
Awan mendung pekat, sudah menyelimuti langit kota. Cuaca yang cerah, berubah menjadi gelap. Satu persatu, rintikan hujan sudah mulai menetes membasahi jalan. Kini Serena dan Diva dalam perjalanan pulang. Serena ingin mengantar Diva pulang dan bertemu dengan Angel. Wajahnya tersenyum dengan begitu ceria.
“Nona, biar saya pulang sendiri. Anda tidak perlu mengantar saya pulang.” Sudah berulang kali Diva menolak Serena, untuk mengantarnya pulang ke rumah. Tapi, berulang kali juga, Serena tidak memperdulikan ucapan Diva.
“Aku ingin memberikan langsung hadiah ini pada Angel.” Serena melirik ke arah handphone yang layarnya gelap. Mengambil handphone itu, membuang napas kesal.
“Sepertinya kau benar, Diva. Aku akan mendapat masalah.” Serena masih fokus pada laju mobilnya di depan. Jalanan sangat ramai, Serena lebih waspada dalam menyetir mobil. Hujan yang deras, menghalangi pandangan matanya ke arah jalan.
“Ada apa, Nona? apa sesuatu telah terjadi?” Wajah Diva berubah panik.
Serena tersenyum sebelum menjawab, “Tidak ada. Handphone itu lowbatt.”
Diva kembali diam, ia mempusatkan pandangannya ke arah jalan depan. Serena melirik sebentar ke arah Diva sebelum memandang ke arah depan.
“Diva, boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Serena penuh dengan hati-hati.
“Boleh, Nona. Silahkan. Saya akan menajawab semua pertanyaan, Nona.” Diva tersenyum memandang wajah cantik Serena.
“Dimana Ayah Angel berada?” tanya Serena pelan, hatinya masih diselimuti tanda tanya sejak dulu.
“Ayah Angel?” Diva mengulang pertanyaan Serena, untuk memastikannya.
“Iya. Jika kau tidak ingin menjawabnya … jangan jawab Diva. Aku tidak ingin membuatmu tidak nyaman.”
“Maafkan saya, Nona. Lain kali akan saya ceritakan. Untuk saat ini, saya belum siap untuk menceritakan semuanya.” Diva tertunduk penuh rasa bersalah.
“Jangan seperti itu, aku tidak marah. Ceritakan padaku jika kau sudah siap untuk menceritakan semuanya.” Serena tersenyum manis.
Beberapa saat kemudian, mobil Serena sudah memasuki gang sempit perumahan Diva. Hujan mulai reda. Jalanan terlihat basah hingga membuat mobil Serena terlihat kotor. Serena menghentikan mobilnya di depan halaman rumah Diva. Keduanya turun sambil membawa barang-barang yang baru saja mereka beli untuk Angel.
Luna sudah berdiri di teras depan. Ia menggendong Angel untuk menyambut kedatangan Serena saat ini. Diva dan Serena tersenyum bahagia, saat melihat Angel tertawa menyambutnya.
“Anak Mama. Apa kau merindukan Mama?” Diva mengambil Angel dari pelukan Luna. Menciumnya berulang kali, karena rindu.
“Nona, mari masuk.” Luna mengajak Serena masuk ke dalam rumah. Serena tersenyum ramah, mengikuti langkah Diva dan Luna.
“Ini untukmu, Sayang.” Serena menyodorkan beberapa paper bag berisi hadiah, untuk Angel.
“Nona, sepertinya Angel merindukan Anda.”
“Benarkah? mari Tante gendong.” Serena mendekati tubuh Diva dan mengambil Angel ke dalam gendongannya.
“Lihatlah, Angel tersenyum saat bersama anda, Nona!” ucap Luna dengan bahagia.
“Nona, saya ke dapur untuk membuatkan teh.” Diva beranjak dari duduknya.
“Jangan, Diva. Aku harus segera pulang. Handphoneku mati. Aku tidak tahu, bagaimana ekspresi Daniel saat ini.”
Serena kembali bermain bersama Angel, ia mencium pipi Angel berulang kali karena bahagia. Angel tertawa kecil, saat Serena mencium kedua pipinya. Hal itu membuat Diva dan Luna ikut tertawa bahagia.
