Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 66



“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?” Daniel beranjak dari duduknya.


“Apa kalian keluarga dari kedua pasien yanga da di dalam?” tanya Dokter itu sambil memandang wajah Shabira dan Daniel secara bergantian.


“Ya, kami keluarganya,” jawab Shabira dan Daniel bersamaan.


“Dua pasien mengalami kritis dan kekuarangan banyak darah. Kami memiliki stok darah untuk salah satu pasien. Tapi, untuk pasien yag satunya kami tidak mempunyai stok darah.”


“Ambil darah saya saja,” ucap semua orang yang ada di ruangan itu.


Dokter menatap wajah orang-orang yang kini mengelilingi dengan raut wajah khawatir.


“Golongan darah yang saya butuhkan adalah O positif. Siapa di antara kalian yang memiliki golongan darah itu?”


“Saya,” jawab Shabira.


“Apa yang lain tidak ada selain wanita ini?” Dokter itu kembali bertanya pada Lukas dan Biao.


Semua orang menggeleng pelan, karena memang tidak memiliki golongan sama dengan apa yang diminta dokter itu.


“Baiklah, ikuti perawat ini. Ia akan mengambil darah anda di ruangan itu.” Dokter itu menatap perawat yang berdiri di belakang tubuhnya.


“Mari, Nona.” Perawat itu membawa Shabira ke ruangan donor darah.


“Saya permisi dulu.” Dokter itu memutar tubuhnya untuk masuk.


“Tunggu, Dok. Di antara pria dan wanita itu siapa yang membutuhkan donor darah.” Daniel menatap wajah Dokter dengan seksama.


“Seorang pria. Kedua pasien harus menjalani operasi saat ini juga. Jika tidak ….”


Kenzo keluar dari dalam IGD, “Lakukan apapun yang terbaik, Dok. Selamatkan kedua teman saya. Berapapun biaya yang diminta, akan saya bayar.”


“Kami akan berusaha semaksimal mungkin.” Dokter itu masuk ke dalam ruangan.


“Kenzo, bagaimana keadaanmu?” Daniel mendekati tubuh Kenzo.


“Hanya luka kecil.” Kenzo memandang punggung Shabira yang menghilang dari balik pintu.


Pintu IGD terbuka lebar, dua brangkar keluar dengan membawa tubuh Serena dan Zeroun. Daniel berlari mendekati brankar Serena dia memandang wajah pucat Serena dan Zeroun secara bergantian.


“Sayang, Kau harus bisa melewati semua ini. Aku tahu kau wanita yang kuat.” Daniel kembali meneteskan air mata.


“Maaf, Tuan. Kami harus segera membawa pasien ke ruang operasi.”


Beberapa perawat mendorong brankar itu dengan cepat menuju ke ruang operasi. Serena dan Zeroun belum sadarkan diri. Wajah keduanya terlihat pucat karena kekurangan banyak darah. Selang oksigen terpasang di hidung Serena dan Zeroun.


“Daniel, kau harus kuat. Semua akan baik-baik saja.” Kenzo menahan pundak Daniel yang ingin berlari mengejar brankar Serena.


“Serena hamil, Kenzo.” Daniel menarik napas dalam.


“Hamil?” tanya kenzo tidak percaya.


Daniel mengangguk cepat, ”Ya.”


Kenzo tidak lagi bisa mengeluarkan kata, Ia hanya bisa mematung memandag ruang operasi yang kembali tertutup itu.


Suasana berubah hening. Daniel berjalan ke arah kursi dan duduk di tempat itu. Kenzo mengikuti lagkah Daniel dan duduk di sampingnya. Kenzo menundukkan kepalanya memikirkan semua yang terjadi hari itu.


“Maafkan aku, karena aku tidak berhasil dalam misi ini.” Wajah Kenzo berubah sedih.


“Jangan salahkan dirimu seperti itu.” Daniel juga menundukkan kepalanya. Pikirannya kembali melayang membayangkan wajah Serena dan Zeroun yang kini bertarung nyawa di ruang operasi.


Satu pengawal Gold Dragon muncul dengan membawa paper bag. Memberikan Paper bag itu kepada Kenzo.


“Bos, ini baju yang anda minta.”


“Terima kasih,” jawab Kenzo pelan.


“Aku harus mengganti baju,” Kenzo beranjak dari duduknya. Membawa paperbag yang berisi bajunya dan Shabira.


Ruang Operasi


Beberapadokter bedah dan perawat berkumpul mengelilingi tempat tidur Serena. Tidakjauh dari tempat Serena beberapa dokter bedah dan perawat juga mengelilingi tempat tidur Zeroun. Mengenakan pakaian serba biru, masker dan sarung tangan.


