
“Dimana Biao, bukannya tadi kami berada di toilet yang sama”, mencari kesembarang arah lalu mengangkat kedua tangan untuk menopang kepalanya yang berat atas sejuta peristiwa yang terjadi secara mendadak.
“Kenapa aku sangat takut jika Mr. X bertemu dengan Serena.” batin Daniel yang semangkin frustasi.
Dari kejauhan Biao telah melangkah cepat untuk menghampiri Daniel. Rasa bersalah kembali menyelimuti hatinya saat ini. Tidak ingin sang majikan menunggu lama, ia terlihat berlari kecil.
“Maafkan saya tuan.” ucap Biao gugup.
“Kemana saja kau sejak tadi!” bentak Daniel kesal,
Biao hanya diam tanpa berani memberi penjelasan, kepalanya tertunduk dalam menatap lantai yang ada di atas telapak kakinya.
“Biao!” ulang Daniel lagi.
“Saya…” ucapanya terputus.
“Sudahlah, kita harus segera kembali ke S.G. Group.” sambung Daniel yang sudah beranjak dari duduknya dan berjalan cepat menuju ke arah mobil.
Mata Biao kembali ia arahkan pada sosok pria misterius yang berada jauh dari posisinya saat ini. Biao mengangguk pelan sebelum akhirnya ia melangkah pergi mengikuti Daniel.
Daniel dan Biao kembali menuju ke S.G.Group. Semua pertemuan hari ini, kembali ia batalkan semuanya. Kini Daniel hanya duduk melamun di balik meja kerjanya yang tertata rapi.
“Pastikan pria itu tidak lagi mengunjungi Serena! Sampai kapanpun itu!” perintah Daniel tegas pada Biao yang kini sudah berdiri tegab di sampingnya.
Meskipun sudah berjam-jam berada jauh dari Serena, namun pertemuan Kenzo dan Serena kembali merasuki pikirannya. Kali ini kesabarannya benar-benar sudah habis, hingga akhirnya Daniel memberi perintah kepada Biao untuk mencegah pertemuan selanjutnya yang akan terjadi antara Serena dan Kenzo.
“Baik tuan.” jawab Biao pelan.
“Atur jadwal besok untuk menemani Mr. X menjenguk Serena di rumah sakit!”
Satu kalimat perintah Daniel yang terakhir membuat Biao mengalihkan pandangannya kepada Daniel. “Apa anda yakin tuan? Kita belum sempat menyelidiki Mr.X. Bagaimana kalau…” ucapannya terhenti saat Sonia tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Daniel tanpa mengetuk pintu lebih dulu. “Wanita ini benar-benar harus dimusnahkan!” batin Biao kesal.
“Ma…maaf tuan. Saya tidak tau jika anda sudah kembali ke kantor. Saya ingin meletakkan beberapa berkas di atas meja anda.” ucap Sonia mencari alasan.
“Kebetulan kau ada di sini Sonia, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu!”
Ucapan Daniel membuat Biao dan Sonia bereaksi secara berbeda, senyum manis melingkar di bibir Sonia sedangkan wajah Biao kembali dipenuhi raut wajah geram yang sudah ada di level yang sangat tinggi.
“Apa yang ingin anda katakan tuan?” ucap Sonia lembut.
“Mulai detik ini, kau tidak perlu repot mengurus segalanya. Berikan semua tugasmu pada Biao.” ucap Daniel santai.
“Apa maksud anda tuan? Apa anda ingin memberhentikan saya?” tanya Sonia mulai lirih, matanya sudah terlihat berkaca-kaca.
“Tidak Sonia, kau tidak diberhentikan. Tugasmu sekarang hanya ada di luar ruangan itu!” menunjuk sebuah meja yang ada di luar ruangan kerja Daniel.
“Saya menggantikan Abel tuan?” tanya Sonia yang masih tidak percaya.
“Ya, Abel harus cuti melahirkan. Kau harus menggantikannya untuk beberapa bulan.” Masih tidak menatap wajah Sonia.
Satu jabatan yang membuat jarak dirinya dan Daniel semangkin jauh, dengan erat Sonia menggenggam berkas yang kini ada di genggaman tangannya.
Bibirnya masih ia tahan untuk mengeluarkan kata tidak terima atas keputusan yang baru saja diambil Daniel secara sepihak. Tatapan matanya ia alihkan ke wajah Biao yang sudah tersirat senyum tipis di sana.
