
Serena masih di dalam mobil, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mengambil handphone dan mencari nama Shabira. Memasang handsfree ke telinga kirinya. Menelepon Shabira, untuk mengetahui keadaan Lukas. Saat ini, keadaan Lukas hanya Shabira yang tahu. Ia membawa Lukas pergi ke rumah sakit, untuk mendapatkan pertolongan pertama.
“Dimana? Bagaimana dengan pria itu?” ucap Serena penuh dengan tanda tanya.
Serena menurunkan kecepatan mobilnya, hingga beberapa mobil yang ada di belakang, juga ikut memperlambat laju mobilnya. Ia terus memantau dari kaca spion, memastikan kalau tidak ada yang mengikuti kecuali anggotanya.
“Pria itu sudah di tangani oleh dokter, di ruang operasi, Bos!” jawab Shabira dari kejauhan.
“Segera kembali, kita jumpa di titik kumpul,” jawab Serena cepat.
“Baik bos, saya akan segera ke sana.”
“Cepat Shabira! waktu kita sudah hampir habis.”
Serena memutuskan panggilan teleponnya, menambah kecepatan mobilnya. Menghapus bayangan Zeroun, dan kembali fokus pada misinya saat ini. Matanya memandang tajam, jalan lurus yang kini ada di hadapannya.
Terik matahari memancar dengan cerah. Mobil Serena telah memasuki kota. Ia menuruni kecepatan mobilnya. Menembus keramaian kota dengan tenang. Sesekali perhatiannya teralihkan pada beberapa pengguna jalan kaki. Menatap tajam beberapa orang yang tidak ia kenali.
Serena menghentikan mobilnya di gedung kosong, di lantai paling atas. Gedung itu seperti parkiran mall yang sudah tidak digunakan lagi. Debu yang melekat pada dinding beton, terlihat sangat tebal.
Serena turun dari mobil dengan cepat. Menutup kembali pintu mobilnya, hingga terdengar satu suara. Beberapa pria bertubuh tegab, menunduk hormat menyambut Serena. Mereka sudah berbaris di hadapan Serena, untuk menerima perintah.
Serena berdiri tegab di depan mereka yang berbaris. Perhatiannya teralihkan, saat medengar suara mobil yang baru saja tiba. Shabira juga tiba di waktu yang sama dengan Serena. Ia memarkirkan mobilnya di samping mobil Serena. Turun dengan cepat, dan berlari kecil mendekati posisi Serena.
“Bos, sudah waktunya,” ucap Shabira dengan napas terengah-engah.
“Bawa senjata itu kemari!” perinta Serena cepat.
Shabira membuka bagasi mobil, mengambil satu kotak hitam berukuran 100cm x 75cm. Membuka gembok emas, dengan kunci yang tersimpan di dalam saku. Shabira membuka kotak itu perlahan. Mengambil satu senapan laras panjang, membawanya dengan hati-hati. Shabira berjalan cepat mendekati Serena, memberi senapan khusus untuk sniper itu kepada Serena.
“Ambil posisi masing-masing!” perintah Serena.
“Baik, Bos!” jawab semuanya dengan serempak.
Serena menerima senjata itu. Beberapa pengawal mulai berpencar, mengambil posisi masing-masing untuk melindungi Serena. Serena berjalan ke pinggir gedung, dan mengatur letak senjatanya. Ia membidik satu sasaran, dengan menggunakan senjata yang kini ada di tangannya. Serena memperhatikan sasarannya dengan begitu tenang dan hati-hati.
“Apa target kita seorang wanita?” Serena menatap wajah Shabira, saat sudah berhasil menguasai targetnya.
“Benar, Bos. Wanita itu target kita. Dia akan beranjak dari duduknya sebentar lagi. Kita akan kehilangan dia, jika tidak bergerak cepat.” Shabira memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya.
“Selamat jalan, Nona manis.” Serena sudah mengunci sasarannya. Ia tersenyum tipis, sebelum melepas tembakannya.
Peluru itu meluncur dengan cepat ke arah cafe. Wanita berbaju merah itu, duduk di pinggir kaca. Posisinya menghadap ke arah jalan. Peluru itu menembus kaca dengan mulus. Hingga wanita berbaju merah itu, tidak lagi sadarkan diri. Peluru yang di lepas oleh Serena, mendarat di jantungnya. Wanita itu tergeletak di atas meja, yang berisi aneka makanan dan minuman.
