
Hujan sudah semakin redah. Hanya tersisa satu persatu tetesan hujan yang menetes dari dedaunan pohon. Serena menghentikan laju mobilnya di depan rumah kecil yang ada di atas bukit.
Serena selalu hidup mandiri sejak ia mulai masuk sekolah. Hampir setiap hari Tuan Wang tidak memiliki banyak waktu untuk menemani Serena saat itu. Hal itu juga yang membuat hubungan ayah dan Anak ini menjadi tidak terlalu dekat.
Serena tidak sama dengan anak-anak konglemerat lainnya, menghabiskan uang hanya untuk bersenang-senang. Setiap kali ia merindukan ketenangan, Serena selalu pergi ke rumah kecil yang menjadi miliknya itu.
“Baiklah, kita sudah sampai.” Serena melepas sabuk pengamannya. Memandang wanita itu dengan seksama.
Wanita ini kehilangan banyak darah, tapi masih sanggup untuk membuka mata. Dia pasti bukan wanita biasa.
Serena turun dari dalam mobil, berlari kecil mendekati pintu mobil sebelahnya. Ia membantu wanita itu turun dari dalam mobil.
“Hati-hati,” ucap Serena penuh rasa khawatir.
Wanita itu hanya diam tanpa banyak bicara. Mengikuti langkah kaki Serena untuk masuk ke dalam rumah kecil yang ada di hadapannya.
“Duduklah di sini, Aku ke dapur sebentar.” Serena meletakkan wanita itu di atas sofa.
“Tunggu, boleh aku meminjam ponselmu?” Wanita itu menggenggam erat tangan Serena.
Serena memberikan ponsel miliknya kepada wanita itu, sebelum berjalan ke arah dapur. Di dapur, Serena mengambil kotak P3K dan satu baskom air. Ia berniat untuk membersihkan luka wanita itu sebelum Dokter tiba untuk mengeluarkan pelurunya.
Serena berjalan cepat ke arah dapur, satu pemandangan yang tidak pernah ia lihat. Wanita itu ingin mencungkil peluru yang menancap di tangannya dengan satu buah belati.
“Jangan!” teriak Serena dari kejauhan.
Wanita itu menghentikan aksinya, memandang wajah Serena dengan tatapan tidak suka.
“Apa yang kau lakukan? ini sangat berbahaya. Luka itu bisa bertambah lebar.” Serena merebut belati yang ada di genggaman tangan wanita itu. Meletakkannya di atas meja. Serena mulai membersihkan luka pada tubuh dan wajah wanita itu.
“Kita harus ke rumah sakit, luka ini … aku tidak bisa mengobatinnya. Aku hanya biasa merawat luka jika tergores kecil,” ucap Serena dengan wajah polosnya.
Wanita itu tersenyum tipis saat mendengar perkataan Serena.
“Siapa namamu?” tanya wanita itu cepat.
“Erena, Erena Wang,” jawab Erena penuh percaya diri. Ia tahu, jika ia menyebut nama belakang milik Tuan Wang, wanita itu pasti tahu kalau ia anak dari pengusaha ternama di kota Sky.
“Oh,” jawab wanita itu singkat.
“Oh?” tanya Serena dengan wajah tidak percaya.
“Ya, memang apa yang harus aku ucapkan?” tanya wanita itu santai, sambil terus menahan darah yang keluar deras dari perutnya.
“Tidak ada,” jawab Serena pelan.
‘Ini pertama kalinya ada orang yang tidak kenal dengan perusahaan Papa. Ternyata Papa tidak cukup hebat, di kota ini.
Wanita itu mengukir senyuman tipis sambil memandang wajah Serena dengan seksama.
Anak rumahan. Tapi dia memiliki nyali yang besar untuk berani menolong orang lain yang terluka. Bahkan tidak takut sama sekali saat melihat aku memegang belati itu. Kau benar-benar sangat menarik Erena.
Suara pintu terbuka, Serena terperanjat kaget saat melihat pria dan wanita berbadan tegab masuk ke dalam rumah kecil miliknya itu.
“Siapa kalian?” tanya Serena yang dengan cepat berdiri dari duduknya.
“Mereka orangku, jangan khawatir,” jawab wanita itu dengan santai.
“Orangmu? maksudnya?” tanya Serena bingung.
“Dokter,” jawab wanita itu dengan senyuman.
