
Seorang wanita berjalan ke sebuah taman, yang menghadap langsung ke pantai. Bunga mawar merah bertebaran di mana-mana. wanita itu mengenakan gaun berwarna putih. Tatapan matanya ia fokuskan pada pria yang kini membelakangi tubuhnya. Memeluk pria itu dari belakang, dengan penuh rasa bahagia.
Pria itu berbalik badan, dan tersenyum bahagia menatapnya. Mengecup bibirnya dengan penuh cinta.
“Kau sangat cantik sayang.”
Wanita itu hanya tersenyum bahagia. Mengalungkan kedua tangannya di leher jenjang pria itu. Membalas ciumannya dengan penuh cinta.
Zeroun terbangun dari tidurnya dan terduduk diam. Sudah lama ia tidak bermimpi tentang Erena, tapi hari ini ia kembali memimpikannya. Membayangkan masa-masa indah keduanya. Hatinya kembali luka, saat melihat wanita itu tidak ada di hadapannya.
“Erena, Aku akan merebutmu dari pria itu!” Zeroun membuka selimutnya dengan kasar. Dan beranjak dari tempat tidur, melangkah ke kamar mandi dengan cepat.
Beberapa saat kemudian, Zeroun sudah keluar dari pintu kamar mandi. Mengenakan pakaian formalnya dan memasang jam tangan di pergelangan tangan. Suara ketukan pintu, mengalihkan pandangan matanya ke sana.
“Masuk!” ucapnya singkat.
Dua pria berbadan tegab masuk dan menunduk hormat.
“Selamat pagi tuan. Tuan Lukas sudah menunggu anda di bawah.”
Senyum tipis tersirat di bibirnya, Zeroun melangkah cepat keluar kamar. Ia terus menuruni anak tangga dan menuju ke arah ruang kerjanya. Satu pengawal membukakan pintu itu, untuk memberi jalan kepada Zeroun.
“Selamat pagi bos. Senang bertemu dengan anda, lagi.” Sosok pria bertubuh tegab dan wajah yang sangat kejam. Pria itu menunduk hormat, menyambut kedatangan Zeroun.
“Lukas. Ada tugas penting yang harus segera kau selesaian!” Zeroun menatap wajah pria itu, dingin.
“Apa yang bisa saya lakukan untuk anda, bos!”
“Erena. Dia masih hidup.” Zeroun berjalan ke arah kursi besar, dan duduk di sana.
Lukas terperanjat kaget. Wanita yang baru saja di sebutkan oleh Zeroun, telah meninggal. Dia sendiri yang di tugaskan untuk menyelidiki kematian Erena, waktu itu. Lukas membawa jaket hitam yang di kenakan oleh Erena, untuk yang terakhir kalinya. Dan memberikannya langsung kepada Zeroun.
“Nona Erena, bos?” tanya Lukas dengan raut wajah tidak percaya.
“Dia berada di dalam keluarga Edritz Chen.” Zeroun menatap tajam ke arah lain, “Perusahaan yang bergerak di bidang makanan ringan.” Tersenyum tipis.
“Baik bos, saya akan segera menyelidikinya.” Lukas menunduk hormat untuk menerima perintah itu.
“Aku ingin dia bersamaku!” Tatapan mata Zeroun berubah tajam. “Aku akan memberi tahu-mu, cara untuk mendapatkannya.”
“Baik, bos.” Lukas menunduk lagi, dan melangkah pergi meninggalkan Zeroun.
Zeroun hanya menatap tajam kepergian Lukas. Kepergian Lukas, terganti dengan kedatangan pria lain. Pria itu masuk dengan beberapa dokumen yang ia pegang dengan erat.
“Selamat pagi tuan.” Menunduk hormat. Meletakkan dokumen itu di atas meja Zeroun, dengan hati-hati.
Zeroun mengambil dokumen itu, dan membukanya secara perlahan. Memperhatikan setiap foto yang ada dan meletakkannya kembali di atas meja dengan kasar.
“Jelaskan semuanya!” Zeroun menatap tajam pria itu.
“Nona Erena adalah putri dari tuan Wang. Nona Erena lupa ingatan tuan, kecelakaan itu penyebabnya. Tuan Wang mengirim satu psikolog terbaik, untuk membuat nona Erena melupakan semua masa lalunya. Merubah sifatnya dan prilakunya sehari-hari. Nona Erena hanya akan kembali mengingat semuanya, jika ia ingin kembali mengingatnya. Satu paksaan akan membuat nona Erena tersiksa kesakitan. Dan, nona Erena bisa gila, tuan.”
Zeroun terdiam untuk sesaat. Jantungnya berhenti untuk berdetak. Kenyataan yang baru saja ia dengar, menambah kehancuran dalam hatinya. Kekasihnya yang sangat ia cintai, kini bukan dengan sengaja melupakannya. Masih ada harapan besar, untuk Zeroun merebut hati Erena lagi.
