Mafia's In Love

Mafia's In Love
Bonus Part. 23



S.G. Group.


Tama meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Pria berkemeja putih itu kini mulai bingung memikirkan perkataan Kenzo. Sejak awal memang ia ingin menjodohkan Biao dan Anna. Tapi, entah apa yang terjadi, saat di tengah jalan justru pria itu yang tertarik. Kini debaran jantungnya tidak lagi bisa berdetak dengan normal. Nama Anna memenuhi isi kepalanya. Membayangkan Anna tidak ada lagi di kota yang sama dengannya membuat satu rasa kehilangan.


Tama membuka layar laptopnya untuk melihat-lihat proyek besar yang sudah ada di London. Sebenarnya proyek itu akan dirilis setelah musim salju selesai. Tama mengukir senyuman saat mengingat perjuangan Biao yang tidak ada untuk Anna. Bahkan saat pria itu memberi kabar tentang kepergian Anna, Biao hanya menjawab bagus.


“Sepertinya kali ini aku harus memperjuangkan wanita itu,” ucap Tama pelan sambil terus memeriksa seluruh proyek yang ada di London. Ada senyum puas di sudut bibirnya saat pria itu berhasil mempersiapkan semuanya.


“Aku akan meminta persetujuan Tuan Daniel,” ucap Tama sambil membawa berkas yang baru saja selesai ia print. Pria itu cukup bersemangat untuk mengejar cintanya hingga ke London.


Di depan pintu, Tama berpapasan dengan Sharin. Gadis 20 tahun itu, ia tugaskan untuk mengambil berkas penting di lantai bawah. Sambil membawa tumpukan berkas di depan dadanya, Sharin mengukir senyuman manisnya.


“Paman Tama, mau kemana? Kenapa terlihat buru-buru,” ucap Sharin sambil menatap dokumen yang ada di genggaman Tama.


“Paman mau ke ruangan Tuan Daniel. Sharin, kau harus memeriksa semua berkas ini,” perintah Tama sebelum pergi meninggalkan Sharin di lorong itu.


Sharin memutar tubuhnya untuk memandang kepergian Tama, “Wajah Paman Tama sedikit berbeda, apa dia lagi sakit?” Gadis itu menggelng kepalanya sebelum masuk ke dalam ruangan.


Di ruangan Daniel.


Biao dan Daniel saling berdiskusi tentang hasil perusahaan yang mereka dapatkan bulan ini. Dua pria itu terlihat fokus dengan topik pembahasan mereka. Munculnya Tama dari balik pintu mengalihkan kosentrasi dua pria itu.


“Tama, ada apa?” tanya Daniel. Sejak awal, Daniel sudah memberikan tugas sendiri untuk Tama dan Sharin. Baru saja pria itu keluar dari ruanganya beberapa menit yang lalu. Kini dengan tiba-tiba, Tama kembali masuk ke dalam ruangan itu.


“Tuan, ada yang mau saya bicarakan,” ucap Tama sambil berjalan pelan menuju ke arah kursi yang biasa ia duduki. Biao terlihat mengeryitkan dahi saat melihat sikap aneh sahabatnya siang itu.


“Katakan, ada apa sebenarnya?” Daniel mulai terlihat penasaran dengan pertanyaan yang akan segera diucapankan oleh Tama.


“Begini, Tuan. Proyek kita yang ada di London ....” ucapan Tama terhenti, entah kenapa pria itu sangat sulit untuk mengeluarkan isi hatinya saat ini. Di tambah lagi, tatapan Biao yang kini cukup serius menatap wajahnya.


“Oh, iya. Proyek itu.” Daniel kembali ingat dengan rencana besarnya. Pria itu mengukir senyuman sambil memikirkan sesuatu.


“Lalu bagaimana, Tuan?” ucap Tama bersemangat.


“Apanya yang bagaimana? kau ingin pergi ke London hanya untuk mengejarnya?” Biao menatap wajah Tama dengan seksama. Sejak awal pembicaraan Tama, pria itu sudah tahu apa yang kini diinginkan sahabatnya.


“Dia?” tanya Daniel sambil mengeryitkan dahi.


Tama memukul pundak Biao dengan senyum penuh arti, “Dia yang di maksud Biao yaitu proyek kita, Tuan.”