“Ya, saya mengerti! Saya permisi tuan.” gumam Sonia pelan sambil meletakkan beberapa berkas di atas meja lalu berbalik badan untuk melangkah keluar meninggalkan Daniel dan Biao di dalam.
Tangis Sonia pun pecah ketika kini ia sudah berhasil berada di luar ruang kerja Daniel. Bukan hanya cintanya yang di tolak Daniel secara terang-terangan, kini kehadirannya juga sudah dihindari oleh Daniel.
“Kenapa kau begitu jahat kepadaku Daniel!” batin Sonia yang masih di penuhi tetesan air mata yang mengalir deras.
Tubuhnya masih mematung di depan ruangan Daniel, Sonia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk melangkah menuju ke ruang kerjanya. Satu meja cokelat berukuran sedang yang terletak tidak jauh dari posisinya saat ini, hanya bisa ia pandang dengan kecewa.
“Kau bahkan mengubah derajatku menjadi sekretaris rendahan Daniel!” dengan suara yang semangkin lirih.
Di dalam ruang kerja Daniel, Biao masih tersenyum lega menatap kepergian Sonia. Hingga tanpa ia sadari Daniel sudah memandangnya sejak tadi.
“Apa kau senang Biao?” tanya Daniel yang memecah lamunan Biao.
“Maaf tuan”, jawab Biao yang kembali sadar dengan adanya Daniel di situ.
“Aku tidak mengerti, kenapa kalian selalu saja bermusuhan tiap kali bertemu.” memandang ke layar laptop.
Biao kembali ingat dengan topik utama yang mereka bicarakan sebelum kehadiran Sonia.
“Tuan, apa anda tidak curiga dengan Mr.X?” tanya Biao lagi yang masih dipenuhi kekhawatiran.
Daniel menghentikan kegiatannya lagi, pikirannya kembali dipenuhi atas kunjungan Mr. X esok hari.
“Semua akan baik-baik saja, mereka tidak akan mungkin saling kenal!” jawab Daniel pelan.
“Ijinkan saya untuk menyelidiki Mr. X tuan”, pinta Biao yang memang belum mendapat perintah dari Daniel untuk menyelidiki Mr.X.
“Bukan itu yang harus kita lakukan saat ini Biao!” mata Daniel memandang Biao tajam “Perkuat pertahanan kita untuk melindungi semua orang yang kita sayang, sepertinya kita sudah masuk ke jalur yang salah. Tidak ada jalan lagi untuk mundur selain tetap maju dan bertahan dengan apa yang sudah kita miliki!” sambungnya lagi.
“Saya akan menambah jumlah pengawal kita tuan.” Ucap Biao mantap.
Daniel hanya mengangguk pelan pertanda setuju. Sudah terlanjur, merupakan satu kalimat yang sangat sulit untuk ia ucapkan. Namun keadaan yang sekarang terjadi, memang menuntutnya untuk mengikuti jalan cerita yang sudah terjadi. Entah seburuk apa peristiwa yang akan ia hadapi di kemudian hari. Namun, saat ini Daniel sudah mempersiapkan dirinya sekuat mungkin untuk menghadapi semuanya.
Siang yang terik sudah berganti menjadi sore hari yang tenang, Daniel dan Biao masih berada di dalam ruang kerja dengan setumpuk pekerjaan yang harus segera mereka selesaikan. Meskipun isi hati Daniel sudah di penuhi keinginan untuk segera menemui Serena di rumah sakit. Dengan teliti Daniel memeriksa semua berkas yang diberikan oleh Biao.
Kosentrasi sudah kembali masuk kedalam pikirannya. Serena dan Mr.X sudah berhasil ia usir dari dalam pikirannya untuk lebih berkosentrasi dengan pekerjaan yang kini ada di depan mata. Jam sudah hampir menunjukkan angka 06.00 sore, Biao segera membantu Daniel untuk merapikan semua berkas yang berserak di atas meja.
“Kita harus pulang tuan.”
“Aku akan kembali ke rumah sakit. Kau boleh pulang ke rumah.” jawab Daniel memberi perintah.
“Anda belum pernah kembali pulang ke rumah utama sejak dari vila tuan.” ucap Biao mencoba untuk mengingatkan Daniel.
“Aku akan pulang bersama Serena!” jawab Daniel tidak ingin di bantah lagi.
“Baik tuan.” menunduk hormat.
Sebelum lanjut, like dan komen dulu.🤗❤