“Kenapa dia menikah dengan Daniel Edritz Chen?”
Pria itu menunduk lagi, dan melanjutkan ceritanya, “Tuan Edritz Chen sahabat tuan Wang. Sebelum meninggal, tuan Wang meminta tuan Edritz untuk menikahkan nona Erena. Dengan putra semata wayangnya, bernama Daniel. Pernikahan itu di awali dengan paksaan, tuan.”
Zeroun tersenyum tipis memandang foto Erena dan Daniel, yang terletak di atas meja. Mengambilnya dan memperhatiannya dengan kebencian.
“Baik tuan.” Menunduk hormat, dan berlalu pergi meninggalkan Zeroun di ruangan itu.
Zeroun masih menatap ke luar jendela. Tatapan dingin dengan penuh kebencian. Zeroun mengepal kuat tangannya, untuk menyimpan amarah dalam dirinya.
“Bahkan baru ini aku tahu. kalau kau masih memiliki ayah, Erena. Kau memang wanita yang sangat misterius!”
***
Di rumah utama.
Daniel dan Serena, baru saja selesai mandi. Keduanya tersenyum dengan ceria. Daniel merangkul pinggang Serena, dan keduanya pergi menuju meja makan. Berjalan perlahan menuruni anak tangga. Tatapan keduanya terhenti, pada tuan dan Ny. Edritz yang terlihat sangat rapi.
“Mama, mama mau kemana?” Serena mendekat ke arah Ny. Edritz.
“Serena, Papa dan mama akan pergi ke luar negeri. Kami akan pergi dalam waktu yang lama,” ucap Tuan Edritz.
“Apa tidak bisa di wakilkan oleh yang lain, pa? Aku akan mengutus Tama jika terlalu genting.” Tolak Daniel, yang tidak ingin Ny. Edritz pergi.
“Tidak sayang, biar papamu langsung yang mengurus semuanya. Kalian bisa memiliki banyak waktu untuk berduaan,” jawab Ny. Edritz pelan.
“Serena akan sangat merindukan, mama,” ucap Serena sedih.
“Sekarang mama bisa tenang, saat meninggalkanmu di rumah ini Serena. Dalam waktu satu bulan, akan mama usahakan untuk kembali.”
“Apa mama akan lama di sana?” tanya Serena masih tidak terima dengan kepergian Ny. Edritz.
“Rumah ini milik kalian. Suatu saat nanti, juga hanya kalian berdua yang menempatinya,” jawab Ny. Edritz pelan.
“Mama harus jaga kesehatan,” pintah Daniel.
“Mama akan selalu sehat, jika melihat kalian bahagia.” Ny. Edritz tersenyum bahagia. Kali ini ia bisa meninggalkan Serena dengan tenang. Daniel begitu mencintai Serena, dan sudah mengetahui masa lalu Serena.
Ny. Edritz memeluk Serena dan Daniel secara bergantian. Hatinya akan sangat merindukan kedua anak kesayangannya itu. Namun, Ny. Edritz tetap harus pergi menemani pekerjaan sang suami.
“Jangan pernah tinggalkan Daniel, Serena.” Memandang ke wajah Daniel, “Jaga Serena untuk mama.”
“Iya ma,” jawab Daniel dan Serena bersamaan.
Suasana pagi yang sempat di warnai kebahagiaan. Detik ini berubah menjadi suasana haru yang memilukan.
Pergi meninggalkan Daniel dan Serena, bukan hal yang mudah bagi Ny. Edritz. Serena yang sangat menyayangi Ny. Edritz, juga merasa sedih karena harus berada jauh darinya.
Daniel dan Serena, mengantarkan kepergian tuan dan Ny. Edrizt di depan pintu utama.
“Mama pergi dulu ya sayang.” Memeluk Serena dan Daniel secara bergantian. Berjalan cepat untuk masuk ke dalam mobil.
Serena terus menyeka air mata yang sejak tadi membasahi pipinya. Melihat sang istri yang sangat ia cintai menangis, Daniel menarik Serena ke dalam pelukannya. Menghapus sisa air mata yang masih menetes, dan mendongakkan wajah Serena untuk memandangnya.
“Aku di sini, untuk membuatmu bahagia. Jangan Sedih seperti itu.”
Serena mengangguk pelan, dan memandang Ny. Edritz yang sudah masuk ke dalam mobil. Serena melambaikan tangannya, begitu juga Ny. Edritz. Dengan senyuman, Daniel memandang kepergian mama yang sangat ia cintai. Meskipun hatinya menolak untuk di tinggal, tapi ia mengerti niat baik kedua orang tuanya itu.
Like, Komen, Vote.
Terima kasih sudah membaca.