Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 17



S.G.Group


Daniel duduk di kursinya dengan wajah khawatir. Sejak pagi hingga siang wanita berstatus istrinya itu tidak bisa untuk dihubungi. Sejak tadi, Ceo makanan ringan itu sibuk dengan ponsel layar sentuhnya. Ingin sekali saat ini ia pria meninggalkan pekerjaannya untuk menemui sang istri. Walau sudah di jaga oleh beberapa pengawal tangguh, tapi tetap saja itu tidak bisa menjamin keselamatan istrinya saat ini.


Biao dan Tama yang sejak tadi ada di hadapan Daniel juga memasang wajah bingung. Baru saja tadi pagi Tuan mudanya berwajah berseri dengan senyum ceria. Tapi, siang ini senyum itu hilang entah kemana. Bahkan Daniel terlihat tidak kosentrasi dengan pekerjaan yang kini mereka bahas.


Kedua bola mata Daniel sejak tadi hanya fokus ke layar ponsel bukan ke layar laptop lagi. Bahkan handsfree yang ada di telinganya berulang kali ia tekan-tekan dengan wajah kesal.


Hubungi pengawal yang menjaga Serena!” perintah Daniel tanpa mau memandang.


Mendengar perintah Daniel, membuat Biao mengeluarkan ponselnya dengan segera. Pria itu melekatkan ponselnya di telinga sambil menunggu teleponnya tersambung. Sama halnya dengan Daniel, Biao juga tidak bisa menghubungi bawahannya itu.


“Tidak tersambung,” ucap Biao sambil mengeryitkan dahi.


“Bagaimana bisa?” Tama merebut paksa ponsel sahabatnya untuk memeriksa sesuatu yang salah dari ponsel itu. Tama terlihat mencurigai sesuatu saat itu. Dengan cepat, ia mengambil ponselnya dari dlaam sakuu dan mencoba untuk menghubungi nomor Biao. Sama dengan Daniel dan Biao, Tama juga tidak bisa melakukan panggilan keluar.


“Aku akan menyelidikinya,” ucap Tama sambil memandang layar laptopnya. Pria itu mulai memeriksa kesalahan yang menyebabkan panggilan telepon mereka tidak tersalurkan. Lelaki murah senyum itu mengeryitkan dahi saat sudah berhasil mengetahui kesalahan yang terjadi.


“Seseorang sengaja melakukan ini untuk menutup akses kita menerima telepon dan melakukan panggilan.” Tama menatap wajah Biao dengan wajah serius.


Daniel menatap wajah Tama dengan seksama, “Apa seseorang ingin mengagalkan pertemuan penting kita siang ini?” Kedua tangannya di letak di atas meja.


“Benar, Tuan. Seseorang merusak jaringan yang ponsel kita bertiga. Aku tidak tahu, apa semua karyawan S.G.Group juga merasakan hal yang sama. Hal ini yang menyebabkan kita tidak bisa menerima panggilan telepon.”


“Apa terjadi sesuatu dengan Serena?” ucap Daniel dengan wajah khawatir.


“Sepertinya orang yang menjadi sasaran mereka adalah kita, Tuan. Lebih tepatnya anda. Dia ingin merusak reputasi anda siang ini.” Tama meletakkan ponsel Biao di atas meja.


“Berapa lama kau bisa mengatasi ini?” Biao menatap wajah Tama dengan serius.


“Aku bisa menyelesaikannya dalam waktu 1 jam. Tetapi 1 jam lagi pertemuan kita akan berlangsung. Semua berkas yang harus kita bawa harus selesai secepatnya,” sambung Tama dengan wajah bingungnya.


“Biar Aku yang menanganinya,” jawab Daniel cepat. Sambil mengaktifkan kembali layar laptopnya yang sempat mati.


“Tuan, saya akan menyuruh Sharin untuk melakukan hal ini. Dia ahli dalam hal ini. Selama ini dia juga sudah banyak membantu kita.” Tama mengukir senyuman manis. Sudah saatnya dia membawa nama Sharin agar keponakan cantiknya itu bisa di pandang berguna saat berada di S.G.Group.


