
Tatapan Mata Daniel sudah tidak terbaca lagi. Daniel terlihat menggenggam kedua tangannya dengan erat. Ia tidak lagi mau mengeluarkan kata lain. Hanya satu nama yang ia sebutkan. Namun hal itu sudah menggambarkan sebuah keadaan, kalau Serena dan Biao kini dalam masalah.
Biao langsung terperanjat kaget dari duduknya, ia berdiri dengan wajah penuh penyesalan. Tubuhnya ia bungkukan, untuk menutupi wajah yang sudah ia tekuk dalam. Bibirnya yang terbiasa untuk mengeluarkan kalimat pembelaan, kini sudah tidak mampu mengeluarkan satu kata pun. Kepalanya mulai berisi berbagai alasan, untuk menenangkan seseorang yang kini telah memergokinya.
Berbeda dengan apa yang saat ini, ada di pikiran Serena. Serena hanya diam dan kaget melihat kehadiran Daniel, bukan karena nama Kenzo disebutkan. Ia merasa takut dan bersalah terhadap Daniel, karena mempunyai niat untuk kabur dari Apartemen dan menjauhi Daniel.
“Daniel, sejak kapan kau ada di situ,” tanya Serena dengan hati-hati.
Daniel memandang Serena, dengan tatapan yang semangkin tajam. Membuat wajah Serena memucat karena ketakutan.
“Kembali ke kamar Serena!”
Tidak lagi ingin mengeluarkan banyak kata. Daniel membalikkan tubuhnya, melangkah dengan langkah yang gusar.
“Tuan Daniel.”
Biao memberanikan diri, untuk menghentikan langkah Biao. Ia tidak ingin, Daniel salah paham terhadap dirinya.
“Saya tidak ingin mendengar perkataanmu, Biao. Sebaiknya persiapkan dirimu, untuk beberapa jam yang akan datang,” ucap Daniel, tanpa memandang wajah Biao.
Sebuah vonis yang sudah tidak dapat terbantahkan lagi, Biao hanya bisa menunduk hormat dan diam di tempat ia kini berada.
“Daniel,” ucap Serena pelan.
“Masuk Serena, dan jangan membantah lagi.”
Merasa semua kekacauan ini disebabkan oleh dirinya, Serena hanya mengikuti perintah Daniel. Wajahnya memandang Biao dengan rasa bersalah, dan memohon maaf. Hati yang baru saja terasa lapang, kini harus kembali berubah menjadi penuh dengan kekhawatiran.
Dengan langkah Daniel yang cepat, Serena berlari kecil untuk mengikuti jejak Daniel. Tidak butuh waktu lama, untuk Serena dan Daniel tiba di kamar. Daniel hanya berdiri tegab, di sebuah balkon memunggungi Serena. Secara perlahan, Serena mulai memberanikan diri untuk mendekati Daniel. Ia ingin segera mengakhiri masalah, yang sudah ia mulai. Biao sudah menjadi korban, atas kesalahan yang hari ini telah ia lakukan.
“Daniel, apa kau marah padaku?” tanya Serena dengan lembut.
Serena melangkah ke tepi balkon, tepat di samping Daniel dan menatap ke arah bebas.
“Siapa Kenzo? Apa dia pacarmu Serena?”
“Kenzo? Dia .…”
Jauh dari apa yang kini ia harapkan, Daniel justru menanyakan tentang Kenzo, yang memang sejak awal Biao telah melarangnya membahas tentang Kenzo.
“Jawab Serena!” bentak Daniel, yang sontak mengagetkan Serena. Hingga jantung Serena, berhenti berdetak untuk sesaat.
“Aku baru saja mengenalnya, Daniel. Aku hanya berteman dengannya,” jawab Serena ketakutan, sambil menggenggam erat dres yang kini ia kenakan.
“Kau bohong Serena! Kau wanita itu.” Daniel membalikkan tubuhnya ke arah Serena. Kini tatapan matanya yang tajam, tepat berada di wajah Serena.
“Wanita? Aku tidak mengerti apa maksudmu Daniel.” Serena menggeleng bingung. Ia tidak mengerti, maksud dari tuduhan Daniel saat ini.
“Kau? Serena. Bukannya namamu berinisial S. Dia kekasihmu Serena? Dia pria yang selama ini ingin kau jumpai?” Daniel memegang kedua pundak Serena. Menggoyangnya dengan cepat.
“Daniel, aku dan Kenzo.” Serena memejamkan mata karena takut.
“Jangan sebut nama itu di hadapanku Serena!” ucap Daniel dengan nada yang masih tinggi. Daniel melepas genggaman tangannya di pundak Serena dengan kasar.
“Daniel ….” Kini bibirnya sudah tidak mampu berkata, air mata mulai menetes di pipi Serena.
“Cukup Serena! Aku sudah tidak tahu, harus berkata apa lagi kepadamu.” Daniel membalikkan tubuhnya, dan pergi menuju ke arah pintu. Meninggalkan Serena dalam kesedihannya seorang diri.
“Kenapa dia tidak ingin mendengar penjelasanku,” ucap Serena dengan nada yang lirih.
Serena terus memandang punggung Daniel. Hingga tubuhnya terjatuh di lantai, dengan penuh rasa bersalah. Hatinya semangkin sakit, air mata terus mengalir tanpa henti. Serena menangis sejadi jadinya. Hatinya kini ingin berontak, dan melawan siapa saja yang telah menyakitinya. Tapi tubuhnya menolak untuk melakukan hal itu.