“Aku sudah putuskan untuk memulai proyek itu tiga bulan lagi. Rencananya masih banyak yang harus di revisi. Di tambah lagi, kita juga harus mempertahankan target selama musim salju ini.”Daniel menutup layar laptopnya sebelum menatap jam yang melingkar di tangannya, “Mama dan Papa sudah tiba di rumah. Siang ini aku ingin makan siang di rumah.”


Tama dan Biao ikut berdiri dari kursinya saat melihat Ceo makanan ringan itu berdiri.


“Selesaikan semua yang sudah aku tugaskan,” ucap Daniel sebelum berlalu pergi meninggalkan ruangan kerja miliknya itu.


Tama benar-benar kecewa siang itu. Tidak pernah terbayangkan akan sesulit ini untuk mengejar Anna ke London. Pria itu kembali duduk pada kursinya dengan satu tangan menopang kepalanya. Satu tangannya yang lain memukul-mukul meja kerja Daniel yang kini ada di hadapannya.


“Kau benar-benar ingin mengejarnya?” Biao duduk sambil mengeryitkan dahi.


“Bukankah kau tidak mau mengejarnya. Tidak salah bukan, kalau aku yang kini berusaha untuk mengejarnya.” Tama sedikit malas bercanda dengan Biao siang itu. Wajahnya benar-benar tidak bersemangat.


“Kau suka dengannya sejak awal, tetapi kenapa menjodohkanku dengannya,” ucap Biao samba memeriksa laporan yang kini ada di genggamannya.


“Percuma saja aku mendapatkan wanita, kalau aku tidak pernah bisa menikah dengannya,” sambung Tama tanpa peduli dengan reaksi yang akan ditimbulkan Biao saat ini.


Biao hanya diam mendengar perkataan Tama. Sudah bertahun-tahun sejak dirinya mengenal Tama. Pria itu kini baru mulai sadar dengan usianya yang tidak muda lagi. Sudah bertahun-tahun lamanya, hanya ada nama Daniel di dalam kepalanya. Tidak pernah pria berekspresi dingin itu memikirkan tentang cintanya.


Sudah berulang kali ia mencoba untuk berbaur dengan wanita. Namun, selalu saja mendapatkan hasil akhir yang mengecewakan.


“Sudahlah! aku mau kembali ke ruanganku. Mungkin aku dan Anna tidak berjodoh.” Tama beranjak dari kursinya.


“Apa maksudmu, Biao?” Tama mengeryitkan dahi.


Biao menatap wajah Tama dengan senyum kecil. Pria itu mengambil beberapa berkas yang ada di atas meja, “Karena Anna teman masa kecilmu.”


“Apa?” celetuk Tama kaget. Pria itu masih belum yakin dengan kalimat yang diucapkan oleh sahabatnya.


“Waktu itu aku menyelidiki kehidupan Anna. Wanita itu cukup menyebalkan hingga aku iseng menyelidiki kehidupan pribadinya. Wanita itu tinggal di alamat yang pernah kau ceritakan dulu. Bukankah kau juga pernah bilang, akan ada seseorang yang selalu menunggumu? Di situ aku mulai penasaran dengan wanita yang kau bilang akan selalu menunggu,” ucapan Biao terhenti saat Tama memotong pembicaraannya.


“Tunggu, Anna adalah Nana?” Wajah Tama terlihat berseri. Tidak pernah terbayangkan, kini wanita masa kecilnya yang sempat hilang kembali muncul di hadapannya.


Biao mengangguk, “Aku juga baru tahu tadi pagi.”


“Biao, kau.” Tama benar-benar bahagia. Pria itu memeluk sahabatnya dengan wajah riang, “Untuk menjadi detektif yang menyelidiki masa lalu orang lain, kau memang ahlinya.”Tama menepuk punggung Biao dengan cukup kuat. Pria itu benar-benar sangat bahagia saat ini.


Pintu tiba-tiba terbuka. Sharin muncul dari balik pintu. Wanita itu sungguh syok dengan pemandangan yang ada di depan matanya. Kini dua pria yang ia kenali sedang berpelukan. Gadis 20 tahun itu kembali ingat dengan perkataan Tama kalau Biao berbeda dari yang lain. Yang tersimpan di dalam kepala mungilnya itu hanya tuduhan-tuduhan kepada dua pria yang ada di hadapannya. Ia tidak pernah menyangka kalau Pamannya yang menjadi kekasih Paman tampan yang ia kagumi.