“Teman yang kau bilang membantumu soal IT itu, wanita tadi?” tanya Biao tidak percaya.


Tama tersenyum lagi sambil mengangguk, “Apa kau tidak percaya?”


Daniel memandang wajah Tama dan Biao secara bergantian, “Kita tidak punya banyak waktu.”


“Maaf, Tuan,” ucap Tama dan Biao secara bersamaan.


“Ya sudah, kau boleh memanggil wanita tadi ke ruangan ini. Suruh dia untuk memperbaiki semua masalah ini secepatnya.”


“Baik, Tuan.” Tama beranjak dari duduknya. Pria itu berjalan cepat untuk memanggil keponakannya.


Biao dan Daniel kembali fokus pada pekerjaan mereka. Sebelum waktu pertemuan tiba, mereka harus sudah menyelesaikan semuanya. Pekerjaan mereka cukup menumpuk akibat ide jalan-jalan romantis Daniel semalam sore. Andai saja Daniel tidak kepikiran untuk itu, maka pekerjaan hari ini tidak akan menumpuk sebanyak itu.


Tama berjalan masuk ke dalam ruangannya. Pria itu berdiri mematung saat melihat keponakan cantiknya tidur dengan posisi yang tak biasa. Tama menggeleng kepalanya sebelum berjalan mendekati meja. Pria itu memukul meja dengan cukup kuat untuk mengangetkan Sharin yang masih terlelap dengan mimpinya.


“Paman Biao!” teriak Sharin dengan mata melebar.


“Biao?” ucap Tama sambil mengeryitkan dahi. Pria itu melipat kedua tangannya untuk menagih penjelasan keponakannya.


“Eh, Paman Tama. Kenapa Paman mengagetkanku?” Sharin mengucek-ngucek matanya yang masih cukup ngantuk.


“Kenapa kau menyebutkan nama Biao?” tanya Tama penuh selidik.


Sharin mengukir senyuman centilnya sebelum menjawab pertanyaan Tama, “Aku memang sedang bermimpi Paman tampan itu.”


“Sharin, Aku sudah bilang. Biao tidak sama dengan pria pada umumnya. Kenapa Kau tidak juga mengerti dengan perkataanku!” Wajah Tama terlihat kesal.


Tama menghela napas, “Ya sudah. Ayo ikut Aku ke ruangan Tuan Daniel. Ada pekerjaan yang bisa Kau lakukan di sana. Aku harap Kau tidak mempermalukanku nanti.” Tama emmutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu.


“Pekerjaan apa Paman?’’ tanya Sharin sambil beranjak dari kursinya.


“Sudah, ikut saja,” jawab Tama tanpa mau memandang wajah Sharin lagi yang kini mengejarnya di belakang.


Di lantai bawah.


Serena baru saja tiba di S.G.Group. Wanita itu cepat-cepat keluar dari dalam mobil. Beberapa pengawal juga sibuk menjaganya dari samping dan belakang. Security dan beberapa karyawan yang menatap wajah Serena kini menunduk hormat. Mereka tidak akan berani lagi untuk menghina istri Ceo mereka. kejadian waktu itu cukup membuat pelajaran bagi semua karyawan yang bekerja di S.G.Group.


“Selamat pagi, Nona,” ucap satu persatu karyawan, saat Serena melewati tubuh mereka. Serena tidak menjawab. Wanita itu lebih memilih untuk mengukir senyum dan fokus pada jalan depan.


Di depan pintu lift, seorang security mempersilahkan Serena masuk ke dalam. Beberapa pengawal yang sempat mengikuti Serena juga tertahan di depan lift itu. Serena hanya sendirian masuk ke dalam lift. Sudah bisa di pastikan kalau majikan mereka itu kini sudah dalam posisi aman. Tidak akan ada lagi bahaya yang mengancam Serena saat wanita itu tiba di lantai ruangan Daniel nantinya.


Serena menekan nomor lantai yang menghubungkannya dengan ruangan Daniel. Wanita itu bersandar di dinding lift dengan wajah gelisah. Setelah menatap wajah Daniel, satu hal yang ingin ia lakukan adalah memarahi suaminya itu. Wanita itu dibuat cukup kesal hari ini, gara-gara ponsel Daniel yang tidak bisa di hubungi.


