
Daniel menutup pintu kamar mandi dengan hati-hati. Pria itu sangat mengerti atas perasaan sedih istrinya saat ini. Kini Serena duduk di atas sofa sambil memandang salju-salju yang turun. Wanita itu bersandar dengan posisi miring. Satu tangannya ada di atas perut, satunya lagi ada di atas sofa.
Tatapan matanya terlihat kosong. Kenangan tentang Tuan Wang memang selalu membuat hatinya berubah sedih secara tiba-tiba. Bukan hanya kenangan hidupnya saat lupa ingatan di kota itu.
Tetapi, perginya Tuan Wang itu semua juga karena disebabkan orang yang ia kenal saat Serena menjalani hidup yang baru. Wanita tangguh itu masih memiliki dendam karena sang Ayah pergi dengan cara di bunuh. Walaupun pembunuhnya kini telah tiada, tapi Serena masih menyimpan luka hati itu di dalam hati terdalamnya.
“Sayang ....” ucap Daniel sambil menggenggam tangan kiri Serena. Pria itu mengangkat tangan Serena dan mengecupnya dengan penuh cinta, “Apa kau masih memikirkan kota itu?”
“Bukan hanya kotanya saja yang aku ingat, Daniel. Tetapi rasa sakit hatiku kepada pria yang sudah berani membunuh Papa. Apa seperti rasanya kehilangan orang yang kita sayangi dengan cara dibunuh. Lalu bagaimana dengan keluarga dari orang-orang yang menjadi targetku waktu itu. Bahkan aku tidak pernah peduli, apa targetku orang jahat atau orang baik. Kaya atau miskin. Berjabatan tinggi atau hanya karyawan biasa. Di mataku mereka memiliki kedudukan yang sama. Aku selalu menyebutnya dengan julukan Tikus kecil yang harus di musnahkan.” Mata Serena terlihat berkaca-kaca. Sebahagia apapun hidupnya saat ini. Tetap saja tidak bisa membuatnya lupa akan kesalahan terbesar yang pernah ia lakukan dulu.
“Serena. Kita sudah sering bahas masalah ini sebelumnya. Itu hanya masa lalu. Kau tidak perlu mengingatnya seperti sekarang. Aku tidak pernah mempermasalahkan masa lalumu. Kenapa kau harus terus-terusan menyiksa dirimu dengan cara seperti ini.”
Daniel menghela napas, “Ok. Begini saja. Setelah kau melahirkan, kita akan pergi ke kota Marioka.” Daniel memegang kedua pipi Serena. Menatap kedua bola mata istrinya dengan seksama, “Apa kau setuju?” tanya Daniel sambil tersenyum.
Serena mengangguk setuju, “Aku sangat senang mendengarnya.”
“Sekarang beri aku satu senyuman indah di bibir manismu ini, Sayang.” Daniel mengusap lembut bibir Serena dengan jari.
“Terima kasih, Daniel. Aku sangat mencintaimu.”Serena mengukir senyuman sebelum memeluk suaminya. Hatinya kini sedikit lega. Walaupun ia belum mengutarakan isi hatinya, tapi Daniel sudah mengetahuinya lebih dulu.
“Aku juga sangat menyayangimu, Sayang.”Daniel mengusap lembut pundak Serena sambil tersenyum bahagia, “Sayang, apa yang kau rasakan saat pertama kali membuka mata dan tidak ingat apapun?”
Serena terdiam beberapa saat. Wanita itu kembali mengingat seluruh memorinya saat pertama kali ia membuka mata dan tidak tahu siapa diirnya. Secara perlahan Serena melepas pelukannya dari tubuh Daniel. Wanita itu menatap Daniel dengan seksama.
“Aku akan menceritakan kehidupanku selama beberapa bulan sebelum kita bertemu,” ucap Serena pelan.
“Kau hanya lupa ingatan beberapa bulan?”tanya Daniel sambil mengeryitkan dahi.
Serena tertawa kecil, “Sekitar enam bulan sepertinya. Aku sembuh lebih cepat dari perkiraan Dokter.”
Daniel teridam sejenak. Pria itu kembali ingat dengan cara istrinya kembali mendapatkan ingatannya kembali waktu itu, “Kau memang wanita yang hebat.”