Lampu sorot di pasang dengan begitu terang. Suasana terasa sangat dingin dan menegangkan. Hanya terdengar monitor jantung. Detak jantung Serena dan Zeroun sama-sama lemah. Beberapa dokter berusaha dengan keras untuk mengeluarkan peluru yang tertancap.


“Dok, pasien ….” satu perawat kembali mengingatkan keadaan Serena dengan denyut jantung yang semangkin melemah.


“Percepat infus darah,” perintah Dokter dengan keringat yang berkucur deras.


Saat ini, nyawa Serena benar-benar berada di ujung maut. Selain kehilangan banyak darah, Serena juga kehilangan banyak cairan dalam tubuhnya.


“Defibrilator,” ucap Dokter itu pelan.


Detak jantung Serena sudah semakin hilang. Dokter meminta alat pemacu jantung agar bisa menyelamatkan nyawa Serena saat ini.


Berulang kali alat Pacu jantung itu di letak di atas dada Serena, tapi detak jantung Serena tidak kunjung bertambah dan semakin lemah.


Keringat semakin berkucur deras di dahi dokter itu saat melihat pasien yang ia tangani hampirkehilangan kesempatan untuk hidupnya lagi.


“Sekali lagi,” ucap dokter itu tanpa kenal putus asa.


Di tempat Zeroun, operasi berlangsung dengan cepat dan tanpa hambatan. Beberapa dokter yang menangani Zeroun berhasil mengeluarkan peluru yang tertancap di dalam tubuh Zeroun. Menjahit ulang lukanya yang hampir infeksi di perut.


Beberapa dokter menarik napas dalam saat melihat kondisi Zeroun semakin stabil. Semua dokter mengalihkan pandangannya pada kerumunan dokter yang kini berjuang keras menyelamatkan nyawa Serena.


***


Tiga jam kemudian.


Shabira tertidur di pundak Kenzo. Tubuhnya terasa lelah dan tidak lagi bertenaga. Biao dan Lukas masih berada di luar untuk membeli makanan dan minuman. Beberapa pasukan S.G.Group masih berdiri tegab untuk berjaga-jaga.


Daniel bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Mengingat momen-momen indah bersama Serena, untuk mengobati kerinduannya saat ini. Ingin sekali ia segera pergi menerobos masuk ke ruang operasi itu. Tapi, hal itu tidak akan mungkin. Sudah lama, ia menunggu kabar dari dokter. Tapi belum ada satu orangpun yang keluar dari ruangan operasi itu.


“Daniel, bersabarlah. Semua akan baik-baik saja.” Kenzo memandang wajah Lukas dan Biao yang baru saja muncul.


“Ini makanan dan minuman untuk anda, Tuan.” Biao menyodorkan kantung plastik di hadapan Daniel.


Daniel hanya diam dan tidak ingin menerima bungkusan itu.


“Berikan padaku. Jika ia tidak memikirkan kesehatannya, untuk apa kau memikirkannya.” Kenzo merampas kantung plastik itu dari tangan Biao.


“Sayang, bangunlah. Kau harus makan dan minum.” Kenzo membangunkan Shabira yang masih tertidur pulas.


“Dimana Kak Erena?” Shabira membuka matanya dengan tatapan mencari.


“Belum ada kabar tentang Serena. Minum ini.” Kenzo memberi satu botol minuman di hadapan Shabira.


“Apa kau sudah minum?” Shabira mengambil botol minum itu dan meneguknya secara perlahan.


“Aku tidak haus.” Kenzo mengukir senyuman Manis.


Daniel menarik napas saat mendengar perkataan Kenzo. Ia tahu, apa yang saat ini ada di pikiran Kenzo. Kenzo mengkhawatirkan kesehatan Shabira seperti yang kini ia rasakan.


“Berikan padaku!” Daniel mengambil satu botol minuman dari dalam kantung plastik yang dipegang Kenzo. Meneguk minuman itu untuk melepas dahaga yang sejak tadi ia rasakan.


“Kau juga harus minum,” sambung Daniel cepat.


Kenzo tersenyum sebelum mengambil satu botol minuman dan meneguknya dengan cepat.


Beberapa dokter bedah dan perawat keluar dari dalam ruang operasi. Daniel dan yang lainnya segera berlari untuk mendekati dokter tersebut. Wajah mereka masih diselimuti ketakutan.


“Dokter, bagaimana keadaan istri saya?” tanya Daniel sambil memegang kedua lengan dokter itu.


Dokter itu tersenyum, “Operasinya berjalan lancar. Kami sudah berhasil mengeluarkan peluru yang tertancap di dalam tubuh Nona Serena.”


“Tapi ….” Dokter itu memandang wajah Daniel sambil mengerutkan dahinya.


Daniel melepas genggaman tangannya, “Apa yang terjadi?”


