Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Bab. 48



Rumah Utama Edritz Chen, Sore hari.


Daniel dan Serena duduk di ruang utama. Ada Kenzo dan Shabira juga di rumah itu. Untuk masalah di rumah sakit. Sudah ada pasukan milik Kenzo yang bisa di percaya untuk menjaga Tuan dan Ny. Edritz agar tetap aman. Mereka berempat terlihat berpikir sambil memandang beberapa lembar foto dan berkas yang tergeletak di atas meja. Anak buah Kenzo sudah berhasil mengetahui tempat persembunyian Heels Devils di kota Sapporo. Kini hanya tinggal menyusun strategi penyerangan saja yang harus mereka lakukan.


Serena terlihat berpikir keras sore itu. Bukan hanya memikirkan strategi yang harus mereka lakukan. Tapi, wanita tangguh itu juga memikirkan penyebab Heels Devils datang jauh-jauh ke kota Sapporo. Dendam apa yang telah ia buat hingga membuat pemimpin Mafia itu murkah dan ingin menyerangnya.


Serena dan yang lainnya tidak pernah tahu. Kalau semua masalah ini bersumber dari seorang wanita yang cukup spesial bagi Zeroun. Belum ada yang tahu tentang putri kerajaan itu hingga detik ini. Semua orang terdekat Zeroun masih menyimpan sejuta pertanyaan dalam hati atas penyebab semua masalah ini.


“Kak, Kak Zeroun sekarang jadi buronan di Inggris. Kapal pesiar Kak Zeroun di ledakkan oleh Heels Devil.” Shabira menopang kepalanya dengan tangan, “Sekarang Kak Zeroun juga masih ada di Inggris. Dia akan berangkat ke Brasil untuk menyerang Heels Devils.”


“Untuk apa Jesica melakukan ini semua?” tanya Serena sambil mengeryitkan dahi.


“Jesica pembunuh bayaran. Sudah bisa di pastikan seseorang membayarnya untuk membunuh Zeroun. Karena tidak bisa mengalahkan Zeroun dengan mudah. Dia mencoba melukai orang terdekat Zeroun agar bisa menguasai kelemahan Zeroun,” ucap Kenzo menerka-nerka sebelum mengambil sebuah foto yang tergeletak di atas meja, “Apa pria ini target kita nanti malam?”


“Ya. Kemampuannya tidak terlalu hebat. Tapi dia sangat ahli memanipulasi keadaan untuk kabur menyelamatkan diri. Aku tidak ingin mereka kabur dengan selamat malam ini.” Serena memutar-mutar pistol yang ada di genggaman tangannya.


“Kak, bagaimana dengan si kembar?” tanya Shabira dengan wajah serius. Saat ini dua bayi kembar itu juga tidak bisa di anggap sepele. Kapanpun itu musuh bisa saja datang untuk menculik dua bayi mungil itu.


“Tentu saja itu tugasmu, Shabira. Kau tidak perlu ikut bertarung nanti malam. Usia kehamilanmu masih sangat muda. Kakak gak mau terjadi sesuatu kepada anak yang ada di dalam perutmu itu. Maka dari itu, kau tetap berada di rumah ini sambil meindungi si kembar.” Serena menatap wajah Kenzo dengan tatapan penuh tanya, “Apa kau setuju dengan ide yang aku berikan, Kenzo?”


Kenzo mengangguk pelan, “Itu ide yang bagus, Serena. Aku juga tidak ingin mengambil resiko hingga sebesar itu.”


“Aku akan menjaga si kembar dengan sangat baik, Kak. Kakak percayakan semuanya padaku.” Shabira mengukir senyuman penuh semangat.


“Sepertinya kita harus istirahat dulu. Kita akan menyerang mereka dari segala arah nanti malam. Jangan memberi cela sedikitpun untuk mereka kabur.”


Daniel dan Kenzo mengangguk bersamaan, “Akan di usahakan.”


***


Malam hari.


Daniel, Kenzo dan Serena masih di dalam perjalanan menuju ke markas Heels Devils. Daniel melajukan mobil sport biru itu dengan kecepatan tinggi. Beberapa pasukan milik Kenzo dan S.G. Group juga sudah dalam perjalanan menuju ke lokasi yang sama. Malam itu langit terlihat kurang bersahabat. Ada rintik hujan yang menghalangi pandangan ke depan. Udara yang berhembus juga terasa sangat dingin.


Daniel mengukir senyuman saat melihat penampilan Serena malam itu. Celana pendek dan jaket hitam serta beberapa pistol dan belati sudah memenuhi tubuhnya. Tidak cukup di situ. Bahkan wanita tangguh itu mengucir rambutnya sedikit tinggi ke atas. Dengan melihat penampilan Serena saat ini, Daniel bisa membayangkan bagaimana penampilan Serena dulunya. Serena memang terlihat berbeda saat ia sedang menjalankan misi. Canda tawa yang di buat Daniel juga terasa hambar.


“Sayang, aku tidak tahu harus mengatakan apa malam ini. Tapi, apapun yang kau lakukan nanti. Ingat aku dan kedua anak kita. Kau harus tetap bertahan. Jangan sampai terluka. Aku mungkin bukan pria tangguh yang bisa melindungimu dari musuhmu hari ini. Tapi, satu hal yang harus kau tahu Serena. Aku adalah orang yang paling sedih di dunia ini jika melihatmu terluka. Aku orang yang paling tidak rela melihatmu bersedih. Apa kau mengerti maksudku Serena?” Daniel kembali memfokuskan pandangannya ke arah jalan depan.


