
Suasana romantis itupun berakhir saat bunga api berdurasi satu jam itu berakhir. Daniel membawa Serena kembali menuju ke hotel. Tidak lagi menggunakan sepeda motor. Ada Biao yang mengemudikan mobil mewah berwarna hitam itu malam ini. Sejak keluar dari restoran, Serena merasakan ngantuk yang luar biasa. Kini wanita hamil itu telah tertidur lelap di bahu sang suami. Kedua tangannya melingkari lengan Daniel dengan senyuman manis.
Daniel berulang kali mengecup pucuk kepala istrinya yang hanya berjarak beberapa centi dari bibir merahnya. Rasa sayang di dalam hatinya setiap saat semakin bertambah besar kepada Serena.
Tama dan Biao sesekali saling bertatap muka sebelum menatap jalan lurus di depan. Malam memang cukup dingin hari ini. Beberapa hari lagi salju akan segera turun. Musim dingin kali ini adalah musim dingin pertama Daniel bersama dengan Serena. Musim dingin tahun lalu, Ceo makanan ringan itu masih sendiri. Tidak ada rasa cinta atau sayang seperti yang hari ini ia rasakan di dalam hatinya.
“Tuan, saya mau mengatakan sesuatu. Semoga anda tidak marah dengan perkataan saya saat ini,” ucap Tama tiba-tiba yang membuat Daniel dan Biao terlihat bingung.
“Ada apa? katakan saja.” Daniel masih sibuk mengusap lembut rambut istrinya.
“Di perusahaan, anda tidak pernah mau memberi ijin kepada anak sekolah untuk magang. Tetapi, hari ini. Keluarga saya meminta saya untuk memasukkan keponakan saya ke dalam S.G.Group sebagai mahasiswi magang. Saya akan menjelaskan kepada keluarga saya, jika anda keberatan, Tuan.” Tama terlihat bingung saat itu. Sisi lain ada keluarganya dan di sisi lainnya ada Daniel yang sangat ia hormati.
“Silahkan. Jika itu tidak merugikan S.G.Group. Aku tidak akan melarangnya. Aku ingin menemuinya besok pagi.” Daniel mengukir senyuman ramah.
“Terima kasih, Tuan. Keponakan saya merupakan wanita yang cukup cerdas, Tuan. Saya yakin, dia tidak akan memberi kerugian kepada S.G.Group nantinya. Bakat yang Ia miliki bahkan mampu bersaing dengan ilmu saya.” Sambung Tama dengan wajah bersemangat.
“Ya, Aku percaya dengan perkataanmu Tama.” Daniel mengukir senyuman.
Tama juga terlihat bahagia saat mendengar perkataan Daniel malam itu. Sedangkan Biao, hanya diam membisu dengan tatapan fokus ke jalan depan. Belum pernah Tama meminta apapun dari Daniel selama ini. Wajar saja kalau Daniel tidak menolak permintaan Tama malam ini. Walaupun ia sendiri tidak tahu, keputusan yang ia ambil sudah tepat atau belum.
***
Mentari pagi kembali muncul menyinari kota Sapporo. Serena dan Daniel bangun secara bersamaan saat cahaya di luar jendela sudah cukup terang. Tubuh polos sepasang suami istri itu hanya tertutup selembar selimut. Tadi malam, saat Serena terbangun Daniel tidak lagi mau menunda malam bahagianya. Pria itu terus saja meyerang istrinya dengan penuh semangat.
Serena mengucek kedua bola matanya saat tangan kekar Daniel kini melingkarinya. Tubuhnya terasa berat dan cukup lelah pagi itu. Perlahan, Serena mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah suaminya. Kepalanya saat ini berada di dada bidang Daniel dengan posisi sempurna. Bibir Serena tersenyum manis saat melihat Daniel sudah membuka mata dan mengusap lembut punggungnya.
“Selamat pagi sayang,” ucap Daniel. Pria itu tidak lupa untuk memberi hadiah morning kiss kepada Serena. Seperti tidak ada cukupnya, melihat tubuh polos istrinya di bawah selimut membuat Daniel kembali bergairah. Tanpa meminta persetujuan dari pemilik tubuh, Daniel kembali menyerang Serena pagi itu. Baginya hari ini seperti sebuah bayaran atas kesabaran saat Serena mual dan tidak bisa disentuh selama ini.
“Daniel ….” ucap Serena pelan saat tubuh Daniel sudah ada di atas tubuhnya.
“Apa kau tidak bekerja?” Serena memandang jam yang sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Satu tangannya menahan dada Daniel.
“Aku bosnya, tidak akan ada masalah di S.G.Group saat aku datang terlambat,” jawab Daniel dengan wajah angkuhnya.
“Ya, kau benar. Kau pemimpinnya. Perusahaan itu milikmu.” Serena menyingkirkan tangan yang sempat menahan tubuh suaminya itu. Kedua tangannya Ia letakkan di leher jenjang milik Daniel dengan satu senyuman indah.
