
Beberapa saat kemudian. Mobil yang ditumpangi Daniel dan yang lainnya tiba di lokasi. Biao dan pengawal S.G. Group terlihat menyambut kedatangan Serena dan yang lainnya. Serena turun dari mobil bersamaan dengan Daniel. Wanita itu menatap gedung hotel yang menjulang tinggi. Ada senyum kecil di sudut bibir Serena saat wanita tangguh itu bertatapan langsung dengan Shabira.
“Tuan, kami sudah mengepung hotel ini. Pria itu tidak akan mungkin bisa lari.” Biao menundukkan tubuhnya sambil menjelaskan rencananya selanjutnya.
“Dia pasti sudah bersiap-siap untuk kabur,” jawab Serena cepat.
“Pasti sekarang ada di atap,” sambung Shabira sambil menatap ketinggian gedung itu.
Kenzo dan Daniel saling menatap satu sama lain. Sepertinya, kehadiran mereka saat ini tidak terlalu dibutuhkan oleh sang istri. Mengingat istri mereka adalah wanita yang cukup berpengalaman dalam hal ini.
“Shabira, aku mau kau melindungi Sharin. Kalian harus tiba di ruangan itu untuk mengaktifkan kembali jaringan yang terputus.” Serena mulai mengatur strateginya.
“Biao, kalian harus menghadapi orang-orang yang akan menghalangi kita. Dan ....” Serena menatap wajah suaminya dengan senyuman, “Kau Tuan muda. Tetap ada di sampingku.”
Daniel tertawa kecil, “Hmm, baiklah. Ayo kita mulai.” Daniel menarik pinggang Serena ke dalam pelukan, “Beri aku ciuman untuk membuatku jauh lebih semangat.”Daniel mengecup bibir Serena. Pria itu tidak terlalu peduli dengan posisinya berada saat ini.
Shabira dan yang lainnya lebih memilih untuk pergi meninggalkan sepasang suami istri itu. Mereka tidak ingin matanya ternodai karena ulah Daniel dan Serena siang itu.
Sharin mengukir senyuman saat melihat atasannya itu berciuman. Tama menutup mata Sharin dengan telapak tangannya sebelum menyeretnya untuk pergi, “Kau tidak boleh melihatnya.”
Gedung hotel itu dipenuhi pengunjung. Ada banyak anak-anak yang berlari ke sana ke mari. Shabira tersenyum melihat anak-anak berwajah polos itu. Wanita tangguh itu sudah tidak sabar untuk mengandung dan memiliki anak selucu anak-anak yang ia lihat siang itu.
“Sayang,” ucap Kenzo yang seolah mengerti arti mata berkaca-kaca istrinya, “Kita akan segera memiliki anak. Kau tidak boleh bersedih lagi.” Kenzo mendaratkan satu ciuman di pucuk kepala istrinya. Satu tangannya mengusap lembut punggung istrinya sambil memejamkan mata beberapa detik.
Pertarungan mereka terjadi di hotel. Hal itu membuat aksi mereka harus ekstra hati-hati. Mereka tidak ingin menimbulkan korban dari nyawa yang tidak bersalah. Apa lagi anak-anak kecil itu. Mereka tidak tahu apa-apa. Shabira tidak ingin anak-anak itu merasakan sakit saat tertembak.
“Kita harus mengepungnya. Ia tidak boleh lari menuju kerumunan orang yang ada di sini,” ucap Shabira pelan.
Kenzo mengangguk pelan, sebelum melanjutkan langkah kakinya. Di belakang Shabira masih ada Tama dan Sharin yang berjalan layaknya tamu hotel. Semua sudah dipersiapkan Biao sejak awal. Bahkan pemilik hotel itu juga sudah bersedia jika gedung hotel miliknya di jadikan arena pertarungan.
Pintu lift terbuka. Mereka berempat masuk ke dalam lift yang kosong. Satu nomor di tekan oleh Tama. Pria itu sudah memegang nomor kamar tempat musuh mereka menyembunyikan perangkat komputer itu.
“Sharin. kau jangan takut nanti. Apa lagi gugup. Karena rencana kami hari ini juga akan berhasil jika semua pekerjaan yang kau terima berjalan dengan lancar.” Shabira melipat kedua tangannya. Menatap wajah Sharin dengan seksama.