Daniel terus melangkah turun ke bawah, untuk menemui Biao. Memang sejak khadiran Daniel di restoran, Biao belum beranjak dari tempat ia kini mematung. Sesuai dengan apa yang ada di pikirannya, Daniel kembali datang menemuinya untuk meminta penjelasan.
Tuan Daniel tidak akan melukai Nona Serena, dia akan keluar dari kamar dan kembali ke sini untuk mendengarkan penjelasanaku.
Biao kembali bernapas lega, saat melihat kehadiran Daniel dari kejauhan.
Belum sempat Biao mengeluarkan satu kata. Daniel langsung duduk diam di sebuah bangku kosong, yang tidak jauh dari hadapan Biao.
Prakkk…..
Daniel memukul meja yang kini ada di hadapanya, Matanya penuh dengan api kemarahan.
Dengan hati-hati, Biao melangkahkan kakinya mendekati Daniel, “Maafkan atas keteledoran saya, Tuan. Saya akan memperbaiki semua kekacauan ini.” Biao membungkuk hormat.
“Memperbaiki kau bilang?” jawab Daniel dengan nada tinggi. Tatapan matanya masih ke sebuah meja, yang baru saya ia jadikan pelampiasan amarahnya.
“Saya tidak tahu, ada hubungan apa Nona Serena dengan .…” Biao menghentikan perkataannya, karena nama itu bisa membuat suasana semangkin memburuk.
“Dimana kau menemukannya, Biao!”
“Saya melacak keberadaan Nona Serena, dari Nomor Handphone yang digunakan Nona Serena. Tama membantu saya dalam hal ini, Tuan. Karena hanya Tama, yang mempunyai nomor Handphone Nona Serena, Tuan.”
“Terus, apa hubungan Serena dengannya.”
“Saya belum tahu, Tuan. Saya melihat dari CCTV rumah sakit, kalau Nona Serena pergi dengannya. Saya juga menemukan Nona Serena, saat mereka berdua sedang berada di satu motor yang sama,” ungkap Biao dengan hati-hati.
Sambil tersenyum tipis, Daniel kembali mengajukan pertanyaan untuk Biao, ”Sepeda Motor? Sangat romantis. Sepertinya aku sudah terlalu membebaskannya, hingga dia berani melakukan hal yang tidak aku suka.”
“Tuan, saya akan segera menyelidiki hubungan mereka berdua. Beri saya waktu sampai tengah hari ini, Tuan,” pinta Biao dengan penuh permohonan.
“Apa kau sudah memikirkan kalimat itu, sebelum berniat untuk membohongiku? Kenapa kau menyembunyikan semua masalah ini?” Daniel menatap wajah Biao dengan tajam.
“Maaf, Tuan. Saya sudah lancang membohongi anda,” jawab Biao dengan penuh penyesalan.
“Aku ingin kau memberiku kabar tentang hubungan mereka, 3 Jam dari sekarang.” Daniel beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Biao.
Biao cuma bisa, memandang punggung Daniel. Pikirannya yang tadi di penuhi dengan rasa bersalah, kini telah sirna. Ada harapan besar, untuk mendapatkan maaf dari Daniel. Tanpa pikir panjang, Biao segera pergi menuju mobil dan meninggalkan Apartemen di saat itu juga.
Di dalam Kamar . . .
Serena masih bertahan pada posisinya, namun air mata sudah mulai kering dan tidak lagi menetes di pipinya. Dengan sekuat tenaga, Serena berdiri dengan berpegangan pada sebuah dinding yang ada di sampingnya.
Hatinya yang luka masih saja terluka, namun ia coba menutupi semua luka itu. Serena membawa langkah kakinya ke dalam kamar. Ia menjatuhkan tubuhnya, di atas ranjang yang empuk itu. Perlahan ia mulai menetralkan degub jantungnya. Napas yang tadi berderuh dengan cepat, juga mulai ia normalkan kembali.
Kau harus kuat Serena, jangan menangis. Karena itu akan membuat papa merasa sedih.
Bujuknya dalam hati, Serena mengukir senyumnya lagi.
Perlahan ia pejamkan matanya, mencoba untuk melupakan semua peristiwa yang telah terjadi. Wajah Daniel, wajah Biao, wajah Kenzo yang tadi hadir memenuhi isi kepalanya, perlahan mulai terhapus dan hilang dari ingatanya.
Serena pun terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya yang terasa sangat lelah, membantu dirinya untuk cepat melupakan kesadaran yang kini ia miliki.
Ceklek…
Daniel baru saja tiba di kamar. Matanya terpusat pada sebuah balkon, yang sudah tidak ada seorangpun di sana. Daniel melangkahkan kakinya menuju kamar, dan berharap orang yang tadi ia cari ada di sana. Hatinya sedikit lega saat melihat Serena ada di sana.
Daniel berjalan mendekati Serena, wajahnya yang tadi penuh dengan amarah kini sudah dipenuhi ketenangan. Daniel mengambil sebuah kursi yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur, dan mendudukinya dengan posisi memandang Serena.
Kenapa harus pria itu yang berhubungan dengan dirimu, Serena.