“Oh,” jawab Serena dengan cepat.
Serena memandang penampilan pria dan wanita itu dengan serius. Ia tidak sepenuhnya yakin, jika Dokter mengenakan jaket kulit hitam dengan wajah sangar seperti itu.
Wanita ini memang bukan orang biasa. Mereka ini pasti bawahan yang ia miliki.
Serena mengukir senyuman tipis.
“Tunggu, tunggu.” Serena menahan langkah wanita itu.
“Aku sudah menolongmu. Setidaknya, biarkan aku duduk di sini untuk melihat cara mereka mengobati lukamu. Jika terjadi sesuatu, rumah rahasiaku ini yang menjadi korbanya.” Serena kembali duduk di samping wanita itu.
Satu wanita bersenjata mengambil pistol dari dalam sakunya, tangannya sudah siap untuk membunuh Serena saat itu. Namun, Serena belum menyadari keadaan berbahaya yang kini ada di hadapannya.
“Jangan lakukan itu, biarkan dia di sini bersamaku.”
“Tapi, Bos,” ucap Wanita itu tidak terima.
“Bos?” ulang Serena lagi.
“Ya, aku Bos mereka. Mereka anak buahku.” Wanita itu mengedipkan sebelah matanya.
“Mari, Bos. Luka anda harus segera di obati.” Wanita bawahannya itu berjalan untuk mendekati kursi. Mengeluarkan beberapa alat medis untuk memulai ritual pengobatannya.
Serena hanya diam membeku memperhatikan operasi singkat yang kini terjadi di depan matanya.
Apa-apaan ini? dalam waktu singkat mereka berhasil mengeluarkan peluru-peluru itu?
Serena menatap lima peluru yang baru saja dikeluarkan.
Wanita itu tersenyum memandang Serena. Ia tahu, apa yang saat ini memenuhi isi kepala Serena.
“Terima kasih karena kau sudah menolongku. Tapi, aku harus pergi sekarang juga. Aku akan mengingat jasamu malam ini. Mulai sekarang, aku akan mengirim orang untuk selalu melindungi hidupmu.”
Wanita itu beranjak dari duduknya, dibantu dengan wanita yang berperan sebagai Dokter itu.
“Tunggu!” Serena beranjak dari duduknya.
“Aku tidak butuh pengawal. Karena hal itu bisa aku minta dari Papa.” Serena mendekati wanita itu.
“Apa yang kau inginkan? katakan, aku akan mengambulkan permintaanmu.” Wanita itu mengukir senyuman penuh arti.
“Aku ingin, kau mengajariku menembak,” ucap Serena pelan dan penuh dengan hati-hati.
“Apa kau sadar dengan ucapanmu itu?” Wanita itu membuang napas kasar.
“Kau akan mempertaruhkan nyawamu jika ingin menembak.” Wanita itu tersenyum tipis dengan tatapan tajam
“Aku tidak takut, jika kau mengajariku untuk menembak. Aku akan ikhlas dan menganggap lunas utang budi ini.” Serena mengukir senyuman penuh kemenangan.
“Beraninya kau!” Satu wanita sudah tidak sabar untuk menghabis nyawa Serena saat itu juga.
“Erena, satu hal yang harus kau tahu. Aku tidak mengajari orang menembak dengan menggunakan alat bantu. Aku menjadian manusia langsung sebagai bidik sasaran,
dan ….”
“Setuju, ayo kita pergi ke tempat itu,” jawab Serena penuh antusias.
Wanita itu tidak mampu mengeluarkan kata-kata lagi. Ia juga membawa Serena pergi ke markas tersembunyi miliknya. Sejak detik itu, ia sudah mengangkat Serena sebagai salah satu bawahan geng mafia yang ia mliki.
Entah kenapa, sejak pertama kali melihat wajah Serena, wanita itu sudah tahu kalau Serena memiliki bakat membunuh seperti dirinya.
Pertemuan itu menjadi langkah awal Serena keluar dari genggaman Tuan Wang. Sejak detik itu serena telah menjadi anggota Mafia. Mafia Queen Star, pembunuh bayaran yang tidak memiliki hati dan perasaan.
.
..
...
Hai Readers Mafia's in Love, sambil nunggu up. Kalian semua bisa baca Novel "Don't Forget".
Kalian juga bisa bertemu dengan cowok keren bernama Yu dan Ken. masih dengan action pastinya...