Hal itu membuat kepanikan di dalam cafe. Beberapa pelayan menghubungi polisi setempat. Kebanyakan wanita, berteriak histeris di dalam cafe saat melihat lumuran cairan merah di tubuh wanita itu. Suara sirine polisi terdengar jelas. Beberapa wanita lainnya terlihat ketakutan, ada yang pingsan, ada yang berlari.
Serena berdiri dengan satu senyuman manis. Shabira mengambil senjata laras panjang itu, dan mengembalikannya ke dalam kotak. Serena melangkah ke arah mobil, ia harus mempersiapkan diri. Malam ini ia akan melanjutkan misi keduanya.
Satu suara mobil yang tidak dikenali, tiba-tiba datang ke lokasi itu. Beberapa pengawal tampak siaga. Mereka sudah memegang senjata untuk melindungi Serena.
“Bos, ada yang mengikuti kita!” ucap salah satu pria yang di tugaskan mengintai luar gedung.
“Tetap pada posisi!” perintah Serena cepat.
Shabira mengambil pistol dan melempar cepat ke arah Serena. Ia mengambil posisi di balik mobil dengan senjata api yang sudah siap menembak.
Serena masih berdiri di tempat itu, dengan senjata digenggamannya. Ia semangkin waspada saat mobil itu semangkin mendekat. Mobil itu berhenti tidak jauh dari posisinya. Sosok pria keluar dari dalam mobil, dengan senyuman manis di bibirnya. Serena menatap tajam pria yang kini mendekati dirinya.
“Zeroun ….” Serena masih tidak percaya dengan kehadiran Zeroun. Ia tidak pernah berpikir, kalau Zeroun akan mengikutinya hingga sejauh ini.
“Keluarlah!” perintah Serena pada pengawal tersembunyi.
Semua pengawal milik Serena, keluar dari tempat persembunyian. Menatap tajam kehadiran Zeroun. Pria itu hanya datang berdua, dengan supirnya yang lain. Ia berjalan santai mendekati Serena.
“Erena, aku tidak ingin kehilangan dirimu.” Zeroun berdiri tegab di hadapan Serena.
Serena menatap wajah Shabira, yang kini ada di depan mobil, “Shabira, pergilah. Aku akan meneleponmu lagi, nanti!”
“Baik, Bos.” Shabira masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Serena di sana. Pengawal lainnya menunduk hormat, sebelum masuk ke dalam mobil. Mobil-mobil itu, mengikuti laju mobil Shabira.
Kini hanya tersisa Zeroun dan Erena. Keduanya saling menatap satu sama lain. Serena mengatur napasnya yang terasa sedikit sesak. Hal itu sering kali ia rasakan, setelah ia berhasil melumpuhkan musuhnya.
“Aku juga bukan orang baik.” Serena berbalik badan untuk meninggalkan Zeroun di sana.
“Jangan pergi. Aku ingin berbicara denganmu, apa kau sudah tidak sibuk?” Zeroun memegang tangan Serena, menahannya untuk tidak pergi lagi.
“Masih ada satu lagi,” jawab Serena acuh dengan sifat yang tidak ramah sama sekali.
“Aku akan membantumu. Aku tahu, club malam yang akan kau datangi.” Lagi-lagi Zeroun tersenyum manis, karena ia sudah berhasil menguasai misi Serena hari ini.
“Aku tidak perlu bantuanmu.” Serena memalingkan wajahnya dari Zeroun.
“Anggap saja ini ucapan terima kasihku. Karena hari ini kau telah menolongku.”
Serena terdiam untuk sejenak. Ia tahu, kalau Zeroun akan mudah menemukan dirinya, saat berhasil mengetahui identitas dirinya.
“Apa kakimu sudah sembuh?” Serena menatap perban yang tadi ia pasang.
“Sudah biasa,” jawab Zeroun santai.
Serena kembali tersenyum melihat tingkah Zeroun. Pertemuan itu menjadi awal tumbuhnya benih-benih cinta antara Zeroun dan Serena. Hubungan mereka berjalan semangkin dekat, dari hari ke hari. Tidak ada lagi saling menutupi, Serena menceritakan semua misinya. Zeroun juga menceritakan semua misinya.
Hingga suatu ketika, Zeroun melamar Serena.
Serena menerima satu kotak hadiah berwarna biru. Ia membuka kotak itu dengan senyum bahagia. Satu dress berwarna putih, dengan sepasang sepatu high heels. Serena memeluk dres itu dengan penuh cinta. Ia tahu, hadian itu dari Zeroun.
“Gaun ini sangat indah,” ucapnya dengan penuh bahagia.