“Maafkan saya, Tuan. Saya tidak bisa menyelamatkan janin yang dikandung oleh Nona Serena.” Wajah Dokter itu berubah sedih.


Daniel mengukir senyuman terpaksa, “Yang terpenting sekarang, Serena dan Zeroun selamat. Itu sudah cukup.”


Semua orang terbelalak kaget saat mendengar perkataan Daniel. Mereka tidak pernah menyangka, kalau Daniel bisa menerima kabar buruk itu dengan begitu tenang.


“Pasien akan segera di pindahkan ke ruang rawat. Anda bisa menemuinya di sana.” Dokter itu menepuk pundak Daniel dengan pelan.


“Istri anda wanita yang sangat kuat. Ia kekuarangan cairan yang sangat banyak tapi bisa bisa bertahan hingga sekarang.”


Dokter kembali mengingat riwayat keadaan Serena yang begitu lemah karena tidak makan dan minum selama beberapa hari. Serena masih mampu bertahan, meskipun ia sedang mengandung.


“Terima kasih, Dok.” Kenzo angkat bicara saat ia memandang Daniel hanya melamun.


“Kakak Anda juga dalam keadaan stabil, Nona.” Dokter itu memandang wajah Shabira dengan senyuman.


“Kak Erena?” tanya Shabira untuk memastikan perkataan Dokter itu.


“Bukan, pria yang anda berikan donor darah. Dia saudara kandung anda bukan?” ucap dokter itu dengan wajah bingung.


“Kakak?” Botol minuman yang sejak awal ia genggam terlepas dari tangannya. Botol minuman itu tergeletak di permukaan lantai.


Semua orang kaget, saat mendengar perkataan Dokter itu.


“Apa maksud anda, Dok?” Kenzo menatap wajah Dokter itu dengan penuh tanya.


“Shabira dan Zeroun tidak memiliki hubungan apapun. Bagaimana mungkin anda bilang mereka bersaudara?” Kenzo memegang erat tangan Shabira.


“Maafkan saya, tuan. Tapi, hasil lab tidak akan salah. Nona Shabira dan Tuan Zeroun memang saudara kandung. Kami sudah memeriksa hasil DNA mereka berdua.” Dokter itu masih teguh pada pendiriannya.


“Ini tidak mungkin,” ucap Kenzo pelan.


“Apa anda yakin dengan perkataan anda, Dokter?” tanya Daniel dengan wajah serius.


“Saya bisa melakukan sampel DNA selanjutnya jika anda tidak percaya.” Dokter itu tersenyum penuh keyakinan.


“Tidak perlu, Dok. Kami akan menanyakan hal ini langsung pada Zeroun.” Kenzo menarik tubuh Shabira ke dalam pelukannya.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Shabira dengan nada yang sangat pelan.


“Kita akan segera mengetahuinya setelah Zeroun sadar.” Kenzo mengusap lembut pundak Shabira.


Pintu ruangan operasi terbuka. Beberapa perawat membawa brankar Serena dan Zeroun keluar dari dalam ruangan itu. Mendorong brankar menuju ke ruang rawat pasien. Keadaan Serena dan Zeroun memang sudah membaik. Hanya tinggal menunggu Serena dan Zeroun sadar.


Ruangan Serena dan Zeroun terletak berdampingan. Daniel dan Biao berada didalam ruangan Serena. Sedangkan Shabira, Kenzo dan Lukas menemani Zeroun di dalam ruangannya.


Suasana sangat hening. Daniel meraih tangan Serena mengecupnya dengan lembut.


“Bangunlah sayang. Aku sangat merindukan tawa ceriamu.”


Biao hanya bisa berdiri diam di belakang Daniel. Hatinya juga diselimuti kesedihan, saat melihat keadaan majikannya itu.


“Tuan, saya permisi dulu.” Biao membungkuk hormat sebelum memutar tubuhnya.


“Apa mama sudah tahu semua ini?” tanya Daniel cepat.


“Tuan dan Ny. Edritz masih dalam perjalanan, Tuan. Kemungkinan, beliau akan tiba tengah malam.” Biao sudah memberi kabar berita itu kepada Ny. Edritz sejak tadi.


“Baiklah. Kau boleh pergi.” Daniel kembali memandang wajah Serena yang masih memejamkan mata.


Biao membungkuk sebelum pergi meninggalkan ruangan itu.


“Sayang, sejak kapan kau hamil? kenapa kau merahasiakan semua ini dariku. Apa yang kau pikirkan, kenapa kau tidak menceritakan semuanya padaku.” Daniel mengecup punggung tangan Serena berulang kali. Mengelus lembut wajah Serena, yang terdapat bekas luka pukulan.


Hati Daniel terasa perih, saat melihat keadaan Serena saat ini. Ia terus menyalahkan dirinya karena tidak berhasil menjaga Serena dengan baik.