“Aku mencintaimu,” ucap Serena dengan wajah manja.
“Aku juga mencintaimu, Serena,” jawab Daniel dengan senyuman sebelum mengecup lembut bibir merah Serena dengan begitu bergairah. Bibir Serena memang selalu membuatnya menjadi kecanduan. Setiap kali ia sudah berhasil menyentuhnya, maka Daniel ingin lagi dan lagi untuk menikmati bibir merah itu.
Daniel menghujani tubuh polos Serena dengan kecupan. Meninggalkan jejak kepemilikan di tempat yang berbeda dari tadi malam. Gerakannya tetap ia perlembut agar tidak mengganggu kenyaman buah hati yang kini di kandung oleh Serena. Walaupun kini perasaan di dalam tubuhnya seperti meledak-ledak dan sulit untuk dikendalikan.
Serena memejamkan mata untuk menikmati sentuhan-sentuhan yang diberikan suaminya. Wanita itu terlihat bahagia karena bisa memberi kepuasan pagi ini kepada suaminya. Hanya itu yang bisa membuat Daniel jauh lebih bahagia. Bahkan jika di bandingkan hadiah mahal yang bernilai fantastis sekaligus.
“Sayang, Aku duluan.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena saat istrinya masih sibuk berendam di dalam bak mandi. Serena memejamkan matanya untuk melepaskan rasa lelahnya saat itu. Olahraga paginya bersama dengan Daniel memang cukup menguras energi paginya saat itu. Di bawah busa yang menutupi bak mandi, Serena terlihat asyik dengan mandi paginya. Wanita itu menghirup aroma terapi dengan penuh pengahayatan. Matanyapun mulai terasa berat. Secara perlahan, Serena memejamkan matanya dan larut dalam tidurnya.
“Sayang ….” Entah sejak kapan Daniel berada di dalam kamar mandi itu. Tiba-tiba saja tangan Daniel sudah menyentuh pucuk kepalanya.
“Jangan tidur di dalam bak mandi. Itu berbahaya,” sambung Daniel dengan wajah khawatir. Pria itu berjongkok di samping bak mandi dengan setelan kantor yang sudah rapi.
Serena mengukir senyuman saat menatap wajah suaminya, “Aku akan menyelesaikan mandiku.” Wanita itu beranjak dari bak mandinya dan berjalan santai ke arah shower.
“Sayang, maafkan Aku. Tapi, ada rapat penting pagi ini. Aku harus segera berangkat ke kantor. Aku sudah menyiapkan pengawal untuk menjagamu hingga tiba di rumah. Sarapan juga sudah aku pesan di meja.” Daniel menatap tubuh seksi istrinya dengan debaran jantung yang cukup cepat. Ingin sekali ia memeluk tubuh Serena dari belakang saat itu.
“Iya, jangan khawatirkan aku.” Serena mengusap lembut rambutnya yang baru saja di beri sampo.
“Berikan Aku satu ciuman,” Daniel menunjuk pipi kanannya.
Serena menggeleng pelan sebelum mengecup pipi suaminya. Posisinya dengan begitu hati-hati. Wanita itu tidak ingin membuat pakaian suaminya basah terkena air.
“Aku pergi dulu sayang. Jangan lupa kenakan alat itu,” ucap Daniel sambil berlalu pergi meninggalkan kamar mandi itu.
Serena hanya bisa menggeleng kepalanya sambil tersenyum kecil, ”Tadi katanya dia pemilik perusahaan itu dan tidak akan ada yang menganggunya. Kenapa sekarang dia terlihat khawatir seperti itu,” umpat Serena sambil terus melanjutkan mandi paginya.
Daniel keluar dari kamat hotel itu dengan wajah berseri. Di depan kamar, sudah ada Tama dan Biao yang telah menunggu. Beberapa pengawal juga berbaris rapi di belakang Tama dan Biao.
“Selamat Pagi, Tuan,” ucap Tama dan Biao secara bersamaan.
“Pagi. Pastikan pengawal yang menjaga Serena bisa dihandalkan.” Daniel menatap satu persatu wajah pengawal miliknya.
“Kami sudah menyiapkan pengawal yang terlatih, Tuan.” Biao memandang wajah Daniel dengan wajah yang cukup percaya diri.
Daniel mengangguk pelan, “Ayo kita berangkat.” Daniel berjalan lebih dulu menuju ke arah lift.
“Tuan,” ucap Tama pelan.
Daniel memandang wajah Tama yang masih berdiri mematung di posisinya, “Ada apa?”
“Saya permisi untuk menjemput keponakan saya, Tuan. Dia baru saja tiba di bandara.” Tama membungkukan kepalanya. Tidakpernah ia absen saat ada rapat penting. Tapi, keponakannya yang baru tiba saat ini akan kesasar jika ia tidak turun tangan langsung.
“Pergilah,” jawab Daniel dengan wajah santai. Pria itu melanjutkan langkah kakinya, diikuti Biao di belakangnya.
“Terima kasih, Tuan.”