
Beberapa bulan kemudian.
Malam kembali tiba. Daniel masih sibuk di ruang kerjanya. Beberapa rapat penting harus ia hadiri besok pagi. Di depan meja. Tama dan Biao juga terlihat sibuk dengan tumpukan berkas yang ada di hadapan mereka. Wajah ketiga pria itu terlihat sangat fokus. Hari ini Daniel sudah meminta ijin kepada Serena agar wanita itu bersabar untuk menunggunya di kamar.
Tiba-tiba suara pintu terbuka dengan cepat hingga menimbulkan satu suara gebrakan. Pak Han berdiri di ambang pintu dengan wajah di penuhi keringat dan ekspresi sangat panik. Daniel dan yang lainnya memandang kedatangan Pak Han dengan wajah bingung. Tidak biasanya pria itu masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu.
“Nona, Tuan. Nona Serena mau melahirkan,” ucap Pak Han cepat walaupun Daniel belum mengeluarkan pertanyaan.
“Apa?” Daniel segera beranjak dari kursi yang ia duduki. Pria itu tidak ingin banyak tanya lagi. Langkahnya ia percepat agar bisa segera menolong istrinya saat ini. Sama halnya dengan Biao dan Tama. Kedua tangan kanan Daniel itu juga berlari mengikuti langkah kaki Daniel dari belakang. Wajah dua pria itu terlihat panik seperti Pak Han.
Daniel mendorong pintu kamar dengan wajah takut. Di dalam kamar, sudah ada Ny. Edritz yang menemai Serena di kamar itu. Wanita paruh baya itu menggenggam tangan menantunya untuk memberi kekuatan.
“Daniel,” ucap Serena sambil memegang perutnya yang kini terasa sangat sakit.
“Sayang,” ucap Daniel sambil berlari untuk mendekati tempat tidur yang di tiduri Serena.
“Daniel, kita harus segera membawa Serena ke rumah sakit.” Ny. Edritz beranjak dari tempat tidur itu.
“Sayang, ayo kita ke rumah sakit.” Tanpa banyak kata lagi, Daniel mengangkat tubuh Serena ke dalam gendongannya. Lelaki itu berjalan cepat namun tetap hati-hati.
Di bawah, mobil sudah siap siaga untuk membawa Serena ke rumah sakit. Tuan Edritz yang juga baru tahu kabar Serena mau melahirkan juga ikut ke rumah sakit bersama dengan Ny. Edritz. Suasana rumah utama Edritz Chen malam itu diselimuti dengan kehebohan. Momen Serena melahirkan memang momen yang salama ini di nanti oleh seisi rumah mewah itu.
Biao yang menjadi supir mobil yang akan membawa Serena dan Daniel ke rumah sakit malam itu. Sedangkan Tama, mengambil alih kemudi yang di huni oleh Tuan dan Ny. Edritz. Dua mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke rumah sakit milik Adit.
“Daniel, sakit,” rintih Serena sambil mencengkram kuat lengan Daniel. Cairan beningpun keluar membasahi jok mobil yang kini di duduki oleh Serena. Wanita itu mengeryitkan dahi saat merasa basah di bagian bawahnya.
“Daniel, apa ini,” tanya Serena di sela-sela sakitnya.
Daniel mengeryitkan dahi dengan wajah sangat-sangat bingung. Pria itu juga mengumpat di dalam hati. Seharusnya Ny. Edritz yang ada di dalam mobil yang ia tumpangi agar mereka tidak sepanik ini.
“Sayang, sabar ya. Kita akan segera tiba di rumah sakit,” ucap Daniel sambil mengusap lembut perut Serena, “Sayang, jangan buat Mama kesakitan seperti ini. Papa akan mencubit pipimu jika kau sudah lahir nanti.”
Serena memukul pundak Daniel sambil menahan tawa, “Daniel, kau jangan mengancam anakku lagi. Mereka tidak mau keluar jika kau terus-terusan menakut-nakutinya.”
Daniel mengukir senyuman sebelum mengecup perut Serena. Pria itu kembali pada posisi duduknya yang semula sambil memandang ke arah Biao.
“Biao, bisakah kau lebih cepat sedikit. Bahkan pejalan kaki saja bisa mendahului mobil kita saat ini,” protes Daniel dengan tangan yang masih menggenggam tangan Serena.
“Ini sudah sangat cepat, Tuan.” Entah kenapa, malam itu bibir Biao ingin mengeluarkan kata-kata protes kepada Daniel.
“Kau!” ucapan Daniel tertahan saat Serena menarik pundaknya.
“Apa kau bisa diam, Daniel!” teriak Serena tidak suka.
“Maafkan aku, Sayang.” Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Pria itu mengusap lembut rambut istrinya.
Biao menatap kedua majikannya melalui spion. Sesungguhnya malam itu ia juga merasa sangat panik saat melihat Serena yang mau lahiran. Bahkan rasa panik Biao tidak kalah besar dengan Daniel. Di tambah lagi ia harus tetap kosentrasi melajukan mobil dalam kecepatan tinggi itu agar tetap terhindar dari bahaya.
Beberapa saat kemudian.
Serena segera di larikan ke ruangan bersalin. Daniel dan yang lainnya kini menunggu di depan ruangan bercat biru muda itu. Sejak pertama kali Serena masuk ke dalam, Daniel tidak lagi bisa duduk dengan tenang. Pria itu berjalan ke sana ke mari dengan perasaan campur aduk. Tama dan Biao berdiri tidak jauh dari posisi Tuan dan Ny. Edritz yang kini duduk. Dari kejauhan, terlihat Shabira dan Kenzo yang baru saja tiba. Sepasang suami istri itu berlari kecil agar bisa segera mengetahui keadaan yang sedang terjadi.