“Aku akan baik-baik saja. AKu tidak akan terluka kali ini,” ucap Serena penuh keyakinan. Ia sangat tahu kalau Daniel sudah cukup trauma atas tembakan yang selama ini ia alami. Bahkan kejadian tembakan itu juga terjadi di hadapan Daniel. Pria itu juga yang menggendongnya ke rumah sakit dengan wajah penuh kesedihan. Tidak pernah terbayang di dalam pikiran Serena kalau dirinya yang ada di posisi itu.


Daniel memberhentikan mobilnya di pinggiran jalan sunyi. Di depan mobilnya sudah berkumpul anggota miliknya dan Kenzo.


“Hati-hati,” ucap Daniel sekali lagi. Dengan cepat ia mengecup bibir Serena sebelum membebaskan wanita itu bertarung sesuka hatinya.


Serena mengukir senyuman kecil sebelum turun dari dalam mobil. Daniel juga turun bersamaan dengan Serena. Kini mereka berkumpul di depan mobil sambil menyusun strategi penyerangan. Kelompok di bagi dua, mengingat betapa sedikitnya jumlah anggota yang mereka miliki malam itu. Serena tidak bisa berharap banyak dengan pertolongan dari pasukan Daniel dan Kenzo saat itu. Wanita tangguh itu lebih mengandalkan kemampuan yang ia miliki.


“Sayang, berhati-hatilah,” ucap Daniel sekali lagi sebelum mengokang senjatanya. Mereka akan segera memasuki gedung kumuh tempat persembunyian Heels Devils.


Kenzo membawa pasukannya untuk mengincar lokasi belakang. Sedangkan Daniel dan Serena mengincar lokasi depan. Setelah berhasil menerobos masuk nantinya, Serena akan mengincar pria yang memimpin pasukan Heels Devils malam itu.


“Daniel, berhati-hatilah. Mereka cukup lihai dalam menggunakan bom. Bahkan sebuah pena saja bisa berubah menjadi bom yang mematikan. Menghindarlah sesegera mungkin saat mereka melempar sesuatu ke posisimu berada nantinya.” Serena menatap wajah Daniel.


“Ya, Sayang. Aku akan selalu mengingat kata-katamu,” jawan Daniel sebelum mempusatkan tatapan matanya untuk membidik sasaran yang sudah berbaris rapi di depan.


DUARR DUARR


Tembakan demi tembakanpun di lepas Heels Devils saat melihat kehadiran Daniel dan Serena malam itu. Serena segera berlari cepat untuk menerobos masuk ke dalam gedung itu. Ia tidak ingin pria yang menjadi target utamanya lari dan terhindar dari serangannya malam ini.


Di halaman belakang, Kenzo juga mendapat tembakan selamat datang dari pasukan Heels Devils. Pasukan yang dipimpin oleh Kenzo menembak ke arah depan untuk melindungi Kenzo agar bisa masuk ke dalam gedung kumuh itu.


Satu pria dari atas gedung melempar bom ke arah Kenzo berdiri. Dengan gerakan cepat Kenzo menembak bom itu. Hingga terjadi ledakan di udara.


Suara ledakan itu cukup kuat hingga membat Serena dan Daniel mendengarnya. Wanita tangguh itu tidak lagi bisa bersabar. Satu bom yang sejak tadi ia bawa juga ia lemparkan ke arah musuhnya berada. Ledakan itu cukup membuat jalan di depan terhindar dari para musuh. Beberapa pasukan Heels Devils yang sempat berbaris untuk menghalangi kini telah tiada.


Daniel berjalan mengikuti Serena dari belakang. Pria itu cukup waspada untuk melindungi istrinya dari tembakan yang akan muncul secara mendadak. Di dalam gedung kumuh itu Serena tidak menemukan siapapun di dalamnya. Namun ada lima pintu di hadapannya. Wanita tangguh itu sangat yakin kalau musuhnya pasti bersembunyi di salah satu pintu yang ada dihadapannya.


“Kalian periksa satu persatu ruangan itu,” perintah Daniel kepada pasukan yang ia miliki. Beberapa orang berjalan untuk mendekati pintu itu. Dengan hati-hati menarik handle pintu agar segera terbuka. Belum sempat pintu terbuka sudah terdengar satu ledakan. Beberapa orang yang berada di sekitar pintu itu tewas dalam hitungan detik.


Serena menatap tajam pada pintu-pintu yang lainnya. Ia sangat yakin kalau pintu yang lainnya pasti di pasang perangkap yang sama. Ledakan bom itu mencakup hingga lima meter. Serena berpikir keras untuk mencari cara agar bisa masuk namun terhindar dari jebakan bom itu.


“Sayang, Aku akan melempar pintu itu dengan kayu yang ada di sana,” ucap Daniel memberi solusi. Pria itu berjalan untuk mengambil kayu ukuran sedang dan melempar kayu itu ke arah pintu dengan sangat kuat. Tapi sayangnya pintu itu tidak terbuka. Jika handle pintu itu yang di gerakan baru bom itu akan meledak.