
Shabira tergeletak di atas sofa yang ada di kamarnya. Wanita itu kini mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Serena. Hari ini Shabira sudah mengatur janji untuk bertemu dengan Serena. Tetapi, hingga jam segini. Shabira belum menerima kabar apapun tentang lokasi pertemuan mereka.
“Kenapa aku tidak bisa menghubungi Kak Erena?” Shabira mengeryitkan dahi sambil terus berusaha agar panggilan masuknya berhasil. Sudah berulang kali ia tidak bisa memanggil Serena. Wanita itu meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Satu pirasat buruk kini menghantui pikirannya.
“Kak Erena.” Shabira mengambil kunci mobil miliknya. Wanita itu juga membawa pistol dan ponsel yang sempat tergeletak. Shabira tidak lagi bisa duduk diam menunggu kabar dari Serena. Saat ini wanita berstatus kakaknya itu lagi-lagi memiliki musuh. Shabira ingin membantu Serena untuk mengatasi musuh yang kini masih menyimpan dendam kepada Kakak tercintanya itu.
Baru saja sampai di depan rumah. Mobil Kenzo muncul dengan satu klakson sebelum berhenti. Pria itu keluar dari dalam mobil dengan senyuman yang cukup indah.
“Sayang, darimana kau tahu kalau aku akan pulang siang ini?” Kenzo berlari kecil untuk menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Satu kebetulan. Wanita tangguh itu tidak menyangka akan terlihat menyambut kedatangan Kenzo siang ini.
“Aku sangat mencintaimu,” ucap Kenzo sambil mengecup pucuk kepala istrinya.
“Aku juga sangat mencintaimu, Kenzo.” Shabira mengelus lembut pipi suaminya dengan satu senyuman.
“Sayang, hari ini jaringan di kota Sapporo sedang mengalami masalah. Aku tidak bisa menghubungimu, hingga lebih memilih pulang untuk memberimu kabar ini.”
“Benarkah? Apa itu yang menyebabkan aku tidak bisa menghubungi kak Erena?” Shabira mengeryitkan dahinya. Wanita itu kini mengerti dengan sumber masalah yang menyebabkan panggilan teleponnya selalu gagal.
“Ya, Apa kau ingin pergi menemui Serena?” Kenzo terlihat menyelidik penampilan istrinya siang itu.
Shabira mengangguk pelan, “Aku dan Kak Erena memang sudah mengatur janji ketemuan siang ini. Kak Erena tadi pagi bilang, kalau ia sangat bosan di rumah. Ia ingin mengajakku ketemuan siang ini untuk bercerita.”
“Ayo aku antar.” Kenzo menarik tangan istrinya ke arah mobil. Pria itu tidak akan mungkin membiarkan Shabira pergi sendirian ke rumah utama Edritz Chen. Ia juga ingin membahas masalah jaringan ini bersama Daniel di sana.
Shabira duduk dengan posisi nyaman. Kenzo menarikkan sabuk pengaman untuk Shabira. Pria itu menutup pintu mobilnya sebelum mengitari mobil untuk duduk di bangku kemudi.
“Sayang, apa tidak ada masalah jika kau siang ini sudah pulang?” Shabira menatap wajah Kenzo dengan serius.
“Bentar lagi salju akan turun. Aku ingin beristirahat di rumah. Z.E. Group sudah aku serahkan kepada orang yang bisa di percaya,” jawab Kenzo penuh percaya diri.
Shabira mengangguk, “Aku harap, kau bisa lebih bersabar dalam menghadapi masalah yang terjadi dengan Z.E. Group.”
“Iya Sayang. Aku akan tetap mempertahankan kejayaan Z.E.Group. Jangan khawatir. Kau bisa mempercayakan perusahaan Zeroun padaku.” Kenzo mulai melajukan mobilnya. Pria itu menambah kecepatan mobilnya saat sudah berada di jalanan sunyi.
“Sayang, kita singgah di restoran dulu ya untuk makan siang. Perutku sangat lapar. Aku belum makan siang tadi di kantor.” Kenzo menatap wajah Shabira beberapa detik.
“Ya, Sayang,” jawab Shabira lembut. Wanita itu juga belum makan siang. Sungguh satu kebetulan kini suaminya mengajaknya untuk makan siang di luar. Akhir-akhir ini mereka memang jarang makan siang bersama.
