Mafia's In Love

Mafia's In Love
S2 Bab 36



ALCO GROUP.


Sonia duduk di kursi hitam besar, menghadap ke arah meja. Beberapa pria bertubuh tegab berdiri di depan meja. Pria-pria itu menunduk dengan raut wajah bersalah. Tidak ada yang berani mengeluarkan kata selain Sonia. Sonia mengetuk meja dengan satu jarinya. Suasana terasa hening dan mencengkam.


“Tertangkap?” Sonia beranjak dari duduknya.


“Apa kalian tahu, berapa harga yang harus kalian bayar jika kalian gagal?” Sonia mulai mengancam.


“Maafkan kami, Nona.” Salah satu pria angkat bicara untuk membela diri.


Brakk!


Sonia memukul meja kerjanya dengan kasar. Menatap tajam ke arah pria-pria itu.


“Hanya menyelidiki rumah sekecil itu kalian gagal!” teriak Sonia lagi.


Sonia menarik napas dalam, memutar tubuhnya. Ia memandang ke luar jendela dengan wajah marah. Tangannya terkepal kuat.


“Aku mau melihat tubuh pria itu. Baik hidup ataupun mati!”


“Baik, Nona.” Pria-pria itu membungkuk hormat sebelum pergi meninggalkan ruangan kerja milik Sonia.


Baru saja beberapa orang suruhan Sonia keluar, satu pria berjas resmi masuk ke dalam ruangan Sonia. Pria itu membungkuk hormat sebelum meletakkan berkas di atas meja.


“Ini info yang anda minta, Nona,” ucap Pria itu sambil menunduk hormat.


Sonia memutar tubuhnya, ia melihat ke arah berkas yang baru saja di letak. Sonia mengambil berkas itu dan kembali duduk di kursinya. Menggerak-gerakkan kursi hitam itu dengan santai. Ia membuka satu persatu isi berkas itu, dengan senyuman licik.


“Ternyata Zeroun Zein adalah mantan pacar Serena. Ini hal yang menarik.” Sonia meletakkan kembali berkas itu ke atas meja.


“Maaf, Nona. Zeroun Zein juga mafia, mungkin akan bahaya jika kita melawannya langsung.” Pria itu kembali mengingatkan Sonia.


“Jangan khawatir, aku tidak akan menyerang mereka dengan tanganku sendiri.” Sonia mengambil foto Daniel yang terpajang di meja kerja miliknya.


“Aku mau kau mencari info tentang musuh Zeroun Zein. Kita akan melawan Serena dengan musuh-musuh yang dimiliki Zeroun Zein. Ini hal yang menarik bukan.” Sonia masih memandang wajah Daniel di foto.


“Baik, Nona.” Setelah menerima perintah, pria itu pergi meninggalkan Sonia.


Jika aku tidak pernah bisa memenangkan hatimu, setidaknya kau juga tidak akan pernah bahagia bersama wanita itu. Kita lihat, sampai dimana kemampuanmu melawan musuh-musuh dari Zeroun Zein. Wanita pembawa sial itu akan selalu mendatangkan masalah untukmu, Daniel.


Sonia meletakkan foto itu kembali ke atas meja. Ia membalik foto itu agar wajah Daniel tidak terlihat lagi. Sonia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sampai detik ini, hatinya masih terasa sakit, saat melihat perlakuan buruk Daniel terhadap dirinya.


Sonia memandang ke layar handphone. Ada satu pesan singkat yang masuk. Sonia membuka pesan singkat itu dengan raut wajah penasaran.


Usaha yang bagus. Tapi sayang harus gagal. Hanya segini, kemampuanmu?


Wajah Sonia berubah merah, ia membanting handphone itu ke atas meja. Tangannya terkepal kuat. Pesan singkat yang baru saja ia baca, kembali menyulut api amarah yang ada di dalam dirinya.


“Biao! lihat saja. Setelah urusanku dan Daniel selesai. Aku akan membuat hidupmu menderita. Kau akan menyesal karena sudah bermain-main denganku.” Sonia tersenyum licik. Ia sudah membayangkan rencana jahat untuk Biao di kemudian hari.


Suasana siang hari di rumah utama.


Beberapa pelayan sibuk membereskan rumah utama. Pak Han juga terlihat mengatur pelayan yang bekerja. Diva berjalan mendekati Pak Han, ia menunduk takut sebelum mengeluarkan kata.


“Tuan,” ucap Diva pelan.


Pak Han memutar tubuhnya, memandang wajah Diva dengan senyum.


“Ada apa, Diva?”


“Tuan, saya di sini bekerja untuk Nona Serena. Tapi Nona Serena tidak pernah memberi saya pekerjaan. Apa saya boleh mengerjai pekerjaan lain, seperti pelayan lainnya.”


