
Bukan rumah utama namanya, jika kabar kepulangan Serena dari rumah sakit tidak mereka ketahui. Meskipun tidak memberi kabar, Pak Han sudah mengetahui kepulangan Serena dari beberapa orang yang sudah ia tugaskan untuk menjaga Serena di rumah sakit.
Ya, salah satu pengawal jaga yang berada di depan kamar Serena adalah tangan kanan pak Han. Maka dari itu, pak Han sangat mudah memperoleh informasi apapun yang terjadi di rumah sakit. Termasuk pertemuan Kenzo dan Serena di taman bunga, hingga kehadiran Kenzo hari ini yang menyebabkan Daniel membawa Serena kembali ke rumah utama.
Beberapa pelayan terlihat berkumpul di dalam kamar Daniel dan Serena. Masing-masing memegang satu pekerjaan yang bisa memperindah tampilan kamar sang majikan. Ada yang membersihkan tempat tidur, mengganti gorden, menyapu lantai, hingga menyiapkan air di bak mandi untuk berendamnya Daniel ataupun Serena nantinya.
Beberapa pelayan yang bertugas di dapur juga tampak sibuk memasak aneka makanan yang akan di hidangkan di meja makan. Makanan yang sengaja di buat untuk menyambut kepulangan Serena hari ini. Bukan rahasia umum lagi, semua pelayan sudah tahu kalau nona muda yang sangat cantik dan baik hati itu sangat suka makan. Di pimpin oleh Pak Sam, kini semua resep masakan yang sudah disiapkan sudah mulai di masak.
Kabar kepulangan Serena yang mendadak juga sudah terdengar di telinga tuan Edritz dan istri. Senyum manis Ny. Edritz sudah melingkar abadi di bibirnya sejak tadi. Rasa rindunya kepada Daniel dan Serena akan segera terobati hari ini juga. Sejak rencana bulan madu yang ia siapkan gagal dan menimbulkan masalah.
Rumah utama tidak lagi menjadi rumah besar yang nyaman bagi Ny. Edritz.
Sejak Daniel memutuskan untuk tidak pulang ke rumah karena kebohongan tentang Serena yang di sembunyikan Ny. Edritz terbongkar. Meskipun saat ini Daniel belum mengetahui semua masa lalu Serena. Tapi rencana Tuan Edrtiz dan Ny. Edritz untuk menghalangi rencana Daniel sudah diketahui oleh Biao. Hal itu menjadi faktor utama yang menyebabkan hubungan ibu dan anak itu menjadi renggang.
“Pa, hari ini Serena akan pulang?” ucap Ny. Edritz yang baru saja mendapat kabar dari pengawal yang bertugas di rumah sakit.
“Benarkah? apa Daniel masih marah padaku?” ucap tuan Edritz kecewa.
“Dia akan segera memaafkan kita, percayalah,” ucap Ny. Edritz penuh keyakinan.
“Bagaimana dengan Kenzo?” tanya tuan Edritz lagi.
“Kenzo tidak akan tahu tentang masa lalu Serena,” jawab Ny. Edritz penuh keyakinan.
“Dia bisa saja satang dan memberitahu Daniel semuanya.”
“Daniel tidak akan pernah memaafkan Kenzo, hubungan mereka tidak akan pernah membaik. Hari ini Daniel membawa Serena pulang, karena tidak ingin melihat Kenzo menemui Serena lagi,” jelas Ny. Edritz.
“Aku rasa Daniel sudah mulai menyimpan rasa pada Serena,” ucap tuan Edritz menerka-nerka.
Tuan dan Ny. Edritz sudah menunggu kedatangan Daniel dan Serena di ruang utama. Keduanya duduk di sofa besar nan empuk berwarna cokelat. Satu karpet lebar, berwarna abu-abu membatasi dasar sofa dengan lantai.
Beberapa pengawal terlihat berdiri tegab, tidak jauh dari posisi tuan Edritz dan istri kini berada. Satu suara klakson mobil, menjadi pertanda kalau Daniel dan Serena kini telah tiba di halaman rumah utama.
“Mama,” gumam Serena dalam hati ketika melihat Ny. Edritz yang sedang berjalan mendekati drinya saat ini.
“Sayang, kau sudah sembuh,” membuka kedua tangannya untuk memeluk Serena.
“Serena sudah baikan ma, Serena rindu sama mama,” jawab Serena yang kini sudah ada di pelukan Ny. Edritz.
Sementara Daniel, kembali melanjutkan langkah kakinya untuk masuk ke dalam rumah. Mengabaikan tuan Edritz yang tampak berdiri di depan pintu utama.