“Lain kali, Tante akan datang lagi.” Serena mencium pipi Angel lagi, sebelum memberikan Angel kepada Diva.
“Nona ingin pulang?” tanya Diva pelan.
“Ya, kita sudah seharian berada di luar. Ini sudah sangat sore.” Serena melirik ke arah jam dinding yang ada di rumah Diva.
“Nona, saya akan menghubungi rumah utama. Saya akan memberi tahu Pak Han, kalau anda baik-baik saja. Agar pak Han mengirim pengawal untuk menjemput anda, Nona.”
“Jangan, aku akan pulang dengan selamat. Jangan terlalu khawatir.” Serena tersenyum manis, ia mulai melangkah pergi meninggalkan rumah Diva.
“Nona, hati-hati,” ucap Diva dan Luna secara bersamaan.
Serena tersenyum, sebelum masuk ke dalam mobil. Melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah Diva. Serena melirik ke atas langit, “Sudah terlalu sore, malam hari baru tiba di rumah.” Serena menarik napas dalam, ia tahu kalau Daniel akan kembali murkah pada dirinya saat ini.
***
Mobil Daniel baru saja tiba di rumah utama. Ia tahu, kalau para pengawal yang di kirim Biao tidak berhasil mengikuti Serena. Raut wajah Daniel sudah berubah.
Hatinya sudah diselimuti rasa khawatir terhadap Serena. Serena sempat menghubungi Daniel, saat tiba di toko. Setelah itu, nomor Serena tidak lagi bisa dihubungi. Biao juga sudah mengirim semua anak buahnya untuk mencari keberadaan Serena.
Daniel duduk di sofa yang terletak di ruang utama. Menyandarkan tubuhnya sambil memandang ke arah atas. Biao dan Tama berdiri di samping Daniel. Keduanya juga di selimuti rasa khawatir yang begitu besar, saat Serena tidak kunjung pulang.
Pak Han datang dari arah dapur, membawa teh untuk Daniel. Meletakkan teh itu di atas meja kaca, lalu membungkuk hormat.
“Nona Serena sudah dalam perjalanan pulang, Tuan. Ia mengantar Diva pulang ke rumah.” Pak Han juga membantu Daniel mencari keberadaan Serena. Hanya Pak Han yang memiliki nomor telepon Diva saat ini.
Daniel hanya diam tidak ingin menjawab. Semangkin besar rasa cinta yang ia miliki maka semangkin besar pula kekhawatiran yang ia miliki untuk Serena.
Satu suara klakson mengalihkan semua orang. Mobil yang dikemudikan Serena berhenti di depan pintu utama. Daniel beranjak dari duduknya, berjalan cepat ke arah pintu utama. Ia kembali mengukir senyuman, saat melihat Serena turun dari mobil.
Serena memandang wajah Daniel dengan senyuman. Daniel belum mengganti pakaian kantor yang ia kenakan tadi pagi. Serena berjalan menaiki anak tangga mendekati posisi Daniel.
Daniel tidak menjawab sapaan Serena, Ia menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.
“Apa kau bahagia, membuatku khawatir seperti ini?”
“Baterai handphonenya habis,” jawab Serena pelan.
Daniel melepas pelukannya, memandang wajah Serena dengan seksama, “Kau hampir saja membunuhku, Serena. Aku sangat mengkhawatirkanmu.”
“Itu hukuman untukmu. Kenapa kau mengirim banyak pegawal untuk mengikutiku?” Wajah Serena berubah.
Daniel terdiam untuk berpikir, ia tidak ingin salah dalam menjawab pertanyaan Serena.
“Sayang, mereka tidak berhasil mengikutimu. Kenapa kau jadi marah?” Daniel mencoba untuk merayu Serena lagi.
“Sayang, Tapi kau punya niat untuk mengirim pengawal itu mengikutiku. Apa kau tidak percaya padaku?” protes Serena lagi.
Tama dan Biao hanya bisa saling memandang. Keduanya berada di belakang Daniel, dan mendengar dengan jelas perkataan Serena dan Daniel saat ini.
