 😍