“Daniel!” bentak tuan Edritz kesal.
Tidak ingin beradu mulut dengan sang ayah, Daniel terus saja berjalan menuju ke arah kamar. Serena dan Ny. Edritz hanya bisa diam, meyaksikan pemandangan yang baru saja terlihat. Lagi-lagi hati Serena dipenuhi tanda tanya besar, karena melihat kerenggangan hubungan antara tuan Edritz dan Daniel.
“Apa yang terjadi ma? kenapa Daniel terlihat marah sama papa?” tanya Serena pada Ny. Edrtz.
“Jangan terlalu banyak berpikir Serena, sekarang kau masuk ke kamar dan istirahat. Pak Sam sudah menyiapkan makanan untuk kalian,” ucap Ny. Edritz mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
“Baik Ma,” jawab Serena pelan.
Serena berjalan pelan menuju ke arah kamar, kepalanya mendongak ke atas melihat Daniel yang kini sudah ada di anak tangga tertinggi.
“Sebenarnya, apa yang telah terjadi? kenapa semua orang merahasiakannya,” batin Serena yang masih dipenuhi perasaan bingung.
“Hai, pak Han!” sapa Serena ramah.
“Selamat datang kembali nona,” jawab pak Han dengan sejuta keramahan.
“Apa semua baik-baik saja?” tanya Serena berbisik, yang mencoba untuk mencari informasi dari pak Han.
“Semua baik-baik saja nona, mari saya antar ke kamar nona,” sambung pak Han.
“Seharusnya aku sudah tahu dari awal, tidak semudah itu untuk mendapatkan informasi dari pak Han,” batin Serena penuh rasa kecewa.
Pak Han menemani Serena menaiki anak tangga yang menjulang tinggi ke lantai atas. Sesekali ia ikut berhenti saat melihat Serena menghentikan langkahnya secara tiba-tiba.
“Apa anda baik-baik saja nona?” tanya pak Han penuh rasa khawatir.
“Aku, kepalaku masih terasa sakit,” menatap ke arah lantai atas yang tidak kunjung sampai.
“Mari saya bantu nona,” tawar pak Han, yang ingin membantu Serena untuk berjalan.
Perjalanan Serena untuk mencapai lantai atas, kali ini memang memakan waktu yang lumayan lama. Daniel yang sejak tadi memang sudah menunggu kehadiran Serena, merasa kesal saat melihat Serena tidak kunjung tiba di dalam kamar.
“Apa yang dia lakukan di bawah! kenapa lama sekali!” ucap Daniel kesal dan melangkah ke depan pintu untuk memeriksa posisi Serena saat ini.
Satu pemandangan buruk ia lihat, saat Serena terlihat kesakitan untuk menaiki beberapa anak tangga terakhir.
“Serena!” teriak Daniel lalu berlari cepat menuju ke posisi Serena saat ini, “Apa kau baik-baik saja Serena? apa masih terasa sakit?” tanya Daniel bertubi-tubi.
Tanpa lama berpikir, kini Serena sudah ada di gendongan Daniel untuk yang kesekian kalinya. Raut wajah khawatir kembali terpancar di wajahnya yang kini sangat panik.
“Panggilkan Adit, Pak Han!” perintah Daniel dengan cepat.
“Keributan yang terjadi di pucuk tangga, menjadi perhatian utama bagi tuan Edritz dan Ny. Edritz yang kini masih berada di ruang utama. Melihat Serena yang kembali di gendong oleh Daniel, menciptakan kekhawatiran yang begitu besar dalam pikiran Ny. Edritz.
“Serena, apa yang terjadi pada Serena,” mempercepat langkahnya menuju ke arah kamar Daniel.
“Pak Han, apa yang terjadi pada Serena?” tanya tuan Edritz yang kini sedang berpapasan dengan pak Han yang ingin turun ke lantai dasar untuk mengambil minum.
“Nona muda, kepalanya kembali sakit tuan,” jawab pak Han pelan.
Tuan Edritz dan Ny. Edritz terus melangkah cepat menaiki satu persatu anak tangga, untuk segera melihat kondisi Serena saat ini.
“Apa yang terjadi pada Serena, Daniel?” tanya Ny. Edritz yang kini sudah tiba di dalam kamar.
**Like dan Komen
Bagi Votenya ya kakak,,,
Vote itu satu wujud dukungan kalian buat Author.
Oiya, satu lagi. author pengen ngobrol2 donk sama pembaca setia. masuk ke grub chat ya. kadang2 author ingin minta pendapat para pembaca setia...
Terima kasih sudah membaca**...