“Maafkan aku. Aku percaya padamu. Hanya saja, aku sangat mengkhawatirkan dirimu. Aku tidak ingin kau dalam bahaya.”
“Kau menyebalkan!”
Serena berjalan masuk ke dalam rumah. Ia meninggalkan Daniel bersama Biao dan Tama di sana.
Biao dan Tama menunduk hormat menyambut Serena. Pak Han yang berada di dalam rumah, juga menunduk hormat menyambut Serena.
“Sayang, dengarkan dulu penjelasanku.” Daniel mengejar langkah kaki Serena. Ia terus mengeluarkan kata-kata rayuan kepada Serena.
Pak Han tersenyum bahagia. Ini pertama kalinya ia melihat Daniel seperti itu. Pak Han berjalan ke arah dapur meninggalkan Tama dan Biao di sana.
Hari ini Serena memang sudah merepotkan semua orang. Sejak Siang Daniel tidak lagi kosentrasi dalam pekerjaannya. Tama dan Biao sudah membayangkan wajah murkah Daniel ketika berjumpa Serena.
Biao dan Tama masih memandang Daniel dan Serena dari kejauhan. Mereka tidak pernah menyangka, kalau Daniel akan kalah dengan Serena. Bahkan Daniel tidak marah sedikitpun, meskipun ia tahu saat ini Serena yang salah.
“Apa aku tidak salah lihat, Tama. Apa itu benar Tuan Daniel? Tuan Muda kita?” Biao memandang wajah Tama.
“Kau tidak salah melihat, Biao. Cinta memang membutakan siapa saja.” Tama melipat kedua tangannya.
“Kenapa Tuan Daniel tidak marah? bukannya Nona Serena yang salah. Biasanya ….”
“Biasanya Tuan Daniel menang, karena Nona Serena wanita yang lemah. Lihatlah sekarang, Nona Serena tidak seperti dulu lagi,” sambung Tama.
“Apa wanita bisa membuat seseorang berubah menjadi lemah seperti itu?”
“Aku tidak tahu pasti. Tapi, kejadian hari ini membuatku menyimpulkan sesuatu. Tadi pagi kau kalah dengan Shabira. Malam ini Tuan Daniel kalah dengan Nona Serena. Itu berarti ….”
“Aku tidak kalah dengan wanita itu!” protes Biao cepat.
“Kau kalah, Biao. Apa kau masih belum mengakuinya?” Tama memandang wajah Biao dengan wajah serius.
“Aku tidak akan kalah, jika kau tidak menahanku.” Biao berjalan pergi, meninggalkan Tama sendiri di sana.
“Biao, kau kalah. Karena seorang wanita. Kau tidak pernah seceroboh itu.” Tama masih belum puas, ia terus meledek Biao sambil berjalan.
“Tama, aku tidak pernah kalah dengan siapapun. Apa lagi dengan wanita.” Biao semangkin kesal, mendengar ledekan Tama.
“Kau memang harus berjodoh dengan wanita yang kuat seperti Nona Serena atau Shabira,” jawab Tama tanpa rasa bersalah.
“Jangan katakan itu lagi. Aku tidak akan menikah.” Biao mengancam Tama sebelum masuk ke dalam kamar.
“Kau sangat menyebalkan! kenapa kau selalu mengatakan hal itu. Apa aku harus jadi pejaka tua karena dirimu!” teriak Tama di depan pintu Biao.
Biao tidak lagi menjawab pertanyaan Tama. Tama mengalah, ia pergi meninggalkan pintu itu dan masuk ke dalam kamar miliknya. Meskipun ada raut wajah kecewa mendengar perkataan Biao, tapi ia kembali tersenyum licik saat memikirkan sesuatu.
Aku akan membuatmu merasakan jatuh cinta, Biao.
.
.
Selamat membaca para readers.
Author punya satu permintaan, kalau jumlah Vote mencapai 20k, akan author bagi 4 Bab di siang hari pada hari minggu.
Jadi jangan nuntut Up aja, tapi sama2 berjuang 🤣.
Mulai hari senin ya, jdi kalau kalian cek Vote belum sampai 20k, jgn ada yg nuntut crazy up. 👌
Salam manis untuk semua pembaca setia.😘