Serena mengambil selembar kertas yang terselip di dalam kotak. Pesan singkat dari Zeroun. Pria itu meminta Serena untuk menemuinya di pinggiran pantai, 1 jam yang akan datang. Serena menatap ke arah jam dinding. Ia terperanjat kaget, saat melihat waktu yang semangkin sedikit. Serena berlari cepat ke kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Serena mengenakan dress putih pemberian Zeroun, dengan bahagia. Menyisir rambutnya agar tergerai indah. Serena berjalan perlahan, untuk menemui Zeroun di pinggiran pantai. Pria itu sudah berdiri tegab di sana. Membelakangi Serena, dengan posisi menghadap ke pantai.
Suasana pantai itu sungguh romantis. Kelopak mawar merah bertaburan di jalan. Angin berhembus dengan kencang. Lampu-lampu kecil menambah suasana indah pinggiran pantai itu.
Serena memeluk Zeroun dari belakang. Ia sangat merindukan Zeroun meskipun baru berpisah beberapa jam yang lalu. Zeroun memegang kedua tangan Serena, memutar tubuhnya menghadap Serena.
“Kau sangat cantik, sayang.” Zeroun memegang dagu Serena, menciumnya dengan penuh cinta.
“Kau juga sangat tampan malam ini.” Serena tersenyum memandang Zeroun.
Zeroun berlutut di depan Serena. Mengeluarkan kotak kecil berwarna merah, dari dalam sakunya. Membuka kotak itu di hadapan Serena.
“Menikahlah denganku, sayang. Aku janji, akan menjagamu seumur hidupku. Mencintaimu hingga aku tidak lagi bernyawa.”
Serena terperanjat kaget. Ia tidak pernah berpikir, kalau hari ini Zeroun akan melamar dirinya. Serena menganggukan kepalanya dengan cepat.
“Aku mau menikah denganmu sayang.” Buliran air mata menetes di pipi Serena. Ia sangat terharu, atas lamaran Zeroun malam ini.
Tanpa menunggu lama, Zeroun memasangkan cincin itu di jari Serena. Cincin itu melingkar indah di jari manis milik Serena. Zeroun kembali berdiri dan memeluk tubuh Serena dengan penuh cinta.
“Aku mencintaimu, sayang. Sangat mencintaimu.” Zeroun mencium pucuk kepala Serena berulang kali.
“Aku juga mencintaimu, sayang.”
“Berjanjilah, jangan pernah lupakan cinta kita. Apapun yang terjadi. Aku yakin, hidup kita akan terus dalam bahaya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, sayang. Aku akan selalu melindungimu.”
Serena kembali tersenyum manis, dan memeluk tubuh Zeroun. Ia sangat percaya, kalau Zeroun tidak akan pernah meninggalkan dirinya.
Serena melepas pelukannya, memandang wajah Zeroun, “Aku tahu, kau akan selalu menjagaku.”
“Kita akan menikah, satu bulan lagi. Aku akan menyiapkan pesta terindah untukmu. Kau akan menjadi ratu yang paling cantik di malam pernikahan kita.” Zeroun menatap wajah Serena dengan bahagia. Senyuman terus melekat di bibirnya. Hatinya sangat bahagia malam ini.
“Aku akan menunggu waktunya tiba.”
Hari – hari penuh aksi, mereka jalani dengan penuh bahagia. Kedua geng mafia yang di pimpin oleh Serena dan Zeroun, akhirnya menyatu. Serena memberikan Queen Star kepada Zeroun. Hingga hanya ada nama Gold Dragon di antara keduanya. Penggabungan itu membuat pertahanan milik Zeroun, semangkin kuat dan sulit untuk di kalahkan.
Hingga Arion semangkin dendam kepada Zeroun. Ia kembali memikirkan cara licik untuk mengalahkan Zeroun. Satu-satunya orang yang pernah melihat wajah Serena adalah Arion. Hingga Arion menyuruh Wubin untuk mencelakai Serena pada malam itu. Membuat hidup Zeroun hancur, bahkan menjadikan Gold Dragon tidak lagi jaya. Semua kembali di genggaman Arion, dengan geng mafia White Tiger miliknya.
Rencana pernikahan yang di susun secara rapi, harus gagal. Serena mengalami kecelakaan, dan dikabarkantelah meninggal dunia. Hingga rencana pernikahan yang indah itu, tidak pernah terlaksana lagi. Pesta pernikahan yang di penuhi kebahagiaan, harus terganti dengan satu duka yang tidak terobati.