“Ya, aku memang hebat.” Serena menjatuhkan kepalanya di dada Daniel sambil membayangkan masa-masa dimana dirinya melupakan segalanya.
.
.
Malam itu di sebuah rumah sederhana yang ada di kota Marioka.
Serena terbangun dengan kepala yang sangat sakit. Bukan hanya kepalanya saja yang sakit. Seluruh tulangnya terasa remuk seperti habis di himpit sebuah benda sangat berat. Dengan tatapan mata yang bingung, Serena memandang sekeliling kamar yang kini ia tiduri.
“Dimana ini?” Lagi-lagi kepalanya sakit saat Serena berusaha keras mengingat apa yang terjadi di dalam hidupnya.
Suara pintu terbuka. Tuan Wang keluar dengan senyuman indah. Pria paruh baya itu masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan minuman. Ada juga beberapa bulir obat di nampan cokelat itu.
“Serena, kau sudah sadar, Nak.” Tuan Wang berjalan perlahan mendekati tempat tidur Serena.
“Serena?” tanyanya bingung.
“Iya, Nak. Namamu Serena. Aku Papamu, Tuan-”ucapan Tuan Wang terhenti. Ia terbiasa memnyebutkan dirinya seorang Tuan, “Wang. Nama Papa Wang. Kau Serena Wang. Putriku satu-satunya yang sangat manis dan baik hati.”
“Papa?” ucap Serena pelan.
Tuan Wang mengangguk lagi. Setelah melihat Serena bisa menerima nama baru yang ia buat saat itu juga. Tuan Wang memberikan makanan dan minuman itu kepada Serena. Pria paruh baya itu sangat kenal dengan karakter anaknya yang tidak bisa menahan lapar.
“Ini untukku?” tanya Serena ragu-ragu.
“Iya, Sayang. Makanan ini untukmu. Kata Dokter, kau akan segera sembuh jika meminum obat ini.” Tuan Wang mengukir senyuman memandang sambil memandang wajah Serena dengan tatapan penuh arti.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa aku tidak ingat apapun?”tanya Serena ragu-ragu. Walau terbilang asing dan tidak ingat apapun tentang pria paruh baya yang ada di hadapannya. Tetapi di dalam hatinya yang terdalam ada ikatan batin yang cukup kuat. Hal itu juga yang membuat Serena percaya kalau Tuan Wang benar ayah kandungnya.
Serena memasang wajah bingung, “Aku tidak mengerti, Pa-”ucap Serena pelan.
“Serena, kau lompat dari atas gedung karena Papa tidak pernah memperhatikanmu. Seharusnya Papa tahu. Hanya Papa yang kau miliki. Ibumu sudah lama meninggal. Bahkan kau tidak pernah bertemu dengannya. Tapi, Papa justru sibuk bekerja untuk mencari uang. Papa memang Papa yang tidak berguna.” Tuan Wang menekuk kepalanya.
“Aku bunuh diri?” tanya Serena kaget.
“Serena Sayang. Tolong jangan ulangi perbuatan itu lagi. Hanya kau yang Papa miliki. Papa sudah mengundurkan diri dari kantor sialan itu. Sekarang, Papa bisa memiliki banyak waktu untuk menemanimu. Kita akan berjalan-jalan ke pantai dan jalan-jalan ke tempat yang kau suka. Uang pengsiun Papa cukup untuk membuatmu bahagia, Nak.” Tuan Wang menatap wajah Serena dengan wajah yang sangat menyakinkan. Cerita itu memang sudah ia persiapkan sebelum Serena membuka mata dan menanyakan tentang apa yang terjadi padanya. Cerita Tuan Wang terlihat alami hingga membuat Serena tidak curiga sama sekali kalau dirinya sedang berbohong.
“Maafkan Serena, Pa. Serena enggak akan ngelakuin hal seperti itu lagi.” Serena mengukir senyuman, “Apa Papa mau bantu Serena untuk mengingat semuanya?”
“Tentu Sayang. Papa akan memberi tahumu bagaimana kehidupanmu selama ini. Kau itu gadis penurut yang sangat lembut. Bahkan untuk berbicara kasar saja kau tidak pernah, Serena.”
