
Daniel mendekatkan hidungnya dengan hidung Serena. Hingga saling bersentuhan. Keduanya memejamkan mata untuk sesaat. Serena terus berusaha melupakan masa lalunya. Meskipun itu hal sulit untuk ia lakukan saat ini.
“Sayang ….”
Daniel menjauhkan wajahnya dari Serena. Mengusap lembut wajah Serena.
“Ada apa?” Serena mengalungkan tangannya di leher jenjang milik Daniel.
“Siapa yang mencelakaimu, hingga kau mengalami amnesia, Sayang? Apa kau tahu, siapa yang telah melakukan semua itu? Apa dia musuhmu?”
Wajah Serena kembali berubah. Ia melepaskan tangannya dari leher Daniel. Mengatur posisi duduknya, hingga ia tidak lagi berhadapan dengan Daniel. Serena melamun dengan tatapan kosong. Masih membekas jelas, di dalam pikirannya. Tragedi kecelakaan yang menimpah dirinya beberapa bulan yang lalu.
Daniel mengerti, perubahan sikap Serena saat ini. Daniel mengambil tangan Serena, menggenggam dengan erat. Menariknya perlahan, dan mencium tangan Serena dengan kelembutan.
“Aku tidak memaksamu, jika kau tidak ingin menceritakannya.”
“Arion yang melakukan semua itu. Dia menyuruh pembunuh bayaran, untuk menghabisiku.” Serena menatap wajah Daniel dengan tatapan tajam.
Beberapa bulan yang lalu, saat Serena mengalami kecelakaan.
Hari sudah larut malam. Serena melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia mengemudikan mobil Bugatti Veyron Super Sport, berwarna biru gelap. Menembus keramaian kota.
Hingga ia memasuki jalan perbukitan, yang tertutup kabut malam. Pinggiran kiri jalan terdapat tebing yang menjulang tinggi. Bagian kanan jalan, terlihat padang rumput nan hijau yang di batasi jurang yang sangat curam.
Serena terus menambah kecepatan mobilnya, ia ingin segera tiba di rumah untuk beristirahat. Ia melihat dari balik kaca spion, ada mobil hitam yang mengikuti mobilnya saat ini. Serena mengambil pistol dan menarik pelatuknya untuk berjaga-jaga. Pandangannya terus ia alihkan pada mobil yang ada di belakang. Mobil itu juga menambah kecepatan mobil.
Serena tidak lagi fokus pada jalan di depannya. Jalan berkelok yang tidak lagi menampakan badan jalan di depannya. Sorotan lampu yang terang, membuat kosentrasinya hilang. Serena membanting stir mobilnya ke kanan.
Terdengar suara decitan rem mobil. Namun, mobil itu masih terus melaju dengan kencang. Rem mobilnya blong. Serena tidak lagi bisa mengendalikan mobil yang ia tumpangi. Pistol yang sempat ia pegang, juga terlepas. Terjatuh ke sembarang tempat, hinga tidak bisa untuk di temukan lagi.
Mobil itu hampir masuk ke dalam jurang, tersangkut di beberapa batu besar yang menghimpit. Serena merasakan sakit yang luar biasa, pada bagian kepalanya. Ia memegang kepalanya perlahan, dan menemukan banyak cairan merah di sana. Cairan merah itu terus mengucur deras. Membasahi jaket hitam yang saat ini ia kenakan.
“Apa yang terjadi, Kepalaku sakit. Ini terasa sangat sakit.”
Serena berusaha membuka pintu mobil. Mendorongnya dengan kaki. Serena berusaha turun dari mobil itu. Dengan sisa tenaga terakhir yang ia miliki. Merangkak perlahan, untuk menjahui mobil itu. Bebatuan besar itu, tidak lagi bisa menahan mobil Serena. Mobil itu masuk ke dalam jurang yang curam dan sangat gelap.
Suara dentuman terdengar jelas, menandakan kalau mobil itu meledak di bawah sana. Serena kembali mengatur napasnya yang terasa sesak. jantungnya berdebar cepat. Sosok pria berjas hitam mendekat ke arah posisi Serena kini berada.
Serena memandang sepasang sepatu hitam yang mengkilat. Mendongakkan kepalanya perlahan. Hingga terlihat sosok pria tersenyum tipis di hadapannya. Pria itu berjalan lagi, untuk meraih tubuh Serena. Namun, Serena kembali mundur dengan cepat. Ia tidak memiliki tenaga lagi untuk melawan. Ia sudah kehabisan cairan merah begitu banyak.
“Kau tidak akan pernah bisa lolos, Erena. Hari ini, kau akan mati di tanganku.”
Pria itu mengeluarkan senjata api yang tersimpan di dalam sakunya. Menodongkannya ke arah tubuh Serena. Menarik pelatuknya dengan cepat.
“Pria licik, jika aku bertemu denganmu lagi. Aku akan membalas semua pebuatanmu hari ini!” teriak Serena dengan sisa kekuatan yang ia miliki.
Pria itu tidak lagi memiliki belas kasih. Teriakan Serena semangkin memancing amarahnya saat ini. Hingga….
