
Serena baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Wanita itu memandang keindahan kota dengan bibir tersenyum. Tubuhnya bersandar di sofa dengan posisi nyaman. Wanita tangguh itu belum mau pulang. Ia masih ingin menikmati pemandangan kota di siang hari. Satu tangannya sibuk mengusap le,but perutnya.
“Sayang, hari ini mama sangat bahagia. Apa kau juga tersenyum di dalam sana?” Serena menatap layar ponselnya yang berdering. Wanita itu beranjak dari posisinya untuk mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
“Shabira?” Bibirnya lagi-lagi tersenyum bahagia. Serena melekatkan ponsel itu di telingan kanannya sambil memandang luar jendela.
“Ha-“ Belum sempat Serena mengeluarkan kata. Wanita itu hanya diam mendengar kabar buruk yang baru saja di sampaikan oleh adik angkatnya.
“Aku akan berhati-hati,” ucap Serena pelan sebelum meletakkan ponselnya. Wajahnya diselimuti kekhawatiran dengan keadaan suaminya saat ini. Pria itu sedang dalam bahaya. Seseorang telah mengirim pembunuh bayaran untuk membunuhnya.
Serena beranjak dari duduknya. Wanita itu ingin segera pergi ke S.G.Group untuk memastikan keadaan suaminya saat ini. Siang ini suaminya akan pergi ke sebuah restoran untuk menghadiri pertemuan penting. Serena tidak ingin terlambat. Wanita itu bergegas meninggalkan kamar hotel bintang lima itu.
Di depan pintu kamar, Serena di sambut dengan beberapa pengawal yang ditugaskan untuk menjaganya. Wanita tangguh itu menatap satu prsatu wajah bawahannya dengan sikap waspada. Saat melihat tidak ada sesuatu yang mencurigakan, Serena melanjutkan langkah kakinya meninggalkan ruangan itu.
Sejak tadi ia terus menekan handsfree yang ada di telinganya. Daniel tidak kunjung berbicara. Membuat wanita tangguh itu semakin penasaran dan diselimuti kecemasan. Serena melepas handsree itu untuk memastikan kalau alat itu tidak rusak. Ia tidak lagi kosentrasi dengan jalan di depannya.
Hingga, beberapa saat kemudian. Wanita itu menabrak seseorang. Membuat handsfree miliknya terjatuh dan di injak oleh sepatu hitam milik pria yang ia tabrak.
“Nona,” ucap salah satu pengawal sambil melingkari Serena. Menghalangi pria yang kini berdiri mematung menatap wajah Serena.
“Maaf,” ucap Serena pelan.Wanita itu mendongakkan wajahnya dengan senyuman.
“Aldi?”
“Serena? apa yang kau lakukan di sini?” Aldi mengulurkan tangannya untuk menanyakan kabar istri sahabatnya itu. Pria itu terlihat sendiri. Tidak terlihat ada wajah Sonia di sampingnya.
“Aku baik-baik saja,” jawab Serena dengan kedua mata yang masih fokus pada alat yang telah rusak.
“Dimana Daniel?” tanya Aldi sambil terus mencari ke segala arah.
“Daniel?” Pertanyaan Aldi membuat Serena tersadar. Ia harus segera pergi agar tidak terlambat saar ini.
“Maaf, Aldi. Tapi Aku harus segera pergi.” Serena mengukir senyuman.
“Baiklah, hati-hati.” Aldi mengukir senyuman sambil menggeser tubuhnya untuk memberi jalan kepada Serena dan pengawal pribadinya. Rombongan Serena pergi dengan langkah cepat meninggalkan Aldi sendiri di tempat itu.
.
.
.
Serena duduk di dalam mobil sambil mengotak-atik ponselnya. Wanita itu cukup kesal karena sejak tadi tidak berhasil menghubungi suaminya. Hatinya cukup gelisah saat ini. Sesekali ia mengalihkan perhatiannya ke luar jendela. Shabira baru saja mendapat info dari Kenzo kalau ada rekan bisnis Daniel yang ingin membalas dendam saat kalah bersaing.
Tidak pernah terbayangkan di dalam pikiran wanita cantik itu, kalau suaminya bisa memiliki musuh seperti ini, “Kemana dia? apa yang sebenarnya terjadi?” Serena menekan kuat layar ponselnya dengan wajah khawatir.
Baru beberapa kilo ia pergi menjauh dari lokasi hotel, kini mobil yang ia tumpangi berhenti secara mendadak. Ada segerombol pria berwajah sangar dengan tato yang kini menghalanginya. Serena menatap satu persatu pria-pria itu sambil membuang napas secara kasar.
“Nona, biar kami yang menghadapi mereka. Sebaiknya Nona jangan turun dari dalam mobil ini.” Pengawal itu menatap wajah Serena sebelum keluar dari dalam mobil. Beberapa pengawal lainnya terlihat berbaris dengan senjata api di tangannya. Mereka siap mengorbankan satu-satunya nyawa yang mereka miliki demi melindungi nona mudanya.
Di dalam mobil Serena melipat kedua tangannya sambil menonton pertarungan yang ada di depan matanya. Ada wajah kurang puas saat melihat aksi bawahannya yang terbilang cukup lama itu.