Serena menangguk pelan, “Apa Papa bisa menunjukkan foto kecilku agar aku tahu kalau ....”
“Tentu, Serena,” jawab Tuan Wang cepat. Pria paruh baya itu mengelurkan satu foto saat Serena berusia sekitar 15 tahun. Di foto itu Serena mengenakan gaun yang mahal dan sangat indah, “Gaun ini hadiah dari Bos Papa kerja di kantor. Kau sangat suka memakai gaun ini waktu itu. Hanya ini foto yang Papa miliki. Selama ini Papa tidak pernah memfotomu, Serena. Papa terlalu sibuk bekerja. Jabatan Papa yang hanya karyawan biasa, membuat Papa tidak bisa bebas untuk menemanimu di rumah.”
“Pa. Serena yang salah. Seharusnya Serena mengerti keadaan Papa.” Serena memeluk Tuan Wang dengan penuh rasa sayang, “Mulai sekarang, Serena akan berubah menjadi jauh lebih lembut dan baik hati. Serena tidak akan melakukan hal bodoh seperti itu lagi.
“Terima kasih, Nak.” Tuan Wang kembali bernapas lega. Pria itu tidak berani memberikan Serena album foto yang menyimpan puluhan foto Serena waktu masih kecil. Dari penampilan yang ada di dalam foto itu, akan membuat Serena menyimpan rasa curiga. Untuk malam ini, ia merasa cukup lega karena kebohongannya tidak di ketahui oleh Serena. Justru di percaya dengan wajah penuh senyuman.
.
.
“Tunggu dulu. Ada yang ingin aku tanyakan,” ucap Daniel dengan wajah serius.
“Apa? Kau memotong ceritaku, Daniel.”
“Sayang. Aku ingin tahu bagaimana sifatmu sejak dulu. Maksudku sebelum kau masuk ke dunia mafia yang kejam itu. Hingga memiliki tatapan mengerikan seperti ini.”
“Kau meledekku?”Wajah Serena mulai kesal.
“Tidak, Sayang. Aku tidak memiliki keberanian hingga sebesar itu.” Daniel memeluk Serena dengan begitu erat, “Hanya saja. Saat pertama kali kita menikah. Kau terihat seperti gadis yang penurut dan sangat lembut. Bahkan sangat mudah untuk menangis,” sambung Daniel sambil tersenyum.
“Memang seperti itu karakterku, Daniel. Sejak kecil aku memang gadis yang penurut dan sangat lembut. Papa membawaku ke sebuah psikiater waktu itu. Kata Papa, ia ingin membuang sifat mudah putus asa yang selalu membuat hidupku celakan. Tidak aku sangka, kalau saat itu ia ingin membuatku melupakan karakter jahatku saat menjadi mafia. Aku seperti terhipnotis, hingga benar-benar lupa dengan karakter jahatku waktu itu.”
“Tuan Wang memang pria yang cerdas,” ucap Daniel pelan.
“Ya. Papa memang pria yang sangat pintar.”Serena mengukir senyuman sambil membayangkan masa-masa kebersamaannya saat masih lupa ingatan bersama dengan Tuan Wang.
“Sudah malam. Saatnya kita tidur, Sayang.”
Daniel dan Serena beranjak dari sofa itu. Mereka naik ke atas tempat tidur secara bersamaan. Daniel menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan Serena. Pria itu memeluk Serena dari belakang dengan wajah bahagia. Mengecup pipi Serena berulang kali sebelum memejamkan mata.
“Selamat tidur, Sayang ....”
.
..
...
BAB ini aku khususkan untuk menjawab komen reader yang isinya “Thor, Serena kan Mafia. Kenapa lembek amat. Bukannya orang yang lupa ingatan tidak akan lupa dengan sifat aslinya ya?”
Jawabannya sudah jelas ya. Serena lahir sebagai wanita yang lemah lembut. Bukan gitu lahir jadi mafia! Dia jadi mafia hanya setahun lebih. Sudah pasti, sifat aslinya akan lebih mengena di hatinya dari pada sifat kasar saat dia jadi mafia.
Udah ah. Yuk Lanjuttttt....