
Tempat yang sangat indah, hembusan angin yang kencang. Pepohonan yang bergoyang diikuti dengan jatuhnya daun-daun kering. Ombak yang tidak terlalu besar, melengkapi hamparan laut biru yang terang karena pancaran matahari siang yang tajam.
“Pantai, kau membawaku ke pantai, Kenzo? Aku tidak menyangka bisa mengunjungi tempat seperti ini lagi,” ucap Serena dengan mata yang berbinar.
“Kau menyukainya Serena?”
“Aku memiliki kenangan indah bersama Papa di pantai. Dia selalu membawaku ke sini.”
Serena mengenang kembali, kenangannya bersama Tuan Wang.
“Aku tahu, tidak ada seorangpun yang bisa menolak pantai." Kenzo melipat kedua tangannya di depan dada.
Serena melepas sepatu yang ia kenakan, ia berlari menuju pesisir pantai. Kakinya menapaki pasir putih yang indah, hingga meninggalkan jejak kaki Serena di sepanjang langkahnya. Rambut Serena yang terkena hembusan angin, membuatnya sedikit berantakan.
Tawa bahagia yang keluar dari bibirnya, membuat wajahnya semakin terlihat cantik. Serena berputar-putar menikmati keindahan pantai di siang itu. Panas terik yang dikeluarkan matahari, tidak menjadi hambatan baginya untuk terus bermain dengan ombak.
“Kenapa dia bisa bahagia sampai seperti itu.”
Kenzo membawa sebuah gitar dan memilih duduk di bawah pohon, menghindari sengat matahari yang panas.
Mata Kenzo terus memperhatikan Serena, hanya rasa kagum yang muncul tiap kali ia bertemu Serena. Selain wanita yang kuat dan berani, Serena juga seorang wanita yang sangat periang.
Pernikahan yang telah terjadi, membuat dirinya harus berubah menjadi orang lain. Melupakan sikap manja yang selama ini ada dalam dirinya.
Beberapa menit kemudian.
Serena telah selesai bermain dengan pasir pantai. Wanita itu memutuskan untuk duduk sejenak menikmati hembusan angin.
“Kenzo, dari mana kau mendapatkan gitar itu?” tanya Serena sebelum duduk di sebuah kursi yang sama dengan Kenzo.
“Aku selalu meninggalkannya di sini.”
“Kau menyukai musik, Kenzo?” tanya Serena.
“Tentu. Musik adalah hidupku, Serena. Musik adalah ketenanganku.”
“Baiklah, nyanyikan aku satu lagu yang paling kau sukai."
“Aku tidak ingin bernyanyi,” jawab Kenzo santai.
“Kau memang menyebalkan.”
Serena berdiri meninggalkan Kenzo, lalu kembali berjalan ke pesisir pantai.
“Kau sangat lucu, jika sedang marah seperti itu Serena,” teriak Kenzo dari kejauhan.
“Dengan mudahnya ia tertawa, setelah membuat hatiku kesal,” umpat Serena kesal, masih memandang ke arah ombak pantai.
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Here's to the ones that we got
Cheers to the wish you were here, but you're not
'Cause the drinks bring back all the memories
Of everything we've been through
Toast to the ones here today
Toast to the ones that we lost on the way
'Cause the drinks bring back all the memories
And the memories bring back, memories bring back you.
Memories – Maroon 5
🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼🎼
Sebuah lagu Kenangan, yang menggambarkan isi hati orang yang menyanyikannya. Hati yang sedang rindu akan hadirnya seseorang yang berarti dalam hidupnya. Dinyanyikan dengan penuh cinta, dan perasaan yang sangat lembut. Alunan gitar dan suara merdu yang keluar dari bibir Kenzo, menambah kesempurnaan lagu yang ia nyanyikan.
Mendengarkan lagu yang dinyanyikan Kenzo, Serena diam membisu dan larut dalam lamunan. Rasa rindu itu juga muncul di hati Serena. Matanya terasa perih dan mulai memerah.
“Papa,” gumam Serena lirih, hingga buliran air mata jatuh tak tertahankan.
“Kita harus pulang,” ajak Kenzo, yang entah sejak kapan sudah berada di hadapan Serena.
“Aku masih ingin berada di sini Kenzo,” ucap Serena lirih.
