
Sudah berulang kali Serena berusaha untuk memejamkan matanya. Namun, malam itu matanya terasa sangat sulit untuk tidur. Padahal kamar tidurnya terasa sangat nyaman dan sejuk. Berbeda dengan Daniel. Sejak awal memeluk tubuh Serena, pria itu sudah bisa menggapai mimpia indahnya. Napas Daniel cukup terasa di leher Serena mallam itu. Pria itu memeluknya dengan begitu posesif. Kedua tangannya tidak akan pernah membiarkan Serena pergi saat dirinya masih memejamkan mata.
Serena menatap wajah Daniel dengan seksama.Mengecup pipi yang terlihat menggemaskan sambil tersenyum, “Aku ingin anakku laki-laki agar ia tampan sepertimu, Daniel.”
“Aku ingin anak kita perempuan agar cantik sepertimu, Sayang,” jawab Daniel masih dengan kedua mata terpejam. Entah sejak kapan pria itu bangun. Bahkan Serena tidak bisa menyadari karena suaminya masih tidur atau sudah bangun. Ekspresi keduanya sama.
“Daniel, kenapa kau tidak membukamata kalau masih belum tidur?” ucap Serena sambil mengeryitkan dahi.
“Aku tidak bisa tidur jika kau gelisah seperti ini sejak tadi,” jawab Daniel sambil membuka matanya secara perlahan. Pria itu mengukir senyuman sebelum mengecup bibir istrinya, Kedua tangannya semakin erat memeluk tubuh Serena, “Masih memikirkan kota itu?”
Serena menggeleng kepalanya pelan, “Aku tidak memikirkan kota itu lagi. Kau berjanji untuk membawaku ke tempat itu saat aku sudah lahiran nanti. Pasti Papa sangat senang ketika ia bisa melihat kedua cucunya.”
Daniel tersenyum lagi, “Aku sangat mencintaimu, Serena Wang.”
“Aku juga sangat mencintaimu, Daniel Edritz Chen.” Serena melihat jam dinding yang masih menunjukkan pukul 11 malam. Sepertinya ia terlalu cepat masuk ke dalam kamar hingga merasa sudah terlalu lama tertidur.
“Daniel, aku ingin turun ke bawah.”Serena menyingkirkan tangan Daniel yang sejak tadi mengunci tubuhnya.
“Mau ngapain? Aku akan menelpon Pak Han jika kau butuh sesuatu.”
“Aku ingin turun bukan mau melakukan sesuatu,” protes Serena sambil menurunkan kedua kakinya.
“Sayang ....” ucap Daniel lirih, “Mau ngapain? ini sudah sangat malam.Di bawah juga sudah sunyi, apa yang mau kau lakukan?” Daniel duduk di atas tempat tidur sambil menahan tubuh Serena.
“Aku ingin turun. Anggap saja ini permintaan anak kita,”jawab Serena dengan senyuman menyeringai.
Daniel menghela napas, “Biar aku temani.” Pria itu juga menurunkan kakinya dari tempat tidur. Mengenakan alas kaki sambil berjalan ke arah lemari.
“Mau ngapain?” tanya Serena dengan wajah bingung.
“Tentu saja mencari pakaian yang bisa melindungimu dari dingin,” jawab Daniel sambil berlalu pergi menuju ke lemari.
Serena menggeleng kepalanya sambil tersenyum. Daniel memang sosok pria yang pengertian dan lembut. Karakternya sudah jauh berbeda jika dibandingkan dengan sikap Daniel saat awal-awal pernikahan mereka dulu.
Serena berjalan menuju ke arah pintu. Wanita itu tidak mau menunggu suaminya yang kini masih sibuk memilih baju panjang untuk Serena. Dengan mengenakan piama berbahan kaos, Serena melangkah pergi meninggalkan kamar.
Sesuai apa yang dikatakan Daniel. Dari lantai atas sudah erlihat jelas kalau rumah itu sudah sunyi seperti tidak berpenghuni. Semua orang telah istirahat di kamar masing-masing. Yang tersisa hanya pengawal yang berjaga di beberapa sudut ruangan.
“Sayang, kenapa kau meninggalkanku,” protes Daniel. Pria itu membawa mantel berwarna cokelat. Memakaikan pakaian tebal itu untuk menghindari tubuh Serena dari rasa dingin, “Ayo, sekarang kau mau pergi kemana? Biar aku temani.”Daniel merangkul pinggang Serena, membawanya berjalan bersama menuju ke arah tangga. Tidak jauh dari tangga, ada Tuan dan Ny. Edritz yang duduk santai di depan perapian. Kedua orang tua Daniel itu terlihat bebincang hangat dengan wajah berseri.