Duar !
Terdengar suara tembakan. Serena tergeletak di atas rerumputan. Memegang dadanya yang sudah berkucur deras cairan merah. Ia menatap ke arah langit yang dipenuhi bintang. Tersenyum sesaat, sebelum semua menjadi gelap. Serena masih setengah sadarkan diri.
Ia masih bisa merasakan, saat pria itu mendorong tubuhnya. Hingga tubuhnya tergelincir ke dasar jurang. Serena tidak lagi sadarkan diri. Dengan senyum bahagia, pria itu meninggalkan lokasi kecelakaan. Masuk ke dalam mobil, dan melajukan mobilnya dengan cepat. Ia sudah berhasil memusnahkan ratu mafia yang selama ini menghalangi aksinya. Tidak ada harapan, kalau Serena akan selamat dari kecelakaan itu.
***
“Kau masih di takdirkan untuk hidup, sayang.”
Daniel kembali mencium punggung tangan Serena. Setelah mendengar insiden kecelakaan itu. Hatinya kembali takut, untuk meninggalkan Serena. Daniel tidak ingin, Serena berada dalam zona bahaya lagi.
“Maafkan aku. Aku membuatmu kembali sedih sayang. Aku tidak akan membiarkan Wubin melukaimu lagi.” Daniel menarik pinggang Serena, medekapnya di dalam pelukan.
“Dia tidak akan membiarkan aku tetap hidup.”
Dengan cepat, Daniel meletakkan satu jarinya di depan bibir Serena. Melarang Serena, untuk tidak mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya.
“Selama aku masih hidup. Aku akan terus melindungimu, sayang.”
Tok… Tok…
Suara ketukan pintu, lagi-lagi merusak momen bahagia keduanya. Daniel menatap tajam ke arah pintu. Ia tidak ingin menyuruhnya masuk ke dalam.
“Ada apa?” teriak Daniel dari dalam.
Pak Han kembali memberanikan diri untuk menyampaikan satu pesan.
“Maaf, Tuan muda. Tuan dan Ny. Edritz, ingin bertemu dengan anda dan nona. Anda di tunggu di ruang utama saat ini, oleh beliau,” jawab Pak Han dengan nada yang cukup tinggi.
“Baiklah, aku akan ke sana.”
“Permisi, Tuan.”
“Sejak kau kembali pulang ke rumah ini, mama dan papa belum berani menemuimu. Ini pertama kalinya mereka ingin bertemu denganmu, sayang.” Daniel kembali menatap wajah Serena, dengan satu senyuman indah.
“Iya, aku juga sangat merindukan mama.” Serena membalas senyuman Daniel.
“Ayo kita turun ke bawah. Pasti ada banyak cerita yang kita bahas, nantinya.”
“Kenakan pakaianmu, sayang.” Serena tersenyum menatap tubuh Daniel yang masih bertelanjang dada.
Daniel beranjak dari duduknya. Berdiri tegab, dan menarik tangan Serena secara perlahan. Serena juga beranjak dari duduknya. Saling berhadapan. Daniel merangkul pinggang ramping milik Serena. Membawanya berjalan beriringan, dengan langkah kakinya saat ini.
“Pilihkan aku pakaian yang sesuai,” bisik Daniel di telinga Serena.
“Sejak kapan kau memintaku, untuk memilihkan pakaian yang akan kau pakai?” Serena menatap tajam wajah Daniel.
“Mulai hari ini dan seterusnya.” Daniel tersenyum manis.
“Baiklah, aku akan memilihkan pakaian yang pas untukmu, sayang.”
Serena memilihkan t-shirt lengan panjang, berwarna abu-abu. Sangat cocok dengan celana hitam, yang kini dikenakan Daniel. Daniel menyemprotkan aroma parfum ke tubuhnya sebelum mengenakan pakaian pilihan Serena.
“Sudah selesai, ayo kita turun.” Daniel kembali merangkul pinggang Serena.
Serena tersenyum manis, menerima prilaku lembut Daniel. Menjatuhkan kepalanya pada pundak Daniel dengan manja. Keduanya keluar dari kamar, dengan wajah penuh kebahagiaan. menuruni anak tangga secara perlahan.
Tak.. Tak.. Tak..
Suara high heels Serena, terdengar jelas. Tuan dan Ny. Edritz, menatap kedatangan Daniel dan Serena. Keduanya saling bertatap muka, sebelum kembali mengalihkan pandangnya pada Daniel dan Serena.
Beberapa pengawal menunduk hormat, saat Daniel dan Serena berjalan mendekat ke arah ruang utama. Debaran jantung Ny. Edritz, tidak lagi teratur. Ia berusaha mengatur napasnya. Masih tersimpan rasa takut, saat ia kembali mengingat kebohongan yang pernah ia ciptakan saat ini. Meskipun semua itu, permintaan dari Tuan Wang langsung kepada dirinya.
“Selamat Siang, Ma … Pa ….”
.
Like, Komen dan Vote. 🤗
Terima kasih sudah membaca.