“Hari sudah sore Serena. Aku tidak bisa membayangkan. Bagaimana paniknya semua orang yang ada di rumah sakit.“
Kenzo kembali mengingat para pengawal yang berdiri, untuk menjaga Serena di Rumah Sakit.
“Ini pertama kalinya aku merasa bebas seperti ini. Tanpa ada seorangpun yang melarangku untuk melakukan apapun yang aku suka.”
“Aku bisa membawamu kembali ke sini, kapanpun kau mau, Serena,” bujuk Kenzo.
Apa aku tanyakan aja ya, apa hubungan Serena dengan S.G. Group. Kenapa pengawal S.G. Group bisa bersamanya, tapi sudahlah aku rasa bukan waktu yang tepat,
Kenzo masih penasaran, hubungan Serena dengan pengawal S.G.Group.
Tanpa menjawab, Serena hanya menggelengkan kepala dan tetap menatap ke arah matahari yang akan tenggelam.
“Serena.” Kenzo memegang pundak Serena.
“Aku tidak tahu, apa yang terjadi dalam hidupmu. Tapi aku yakin kau adalah wanita yang kuat Serena. Kau tidak boleh menghindar dari sesuatu yang tidak kau suka,” ucap Kenzo yang masih terus berusaha mengajak Serena pulang.
“Aku... Aku....” tanpa bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin ia ungkapkan.
Serena menangis sejadi-jadinya di hadapan Kenzo. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya, kakinya yang lemah mulai membuat tubuhnya jatuh terduduk di atas pasir pantai.
Hatinya belum bisa menerima pernikahan yang telah terjadi dengan Daniel. Ditambah lagi satu-satunya orang yang ia sayang, harus pergi untuk selamanya. Sikap Daniel yang tidak kunjung menunjukkan rasa sayang terhadap Serena, semakin membuat hidupnya tersiksa.
“Jangan menangis, aku yakin kau bisa melewati semua masalah yang kau punya.” Kenzo mengusap air mata yang menetes di pipi Serena, “sekarang kita pulang ya, hari sudah semakin gelap,” bujuk Kenzo lagi.
Serena hanya menganggukan kepala. Wanita itu mulai mengikuti langkah Kenzo dari belakang. Hatinya merasa lega karena bisa menangis, untuk mengeluarkan semua emosi yang ia miliki.
“Apa itu lagu kesukaanmu, Kenzo?" ucap Serena sambil terus melangkah menuju motor Kenzo.
“Ya, lagu itu adalah perasaanku Serena. Aku tidak lagi bisa menemuinya. Aku terus mencarinya tapi tidak juga ku temukan.”
“Mencari? Siapa?” tanya Serena mulai penasaran
“Lain kali akan ku ceritakan,” sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Baiklah, akan aku tagih janji itu, Kenzo.”
“Kau mau aku antar pulang ke rumah atau kembali ke rumah sakit?”.
“Entahlah, aku tidak tahu apa yang akan aku hadapi setelah ini.”
Serena mengambil sebuah Handphone dari dalam tas yang ia tinggal di atas kereta.
“Tama!” ucap Serena dengan nada tinggi.
Puluhan panggilan tak terjawab dan beberapa pesan dari Tama, sudah cukup menggambarkan kekhawatiran keluarga besar Edritz Chen.
“Ada apa Serena?” tanya Kenzo yang mulai merasa khawatir.
“Kita harus segera pulang.” Serena mulai merasa panik.
“Apa ada yang menghubungimu?” tanya Kenzo bingung.
Serena menganggukkan kepala, “Tama meneleponku Kenzo. Tapi, tadi aku tidak mendengarnya.”
“Begini saja, sebaiknya telepon kembali, dan katakan yang sebenarnya,” ucap kenzo memberi solusi.
Bagaimana kalau Daniel sangat murkah dengan kelakuanku saat ini. Suasana hatinya terlihat buruk karena masalah bulan madu besok.
Serena hanya diam dan melamun.
“Serena,” sapa Kenzo menyadarkan Serena dari lamunannya.
“Kenzo, apa kau mau melakukan sesuatu untukku.” Tiba-tiba sebuah ide keluar dari kepala Serena.
“Apa yang ingin kau lakukan Serena?” menatap Serena dengan penuh pertanyaan.
“Kemarilah.” Serena menceritakan semua ide yang telah tersimpan di dalam pikirannya.