“Mama, Papa. Belum tidur juga?” tanya Daniel saat dirinya tiba di lantai bawah.
“Daniel, Serena. Kalian belum tidur juga, Nak. Kemarilah.”Ny. Edritz menepuk sofa yang ada di sampingnya, “Kebetulan Mama dan Papa baru saja menceritakanmu,”sambung Ny.Edrizt sambil tersenyum.
“Menceritaiku?”ulang Daniel sambil mengeryitkan dahi. Pria itu membawa tubuh Serena ke arah sofa yang telah ditunjuk oleh Ny. Edritz. Mereka berdua duduk dengan tatapan ke arah meja yang terlihat berserak. Ada banyak album foto di atas meja itu. Serena juga terlihat tertarik untuk melihat foto yang ada di album itu.
“Ma, album foto siapa ini?” tanya Serena sambil mengambil salah satunya.
“Daniel, Sayang. Setiap album berisi foto Daniel sesuai dengan usianya,” jawab Ny. Edritz sambil tersenyum.
“Sebanyak ini? berarti ini foto Daniel sejak dia berusia satu tahun hingga 30 tahun, Ma?” tanya Serena tidak percaya.
“Tentu saja tidak, Sayang. Daniel tidak lagi mau berfoto saat usianya menginjak 15 tahun. Wajahnya selalu marah setiap kali Mama memaksanya untuk berfoto,” jawab Ny. Edritz sambil melirik Daniel.
“Ma ....”protes Daniel setengah malu.
Halaman pertama di buka oleh Serena. Terlihat jelas wajah tampan Daniel kecil di sana. Setelan jas kecil bu-abu dan celana abu-abu juga dengan dasi kupu-kupu hitam. Tangan sebelah kanan di letakkan di depan dada seolah memegang kancing jasnya. Kepalanya di miringkan ke kiri dengan tatapan mata ke bawah. Rambutnya berwarna cokela di buat sedikit keriting untuk mencocokkan kulitnya yang berwarna putih.
Serena berhenti di foto itu hingga beberapa saat. Ada senyum indah di sudut bibirnya saat melihat wajah suaminya waktu kecil. Bahkan, sejak kecil wajah angku milik Daniel sudah terlihat dengan begitu jelas. Jari-jari Serena mengusap lemut wajah Daniel di dalam foto itu. Matanya semakin berkaca-kaca malam itu.
“Sayang ....” Daniel memegang jari-jari Serena yang ada di atas album foto itu.
“Kau terlihat sangat menggemaskan. Aku ingin memiliki anak laki-laki,” jawab Serena sebelum membuka lembar kedua.
Di lembar kedua. Serena menatap wajah dua pria dengan usia yang sama. Bahkan tinggi dan baju yang mereka kenakan juga sama saat itu. Karakter wajahnya terlihat berbeda. Daniel terlihat jelas dengan wajah angkuh dan sombongnya. Sedangkan bocah yang di samping Daniel, tatapan matanya terlihat sangat tajam dan sangat mengerikan untuk seusianya.
“Siapa ini?” tanya Serena bingung.
“Bukankah Pak Sam sudah menceritakan semuanya saat di taman belakang. Kenapa kau masih bertanya Sayang,”ucap Daniel yang juga mengambil album foto yang lainnya untuk ia lihat.
“Biao,” celetuk Serena pelan.
“Benar, Sayang. Itu Biao. Sejak dia ada di rumah ini, Mama suka mengajaknya foto. Lihatlah wajah tersiksanya itu.”Ny. Edritz tertawa dengan wajah gembira.
Serena mengukir senyuman lagi. Wanita itu memperhatikan wajah Daniel dan Biao yang terlihat sangat mirip. Bahkan bisa di bilang mereka seperti Kakak adik. Biao yang memegang peran penting sebagai Kakak di foto itu. Satu tangannya ia letakkan di atas pundak Daniel dengan sikap melindungi.
Dari foto itu Serena sudah tahu bagaimana pentingnya Daniel di dalam hidup Biao. Bagaimana hormatnya Biao untuk mematuhi printah Daniel. Bahkan semua itu tidak terlihat seperti seorang bawahan yang ingin menjaga atasannya. Tapi, lebih seperti seorang Kakak yang akan selalu melindungi adiknya dari bahaya. Tidak akan membairkan orang lain menyakiti Daniel apa lagi membuat masalah.