“Paman, kau sungguh memalukan!” ucap Sharin sambil memutar tubuhnya untuk pergi meninggalkan ruangan itu.


Dengan cepat, Biao dan Tama saling mendorong. Kini dua pria itu juga memasang wajah serius atas tuduhan Sharin barusan. Tidak selang beberapa detik kemudian, dua pria itu saling melepas tawa.


“Aku rasa keponakanmu sudah memikirkan hal yang aneh-aneh tentang kita,”ucap Biao dengan disisa-sisa tawanya.


“Aku bilang padanya kalau kau berbeda dengan pria normal pada umumnya,” sambung Tama dengan tawanya juga.


“Kau ini. Selalu saja suka merusak nama baikku.” Biao kembali duduk di kursi untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Ok, karena kau sudah membantuku dan membuatku bahagia hari ini. Maka nama baikmu di depan Sharin akan segera aku kembalikan.”Tama melipat kedua tangannya dengan wajah sok benar.


Biao menatap Tama dengan tatapan tajam favoritnya, “Kau yang memulainya, kau juga yang harus mengakhirinya.”


“Ok, ok! Aku pergi dulu. Secepatnya aku akan menghubungi Anna untuk menjelaskan semua ini padanya.” Tama melanjutkan langkah kakinya dengan berkas tentang identitas Anna di tangannya. Pria itu cukup berbunga-bunga hari ini. Sedangkan Biao, tetap melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai. Pria itu kembali tersenyum saat membayangkan wajah lucu Sharin.


“Gadis itu sungguh menarik,” ucap Biao pelan.


Rumah Utama.


Serena tersenyum denga hati yang sangat bahagia. Kini ia duduk di atas karpet bulu yang ada di lantai. Ia membongkar isi koper hitam yang di hadiahkan Ny. Edritz. Di dalam koper itu ada banyak barang-barang bayi kembar. Baik itu barang laki-laki ataupun perempuan. Isi koper itu bisa dibilang sudah cukup lengkap. Ada baju, celana, sepatu, kaos kaki. Bahkan segala topi dan sweter hangat juga ada di dalamnya.


“Mama benar-benar sangat bahagia menerima hadiah ini, Sayang.” Serena mengusap lembut perutnya sambil bersandar di tempat tidur. Wanita itu menatap aneka barang berwarna-warni yang kini ada di hadapannya. Rasanya sudah tidak sabar untuk Serena melihat wajah kedua buah hatinya.


Serena meluruskan kakinya yang terasa lelah. Wanita itu mendongak ke langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Waktu sangat cepat berlalu. Dengan hembusan napas yang tiba-tiba saja sesak, Serena mulai memejamkan mata.


Pertama kali ia membuka mata setelah kecelakaan adalah keadaan dimana ia seperti bayi yang baru lahir. Tidak tahu siapa namanya dan bagaimana cara hidupnya selama ini. Hingga dengan mudahnya Tuan Wang mengubahnya menjadi wanita yang lemah-lembut dan cukup manja.


Tidak sulit bagi Tuan Wang untuk merubahnya menjadi wanita seperti itu. Kpribadiannya sejak dulu memang seperti itu. Serena bukan terlahir sebagai wanita tangguh. Ia terlahir sebagai wanita manja yang ingin selalu diperhatikan.


“Aku harap kehidupanku yang penuh darah itu hanya aku yang tahu nantinya. Aku tidak ingin kedua anakku tahu, betapa kejamnya aku sebagai seorang wanita.” Serena mengusap lembut perutnya lagi. Tiba-tiba saja wanita itu ingat dengan musuh suaminya.


Ya, keberadaan musuh mereka saat ini masih belum diketahui. Bisa jadi kini musuh mereka telah berkeliaran bebas di sekitar mereka. Serena belum berhasil menghabisi pohon utama yang menjadi dalang penyerangan siang itu.


“Sharin. Sepertinya gadis itu akan banyak membantuku untuk melacak keberadaan pria bernama Marcus.” Serena beranjak dari posisinya. Wanita itu mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Satu nama yang ingin ia hubungi adalah nama suaminya.


Serena melekatkan ponselnya di telinga. Wanita itu menunggu beberapa detik sampai panggilan masuknya tersambung,“Daniel, apa kau sibuk?” tanya Serena dengan wajah berseri


.


“Aku sangat sibuk, Sayang.”