Pintu lift terbuka. Suara high heels Serena terdengar begitu jelas. Langkah cepatnya membuat satu irama di tengah ruangan sunyi dan luas itu. Matanya fokus memandang pintu ruang kerja milik suaminya.


“Awas saja Kau, Daniel!” umpat Serena kesal. Tangannya menggengam kuat handle pintu sebelum mendorong pintu itu. Wanita masuk begitu saja ke dalam ruangan suaminya tanpa permisi.


“Daniel!” teriak Serena dengan suara kuat. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu menatap kedatangan Serena tanpa berkedip.


“Sayang,” ucap Daniel sambil beranjak dari kursinya. Pria itu mengukir senyuman indah untuk menyambut kedatangan istrinya. Hatinya yang sempat gelisah dan dipenuhi kekhawatiran kini sudah bisa tenang kembali.


“Kenapa Aku tidak bisa menghubungimu,” ucap Serena sambil menatap orang-orang yang kini memenuhi ruangan suaminya. Sharin yang kini duduk di sofa dengan layar laptop di hadapannya, menjadi pusat perhatian Serena. Bagaimanapun juga, wajah Sharin cukup asing baginya. Di tambah lagi dari raut wajah Sharin, sudah bisa di pastikan kalau wanita itu masih remaja.


“Sayang, ada masalah yang terjadi dengan jaringannya.” Daniel berhenti di hadapan Serena. Pria itu masih tersenyum bahagia melihat kunjungan wanita yang ia cintai.


“Siapa dia?” tanya Serena sambil menatap wajah Sharin. Daniel memutar tubuhnya untuk mengikuti arah pandangan Serena.


“Sharin, dia keponakan Tama. Magang di sini selama 3 bulan,” jawab Daniel sebelum menatap wajah cantik istrinya lagi.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” tanya Daniel dengan wajah serius.


Serena mendorong tubuh Daniel lagar menyingkir dari hadapannya. Wanita itu berjalan ke arah kursi hitam besar milik suaminya, “Tadi ada beberapa orang yang menyerangku di jalan.” Menjatuhkan tubuhnya di kursi empuk itu.


Perkataan Serena mengalihkan pandangan Tama dan Biao. Daniel yang masih berdiri pada posisinya juga terlihat khawatir, “Siapa, sayang?” Berjalan mendekati Serena.


“Aku tidak tahu,” jawab Serena sambil menatap layar laptop suaminya yang kini ada di hadapannya.


“Sayang, apa kau baik-baik saja?” Daniel duduk di atas meja sambil menatap wajah cantik istrinya.


“Aku baik-baik saja. Shabira memberi tahuku kalau ada orang yang ingin mencelakimu.” Serena menatap wajah Daniel dengan wajah serius.


“Aku tidak ingin kau dalam bahaya. Makanya, Aku secepatnya ingin menemuimu. Di tambah lagi,, ponselmu tidak aktif sejak pagi.” Serena memasang wajah cemberut.


“Tuan, sepertinya ini ada hubunganya dengan telepon ini.” Biao angkat bicara. Pria itu berhasil menyatukan info-info yang diceritakan Serena dengan kejadian yang kini mereka alami.


Daniel mengangguk, “Ya, kau benar. Sepertinya seseorang merencanakan semua ini.”


Serena bersandar, “Kali ini musuhmu, Daniel. Dia saingan bisnismu. Apa kau ingat akan nama seseorang?”


“Tuan Marcus. Dari PT. ALKA. Kami baru saja membuat satu perusahannya bangkrut beberapa hari yang lalu,” jawab Tama dengan begitu percaya diri. Entah kenapa, setelah mendengar pertanyaan Serena, nama yang muncull di hatinya adalah pria itu.


“Marcus?” Serena mengeryitkan dahi dengan bibir tersenyum tipis.


“Apa lawan kita kali ini orang yang jago dengan IT?” sambung Daniel sambil menatap wajah istrinya.


Like ya reader... kalau dpt 500 nti malam jam 12 aku bagi bab lagi