Seorang suster keluar dari dalam ruangan tempat Serena berada. Suster itu menatap wajah Daniel dengan tatapan serius, “Tuan, apa anda yang bernama Daniel?”
“Silahkan masuk bersama saya. Nona Serena tidak mau melahirkan jika anda tidak ada di sampingnya.” Suster itu memutar tubuhnya untuk masuk kembali ke dalam ruangan bersalin. Daniel mengikuti suster itu dari belakang. Memakai pakaian berwarna biru sebelum masuk ke dalam ruangan tempat Serena berada.
“Sayang,” ucap Daniel saat pertama kali melihat wajah istrinya. Wanita yang biasa ia lihat ceria itu kini sudah berwajah pucat menahan sakit. Beberapa suster dan Dokter wanita sudah siap siaga untuk membantu proses lahiran Serena.
“Daniel, ini sangat sakit. Bahkan lebih sakit daripada terkena tembakan,” teriak Serena hingga suaranya memenuhi isi ruangan itu. Dokter dan suster yang mendengar kata-kata Serena hanya bisa melirik bingung.
Daniel tidak lagi tahu harus berkata apa malam itu. Tangannya memegang kuat tangan Serena sebelum mengecupnya berulang kali. Hatinya benar-benar tidak tega saat melihat istrinya kesakitan seperti ini. Bahkan pria itu menundukkan kepalanya dengan beberapa tetes air mata yang telah jatuh.
Serena memandang wajah Daniel dengan tatapan haru. Bahkan dirinya sendiri yang kini mau melahirkan tidak mau menjatuhkan air mata. Namun, Daniel yang hanya melihat dirinya kesakitan kini terlihat sangat menyedihkan.
“Aku akan baik-baik saja,” ucap Serena pelan di sela-sela sakitnya. Walaupun kini ia juga tidak tahu, sakit jenis apa yang kini ia rasakan. Tulang-tulangnya terasa seperti di cabut dari tempatnya melekat. Perut bagian dalamnya seakan di remas dengan begitu kuat.
“Aku tidak akan membiarkanmu melahirkan lagi. Ini anak pertama dan terakhir kita,” ucap Daniel sambil mengusap lembut rambut Serena.
Serena tidak lagi bisa menjawab pertanyaan Daniel. Wanita itu mulai mengikuti petunjuk yang di berikan Dokter yang di bawah kakinya. Sambil menatap langit-langit ruangan itu, Serena mulai menarik napas. Memberi tekanan kepada perutnya agar anak yang ada di dalam perutnya segera keluar untuk melihat wajahnya.
Serena tidak pernah menyangka, kalau melahirkan sungguh sangat menyakitkan daripada luka apapun. Berulang kali wanita itu mengalami luka tembakan, tusukan belatih. Bahkan kecelakaan yang sangat berbahaya. Tetapi, rasa sakit yang paling berkesan selama hidupnya adalah rasa sakit yang hari ini ia rasakan.
“Dokter, aku akan membayar berapapun yang kau minta. Tapi buat istriku tidak sesakit ini!” protes Daniel dengan wajah angkuhnya.
Dokter itu hanya bisa menggeleng kepala tanpa mau menjawab. Rasa sakit saat melahirkan memang rasa sakit yang wajib di rasakan setiap wanita yang memilih lahiran normal. Tidak akan ada obat apapun yang bisa mengobati rasa sakit itu.
Serena menarik kemeja Daniel saat wanita itu merasakan sesuatu yang mengganjal dan ingin segera keluar. Ia terus memberi tekanan kepada perutnya di bagian bawah, agar sesuatu yang mengganjal itu segera keluar.
Terdengar suara bayi yang memecahkan keheningan ruangan itu. Seorang suster segera membungkus tubuh anak pertama Serena dan Daniel dengan kain.
“Sekali lagi, Nona. Anda harus mengeluarkan anak kedua anda.” Dokter itu kembali memberi arahan kepada Serena agar melahirkan anak keduanya. Di sisa tenaganya yang terakhir, Serena lagi-lagi harus berjuang untuk memberi jalan keluar kepada anak keduanya. Rasa sakitnya tidak terlalu, karena anak pertamanya baru saja keluar dan sudah membuka jalan.
Suara tangisan bayi kembali terdengar. Serena mengukir senyuman di sela-sela napasnya yang terputus-putus.
“Selamat, Tuan. Anak pertama anda laki-laki.” Seorang suster yang sudah selesai membungkus anak pertama Serena membawa bayi itu untuk mendekati Daniel dan Serena.
“Kau yang menang, Sayang,” ucap Daniel sambil mengecup pucuk kepala Serena. Pria itu sangat tahu, kalau istrinya sangat ingin anak laki-laki.
“Selamat, Tuan. Anak kedua anda perempuan,” ucap Suster yang lainnya.
Daniel dan Serena saling memandang satu sama lain. Mereka tidak menyangka kalau di beri kesempatan untuk memiliki putra dan putri sekaligus.
“Daniel,” ucap Serena dengan tetesan air mata haru.
“Sayang, anak kita.” Daniel sudah kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan rasa bahagia yang kini memenuhi hatinya. Pria itu memandang wajah kedua buah hatinya yang kini ada di atas dada istrinya.
“Mulai sekarang sudah ada yang memanggilku Papa,” ucap Daniel sambil mengukir senyum bahagia.
Thor, jadi cerita Biao sama Sharin gimana?
Entar di bahas di novel baru milik Biao. Judulnya Biao’s Lovers. Mengingat karakter yg dimiliki Biao sama Sharin. GK semudah itu kan mereka menyatu?
Belum rilis… Entar kalau uda rilis di kabari.