***
Beberapa saat kemudian. Serena telah menyelesaikan mandinya. Wanita itu keluar dari ruang ganti dengan gaun santai berwarna biru muda. Langkahnya terhenti saat melihat kamar tidurnya yang sudah sangat rapi. Seprei juga sudah terganti dengan warna lain. Bahkan koper hitam dan isinya sudah tidak ada di kamar itu.
Di atas meja yang ada di dekat jendela, tertata rapi makanan dan minuman. Wanita tangguh itu berjalan untuk menikmati makan siangnya. Ada satu surat dan setangkai mawar merah di samping makanannya. Serena mengambil surat itu untuk melihat isinya. Bibirnya tersenyum saat tahu, surat itu dari pria yang sangat ia cintai.
‘Sorry!’Hanya satu kata itu yang tertulis. Namun, kata-kata itu sudah bisa mewakili suasana hati suaminya saat ini.
“Aku sudah keterlaluan padanya. Ini semua bukan salahnya.” Serena meletakkan surat itu kembali di atas meja. Menghirup aroma bunga mawar merah favoritnya, “Terima kasih, Sayang. Aku sangat mencintaimu.”
Serena meletakkan bunga itu kembali ke atas meja. Wanita itu duduk di sofa untuk memulai makan siangnya. Ada rasa bersalah di dalam hatinya karena menyalahkan Daniel tadi. Setelah selesai makan siang, wanita tangguh itu berencana untuk menemui suaminya. Pak Sam memasakkan menu favorit Serena siang itu.
Wanita hamil yang sangat beruntung. Bukan hanya di kelilingi orang-orang yang sangat menyayanginya. Tetapi Serena juga memiliki koki hebat seperti Pak Sam. Serta Pria serba bisa seperti Pak Han. Rumah utama memang di lengkapi dengan orang yang memiliki karakter berbeda. Karakter-karakter itu bersatu menjadi kata sempurna.
“Akhirnya, perutku terasa cukup kenyang.” Serena mengusap lembut perutnya. Wanita itu mencoba ponselnya lagi. Namun, hasilnya masih sama. Panggilan teleponnya belum juga tersambung kepada Shabira.
“Berapa lama jaringan ini terputus.” Serena beranjak dari duduknya. Wanita itu menatap keindahan yang tersaji di luar jendela kamarnya. Pemandangan taman dan kebun belakang rumah juga terlihat dari jendela itu.
“Rumah ini tidak hanya luas. Tetapi memiliki lokasi yang cukup indah.”Serena menyentuh jendela kaca dengan telapak tangannya. Wanita itu melamun beberapa saat sambil memikirkan strategi penyerangan itu lagi.
Suara ketukan pintu memecahkan lamunan singkatnya. Serena memutar tubuhnya dan memberi ijin untuk masuk.
Pak Han muncul dengan nampan di tangannya. Ada segelas air putih dan piring kecil berisi buliran obat, “Nona, saatnya minum vitamin.” Pak Han meletakkan air putih dan obat itu di atas meja. Di belakang Pak Han juga ada dua pelayan wanita yang mengikutinya. Dua pelayan wanita itu kini membersihkan piring kotor bekas makan siang Serena.
“Pak Han, dimana Daniel?” tanya Serena sambil berjalan menuju sofa.
“Tuan Daniel ada di ruang kerja, Nona,” jawab Pak Han dengan cukup sopan.
“Ruang kerja?” Serena kembali mengulangi penyataan itu dengan wajah bingung. Suaminya selalu masuk ke ruang kerja bersama Tama dan Baio. Tapi, siang ini Tama dan Biao belum terlihat pulang dari kantor.
“Tuan Tama dan Tuan Biao juga ada, Nona.” Pak Han mengerti arti wajah bingung Serena.
Serena menatap wajah Pak Han sekilas sebelum meminum vitamin itu, “Aku akan menemuinya.” Wanita itu meletakkan gelas kosong kembali ke atas meja.
“Oh iya, Pak Han. Saya minta tolong untuk buatkan jus jeruk untuk Daniel. Biar saya yang mengantarnya nanti.”
“Baik, Nona.” Pak Han membungkuk sebelum pergi meninggalkan kamar itu. Dua pelayan wanita itu juga mengikuti langkah Pak Han meninggalkan ruangan itu.
“Aku harus meminta maaf pada Daniel.” Serena kembali mengukir senyuman.