Wanita tangguh itu turun dari dalam mobil dengan tatapan mata yang tajam. Beberapa pengawal yang disiapkan Daniel berdiri di hadapan Serena untuk menghaalngi wanita itu dari bahaya.
“Nona, apa yang akan anda lakukan? sebaiknya anda masuk ke dalam mobil. Biar kami yang menghadapi mereka, Nona.” Salah satu pengawal terlihat khawatir saat melihat Serenakeluar dari dalam mobil. Dengan segala upaya, mereka kembali merayu Serena agar kembali masuk ke dalam mobil.
“Kalian terlalu lama. Aku tidak punya banyak waktu saat ini.” Serena menyingkirkan beberapa pengawal yang menghadangnya. Wanita tangguh itu berjalan k earah barisan terdepan. Ada senyum kecil di sudut bibirnya.
“Sayang, sudah lama mama tidak berolahraga. Ini akan sedikit membuatmu pusing.” Serena mengelus lmbut perutnya. Kedua bola matanya menatap dengan tajam beberapa orang yang kini menghalangi langkahnya.
“Berikan Aku pistol,” ucap Serena sambil mengulurkan tangannya. Seorang pengawal yang menggunakan kaca mata hitam mengeluarkan pistol dan memberikannya kepada Serena.
“Hei Nona cantik, jangan bertingkah seperti jagoan seperti itu. Kami hanya ingin membawa anda ke tempat yang indah untuk mengancam suami anda.” Salah satu dari musuh Serena tertawa begitu kuat. Mereka tidak pernah tahu, kalau sebentar lagi mereka akan kehilangan nyawanya yang berharga itu. Saingan bisnis Daniel mengirim orang untuk menculik Serena hari ini. Mereka ingin menggunakan Serena sebagai ancaman untuk mengalahkan Daniel.
“Terlalu percaya diri,” ucap Serena sambil menyunggingkan senyuman tipis. Tidak ingin menunggu lama lagi, Serena menodongkan pistol itu ke arah musuhnya. Satu tembakan ia lepas dengan cepat. Peluru itu mendarat di dada musuhnya dengan sempurna. Membuat lawannya mengeluarkan cairan merah yang segar.
Melihat rekannya di lukai dengan begitu mudah, membuat pria-pria berwajah sangar itu semakin murkah. Mereka maju untuk memberi pelajaran kepada Serena. Rombongan pengawal S.G.Group berlari ke depan untuk menghadang setiap musuh yang ingin menyentuh Serena. Sambil bersandar di depan mobil, Serena melihat aksi bawahannya itu. Sesekali ia mengeluarkan tembakan untuk melumpuhkan lawannya.
Slaah satu musuh muncul dari belakang Serena. Wanita itu sudah tahu sejak musuhnya berada beberapa meter di belakangnya. Dengan cepat, Serena memutar tubuhnya dan mengangkat kaki kanannya. Ujung high heelsnya yang runcing menggores wajah lawannya hingga membuatnya mengeluarkan darah yang cukup deras.
Saat musuhnya mundur beberapa langkah, Serena menendang lawannya dengan sikut tangannya. Wanita itu tersenyum puas saat melihat musuhnya merasa kesakitan. Pria itu terjungkal di jalanan.
“Siapa yang mengirimmu?” Serena menodongkan pistol tepat di hadapan wajah musuhnya. Kedua bola matanya tampak menyeramkan.
“Kami tidak akan menghianati Bos kami, walaupun kini kau mengambil nyawa kami,” jawab Pria itu dengan ekspresi wajah menantang.
“Baiklah, jika itu pilihan yang sudah kau persiapkan,” ucap Serena sambil menarik pelatuk pistolnya. Satu tembakan ia lepas tepat ke arah dahi lawannya. Membuat lawannya kehilangan nyawa detik itu juga dengan darah bercecer di jalanan.
“Nona awas!” teriak salah satu pengawall saat melihat seseorang mengarahkan tembakan ke arah Serena. Dengan sigap, Serena menjatuhkan tubuhnyake belakang hingga posisi tubuhnya membungkuk ke belakang. Wanita itu megeluarkan tiga tembakan dengan durasi cepat ke arah musuh yang ingin menembaknya.
“Nona, apa Nona baik-baik saja?” Supir yang membawa Serena berlari dengan cepat untuk memeriksa keadaan Serena saat ini. Pria itu memperhatikan pnampilan Serena dari ujung kaki hingga ujung kepala. Tidak ada yang berubah dari tampilan semula. Serena masih tetap terlihat sempurna dengan tatanan rambut yang cukup rapi.
“Aku baik-baik saja,” jawab Serena cepat sambil memperhatikan musuhnya yang kini tergeletak di jalanan sunyi itu.
“Kita harus segera menemui Daniel,” perintah Serena cepat sambil masuk ke dalam mobil. Wanita itu tidak ingin datanga terlambat hari ini. Ia harus segera melindungi suaminya dari bahaya.
Mobil yang ditumpangi Serena bersamaan dengan mobil pengawal itu melaju dengan cepat menuju ke arah S.G.Group. Serena memberi perintah kepada supir itu untuk melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal.
“Daniel, kenapa nomormu sangat sulit untuk dihubungi,” ucap Serena yang telah diselimuti kekhawatiran.
Like yang banyak...padahal kalau lihat 500 like aku jadi semangat ngetiknya...