“Baik, Nona,” jawab Sharin ragu-ragu. Ia sendiri juga tidak yakin dengan kemampuannya saat ini. Kali ini misi yang harus ia selesaikan memang benar-benar tergolong sulit.
“Kau pasti bisa, Sharin,” bisik Tama. Pria itu mengukir senyuman manis miliknya. Satu tangannya mengacak-ngacak rambut Sharin. Ia percaya kalau keponakannya bisa membantu Daniel saat ini.
Pintu lift terbuka. Baru saja pintu itu terbuka lebar. Beberapa pria sudah menodongkan senjata untuk menghalangi mereka keluar dari dalam lift. Kenzo dan Shabira dengan cepat menodongkan senjata dan mengeluarkan peluru berulang kali. Tama menarik tubuh Sharin agar wanita itu tidak kena peluru yang kini melayang ke arah mereka berada.
“Kenzo maju beberapa langkah untuk menahan pintu lift itu agar tidak tertutup. Dari belakang, Shabira terus saja mengeluarkan pelurunya dengan tembakan-tembakan yang tepat sasaran.
“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Kenzo saat melihat musuh-musuh mereka telah berbaring tanpa nyawa.
“Aku baik-baik saja,” jawab Shabira cepat. Wanita itu segera keluar dari dalam lift. Tama dan Sharin juga mengikuti langkahnya dari belakang.
Sharin cukup syok dengan pemandangan yang baru saja ia lihat. Tidak pernah terbayangkan di dalam pikirannya kalau adegan film action yang selama ini ia tonton. Kini bisa ia lihat secara langsung. Bahkan darah dan korban yang ada juga asli tanpa rekayasa.
“Ayo,” ucap Tama sambil menarik tangan Sharin untuk meninggalkan lift itu.
Di sisi lain. Serena dan Daniel berjalan dengan santai menuju ke atap gedung. Serena tahu kalau kini Marcus pasti telah bersembunyi di suatu tempat untuk melindungi nyawanya. Walau jaringan mati. Tetapi, Marcus tetap bisa melihat kehadiran mereka melalui CCTV hotel.
“Sayang, apa kau yakin dia ada di lantai atas ini?” Daniel cukup tidak yakin dengan tempat yang kini mereka tuju.
“Dia akan lari untuk menyelamatkan nyawanya. Tetapi, semua alat yang ia miliki pasti tidak sempat ia bawa. Marcus pasti membawa laptop dan bersembunyi di satu tempat yang aman untuk menyerang kita.” Serena mengokang senjata apinya. Wanita itu sudah tahu kalau tidak lama lagi, musuh mereka akan muncul.
Daniel juga sudah bersiap-siap untuk menembak. Pria itu menatap waspada ke arah depan dan belakang posisinya berada. Atap itu terlihat sunyi. Hanya ada angin yang berhembus dengan begitu kencang.
Hingga beberapa detik kemudian.
Dari balik kotak dan sudut ruangan. Muncul peluru yang mengarah langsung ke arah sepasang suami istri itu. Dengan gerakan cepat, Daniel mendorong Serena agar terhindar dari tembakan itu. Serena juga tidak tinggal diam. Wanita itu mengeluarkan lima peluru sekaligus untuk memusnahkan lawannya. Dari kejauhan, Biao dan pasukan S.G. Group juga telah tiba.
Kini, pasukan milik Marcus telah keluar dari persembunyiannya. Mereka memegang senjata api untuk menggertak Serena dan yang lainnya.
“Sebelum kami menghabisi nyawa kalian. Sebaiknya kalian pergi tinggalkan tempat ini,” Salah satu pria angkat bicara. Pria itu seperti pemimpin rombongan yang kini menghadang langkah Serena.
“Daniel, sepertinya Marcus ada di ruangan itu.” Serena berbisik sambil menatap tajam pintu yang ada di atap itu. Ia cukup curiga dengan pintu itu. Posisi lawan mereka terlihat menghalangi agar tidak ada yang berhasil masuk ke dalam ruangan itu.
“Kita akan segera menemuinya,” jawab Daniel sambil memperhatikan Biao. Pria itu memberi perintah kepada Biao untuk menyerang detik itu juga.
Biao maju dengan beberapa pengawal S.G.Group. Tidak lagi peduli dengan tembakan yang dikeluarkan oleh pihak musuh. Pria-pria berbadan tegap itu terlihat antusias untuk memberi pelajaran kepada musuh Daniel siang itu.
“Serena awas!” teriak Daniel.