“Tidak, Diva. Kau hanya perlu mengikuti perintah Nona Serena. Kau di gaji untuk pekerjaan itu. Pelayan-pelayan ini, bisa menyelesaikan tugas mereka masing-masing.” Pak Han menolak permintaan Diva dengan nada yang lembut.


“Saya mohon Pak Han. Saya tidak ingin hanya duduk seperti ini.” Diva memasang wajah sedih, hal itu membuat Pak Han menjadi tidak tega melihatnya.


Pak Han menarik napas dalam, sebelum mengeluarkan kata.


“Baiklah, kau bisa merapikan kamar Nona Shabira. Ganti seprey dan gorden yang ada di kamar itu. Setelah itu bawa ke pelayan bagian cuci di belakang.”


Diva tersenyum dengan berseri, “Baik, Pak Han. Terima kasih.” Diva membungkuk hormat.


Diva berjalan menaiki anak tangga, menuju ke arah kamar Shabira. Wajahnya tampak berseri, saat mendapatkan perintah untuk bekerja.


***


Daniel dan Serena masih memadu kasih. Di atas tempat tidur dengan penuh cinta. Tubuh keduanya sudah polos tanpa sehelai benangpun. Selembar selimut melindungi tubuh keduanya dari rasa dingin. Sudah berulang kali Daniel mengecup bibir Serena. Tapi bibir Serena yang merah, membuat Daniel tidak bisa berhenti.


“Sudah,” protes Serena. Tubuhnya terasa lelah, matanya terasa berat.


“Kau sangat menggemaskan.” Daniel mengecup bibir itu untuk yang terakhir kalinya. Ia menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut Serena.


Serena melingkarkan tangannya di atas perut Daniel, matanya terpejam dengan tenang.


“Jam berapa ini? sudah sangat siang.” Serena masih memejamkan mata.


“Aku ingin bersamamu hingga sore,” bisik Daniel di telinga Serena.


Serena tersenyum manis, ia kembali melanjutkan tidurnya. Pelukan Daniel menjadi tempat ternyaman bagi dirinya saat ini.


“Sayang ….” ucap Daniel pelan.


“Ada apa?” Serena membuka mata, mendongakkan kepalanya untuk memandang wajah Daniel.


“Ayo kita bulan madu.” Daniel memandang wajah Serena dengan tatapan memohon.


“Bulan madu?” tanya Serena bingung.


“Ya, bukankah bulan madu kita berantakan. Aku ingin bulan madu yang sangat indah dan berkesan.” Daniel mengecup pucuk kepala Serena.


“Kemana?” tanya Serena lagi.


“Ke pulau pribadi milik Keluarga Chen. Kita akan membawa Kenzo dan Shabira ke sana.”


“Kapan?” tanya Serena lagi.


“Secepatnya. Aku akan menyuruh Tama dan Biao mengurus semuanya. Apa kau setuju?” Daniel menatap wajah Serena dengan serius. Ia menunggu kata setuju yang keluar dari bibir Serena.


“Tentu saja aku setuju. Aku sangat suka pantai.” Serena tersenyum dengan manis.


“Terima kasih. Aku akan membuatmu bahagia. Bulan madu ini akan menjadi momen terindah, yang pernah ada dalam hidupku.”


Serena memejamkan mata lagi, bibirnya tersenyum bahagia. Daniel juga ikut memejamkan mata. Keduanya tidur dengan tenang. Saling berpelukan dan menyayangi.


Baru beberapa menit Daniel memejamkan mata, suara handphone berdering. Daniel melepas pelukannya dari Serena. Mengambil handphone yang terletak di atas meja kecil, samping tempat tidur. Dahinya mengkerut saat melihat nama Kenzo di layar handphone.


“Ada apa?” tanya Daniel singkat.


“Siapa?” tanya Serena pelan.


“Kenzo, Sayang,” jawab Daniel dengan lembut.


Serena tidak lagi bisa tidur, ia bangkit dari tempat tidur berjalan ke kamar mandi. Daniel memandang tubuh Serena dengan senyuman. Pendengarannya masih ia fokuskan pada ucapan Kenzo di handphone.


“Baiklah. Tapi ingat Kenzo, kalian belum menikah. Jaga Shabira dengan baik. Aku akan memberi tahu Serena nanti.”


Daniel memutuskan panggilan masuk itu. Meletakkan handphone itu kembali ke atas meja. Daniel tersenyum licik, ia berjalan ke arah kamar mandi untuk mengikuti Serena mandi di sana.


.


.


Mafia's in Love revisi lagi!


Negara Z menjadi Hongkong.


Negar X menjadi Jepang.


Terima kasih, selamat membaca.