“Biao sudah seperti putra kami sendiri, Serena. Bahkan saat dia berusia 21 tahun, Papa menyerahkan saham S.G.Group kepadanya.” Ny. Edritz menatap wajah Tuan Edritz dengan senyuman kecil, “Tapi, dia menolak semua itu. Biao bilang, kalau berada di dekat Daniel merupakan harta yang tidak akan pernah ternilai. Dia bahkan berjanji untuk berada di samping Daniel hingga maut merebut nyawanya. Awalnya Mama tidak terlalu serius dengan ucapannya waktu itu. Bagi Mama, mungkin itu hanya sebuah kalimat yang pasti akan dilupakan seiring berjalannya waktu. Tetapi Mama salah,” ucapan Ny. Edritz terhenti. Wanita itu menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya.
“Hingga usianya menginjak 30 tahun, Biao tidak pernah dekat dengan wanita. Apalagi berbincang dengan wanita. Satu-satunya wanita yang pernah mendapat jawaban darinya saat bericara adalah dirimu, Serena. Bahkan di dalam hidupnya hanya sepertinya hanya Mama yang ia kenal. Mama tidak tahu, bagaimana cara merubah prinsip anehnya itu. Usianya sudah lebih 30 tahun. Tapi dia tidak memikirkan pernikahan.” Wajah Ny. Edritz terlihat sangat serius saat membayangkan bagaimana prinsip terlarang yang di miliki Biao saat ini.
“Ma, mungkin Biao akan segera menemukan jodohnya bentar lagi. Dulu Daniel juga tidak pernah dekat dengan wanita. Bahkan Daniel menikah dengan wanita istimewa seperti Serena tanpa cinta. Tapi, lihatlah sekarang. Bahkan Daniel yang tergila-gila dengan Serena.”Daniel menarik tubuh Serena ke dalam pelukannya.
“Ya, kalian memiliki banyak kesamaan sejak kecil. Mama tidak pernah tahu, kalau hobi untuk menjauh dari wanita juga kalian miliki.” Ny. Edritz meneguk minuman hangat yang ada di depannya. Wanita paru baya itu menyusun beberapa album foto dengan begitu rapi.
Serena hanya diam saat itu. Wanita tangguh itu memikirkan semua ucapan mertuanya. Ada satu rencana di dalam hatinya untuk menjodohkan Biao dengan seseorang agar pria itu merasakan cinta dan menikah. Tapi, lagi-lagi Serena berpikir ulang. Sejak dulu, wanita itu tidak punya bakat untuk menjodohkan sepasang kekasih. Bahkan ia juga mengalami kesulitan saat di awal pernikahannya dengan Daniel.
“Serena sudah jam 12 malam. Sebaiknya kau kembali untuk tidur. Kau lagi hamil, Sayang. Cuaca sudah semakin dingin. Mama tidak mau kau jatuh sakit, Sayang.” Ny. Edritz menatap wajah Serena dengan seksama.
“Iya, Ma.” Serena meletakkan album foto itu kembali ke atas meja. Jika ada waktu luang, ia ingin melihat satu persatu tumpukan album foto suaminya itu.
“Ma, Daniel sama Serena ke kamar dulu,” ucap Daniel sebelum beranjak dari sofa yang ia dudukin. Satu tangannya memegang tangan Serena.
“Ma, Serena tidur duluan,” ucap Serena pelan.
Sepasang suami istri itu berjalan menuju ke arah tangga. Tuan dan Ny. Edritz menatap anak menantunya dengan satu senyuman indah.
“Andai saja Biao mau menjadi anak kita sejak dulu ya, Pa.”
“Biao sudah menjadi putra kita sejak dulu, Ma. Hanya saja, ia menganggap dirinya sendiri sebagai seorang bawahan. Semua fasilitas yang ia inginkan bisa ia dapatkan tanpa larangan dari Daniel selama ini.” Tuan Edrizt menepuk pelan pundak Ny. Edritz, “Bioa memang anak yang baik. Tidak sama dengan anak seusianya yang jauh lebih serakah saat mendapat tawaran harta dan tahta.”
Ny. Edritz mengukir senyuman manis. Wanita itu mengajak suaminya untuk masuk ke dalam kamar dan beristirahat. Suasana ruangan itu kini benar-benar sunyi. Tidak ada lagi penghuni rumah utama yang masih terjaga.
Dari sudut ruangan yang tidak terlalu jauh. Tama berdiri mematung sambil bersandar di dinding. Malam itu, untuk pertama kalinya ia tahu. Kalau sahabat terbaiknya adalah pria berharga di dalam keluarga besar Edritz Chen. Kapan saja sahabatnya itu meminta jabatan CEO yang sama seperti Daniel mungkin akan segera terkabul dalam hitungan detik.
“Biao, aku tidak pernah menyangka bisa mengenal malaikat seperti dirimu. Kau memang pria yang sangat sempurna. Aku bangga memiliki sahabat terbaik seperti dirimu, Biao,” ucap Tama sebelum pergi kembali ke kamar tidurnya.
Vote letak di Novel Moving On. ya terima kasih